Secret of Love Part 10

Secret Of Love

Part 10

Author                       : Kim Sang Eun

Main Cast                 : Kim Sang Bum dan Kim So Eun

Cast                            : Goo Hye Sun, Lee Min Ho, Kim Hyun Joong, Kim Joon, Jessica, Suzy, Eun Jung, Kim Soo Hyun, Park Ji Yeon, Yoo Seungho, Yoo Ah In, Kim Jo Kyung (fiction)

Genre                                    : Romance, Friendly, #yahh tentuin sendiri lah#

Type                           : Chaptered

PENTING!!! : karakter yang ada dalam ff ini, semuanya bukan milik author. Mereka milik keluarga, agensi, dan fans masing – masing. Disini author hanya meminjam saja. Bila ada kesamaan judul, jalan cerita, pemain, dsb, itu merupakan sebuah ketidak sengajaan. Tidak ada maksud untuk meniru (plagiat-kan) karya orang lain.

***

            “apa yang ia bicarakan” gumam Hye Sun sambil memegangi kepalanya atau lebih tepatnya rambutnya

            “Hye Sun-ah.. kau baik-baik saja?” tanya So Eun dengan cemas

            “tadi nenek sihir itu bilang apa?” tanya Hye Sun tanpa mengindahkan pertanyaan So Eun, wajahnya pun masih terlihat seperti orang ling-lung

            “ckckckck” gumamnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya

Part 10

“Hye Sun-ah, apa kau baik-baik saja?” tanya Suzy sambil menghampiri Hye Sun yang terlihat kebingungan. Eun Jung hanya diam ditempat. Ia juga ikut merasa bingung dengan keadaan ini. Sementara murid-murid yang berada di kantin masih sibuk berbisik-bisik.

“heh, temanmu tadi bicara apa?” tanya Hye Sun pada Suzy

“ckckck… aku tidak percaya” lanjutnya. Kemudian Eun Jung menghampiri Suzy, So Eun, dan Eun Jung

“kau tau dari mana kalau Jessica itu hanya anak angkat?” tanya Eun Jung dengan intonasi kasar yang sudah menjadi ciri khasnya. Hye Sun menggelengkan kepalanya

“aku tak tau sama sekali. Kan yang mengucapkan dia, bukan aku. Kau tanyakan saja padanya” jawab Hye Sun

“jadi tadi apa yang mau kau ungkapkan Hye Sun-ah?” tanya So Eun dengan wajah heran yang sangat imut

“aku mau mengungkap tentang dia dan kakakmu” kata Hye Sun dengan jari telunjuk yang mengarah pada Suzy

“aku?” tanya Suzy sambil menunjuk dirinya sendiri

“iya, kau! Tentang kau berpacaran dengan Soo Hyun oppa” ucap Hye Sun dengan entengnya. Eun Jung yang mendengarnya sangat terkejut. Entahlah, sepertinya hari ini kedua sahabatnya akan membuatnya pusing

“kau tau dari mana?” tanya Suzy dengan wajah yang santai. Sepertinya ia tidak keberatan jika seisi sekolah tau kalau ia berpacaran dengan kakaknya So Eun.

“aku tau dari So Eun” jawab Hye Sun sambil menunjuk So Eun yang sedari tadi hanya diam

“So Eun-ah, Soo Hyun oppa memberitahumu?” tanya Suzy

“aniya, aku membaca pesan di poselnya” jawab So Eun

“Suzy-ah.. jadi ini benar? Kau berpacaran dengan kakaknya So Eun?” tanya Eun Jung dengan mata membulat

“ne” jawab Suzy sambil tersenyum senang

“mungkin aku dan So Eun akan jadi saudara” kata Suzy sambil merangkul So Eun. sementara So Eun hanya diam

“hah?! Sebenarnya ada apa dengan kalian berdua. Heuh.. kalian membuatku pusing” akta Eun Jung sambil mengacak-acak rambutnya. Kemudian ia pergi meninggalkan Suzy, So Eun, dan Hye Sun. Sepertinya ia ingin mencari tempat untuk menjernihkan pikirannya

“So Eun-ah, ayo kita pergi” ajak Suzy yang masih merangkul bahu So Eun

“eh?” So Eun terbengong melihat Suzy

“yya! So Eun temanku. Sembarangan saja kau mengambilnya” protes Hye Sun sambil menarik lengan So Eun

“kau ini, biarkan kami pergi. Aku dan So Eun ingin mengakrabkan diri dulu. Iya kan’ So Eun?” ucap Suzy sambil menatap So Eun dengan manisnya. Belum sempat So Eun menjawab, Hye Sun sudah menyambarnya

“enak saja. Kau itukan punya teman yang lain, sedangkan aku hanya punya So Eun. Kalau So Eun pergi, aku dengan siapa? Enak saja kau ini” kata Hye Sun sambil terus menarik tangan So Eun. Dari kejauhan nampak Kim Bum dan Min Ho yang sedang berjalan di arena kantin. Tak sengaja Kim Bum melihat So Eun yang sedang ditarik-tarik (?). Ia pun berniat menghampirinya

“kau kan ada kekasih, pergilah bersama kekasihmu. Kekasihku kan sedang tidak ada disini. Sudah sana” usir Suzy sambil melepaskan tarikan tangan Hye Sun terhadap tangan So Eun. Sudah Suzy coba berkali-kali tetapi Hye Sun tak mau melepaskannya juga. Tiba-tiba ada sebuah tangan kekar yang memisahkan mereka.

“kalian ini apa-apaan, hah?” ucap pria itu sambil melepaskan So Eun dari rangkulan Suzy dan tarikan Hye Sun

“So Eun-ah, gwaenchanayo?” tanya orang itu yang tak lain adalah Kim Bum. So Eun menganggukan kepalanya

“kalian pikir So Eun boneka yang bisa direbutkan sana sini” omel Kim Bum kepada Suzy dan Hye Sun

“dia yang mulai, dia membawa So Eun seenaknya. Bagaimana jika ia berbuat jahat kepada So Eun? selama ini dia kan selalu jahat terhadap So Eun” ucap Hye Sun. Kim Bum menatap Suzy seolah meminta penjelasan darinya. Suzy pun mengerti.

“aku hanya ingin mengakrabkan diri kepada So Eun. Karena dia ini akan menjadi saudara iparku” jawab Suzy

“oh seperti itu” ucap Kim Bum sambil mengangguk-angguk

“kau tidak terkejut?” tanya Suzy yang heran melihat Kim Bum hanya mengangguk-angguk. Orang lain yang mengetahuinya pasti terkejut, tapi mengapa Kim Bum tidak? Jawabannya adalah..

“karena aku sudah tau sejak pagi tadi” jawab Kim Bum

“okey.. supaya adil, begini saja.. hmm.. Min Ho!” panggil Kim Bum kepada Min Ho yang sedang membeli softdrink. Kemudian ia pun menggerakan tangannya mengisyaratkan Min Ho untuk menghampirinya. Tak butuh waktu lama, Min Ho pun sudah ada di hadapannya

“kekasihmu ini tak ada temannya, kau bawa pergilah sana” ucap Kim Bum kepada Min Ho

“bukan hal berat. Sayang, kau kesepian? Apa karena tak ada aku maka kau menjadi kesepian?” tanya Min Ho sambil merangkul Hye Sun dan membawanya pergi

“menjijikan” komentar Hye Sun sambil terus melangkah

“kau ini tak bisa dirayu sama sekali” cibir Min Ho

“naah…sekarang So Eun-ah, ayo ikut aku” kata Kim Bum sambil merangkul So Eun lalu membawanya pergi

“lalu aku dengan siapa?!” tanya Suzy setengah berteriak

“terserah kau saja..bye~~” ucap Kim Bum sambil melambaikan tangannya tanpa menoleh ke orang yang dituju

****

Sepulang sekolah So Eun menyempatkan waktu untuk datang ke rumah Kim Bum. Sebenarnya Kim Bum yang meminta So Eun untuk menemaninya sampai malam nanti. Kebetulan besok adalah hari sabtu, jadi mereka libur. Dan kebetulan, malam ini So Eun sedang libur bekerja di caffe. Jadi So Eun tak masalah jika harus pulang malam. Toh, ia sudah menghubungi kakaknya saat diperjalanan menuju rumah Kim Bum tadi.

“lekaslah mandi, aku akan siapkan minum untukmu” kata So Eun sambil melepaskan sepatunya

“ne” jawab Kim Bum sambil berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Setelah mengganti sepatu dengan sadal karet yang tersedia, So Eun segera bergegas menuju dapur untuk menyiapkan minum untuknya dan untuk Kim Bum. Setelahnya, ia pun membereskan ruang tv dan ruang makan yang berantakan, Mungkin Jo Kyung ahjussi tidak sempat membereskannya tadi pagi, pikir So Eun. Maklumlah, dirumah Kim Bum yang bisa dibilang besar ini tak ada pelayan satu orangpun. Sejak Kim Bum kembali dari German Ayah Kim Bum sengaja memberhentikan semua pelayan dan pengurus di rumah ini dan tidak menyewa pelayan lagi, ia ingin dirumah ini hanya ada ia, Kim Bum, istri Kim Bum kelak, dan beberapa cucunya. Bahkan ia tak berniat menikah lagi. Selama Kim Bum belum menikah, ia ingin mengisi rumah ini dengan kehangatan bersama Kim Bum. Hitung-hitung ini untuk membayar kebersamaan yang hilang antara dirinya dengan Kim Bum beberapa tahun terakhir. So Eun sempat terharu saat ayah Kim Bum menjelaskan alasan mengapa ia tak menyewa pelayan ataupun pengurus di rumah ini. Tak disangkanya, bahwa ayah Kim Bum sangat menyayangi Kim Bum. Ia begitu terharu saat merasakan kasih sayang antara Kim Bum dan ayahnya. Saat sedang membereskan buku-buku di depan televisi, tak sengaja ada secarik foto yang terjatuh dari buku bacaan ayah Kim Bum.

“siapa ini?” tanya So Eun sambil mengambil foto itu

“wajahnya mirip seperti Kim Bum. Ah.. tapi apakah ini Kim Bum?” tanya So Eun pada dirinya sendiri

“kau sedang apa?” tanya Kim Bum sambil berjalan menuruni tangga

“ini. Apa ini fotomu saat bayi?” tanya So Eun sambil menunjukkan foto itu kepada Kim Bum. Kim Bum menghampirinya dan mengambil foto itu dari tangan So Eun

“hmm.. tunggu sebentar, aku akan berusaha mengingatnya. Hmm…. aku punya foto seperti ini atau tidak yaaa??” gumam Kim Bum dengan mata yang terpejam, berusaha untuk mengingat ‘apakah ia mempunyai foto masa kecil seperti itu atau tidak’. Sepertinya memori itu ikut hilang juga. So Eun yang takut akan terjadi hal buruk pada Kim Bum apabila Kim Bum terus berusaha mengingat pun segera menghentikannya.

“aish.. sudah..sudah.. tak perlu sekeras itu memikirkannya. Mungkin saja ini kau” kata So Eun sambil merebut foto itu

“tapi lihatlah, dagunya lebih pendek daripada dagu ku” ucap Kim Bum sambil menunjuk foto itu

“yaa.. itukan masih bayi. Mungkin saja dulu dagu mu itu pendek. Lalu setelah mengalami masa pertumbuhan dagumu bertambah panjang” jawab So Eun dengan asal

“anak itu terlihat tidak tampan. Wajahnya biasa saja” kata Kim Bum dengan PD-nya

“kau pikir kau tampan, hah?!” kata So Eun sambil mengetukkan foto itu ke dahi Kim Bum. lalu iapun melanjutkan kegiatan berberesnya

“yya! Kalau aku tidak tampan mana mungkin Kim So Eun mau berpacaran denganku” kata Kim Bum sambil memeluk So Eun dari belakang

“kau pikir aku melihat seseorang hanya dari luarnya hah?” kata So Eun sambil menyelipkan foto itu di buku berwarna biru

“yaa.. selain tampan kan aku baik, pintar, kaya, berbakat.. banyak sekali kelebihan yang kau punya” ucap Kim Bum dengan narsisnya

“cih,,sombong” cibir So Eun

“itu memang benar, sayangku” kata Kim Bum sambil menarik So Eun ke pangkuannya

“ya..ya..ya… kau tampan, sehingga kau memanfaatkan ketampananmu untuk menjadi seorang playboy. Kau baik hanya kepada wanita-wanita cantik dan sexy saja. Kau pintar mengelabuhi wanita. Kau kaya dan selalu menunjukkan kekayaanmu supaya semua wanita cantik dan sexy datang kepadamu dan menggodamu. Dan kau berbakat untuk menyakiti hati wanita” sahut So Eun. Kim Bum merebahkan tubuh So Eun di atas So Eun dengan kepala yang menyandar ke handel sofa

“kenapa semuanya buruk? Ckckck… Itu masa lalu” kata Kim Bum sambil mendekatkan wajahnya kepada So Eun

“masa lalu tentang wanita kau selalu ingat. Kenapa kau tak ingat sahabat-sahabatmu,hah?” kata So Eun. sementara Kim Bum terkekeh mendengarnya. Tangannya mulai mengelus pipi mulus So Eun

“aku tampan. Aku berusaha untuk menjadi setampan mungkin supaya bisa bersanding dengan wanita secantik Kim So Eun. Aku baik, dan semua kebaikanku bersumber kepada seorang wanita bernama Kim So Eun. Aku pintar, kalau aku bodoh mana mungkin Kim So Eun mau menjadi kekasihku. Aku kaya karena aku ingin melihat Kim So Eun serta anak-anakku bahagia. Harta memang tidak akan dibawa mati, namun aku sangat membutuhkan uang dalam hidupku. Karena aku tidak sanggup melihat Kim So Eun istriku serta anak-anakku kelaparan dihari esok. Aku berbakat, namun bakatku kalah terang dibandingkan bakat seorang Kim So Eun yang bisa menaklukan harimau buas dan mengubahnya menjadi anak kucing yang selalu menurut kepada majikannya” ucap Kim Bum sambil terus menjalankan jari-jarinya di wajah So Eun

“kau menyebut dirimu harimau dan anak kucing?” tanya So Eun yang sedari tadi menatap dalam kedua mata Kim Bum. Kim Bum tersenyum. Kemudian iapun menarik So Eun untuk bangun dan kembali duduk di pangkuannya

“aku sangat mencintaimu” kata Kim Bum sambil merangkul pinggang So Eun

“nado” ucap So Eun setengah berbisik. Kemudian Kim Bum mendekatkan wajahnya ke wajah So Eun..semakin dekat..dan…

“ah, aku harus membereskan ini semua” kata So Eun sambil berdiri

“kenapa kau menghancurkan moment indah ini?” tanya Kim Bum yang sepertinya sedikit kesal

“jangan banyak protes. Lebih baik kau bantu aku untuk membereskan ini semua” kata So Eun. Dengan wajah kusut, Kim Bum pun menuruti ucapan So Eun.

***

Jessica masih berdiam diri di atap sekolah. Ia masih memikirkan kejadian tadi. Tega sekali Jiyeon menceritakan hal ini kepada Hye Sun dan So Eun, pikirnya. Kepalanya sangat pusing saat ini. Ia tak tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia yakin, seluruh murid pasti sudah mengetahui hal ini. Untuk kesekian kalinya, ia menghapus air mata yang mengalir di pipi nya.

“kau belum pulang?” tanya seseorang di belakang Jessica. Ia pun membalikan badannya

“kau? Untuk apa kau disini?” tanya Jessica dengan juteknya

“ini tempatku. Kau yang sedang apa?” tanya orang itu yang ternyata adalah Hyun Joong

“kalau kau mau meledekku. Silahkan, langsung saja. Aku akan mendengarkan semua ejekanmu” kata Jessica sambil menundukan kepalanya

“meledek apa? Siapa yang mau meledekmu, hah? Untuk apa juga, seperti tak ada pekerjaan lain” kata Hyun Joong sambil duduk berselonjor

“kau? Apa kau tidak mengetahuinya?” tanya Jessica. Ia heran mengapa Hyun Joong tak tau berita itu. Padahal ia yakin kalau berita itu sudah tersebar seantero sekolah

“mengetahui apa?” tanya Hyun Joong dengan santainya. Jessica memandang Hyun Joong sejenak

“lupakanlah” kata Jessica lalu meninggalkan Hyun Joong sendiri di atap sekolah

“mana mungkin aku tak tau berita itu. Aku hanya tak ingin menyakiti orang lain saja” gumam Hyun Joong setelah Jessica menjauh. Kemudian iapun memejamkan matanya.

***

“ah lelah sekali” ucap So Eun sambil mendudukan dirinya di sofa

“aku kan sudah bilang, kau tak usah bersih-bersih dirumahku. Kau itu bukan pengurus di rumahku. Lihat, sekarang kau kelelahan” kata Kim Bum sambil membukakan sebuah minuman kaleng untuk So Eun lalu ikut duduk di sampingnya.

“bagaimana bisa aku diam melihat rumah ini berantakan seperti ini. Apa kau tak pernah membantu ayahmu membereskan rumah? Kau ini tega sekali membiarkan ayahmu membereskan rumah sebesar ini seorang diri” ucap So Eun sambil menerima minuman kaleng dari Kim Bum.

“aku sudah menyuruh ayah untuk menyewa pengurus, tapi ayah tetap saja tidak mau. Orang tua itu sangat keras kepala. Benar-benar tak mau mengeluarkan uang untuk menyewa seorang pengurus” ucap Kim Bum. So Eun sontak menepuk paha Kim Bum dengan kerasnya membuat Kim Bum mengaduh kesakitan.

“seenaknya kau bicara seperti itu. Apa kau tidak tau alasan mengapa Jo Kyung ahjussi tidak menyewa pelayan ataupun pengurus dirumah ini,hah?” tanya So Eun yang merasa tidak suka dengan ucapan Kim Bum barusan.

“tentu saja karena ayah tidak ingin membuang-buang uang untuk menyewa pengurus lagi. Mungkin ia merasa bangkrut dengan keberadaan pengurus dan pelayan sebelumnya” jawab Kim Bum dengan asal. So Eun menggebuk kepala Kim Bum dengan bantal kecil yang ada di pangkuannya

“bicara seenaknya saja!” ucap So Eun. Kemudian ia menggenggam kedua tangan Kim Bum. Membuat Kim Bum memperhatikannya.

“Jo Kyung ahjussi melakukannya karena ia sangat menyayangimu. Beberapa hari lalu aku sempat bertanya kepadanya soal ini, lalu ia menjawab bahwa ia sengaja memberhentikan semua pelayan dan pengurus di rumah ini dan tidak menyewa pelayan lagi, ia ingin dirumah ini hanya ada ia, kau, istrimu kelak, dan beberapa cucunya. Bahkan ia tak berniat menikah lagi. Selama kau belum menikah, ia ingin mengisi rumah ini dengan kehangatan bersamamu. Hitung-hitung ini untuk membayar kebersamaan yang hilang antara dirinya dengan kau beberapa tahun terakhir” ucap So Eun sambil tersenyum dan menatap dalam kedua bola mata Kim Bum. Namun beberapa saat kemudian ia melepaskan genggaman tangannya dengan kasar. Lalu kembali memukul kepala Kim Bum dengan bantal tadi.

“makanya kalau bicara jangan asal saja” ucap So Eun.

“ah, iya iya aku mengerti. Tapi tak perlu memukul kepalaku juga kan’?” protes Kim Bum. Bukannya berhenti, So Eun malah semakin menjadi.

“biar saja, biar ingatanmu kembali lagi” kata So Eun sambil memukul kepala Kim Bum.

“kau benar-benar minta dihukum!” ucap Kim Bum sambil memeluk pinggang lalu menggelitiknya.

“hahaha.. yya! Kim Bum hentikan! Hahaha” tawa So Eun saat Kim Bum menggelitik pinggangnya.

“haha.. rasakan balasanku. Ayo So Eun sayang.. memohonlah” ledek Kim Bum tanpa menghentikan kegiatannya. Sementara So Eun sudah terbaring di sofa bergerak kesana kesini layaknya cacing kepanasan.

“hahaha… iyaa ampun.. hentikan Bum-ah hahaha” tawa So Eun yang mencoba menahan tangan Kim Bum. Saat sedang asyik bercanda, tiba-tiba terdengar bunyi pintu yang terbuka. Kim Bum pun menghentikan aktivitasnya.

“apakah itu Jo Kyung ahjussi?” tanya So Eun sambil mendudukan dirinya.

“mungkin saja. Ini sudah jam 06.00 p.m sudah waktunya ayah pulang” sahut Kim Bum sambil berdiri.

“Kim Bum. Na wasseo” seru ayah Kim Bum dari ruang tamu. Ah, ternyata benar, yang datang adalah ayah Kim Bum.

“ayah sudah pulang” ucap Kim Bum sambil berjalan menghampiri ayahnya diikuti dengan So Eun.

“oh ada So Eun juga disini. Yya, Kim Bum, ayah punya hadiah untukmu” ucap ayah Kim Bum sambil memakai sandal lalu berjalan menuju kamarnya.

“hadiah apa?” tanya Kim Bum kepada ayahnya yang sedang berjalan di tangga.

“tunggu sesaat lagi” jawab ayah Kim Bum sambil tersenyum.

“apakah hari ini hari penting untukku? Ini bukan hari ulang tahunku kan’?” tanya Kim Bum kepada So Eun. So Eun mengangkat bahunya.

“setahuku ini bukan hari penting. Ulang tahunmu itu kan bulan Juli, sekarang bulan Desember” sahut So Eun.

***

Soo Hyun memandangi ponselnya. Ia sedang penunggu panggilan dari So Eun. Apakah So Eun belum pulang, pikirnya. Kalau So Eun sudah pulang dan tidak menemukan Soo Hyun dirumah pasti adiknya itu langsung menelponnya. Tapi sampai saat ini tak ada panggilan masuk dari So Eun.

“oppa, kenapa kau terus memandangi ponselmu?” tanya seorang gadis sambil memasukkan potongan steak ke dalam mulutnya.

“So Eun belum menghubungiku” kata Soo Hyun sambil memasukkan ponselnya kedalam saku jasnya.

“biasanya kalau ia pulang terlambat dan tidak menemukan aku didalam rumah, dia pasti langsung menelponku” lanjut Soo Hyun.

“memangnya So Eun belum pulang?” tanya gadis itu yang ternyata adalah Suzy.

“sepertinya belum. Tadi ia minta izin padaku untuk pergi ke rumah Kim Bum. Entahlah, sepertinya ia betah sekali sampai-sampai ia tak menghubungiku, bahkan untuk sekedar mengingatkan untuk makan malam” ucap Soo Hyun dengan wajah cemberut.

“oppa, kau merasa iri pada Kim Bum? Ckckck.. kau menunjukkan kecemburuanmu atas wanita lain didepan kekasihmu sendiri? Sungguh tak berperasaan” timpal Suzy dengna wajah yang pura-pura marah.

“bukan begitu maksudku. Ngomong-ngomong, apa kau kenal Kim Bum dengan baik?” tanya Soo Hyun.

“kau lucu sekali, kami satu sekolah mana mungkin aku tak mengenalnya” jawab Suzy sambil terkekeh.

“memangnya ia orang seperti apa?” tanya Soo Hyun dengan wajah penasarannya.

“hmm.. dia tampan, tinggi, menawan, pintar, berbakat, senyumannya manis sekali, dia ramah, dia jago segala jenis olahraga, ah.. pokoknya ia lelaki sempura. Beruntung sekali So Eun bisa mendapatkan lelaki seperti Kim Bum” kata Suzy dengan senyum senangnya. Sepertinya ia belum menyadari wajah Soo Hyun yang mulai kusut.

“oppa, kau kenapa?” tanya Suzy dengan polosnya. Soo Hyun tak menjawab pertanyaan Suzy. Suzy berfikir sejenak. Lalu ia pun menyadari sesuatu.

“ah oppa.. ah.. tapi oppa, walaupun begitu, dia playboy. Hobinya itu ke bar setiap malam, naah.. kalau di bar, ia suka menggoda wanita-wanita jalang. Ia suka sekali mempermainkan wanita, mungkin baginya wanita itu boneka. Disekolah saja ia selalu menggoda murid-murid perempuan, apalagi yang penampilannya sexy, ckck.. pasti akan langsung ia kejar” ucap Suzy dengan wajah yang dibuat sesinis mungkin. Seketika raut wajah Soo Hyun berubah.

“benarkah seperti itu? Bagaimana ia bisa masuk bar sedangkan ia masih siswa SMA?” tanya Soo Hyun dengan antusias, seolah lupa bahwa beberapa detik lalu ia kesal kepada Suzy.

“kebanyakan bar yang ia datangi itu milik temannya, Kim Joon yang juga anggota F4. Jadi ia bebas keluar masuk bar sesuka hatinya” jawab Suzy lalu menyeruput jus alpukatnya

“benar-benar lelaki kurang ajar. So Eun tidak boleh dekat-dekat dengannya. Mereka harus mengakhiri hubungan mereka sekarang juga” marah Soo Hyun membuat Suzy yang sedang minum menjadi tersedak.

“uhuk..uhuk.. eh, oppa jangan!” ucap Suzy.

“jangan bagaimana? Sebelum adikku merasa sakit hati yang mendalam. Ah anak itu, selama ini ia bercerita bahwa Kim Bum adalah lelaki yang baik padanya, perhatian, dan pastinya sangat menyayanginya. Tapi ternyata, itu semua bertolak belakang dengan kenyataannya” ucap Soo Hyun dengan kesalnya.

“ah oppa, aku belum selesai bercerita. Itu semua sifat Kim Bum sebelum bertemu Kim So Eun” ucap Suzy yang memulai ceritanya kembali.

“maksudmu?” tanya Soo Hyun tak mengerti.

“iya, setelah bertemu So Eun, Kim Bum berubah menjadi ‘jinak’. So Eun sungguh hebat menaklukan playboy ulung macam Kim Bum. Semenjak mengenal So Eun dan mereka berpacaran, kudengar Kim Bum tak pernah ke bar lagi. Dan ia juga tak pernah menggoda murid-murid perempuan di sekolah kami lagi. Dan hmm.. oppa.. kau taukan sebelumnya hubungan aku, teman-temanku, dengan So Eun dan Hye Sun tak terlalu baik. Itu sebenarnya karena kami iri kepada So Eun dan Hye Sun. Kami berpikir, mereka murid baru, tidak kaya, tidak populer, dan hanya mengandalakan beasiswa. Tapi mengapa dia bisa dekat dengan FB4? Lalu mengapa kami yang sudah lama disitu tak bisa dekat dengan FB4? Itu salah satu penyebab kami selalu bertengkar. Tapi itu masa lalu oppa, sekarang hubunganku dengan So Eun dan Hye Sun sudah baik” kata Suzy sambil merangkul lengan Soo Hyun dan bersandar di dada bidang Soo Hyun.

“benarkah seperti itu?” tanya Soo Hyun yang masih meragukan Kim Bum.

“ne. Bahkan tadi saja dia melerai perdebatanku dengan Hye Sun untuk melindungi So Eun” ucap Suzy yang masih bersandar di dada Soo Hyun.

“apa maksudmu?” tanya Soo Hyun yang tak mengerti ucapan Suzy.

“begini oppa, tadi di kantin sempat terjadi keganduhan” ucap Suzy. Kemudian iapun menceritakan tentang pengakuan Jessica yang mengejutkan itu. Soo Hyun terkejut mendengarnya. Tak disangkanya jika ternyata Jessica hanyalah anak angkat.

“setelah itu, dia pergi meninggalkan kantin. Lalu Eun Jung juga pergi. Aku juga berniat pergi dari kantin, saat aku ingin pergi membawa So Eun, Hye Sun menghalangiku. Ia menarik tangan So Eun, dan terjadilah aksi rebutan antara aku dan Hye Sun. Padahal maksudku aku ingin lebih mendekatkan diri dengan So Eun, tapi Hye Sun malah menghalangi niatanku. Tiba-tiba Kim Bum datang dan langsung melepaskan So Eun dari kami. Terlihat wajah So Eun yang kesakitan. Kemudian ia membawa So Eun pergi. Hmm.. oppa, aku minta maaf membuat So Eun menjadi sulit” cerita Suzy.

“hm.. kau yakin Kim Bum sudah berubah?” tanya Soo Hyun yang rupanya masih ragu dengan sifat Kim Bum.

“ckckck.. oppa.. harus berapa kali aku menjelaskannya. Kim Bum itu sekarang sudah benar-benar baik. Apalagi saat ini, sejak ia amnesia sikapnya sedikit berubah. Ia sangat protective terhadap So Eun. Ada lelaki yang mendekati So Eun sedikit, pasti langsung mendapatkan tatapan tajam darinya. Jika ia mengetahui ada murid perempuan yang membully So Eun, pasti ia langsung meminta kepada kepala yayasan untuk mengeluarkan murid itu atas tuduhan bullying. Pernah suatu ketika, aku menghampiri So Eun yang sedang sendiri. Aku berniat ingin berbincang dengan So Eun. tiba-tiba dia muncul dan langsung menjauhkan So Eun dariku. Ia bilang, ia khawatir jika So Eun dekat-dekat denganku, ia takut aku akan berbuat hal buruk pada So Eun. Sudah yaa oppa, jangan bertanya lagi” jelas Suzy panjang lebar.

“hm.. baiklah. Aku tak kan bertanya lagi. Aku minta tolong padamu, tolong awasi Kim Bum selama di sekolah” pesan Soo Hyun.

“siap boss!” seru Suzy sambil hormat kepada Soo Hyun.

“Suzy-ah.. sekarangkan kau sudah tau bahwa Jessica seperti itu, apakah kau akan menjadi temannya?” tanya Soo Hyun sambil menatap Suzy dengan intens.

“molla oppa” jawab Suzy sambil menundukkan kepalanya.

“kenapa? Apa karena dia anak angkat dan orang tua kandungnya miskin maka kau tak mau berteman dengannya? Kenapa kau seperti itu? Kalau kau seperti itu, lalu mengapa kau berpacaran denganku? Aku tak ada bedanya dengan dia. Kami sama-sama berasal dari keluarga menengah kebawah. Mengapa kau menjadi begini? Bukankah aku sudah memberitahukanmu bahwa jangan hanya melihat orang lain dari latar belakang dan kasta belaka?” rentetan pertanyaan Soo Hyun berikan untuk Suzy.

“bukan oppa. Bukan begitu. Oppa kan sudah pernah bilang padaku bahwa aku tidak boleh melihat orang dari kekayaannya saja. Sejak oppa berkata seperti itu, aku tak pernah melakukannya lagi. Dia anak angkat, itu tak masalah bagiku. Yang membuatku kecewa adalah dia lebih memilih harta daripada orang tua kandungnya. Oppa, apakah kau berpikir bagaimana sakitnya kedua orang tua kandung Jessica? Mereka pasti sangat kecewa kepada Jessica karena Jessica lebih memilih meninggalkan mereka demi limpahan harta. Apalagi ibunya, dia pasti sangat sakit hati terhadap Jessica. Bagaimana bisa seorang anak yang dikandungnya selama 9 bulan bisa berbuat seperti itu kepadanya. Bagaimana bisa ia mempertaruhkan nyawanya untuk sebuah kehidupan bagi anak yang meninggalkannya saat ini. Betapa sakitnya hati kedua orang tua Jessica, oppa. Aku sungguh tak menyangka bahwa Jessica sangat dibutakan oleh harta” ucap Suzy dengan wajah prihatinnya. Soo Hyun menatap Suzy tak percaya, ia tak menyangka bahwa wanita manja ini bisa bicara begitu bijaknya.

“Suzy-ah, apakah yang barusan bicara itu kau?” tanya Soo Hyun dengan terpukaunya.

“ne, memangnya siapa lagi?” tanya Suzy dengan wajah polosnya. Kemudian Soo Hyun pun memeluk Suzy dan mengelus rambutnya.

“ne, benar. Dia keterlaluan karena memperlakukan orang tua kandungnya seperti itu. Tapi disaat seperti ini, disaat semua orang memandang benci kepadanya, ia membutuhkan tempat sandaran. Datanglah padanya, berikan pundakmu untuknya menangis. Dan segeralah sadarkan dia” pesan Soo Hyun. Suzy menatap Soo Hyun sejenak. Lalu ia pun menganggukan kepalanya tanda setuju.

***

wild card?” tanya Kim Bum sambil memandang aneh keping kartu di tangannya.

“ne” jawab ayah Kim Bum sambil tersenyum. Kim Bum dan So Eun memandang ayah Kim Bum dan keping kartu itu secara bergantian.

“ini apa?” tanya Kim Bum.

“itu wild card apartmen mu. Kau pasti sangat jenuhkan tinggal di rumah ini, maka dari itu, mulai saat ini ayah mengizinkanmu untuk tinggal di apartmen mu” ucap ayah Kim Bum.

“mulai lusa kau boleh pindah ke apartmen mu. Bagaimana? Kau senang bukan? Ah, baiklah, ayah ingin beristirahat dulu. Nanti kau antarkan So Eun pulang ya” kata ayah Kim Bum lalu bergegas menuju kamarnya.

“kenapa kau diam saja? Kau tidak senang akan tinggal di apartmen mu kembali?” tanya So Eun yang melihat Kim Bum hanya diam saja. Kim Bum belum merespon ucapan So Eun, ia masih berkutat pada pikirannya.

‘Ia sengaja memberhentikan semua pelayan dan pengurus di rumah ini dan tidak menyewa pelayan lagi, ia ingin dirumah ini hanya ada ia, kau, istrimu kelak, dan beberapa cucunya. Bahkan ia tak berniat menikah lagi. Selama kau belum menikah, ia ingin mengisi rumah ini dengan kehangatan bersamamu. Hitung-hitung ini untuk membayar kebersamaan yang hilang antara dirinya dengan kau beberapa tahun terakhir’

“kalau aku pergi, maka ayah akan kesepian” lirih Kim Bum dengan pandangan kosong. Awalnya So Eun sedikit bingung dengan maksud ucapan Kim Bum. namun beberapa detik kemudian nampaknya ia mengerti. Ia pun mengelus punggung Kim Bum, bermaksud untuk membuat Kim Bum tenang.

“bukankah ia bilang ia ingin  mengisi rumah ini dengan kehangatan bersamaku. Tapi mengapa ia malah menyuruhku pergi? Dasar lelaki tua yang bodoh, mengapa dia membiarkan dirinya merasa dingin dan kesepian demi kesenangan anak tak tau diri sepertiku” ucap Kim Bum sambil mengusap setetes air mata yang menetesnya dari mata indahnya. So Eun merasa tersentuh dengan ucapan Kim Bum, ia tak menyangka bisa melihat Kim Bum menangis lagi. Rasanya sudah lama ia tak melihat Kim Bum menangis. Ia pun memeluk bahu Kim Bum.

“dia sangat menyayangimu. Balaslah kasih sayangnya” bisik So Eun.

***

“ah ya..ya.. akan aku usahakan untuk mengajak mereka juga. Tapi itu kalau mereka mau yaa.. aku tak menjamin mereka mau ikut”

“………………..”

“iya.. kau ini cerewet sekali”

“………………..”

“baiklah, sampai bertemu besok malam”

“siapa?” tanya So Eun yang sedang bersandar di lengan Kim Bum yang dibentangkan di belakangnya.

“ji yeon, dia ingin mengajak aku dan kau untuk hadir di apartmen kekasihnya besok malam. Mereka sedang merayakan month anniversary mereka” jawab Hye Sun sambil memasukkan ponsel ke dalam saku kemejanya.

“hanya kau dan So Eun? lalu kami tidak?” tanya Kim Joon yang sedang bertengger diatas meja.

“itu terserah kalian, silahkan kalau kalian mau ikut. Dia pasti akan senang” kata Hye Sun.

“apartmennya dimana?” tanya Min Ho yang duduk di samping Hye Sun.

“di daerah apgujeong” jawab Hye Sun.

“apa itu dekat dengan apartmen Kim Bum?” tanya So Eun

“memangnya apartmen ku di daerah apgujeong?” tanya Kim Bum. So Eun menggetokkan gulungan kertas yang ia pegang ke kepala Kim Bum.

“bagaimana kau bisa lupa dengan alamat apartmenmu Kim Sang Bum” ucap So Eun

“ingatan itu hilang” jawab Kim Bum sambil mengambil gulungan kertas itu dari tangan So Eun. Bermaksud supaya So Eun tidak memukul kepalanya lagi.

“entah, aku tak tau persisnya” jawab Hye Sun.

***

“ayah, aku tak ingin tinggal di apartmen. Aku ingin disini saja” kata Kim Bum sambil tiduran di sofabad yang terdapat di ruang tv.

“mengapa? Bukankah kau suka tinggal di apartmen?” tanya ayah Kim Bum sambil duduk di dekat Kim Bum. Kim Bum membangunkan tubuhnya.

“disini tak ada pengurus. Paman, bibi, dan Willy sudah kembali ke Jerman. Jika aku pergi, lalu ayah dengan siapa disini?” ucap Kim Bum.

“kau tenang saja, ayah sudah biasa seperti itu. Itu bukan masalah besar” kata ayah Kim Bum sambil menepuk bahu Kim Bum.

“tapi ayah…” belum selesai Kim Bum bicara. Ayah Kim Bum langsung memotongnya.

“kau hanya perlu tinggal beberapa waktu disana. Mungkin saja kau mempunyai beberapa memori indah disana, dan kau akan mulai mengingat kembali. Ayah ingin kau bisa mengingat lagi, menurutlah Kim Bum” kata ayah Kim Bum. sementara Kim Bum masih menundukkan kepalanya.

***

Kim Bum dan So Eun sedang berjalan di lorong kamar menuju kamar apartmen Kim Bum.

“aku tidak ingat aku mempunyai apartmen disini. Tapi aku ingat telah membuatmu menangis disitu” kata Kim Bum sambil menunjuk sebuah pintu kamar apartmen.

“ne, kau pernah membuatku menangis di depan kamar apartmenmu” sahut So Eun sambil menghentikan langkahnya di depan kamar itu.

“ini kamar apartmenku?” tanya Kim Bum. So Eun mengangguk. Lalu Kim Bum pun mengarahkan wild card nya ke sensor yang tersedia. Tak menunggu lama, kunci pun terbuka.

“tidak banyak berubah” ucap So Eun sambil menutup pintu kembali.

“sepertinya aku mengingat sesuatu” ucap Kim Bum sambil memejamkan mata dan memegangi kepalanya.

“jangan dipaksakan jika itu sulit” ucap So Eun sambil menarik tangan Kim Bum untuk masuk.

“aku rasa ini suatu hal yang penting. Aku harus mengingatnya” kekeh Kim Bum.

“jangan dipaksakan atau nanti akan terjadi hal buruk kepadamu. Sudahlah..” ucap So Eun. Kim Bum pun menurutinya. Ia tidak ingin ia pingsan lalu merepotkan So Eun.

***

“apa katanya?” tanya Kim Bum setelah So Eun menutup sambungan telephone-nya.

“dia bilang dia tinggal di apartmen ini juga. Hanya berbeda lantai aja. Kajja, ikut aku” kata So Eun sambil berjalan keluar kamar apartmen Kim Bum. Kim Bum mengikuti di belakang So Eun. Beberapa menit kemudian, sampailah mereka pada sebuah kamar apartmen.

“yang ini?” tanya Kim Bum.

“ne, 89G. Persis seperti yang di katakan Hye Sun” kata So Eun.

“hm.. baiklah, sepertinya mereka sudah berkumpul. Kajja, tekan bel-nya” kata Kim Bum. So Eun pun menekan bel nya.

“nuguseyo?” tanya seseorang dari dalam melalui intercom.

“So Eun ieyo” jawab So Eun.

“oh, eonni, aku akan bukakan pintunya” balas orang itu yang ternyata adalah Jiyeon.

Tak lama kemudian pintu pun terbuka. Kim Bum dan So Eun pun masuk.

“hyung!” seru Seungho ketika melihat Kim Bum.

“kau mengenalnya?” tanya Hye Sun pada Seungho.

“ne, Kim Bum hyung. Ternyata kau sudah kembali. Mengapa kau tak mengabarkanku?” tanya Seungho dengan antusiasnya.

“kau mengenalku?” tanya Kim Bum kepada Seungho.

“tentu saja. Kita pernah berkenalan sebelumnya. Apa kau lupa?” tanya Seungho sambil berdiri dan menghampiri Kim Bum.

“kau siapa? Aku tak mengingatmu” kata Kim Bum sambil menatap Seungho dengan aneh.

“aku Seungho. Yoo Seungho” ucap Seungho dengan wajah riangnya.

“Seu….Seung..Ho?” ucap Kim Bum dengan terbata-bata. Tiba-tiba saja pandangannya menjadi buram. Tetapi ia masih bisa mendengar suara So Eun yang meneriaki namanya.

TBC

Gimana? Makin gaje kah? Banyak typo? Mianhae -_- Oh ya.. maaf yaa kalo aku ngepost ff ini kelamaan. BTW, kenapa sih banyak yang gak ninggalin komen? Kalau emang ff-nya jelek, ya gak usah di kunjungin. Jumlah visitor dan jumlah komentar itu sama sekali gak imbang. Maaf, bukan maksud marah-marah, Cuma aku agak kecewa aja sama siders. Okey, kalau komentarnya di part 10 ini masih dibawah 25, maka aku akan STOP ff ini. Dan.. makasih untuk yang udah mau ninggalin komentar🙂 komentar kalian berharga banget untukku🙂 semoga Tuhan membalas kebaikan kalian *amiiin* sekali lagi, gomawo😀

Secret of Love Part 9

Secret Of Love

Part 9

Author                       : Kim Sang Eun

Main Cast                 : Kim Sang Bum dan Kim So Eun

Cast                            : Goo Hye Sun, Lee Min Ho, Kim Hyun Joong, Kim Joon, Jessica, Suzy, Eun Jung, Kim Soo Hyun, Park Ji Yeon, Yoo Seung Ho, Yoo Ah In, Kim Jo Kwang (fiction), Elisha Melville (fiction), William Ville Kim / Kim Woon Ha (fiction)

Genre                                    : Romance, Friendly, #yahh tentuin sendiri lah#

Type                           : Chaptered

PENTING!!! : karakter yang ada dalam ff ini, semuanya bukan milik author. Mereka milik keluarga, agensi, dan fans masing – masing. Disini author hanya meminjam saja. Bila ada kesamaan judul, jalan cerita, pemain, dsb, itu merupakan sebuah ketidak sengajaan. Tidak ada maksud untuk meniru (plagiat-kan) karya orang lain.

Annyeong readers😀
Part 9 nya dateeenggg🙂 Berharap semua readers suka..
jangan lupa tinggalin jejak, Arrasso??!!😉

dari pada banyak abcdefghijklmnopqrstuvwxyz, mending langsung aja yaa😀
happy reading ****

¤¤¤

Dikamar bibi Kim Bum…

Terlihat So Eun yang baru saja keluar dari kamar mandi.

            “bibi belum tidur?” tanya So Eun sambil menyikap selimut lalu berbaring di samping bibi Kim Bum

            “bibi menunggumu” jawab bibi Kim Bum

            “menungguku?” heran So Eun

            “ada yang ingin bibi katakan padamu” kata bibi Kim Bum sambil menatap So Eun dengan intens

Part 9

“ada apa?” tanya So Eun

“ini tentang Hyo In eonni, ibu Kim Bum” jawab bibi Kim Bum

“ibu Kim Bum?” So Eun mengulang

“Jo Kyung oppa memintaku untuk menceritakan ini padamu, ia percaya bahwa kau bisa membantu Kim Bum” ucap bibi Kim Bum

“sebenarnya apa maksud bibi? Aku benar-benar tidak mengerti” ucap So Eun

“kau pernah mendengar tentang Hyo In eonni?” tanya bibi Kim Bum

“aku sedikit merasa tidak enak menceritakannya, tapi yang kudengar saat ini ibu Kim Bum sakit-sakitan karena Jo Kyung ahjussi sering bermain perempuan” jawab So Eun dengan pengucapan ‘bermain perempuan’ yang di pelankan

“namun aku yakin, Jo Kyung ahjussi tidak seperti itu. Aku bisa melihat bahwa Jo Kyung ahjussi sangat menyayangi Kim Bum. Jadi tidak mungkin berbuat hal yang bisa menyakiti Kim Bum” sambungnya

“ya, kau benar. Berita yang tersebar selama ini memang seperti itu. Namun kenyataannya tidak seperti itu” ucap bibi Kim Bum

“mwo?” bingung So Eun

“saat Kim Bum berusia sekitar 1 – 2 tahunan, Jo Kyung oppa dan Hyo In eonni bercerai” ucap bibi Kim Bum

“jadi, Jo Kyung ahjussi dan ibu Kim Bum itu sudah bercerai?” sahut So Eun dengan sedikit terkejut

“ne, mereka bercerai karena Hyo In eonni tertangkap basah sedang berselingkuh kepada seorang pengusaha kaya di sebuah restoran” cerita bibi Kim Bum sambil menghela nafas panjangnya

“beberapa bulan kemudian, Hyo In eonni menikah dengan laki-laki yang sudah memiliki satu orang putra itu. Jo Kyung oppa dan juga Kim Bum menghadiri pernikahan itu. saat itu Kim Bum masih terlalu kecil untuk mengetahui sebuah perceraian, Jo Kyung oppa sengaja hanya melihat dari jauh, karena ia takut Kim Bum akan menyadari jika wanita yang berada di altar adalah ibunya. Saat dalam perjalanan pulang….

Flashback

            “appa, mengapa ibu tidak ikut kita ke pernikahan ahjussi tadi?” tanya Kim Bum kecil

            “ibumu sedang berada di rumah nenekmu di JeonJu” dusta ayah Kim Bum

Drrttt drrrtt .. Terdengar sebuah getaran ponsel, ayah Kim Bum segera menepikan mobilnya lalu mengambil ponsel di saku jasnya. Terlihat sebuah pesan masuk, ayah Kim Bum segera membukanya

From : Kim Bum Eomma

Wasseo Gomawoyo (terimakasih atas kedatangannya). Tak ingin bertele-tele, aku punya satu berita penting. Aku mengandung, dan kurasa itu adalah anak kita, adik Kim Bum. Karena aku bersumpah bahwa aku tidak pernah berbuat di luar batas bersama Ok Joo oppa yang sekarang sudah menjadi suamiku. Walau begitu, kuminta kau percayakan anak ini padaku, aku sudah berbicara pada Ok Joo oppa tentang hal ini, dan ia menyetujui jika kami yang merawat anak ini. Hanbeon, wasseo gomawoyo

~Jang Hyo In~

Dada ayah Kim Bum terasa seperti dilempar batuan besar. Dalam benaknya, bagaimana bisa ibu Kim Bum menikah dengan lelaki lain padahal saat ini ibu Kim Bum sedang mengandung anak mereka. Ia bingung apakah harus menceritakan hal ini pada Kim Bum atau tidak, akhirnya ia memutuskan untuk menutup rapat-rapat hal ini pada Kim Bum.Ia berjanji akan memberitahukan ini pada Kim Bum ketika Kim Bum sudah mulai dewasa dan bisa mengerti semua ini

End Flashback

“mwo?!” So Eun dibuat ternganga mendengar cerita bibi Kim Bum

“benar, Jo Kyung oppa sengaja berbohong kepada Kim Bum. Ia lebih memilih jika Kim Bum membencinya, daripada Kim Bum membenci ibunya” ujar bibi Kim Bum

“dimana adik Kim Bum sekarang?” tanya So Eun

“kami semua tidak tahu. Semenjak pernikahan itu, kami putus komunikasi dengan Hyo In eonni” jawab bibi Kim Bum dengan mata sayu

“mungkinkah penyebab amnesia sebagian Kim Bum karena memori tentang ibunya? Dan apa ini berarti Kim Joon tau tentang ibu Kim Bum?” tanya So Eun

“apa maksudmu?” tanya bibi Kim Bum balik

“tadi ketika Kim Joon menyinggung tentang ‘ibu’ Kim Bum langsung pingsan” jawab So Eun

“ohh.. yaa mungkin saja” ucap bibi Kim Bum dengan mimik menerawang

“lalu, apa yang bisa kubantu, bi?” tanya So Eun

“Jo Kyung oppa ingin kau membantu Kim Bum untuk bisa mengingat bahwa dia masih memiliki seorang ibu dan adik” ucap bibi Kim Bum

“ne. Aku akan membantunya secara perlahan. Tapi aku tidak mungkin sendirian, aku juga pasti akan membutuhkan 3 anggota FB4. Karena bagaimanapun Kim Bum sudah berteman lama dengan mereka dan mereka pasti tau banyak tentang Kim Bum” balas So Eun dengan senyum manisnya

“gomawo, So Eun-ah” kata bibi Kim Bum kemudian memeluk So Eun. dan So Eun pun membalas pelukan bibi Kim Bum

###

Sore ini, So Eun, Kim Bum, dan hyun sedang berada di pinggir kolam renang rumah Kim Bum. Ia sedang membantu Kim Bum untuk bisa mengingat orang-orang sekitarnya dengan sebuah buku tebal yang berada di hadapan mereka. So Eun dan Hyun Joong sengaja tidak mengajak Min Ho, Hye Sun, dan Kim Joon karena takut kejadian kemarin terjadi lagi.

“ini aku, kau, dan dua orang yang kemarin?” tanya Kim Bum pada Hyun Joong

“ne, kita berempat adalah sahabat sejak kecil. Ini kau, ini aku, ini namanya Kim Joon, dan ini Min Ho. Kita sangat populer di sekolah Shinhwa, kita adalah sebuah geng bernama FB4” jelas Hyun Joong

“FB4?” tanya Kim Bum

“ne, FB4. Flower Boys 4. Itu sudah terbentuk sejak kita berusia sekitar 7 tahun-an, dan yang memberikan nama Flower Boys 4 adalah ayah Min Ho. Karena ayah Min Ho bilang wajah kita semua sangat tampan, bahkan bisa disandingkan dengan keindahan bunga di musim semi” jelas Hyun Joong sementara Kim Bum dan So Eun hanya mendengarkannya dengan baik

“Hmm..untuk pertama, Kim Joon” kata Hyun Joong sambil menunjuk foto Kim Joon yang sengaja sudah ditempel di buku itu

“orang ini yang ‘menoyol’ kepala ku kemarin. Sungguh tidak sopan” gumam Kim Bum

“isshh, kau ini semenjak hilang ingatan, perilakumu itu sangat mirip Min Ho. Mudah sekali terpancing emosi” sahut Hyun Joong

“aahhh sudahlah, abaikan saja. Kembali ke topik utama, Kim Joon. Namanya adalah Hyung Joon……”Hyun Joong dan So Eun masih terus membantu Kim Bum untuk mengingat orang-orang sekitarnya

###

“kenapa belakangan ini dia suka sekali mengajak kita ke caffe kecil seperti ini?” ucap Eun Jung yang lebih mirip dengan sebuah rengekan

“geuraesso. Apa uangnya sudah habis sehingga mengajak kita ke caffe murahan seperti ini?” setuju Jessica sambil memperhatikan setiap sudut di caffe itu

“ini pesanana kalian” kata Suzy sambil memberikan kopi ke Jessica dan Eun Jung. Kemudian ia duduk di kursi di depan Eun Jung

“yya! Kau sedang berhemat atau kekurangan uang, sehingga mengajak kami ke caffe seperti ini, hah?” tanya Eun Jung

“apa yang salah dari caffe ini? Interiornya lumayan bagus, kopi disini juga enak” kata Suzy sambil tersenyum

“ada yang aneh denganmu” kata Jessica sambil memandang Suzy

“yya, tidak ada salahnyakan jika sesekali kita bersantai di caffe kecil seperti ini. Apa kalian tidak bosan menghabiskan waktu di mall-mall besar? Sesekali kita harus melihat dunia luar yang jauh dari kehidupan kita yang bergelimang harta” ucap Suzy

“Suzy-ya, ada apa denganmu? Kata-katamu sangat berbeda dari biasanya” ucap Jessica dengan heran

“kita tidak punya harta benda apapun, jadi kita harus belajar hidup mandiri mulai dari sekarang” ujar Suzy yang masih menunjukkan senyumannya

“tidak punya harta benda apapun? Matamu rabun, hah?” tanya Eun Jung

“semua yang kita miliki itu punya orang tua kita. Mobil, ponsel, tas mahal, sepatu bahkan sikat gigi yang kita gunakan sehari-hari itu dibeli dengan uang orang tua kita, bukan uang kita. Kita harus mencontoh orang-orang diluar sana, mereka bekerja keras untuk mendapatkan uang. Harusnya kita malu pada diri kita sendiri, karena kita hanya bisa menghabisi uang tanpa bisa menghasilkannya. Apa yang bisa kita banggakan? Bahkan kita lebih miskin daripada penjual baso ikan seperti Hye Sun. Sudahlah… jangan bersombong-sombong diri lagi, semua ini bukan milik kita” ucap Suzy panjang lebar. Eun Jung hanya mendengarkannya dengan malas dan heran. Sedangkan Jessica, entah mengapa, ia menjadi gugup dan cemas ketika mendengar Suzy berkata ‘bahkan kita lebih miskin daripada penjual baso ikan’ secara tiba-tiba ia langsung terpikirkan kehidupan lampaunya.

“ah… aku ada urusan mendadak. Aku pergi dulu yaa.. Annyeong” kata Jessica lalu pergi dari hadapan Suzy dan Eun Jung dengan cepatnya

“ada apa dengannya?” gumam Suzy sambil melihat Jessica yang sedang membuka pintu cafe itu

“urusan mendadak apa?” sahut Eun Jung yang kini melihat Jessica semakin menjauh

###

Setelah sekitar 10 hari Kim Bum berada di korea, akhirnya ayah Kim Bum memutuskan untuk menyekolahkan Kim Bum kembali di Shinhwa. Dan ini adalah hari pertama Kim Bum kembali bersekolah setelah peristiwa tidak mengenakkan itu. Ia bersama So Eun di sampingnya dan Hyun Joong yang berada di belakangnya.

“tidak banyak yang berubah” gumam Kim Bum saat tiba di pintu masuk

“kau mengingat sekolAh Ini?” tanya So Eun heran

“tentu. Ayo kita masuk” kata Kim Bum sambil menarik tangan So Eun. Sementara Hyun Joong hanya mengikuti Kim Bum dan So Eun bagaikan ekor. Saat masih berjalan menuju kelas, tiba-tiba saja Kim Bum, So Eun, dan Hyun Joong dihadang 3 orang gadis. Siapa lagi kalau bukan Sweet Girl.

“annyeong Kim Bum!! Selamat kembali ke sekolah” ucap 3 gadis itu berbarengan

“kau ingat mereka?” bisik Hyun Joong dari belakang

“issh.. mana bisa aku lupa pada 3 yeoja tidak tau diri seperti mereka” kata Kim Bum sambil memandang Sweet Girl dengan tatapan sinis

“Bum-ah… akhirnya kau kembali juga” kata Jessica yang langsung merangkul lengan kanan Kim Bum

“yya! Kau ini apa-apaan” kata Kim Bum sambil menyingkirkan tangan Jessica dari lengan kanannya

“jangan pernah dekat-dekat denganku lagi. Kau tau, aku ini sudah memiliki kekasih. Apa kau tidak lihat, hah?!” kesal Kim Bum. Sweet Girl menatap So Eun yang sedang tersenyum di gandengan Kim Bum

“mwo!” kejut Jessica dan Eun Jung, tidak dengan Suzy

“bukankah kau dan So Eun sudah putus?” ucap Jessica tidak percaya

“tidak. So Eun masih kekasihku” kata Kim Bum sambil mengeratkan gandengannya dengan So Eun

“mwo! Aissh… kenapa kau kembali lagi, hah?!” kesal Eun Jung dengan menunjukkan wajah sebal pada So Eun

“yya! Yya! Yya! Kalian ini… sudahlah… apa salahnya jika So Eun kembali pada Kim Bum, hah?! Yang pentingkan mereka bahagia, ya kan So Eun?” ucap Suzy dengan senyumnya yang tertuju untuk So Eun. Jessica, Eun Jung, hyunjoong, Kim Bum, bahkan So Eun terkejut mendengarnya.

“y..ya! Suzy-a.. apa otakmu bergeser?” heran Eun Jung

“aissh… sudah..sudah,, ayo kita pergi” kata Suzy sambil menarik kedua temannya itu pergi

“apa telingaku sedang bermasalah?” tanya Hyun Joong sambil menatap kosong kearah depan

“atau kepalanya itu baru saja terbentur batu marmer besar?” Kim Bum memandang heran ke Sweet Girl yang melenggang pergi

“sejak kapan dia menjadi baik seperti itu padaku?” tanya So Eun pada dirinya sendiri

###

Dua minggu sudah Paman, Bibi serta William menetap di korea. Hari ini adalah waktunya mereka pulang ke Berlin-Jerman. Kim Bum, So Eun, serta ayah Kim Bum turut mengantarkan mereka sampai ke bandara.

“Hyung… aku pulang, lain kali pasti aku akan berlibur ke sini” kata paman Kim Bum sambil merangkul ayah Kim Bum

“ne, kalau liburan nanti jangan lupa ke korea” kata ayah Kim Bum sambil menepuk bahu paman Kim Bum yang merupakan adik kandungnya itu

“hyung.. aku akan kembali ke Jerman, jangan rindukan aku yaa” kata William sambil memeluk Kim Bum yang berjongkok di hadapannya

“siapa juga yang akan merindukanmu, hah? Aku tidak akan merindukanmu” ucap Kim Bum dengan nada yang pura-pura ketus. Namun sebenarnya Kim Bum sangatlah menyayangi adik sepupunya itu. Ia mengelus rambut William dengan penuh kasih sayang

“Noona.. tolong jangan lupakan aku” kata William sambil berganti memeluk So Eun

“ne, aku pasti tak akan melupakanmu. Aku pasti akan merindukanmu” kata So Eun sambil membalas pelukan William

“So Eun..tolong kau ingat pesanku baik-baik” kata bibi Kim Bum sambil memeluk Kim Bum

“tentu bi” bisik So Eun. Beberapa detik kemudian terdengar pengumuman untuk penumpang tujuan Berlin agar segera menuju ke pintu penerbangan luar negri karena sebentar lagi pesawat akan lepas landas. Paman dan bibi Kim Bum serta William pun segera menuju ke pesawat.

###

“tak seharusnya kau ucapkan kata yang begitu ketus pada William seperti tadi” tegur ayah Kim Bum yang duduk di samping supir pribadinya. Saat ini ayah Kim Bum, Kim Bum, dan So Eun sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Kim Bum.

“tidak, ayah. Aku hanya berpura-pura saja” kata Kim Bum sambil menyandarkan kepalanya ke jendela

“kau harus menyayanginya sepenuh hati” kata ayah Kim Bum lagi

“tentu saja. Aku sudah menganggapnya seperti adik kandungku sendiri. Karena aku tidak mempunyai adik, maka mudah bagiku untuk menganggapnya seperti adik kandungku” kata Kim Bum yang membuat ayah Kim Bum dan So Eun menjadi saling pandang

“ne, kau benar” kata So Eun menimpali

            “kau mempunyai adik Kim Bum” batin ayah Kim Bum yang mengalihkan pandangannya ke jalanan lurus di depannya

###

Sore ini, So Eun ditemani Hye Sun dan Ji Yeon sedang berkeliling di salah satu mall terkemuka di Seoul. Hye Sun dan Ji Yeon menemani So Eun yang berniat untuk membelikan Kim Bum sebuah hadiah untuk memperingati 6 bulan mereka menjadi sepasang kekasih setelah sempat putus.

“kenapa kau harus membeli barang di tempat semahal ini?” tanya Hye Sun sambil memperhatikan setiap sudut mall ini

“tak apa lah.. sekali-kali aku juga ingin memberikan dia hadiah yang mahal” jawab So Eun santai sambil memperhatikan jam tangan laki-laki yang sedang dipajang

“apa keluarga kekasih merestui hubungan kalian?” tanya Ji Yeon lagi

“ne, bahkan sampai paman, bibi dan adik sepupunya juga sudah merestui kami” jawab So Eun dengan senyum manisnya

“enak sekali kalian. Hye Sun eonni sudah dijanjikan pertunangan setelah lulus nanti. Dan So Eun eonni sudah mendapatkan lampu hijau dari keluarga kekasih eonni” ujar Ji Yeon sambil menghela nafasnya

“memangnya kau kenapa? Apa mereka masih belum menerimamu juga?” tanya Hye Sun yang sudah mengetahui permasalahan hubungan percintaan Ji Yeon

“jadi, orang tua kekasihmu belum memberikan restu juga?” tanya So Eun dengan ekspresi terkejut

“ne, bahkan sampai sekarang Seung Ho belum pulang ke rumahnya juga. dia masih tinggal di apartemennya” ucap Ji Yeon dengan lemah

“jadi dia tidak tinggal di rumahnya?” tanya So Eun

“ne, dia tidak tinggal di rumahnya. dia tinggal di apartemennya” jawab Ji Yeon

“apa sampai sekarang orang tuanya tidak mencari dia?” heran So Eun

“ayahnya sudah meninggal. Dia bilang dia benci ibunya, karena ibunya itu tidak mencari dia. Dan kakaknya, dia adalah orang yang paling menentang hubungan kami. Dia sama sekali tidak berkomunikasi dengan keluarganya.  Bahkan telepon saja tidak. Saat ini aku merasa sangat bersalah, dia begini karena aku. Bahkan dia harus bekerja paruh waktu untuk hidupnya sehari-hari” cerita Ji Yeon

“kau harus sabar menghadapi keluarga kekasihmu yang seperti itu. Karena sekeras-kerasnya batu pasti akan berlubang juga jika ditetesi air terus menerus” pesan So Eun

“ne, sekarang waktunya kau dan kekasihmu menunjukkan seberapa besar cinta yang kalian miliki. Tunjukkan mana yang lebih kuat, cinta kalian atau larangan dari keluarga kekasihmu itu” Hye Sun meneruskan

“hwaithing Ji Yeon-ah!!!” ucap So Eun dan Hye Sun dengan serempak dan membuat Ji Yeon tersenyum senang. Namun, tak lama kemudian senyumannya itu hilang ketika melihat seorang gadis mengenakan pakaian casual musim semi dengan gadget canggih di tangannya. Ji Yeon menatap orang itu dengan sinisnya, beberapa saat kemudian mata mereka bertemu dan membuat mereka diam di tempat masing-masing

“cih..dosa apa aku hingga bertemu dengannya kembali” gumam Ji Yeon dengan pelan

“bertemu siapa?” tanya So Eun, kemudian ia mengikuti arah mata Ji Yeon

“siapa?” tanya Hye Sun yang juga penasaran. Ia juga memutar bola matanya ke arah pandangan Ji Yeon

“mwo? Dia…dia Jessica. Kau mengenalnya?” tanya So Eun pada Ji Yeon

“eonni mengenal dia?” tanya Ji Yeon yang matanya tak lepas dari Jessica yang sedari tadi terlihat gusar

“dia teman sekolah kami. Dia pelajar di Shinhwa juga” jawab Hye Sun. Sesaat kemudian, Ji Yeon tersenyum sinis

“moment yang sangat tepat” ucapnya lalu egera berjalan menghampiri Jessica. Hye Sun dan So Eun mengikutinya walau dengan wajah yang masih bingung

“hai nona Jessica. Kita bertemu lagi” ucap Ji Yeon dengan menekan kata ‘Jessica’. Sementara Jessica terlihat cemas dan tidak menatap wajah Ji Yeon

“Soo Yeon eonni..oopss! maksudku nona Jessica, apa kau kesini untuk berbelanja barang-barang bagus dan bermerk? Oh.. betapa bodohnya aku bertanya seperti itu, jawabannya sudah pasti ‘iya’” ucap Ji Yeon dengan nada menyindir. Sementara gurat kecemasan belum sirna dari wajah Jessica

“Ji Yeon-ah.. sebenarnya ada apa ini? kau mengenalnya? Dan Jessica, apa kau juga mengenal Ji Yeon?” tanya Hye Sun. Jessica memandang Hye Sun sebentar lalu segera menjawab

“tidak. Aku sama sekali tidak mengenalnya” jawab Jessica dengan berusaha menghilangkan rasa takutnya

“waahh.. hebat sekali. Kau tidak mengenalku, tapi bagaimana bisa kita bersahabat dulu, eoh?” tanya Ji Yeon yang membuat Jessica merasa terudutkan

“oh..maaf aku lupa. Dulu aku bersahabat dengan Jung Soo Yeon bukan Jessica Jung. ya..yaa.. maafkan aku, aku lupa” ucap Ji Yeon dengan intonasi sangat menyindir

“aku benar-benar tidak mengerti. Persahabatan? Jung Soo Yeon?apa maksudnya itu?” tanya So Eun bingung

“maaf, aku masih ada urusan. Aku pergi dulu” kata Jessica lalu bergegas pergi

“cepat atau lambat, semuanya akan tau. Tinggal kau pilih saja, mengaku atau tertangkap basah” ucap Ji Yeon yang berhasil membuat langkah Jessica terhenti

“sekarang ini, aku bukan Park Ji Yeon beberapa hari yang lalu. Aku bukan lagi orang miskin yang bisa kau hina sesuka hati. Karena aku baru saja menyadari bahwa ternyata aku mempunyai sebuah kunci harta karun yang sangat berharga. Tunggulah saatnya tiba” sambung Ji Yeon

“aku pergi” kata Ji Yeon sambil menarik tangan Hye Sun dan So Eun

“yya! Ji Yeon-ah, aku belum jadi membeli hadiahnya” protes So Eun

“nanti saja eonni. Ini bukan tempat kita” bisik Ji Yeon sambil terus menarik tangan So Eun dan Hye Sun

“sebenarnya ada apa diantara kalian?” tanya Hye Sun penasaran

“akan aku ceritakan nanti. Dan aku yakin kalian pasti akan sangat terkejut” jawab Ji Yeon dengan suara pelannya

Sementara Jessica masih terpaku ditempatnya. Ia takut akan ancaman Ji Yeon. Ia tidak mau jati diri yang sebenarnya terungkap. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, mencoba melampiaskan semua amarahnya.

“Ji Yeon..kau benar-benar! Akh! Gadis sialan!” kesal Jessica

###

So Eun baru saja tiba di rumahnya. Ia meletakan paper bag besar berisi sebuah coat musim semi di sofa depan televisi lalu segera merebahkan tubuhnya di sofa itu.

“huufft.. lelah sekali” gumam So Eun

“kau baru pulang?” tanya Soo Hyun yang baru keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah dan handuk yang bertengger di bahunya

“ne” jawab So Eun sambil memejamkan matanya

“waah.. apa yang kau beli?” tanya Soo Hyun sambil membuka paper bag berukuran besar itu. dan dilihatnya sebuah coat musim semi berwarna moccachino yang sangat cocok untuk dipakai di musim semi yang baru saja tiba

“apa ini untukku?” tanya Soo Hyun dengan senangnya

“oppa! Jangan! Itu untuk Kim Bum, bukan untuk oppa” kata So Eun sambil memasukan coat itu kembali ke dalam paper bag

“yya! Kau ini… mengapa kau belikan Kim Bum sedangkan kau tidak membelikan aku? Selama ini kan aku yang memberikanmu makan, mengapa aku tidak kau belikan?” protes Soo Hyun

“oppa nanti saja.. kalau aku mempunyai uang lebih” jawab So Eun sambil membenarkan posisi duduknya

“oh ya, kapan kau akan membawa Kim Bum ke rumah? Selama ini, aku hanya melihatnya difoto saja” ucap Soo Hyun

“kalau saatnya sudah tiba” kata So Eun sambil bergegas masuk ke kamarnya

“tapi kapan?” tanya Soo Hyun dengan agak memaksa

“molla~~ aku mau tidur. Jangan ganggu aku” teriak So Eun dari dalam kamarnya

“aish..anak itu, selalu saja begitu” kata Soo Hyun sambil memencet tombol on di remote televisinya

###

“oppa” teriak So Eun saat baru membuka pintu kamarnya

“yya!” kejut Soo Hyun ketika So Eun berteriak. Sontak ia menoleh ke belakangnya

“apa kau gila?! Ini tengah malam, kau hampir saja membuat jantungku berhenti berdetak” protes Soo Hyun karena terkejut

“oppa!” teriak So Eun lagi sambil duduk di samping Soo Hyun

“yya! Jangan berisik! Kau ini, mengapa tengah malam seperti ini belum tidur. Besok kan kau harus sekolah” kata Soo Hyun

“oppa sendiri kenapa tengah malam seperti ini belum tidur dan malah sibuk bermain ponsel?” tanya So Eun yang sepertinya lupa dengan alasan ia berteriak tadi

“ah..a..aniya.. aku hanya sedang bosan, jadi aku bermain game di ponsel hehe” Soo Hyun tertawa hambar

“oppa wajahmu tidak meyakinkan. Apa..kau sudah berkencan yaa?? Benar? Siapa gadis itu?” tanya So Eun dengan mata yang menyipit

“mwo? K..kau! kau anak kecil, jangan sok tau!” kata Soo Hyun dengan waja memerah

“a.. ini tak salah lagi, lihatlah wajahmu memerah” goda So Eun sambil mendorong pelan lengan Soo Hyun

“yya! Kau ini. tidak.. aku tidak berkencan dengan siapapun” elak Soo Hyun

“haa.. wajahmu menunjukkan sebalikny, oppa. Marhae.. siapa gadis tak beruntung itu?” tanya So Eun dengan wajah yang benar-benar meledek

“mwo? Gadis tak beruntung katamu? Yya! Tentu saja dia beruntung karena bisa mendapatkan namja keren sepertiku” bangga Soo Hyun yang tanpa sadar bahwa secara tidak langsung ia membenarkan perkiraan So Eun

“yaaaa…. kau ketahuan! Hahaha.. benar apa kataku, ternyata kau sudah berkencan. Cepat katakan padaku siapa gadis itu. katakan..katakan..katakan..” paksa So Eun sambil mengguncang-guncang tubuh Soo Hyun

“isshh.. kau ini. oh ya, kenapa tadi kau berteriak” kata Soo Hyun mencoba mengalihkan pembicaraan. Dan sepertinya So Eun pun terjerumus ke dalam trik Soo Hyun ini

“oh.. itu ada kecoa di kamarku. Tadi kecoa itu berjalan di atas selimutku. Aku takut melihatnya” kata So Eun dengan ekspresi wajah ketakutannya

“baiklah, aku akan lihat dulu” kata Soo Hyun sambil berjalan menuju kamar So Eun. Dan sepertinya ia lupa dengan ponsel yang ia tinggalkan di sofa

“hoaam.. ngantuk se….mwo? haha.. ini kesempatan besar” kata So Eun ketika melihat ponsel blue metalic Soo Hyun tergeletak dengan bebas disampingnya

“hahaha..oppaa.. sebentar lagi rahasiamu akan terbongkar” kata So Eun sambil memasukkan password yang memang sudah ia ketahui

“pesan..pesan..pesan” gumam So Eun sambil mengutak-atik ponsel Soo Hyun

“MWO?!” So Eun terkejut ketika melihat list message paling atas. Tertera nama BAE SUZY. Karena penasaran iapun membukanya. Dan So Eun merasa lebih terkejut lagi ketika membukanya. Tak berapa lama, iapun menyunggingkan senyum penuh kemenangan.

###

Saat ini So Eun dan Hye Sun sedang berkumpul di ruangan FB4 tentunya bersama FB4 minus Kim Bum. ya, saat ini Kim Bum memang belum datang.

“sudah sesiang ini mengapa ia belum datang?” tanya Kim Joon sambil duduk di samping So Eun kemudian ia meneguk segelas air putih yang baru saja diambilnya

“ne, tidak biasanya ia datang siang” sahut Hyun Joong

“entahlah, mungkin dia terjebak macet” jawab So Eun

“Seoul bukan kota padat penduduk seperti Beijing. Macet sangat jarang terjadi. Apa tadi pagi kau sudah menelponnya? Kau tau sendiri dia sangat sulit untuk bangun pagi” ucap Min Ho

“tadi pagi aku sudah menelponnya” balas So Eun

“annyeong” sapa seseorang yang terlihat baru saja datang

“kau baru datang?” tanya Hyun Joong, sebenarnya ini lebih terlihat seperti sebuah pernyataan

“ne, tadi ada sedikit masalah pada mobilku” kata Kim Bum. kemudian iapun berjalan menuju So Eun. Matanya menatap Kim Joon dengan tatapan yang sangat tajam.

“ne.. ne… kau ini pencemburu sekali” kata Kim Joon yang mengerti arti tatapan Kim Bum. Ia segera pindah duduk menjadi di samping Hyun Joong

“annyeong” sapa Kim Bum lalu mencium pipi So Eun dengan singkat

“yya! Apa yang kau lakukan, ha?!” ucap So Eun dengan wajah tersipu malu

“So Eun, tadi kau bilang kau ingin mengatakan sesuatu padaku” kata Hye Sun yang duduk di sebelah Min Ho

“ne. Kalian tau, ternyata Suzy berpacaran dengan Soo Hyun oppa!” seru So Eun

“MWO?!” Semuanya terkejut

“apa kau bercanda, Suzy berpacaran dengan kakakmu? Tapi bagaimana mereka bisa saling mengenal?” tanya Min Ho

“aku juga tidak tau. Semalam aku membaca percakapan di ponsel Soo Hyun oppa” balas So Eun

“jadi apakAh Ini alasan mengapa belakangan ini sikapnya terhadapmu berubah” Hyun Joong mengangguk-angguk

“ne, itu mungkin saja” gumam So Eun

“wahh…tapi itu berita bagus. Itu berarti dia tak akan mengusik hubungan Kim Bum dan So Eun lagi. Benarkan’?” ucap Kim Joon

“Suzy iya.. tapi untuk dua nenek lampir itu. bagaimana, eoh?” ucap Kim Bum dengan malas

“bagaimana kalau nanti malam kita ke bar, aku sudah selesai merenovasinya. Kalian harus melihatnya, karena hasilnya itu sangat keren”pamer Kim Joon

“tidak bisa, nanti malam aku ada acara bersama So Eun. Iyakan So Eun?” kata Kim Bum sambil memeluk bahu So Eun lalu menyandarkan kepalanya. Sementara So Eun hanya pasrah saja

“Kim Bum… pagi-pagi kau sudah memamerkan kemesraan. Kau pikir kau saja yang bisa eoh?” ucap Min Ho sambil ikutan, ia memeluk bahu Hye Sun dan menyandarkan kepalanya. Berbeda dengan So Eun yang pasrah, Hye Sun justru menolak dengan mencoba mengangkat kepala Min Ho yang bersandar di bahunya. Yang lainnya hanya tertawa melihat mereka

“memangnya nanti malam kalian mau kemana?” tanya Kim Joon yang mulai kembali ke topik utama

“rahasia. Pokoknya kalian tak boleh tau, kalau kalian tau pasti kalian akan mengacaukannya” jawab Kim Bum sambil melepaskan pelukannya pada So Eun lalu berduduk santai

“aish.. sok romantis” cibir Min Ho

“sudahlah kita ke kelas saja, sebentar lagi waktunya masuk” ajak Hyun Joong mencoba menengahkan

###

So Eun dan Hye Sun sedang makan siang di kantin. Saat mereka tengah asik makan, tiba-tiba tiga orang tak diinginkan datang menghampiri mereka.

“annyeong… apa aku boleh bergabung dengan kalian?” tanya Suzy dengan mengejutkan. Mimik wajah Eun Jung yang tadinya sinis berubah menjadi keterkejutan. Sementara ekspresi ketakutan tergambar jelas di wajah Jessica

“Suzy-ah.. apa yang kau lakukan?!” ucap Eun Jung dengan pelan.

“kenapa? Ada yang salah? Sudah.. ayo kalian duduk situ” kata Suzy sambil menunjuk kursi kosong dihadapannya –yang juga berarti di samping Hye Sun-

“ckckck… kali ini apa lagi,eoh? Yya! Suzy-ah.. strategi apa lagi yang kau buat kali ini?” ucap Hye Sun yang merasa waktu makan siangnya terganggu karena kedatangan Sweet Girls

“aku hanya ingin makan bersama kalian. Sica-ah, Eun Jung-ah, mengapa hanya berdiri? Ayo duduk” kata Suzy dengan cerianya

“So Eun-ah, kau sudah selesai makan atau belum? Kalau sudah ayo kita cepat-cepat pergi” kata Hye Sun dengan sensitifnya

“ne, aku sudah selesai” kata So Eun sambil berdiri dari kursinya. Sementara Suzy menatap So Eun dan Hye Sun dengan bingung

“ckckckck… makin hari persahabatan kalian makin tidak kompak saja” ucap Hye Sun sambil menatap Suzy, Eun Jung, dan Jessica secara bergantian

“yya! Apa maksudmu berkata seperti itu,hah?!” ucap Eun Jung yang sepertinya naik darah. Suaranya meninggi, hingga seisi kantin memperhatikannya

“Eun Jung-ah, kecilkan suaramu” bisik Suzy

“ha… ini kesempatan bagus, mumpung semuanya sedang memperhatikan kita, sebaiknya kita buka semuanya disini” ucap Hye Sun sambil memandang orang-orang yang sedang memperhatikannya. Sementara Jessica hanya diam saja, wajahnya semakin terlihat ketakutan.

“aigo..bagaimana jika Ji Yeon sudah menceritakan semuanya pada mereka. Bisa-bisa reputasiku hancur seketika” cemas Jessica dalam hati

“kalian tahu….”Hye Sun menggantungkan kata-katanya, membuat yang lain penasaran. Tak terkecuali So Eun, karena Hye Sun tak mengatakan pada So Eun apa yang akan ia bicarakan. Hye Sun menatap mata Suzy dengan lekat

“Mereka! Sweet Girls, yang sering dipuji-puji, yang katanya anak-anak orang kaya dan anti berteman dengan rakyat jelata. Kalian semua tau, bahwa satu diantara mereka ada…..”belum sempat Hye Sun melanjutkan ucapannya, sudah ada sebuah tangan yang membungkam mulutnya dengan keras. Dan ternyata tangan itu adalah tangan Jessica.

“NE! AKU MEMANG HANYA ANAK ANGKAT, SEMUA YANG AKU PAMERKAN ADALAH HARTA ORANG TUA ANGKATKU! ORANG TUA KANDUNGKU MEMANGLAH ORANG MISKIN! AKU MENINGGALKAN ORANG TUA KANDUNGKU DEMI HARTA ORANG TUA ANGKATKU! KAU PUAS SEKARANG!!!!!!!” ucap Jessica dengan keras. Tak hanya itu ia juga menjambak-jambak rambut Hye Sun. Disudut matanya terlihat air mata amarah. Hye Sun yang dijambaki hanya diam saja saking terkejutnya. Sementara So Eun, Hye Sun, Eun Jung, dan Suzy serta pengunjung kantin yang lain terbelak mendengar pengakuan Jessica barusan

“mwo?” ucap So Eun hampir tak terdengar

“benarkah itu?” Suzy bertanya-tanya dengan gaya tangan kanan yang menutupi mulutnya

“mwoya..” gumam Eun Jung dengan mata membulat. Terdengar juga bisikan-bisikan yang lainnya, seperti

“jadi dia hanya anak orang miskin”

“apa dia anak pungut?”

“aku sungguh mau jika aku menjadi dirinya”

Setelah merasa puas ‘menyiksa’ Hye Sun iapun pergi dengan nafas yang masih memburu.

“apa yang ia bicarakan” gumam Hye Sun sambil memegangi kepalanya atau lebih tepatnya rambutnya

“Hye Sun-ah.. kau baik-baik saja?” tanya So Eun dengan cemas

“tadi nenek sihir itu bilang apa?” tanya Hye Sun tanpa mengindahkan pertanyaan So Eun, wajahnya pun masih terlihat seperti orang ling-lung

“ckckckck” gumamnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya

TBC

Gimana? Makin gaje kah? Oh ya.. maaf yaa kalo aku ngepost ff ini kelamaan. Cause, sekarang lagi banyak banget tugas jadi jarang on. Selain itu juga karena masalah siders. Visitor sama jumlah komentarnya sangat-sangat ga imbang, jadi males nge-post ff-nya -_- make me feel so sad ㅠㅠ . To siders, semoga cepet sadar.. amin…

 

 

This is My Evidence That I Love You

THIS IS MY EVIDENCE THAT I LOVE YOU

Author                       : Angel’s Wings

Main Cast                 : Kim Bum dan Kim So Eun

Cast                            : Moon Geun Young, Park Soo Jin, Kim Sung Soo, Kim Ji Hoon, Kim Yoo Bin, Mason Moon, Kim Woo Bin (cameo), Kim Yoon Hye (cameo), Moon Joo Won (cameo),

Genre                                    : Romance, Sad,

Type                           : One Shot

Disclamier : Semua artis yang terlibat bukan milik author. Mereka milik Tuhan, agensi, keluarga, rekan, dan fans masing-masing. Karya ini murni milik author. Bila ada kesamaan watak tokoh, alur, dll merupakan suatu ketidak sengajaan. Tidak ada maksud untuk menjiplak karya orang lain.

~~~

Annyeong mates yang mungkin lagi pada galau *termasuk saya*

Kali ini aku bawakan OS bumsso. Semoga bisa menghibur🙂

Happy reading!!

~~~

Disebuah ruang make up artis, duduklah gadis manis yang sedang memandang kosong kearah cermin. Wajahnya terlihat lesu, mengingat hal menyakitkan yang baru saja terjadi.

“kim So Eun” panggil sang manager. Gadis yang merupakan artis besar bernama kim So Eun itupun segera menoleh ke sumber suara.

“ada apa eonni?” tanya So Eun masih dengan ekspresi sedihnya.

“sebentar lagi syuting akan dimulai. Persiapkan dirimu dengan baik, ini adalah syuting hari pertamamu. Tadi kau sudah melakukan beberapa NG, kali ini kau harus mengulanginya dengan baik” kata sang manager sambil menarik kursi untuk duduk di depan So Eun. So Eun tak menjawabnya, ia hanya diam dan menundukkan kepalanya. Tanpa terasa setetes cairan bening muncul dari mata indahnya. So Eun menangis. Namun ia mencoba untuk menyembunyikan tangisnya.

“So Eun” lirih manager So Eun kemudian ia memeluk tubuh So Eun. So Eun membalas pelukan manager yang sudah ia anggap sebagai kakak itu. Dalam pelukan managernya, So Eun meluapkan semua rasa gundah dalam dirinya, ia menangis histeris. Untung saja saat ini semua crew dan pemain sedang rehat sambil menyetel musik dengan suara yang keras sehingga tangisan So Eun tidak terdengar.

“hatiku sakit eonni hiks hiks hiks” tangis So Eun kemudian ia melepaskan pelukannya pada manager bernama Park Soo Jin itu. Manager yang selama 5 tahun terakhir sudah menemani kegiatannya. Manager yang sudah ia anggap seperti seorang kakak. Bahkan ia lebih dekat kepada manager Park dibanding adik perempuannya sendiri.

“bersabarlah.. mungkin ini cobaan dalam hubungan kalian. Yang harus kau lakukan saat ini adalah bertahan. Cobalah untuk mempercayainya” kata manager Park sambil mengelus punggung So Eun

“tidak. Aku sudah memutuskan hubungan kami semalam” kata So Eun dengan tatapan kosong

“mwo?!” kejut manager Park

“apa yang kau lakukan sso-ah?!” tanya manager Park dengan suara yang agak tinggi

“aku sudah tidak tahan, ini semua sudah cukup. Selama 4 tahun ini aku sudah banyak bersabar, eonni” kata So Eun masih dengan linangan air mata di pipi mulusnya

“So Eun..apa kau yakin keputusanmu itu yang terbaik?” tanya manager Park memastikan

“ne, aku yakin” ucap So Eun

“nona Park, Kim So Eun harus take” teriak sang sutradara dari luar ruang make up

“ye!” teriak manager Park

“ya sudah, sekarang hapus air matamu. Make up mu jadi berantakan seperti ini. Aigo.. matamu bengkak” kata manager Park sambil menghapus air mata di pipi So Eun lalu membedakinya kembali.

Ya, dia adalah Kim So Eun atris yang namanya melejit setelah membintangi drama Kkotboda Namja atau yang lebih dikenal dengan nama Boys Before Flowers. Drama itu memberikan banyak efek dalam hidupnya, salah satunya adalah seorang pangeran cinta. Di dalam drama itu ia menemukan seorang pangeran cinta. Namanya adalah Kim Sang Bum atau Kim Bum. Kalian pasti sudah tau, ya.. dia adalah pemeran si cassanova So Yi Jeong. Mereka sudah menjalin kasih selama kurang lebih 4 tahun, kisah cinta yang bisa dibilang ‘awet’ untuk seorang public figure Korea Selatan. Namun sayang, kisah cinta mereka sudah berakhir beberapa jam lalu. Bisa dibilang kehadiran orang ketiga adalah penyebab runtuhnya jalinan cinta mereka. Sangat disayangkan.. 4 tahun yang berharga menjadi sia-sia begitu saja. Padahal mereka sudah mempunyai bayangan untuk jenjang yang lebih serius.

~~~

Ditempat lain, seorang pemuda tampan yang merupakan aktor besar Korea Selatan sedang berbaring di ranjanganya dengan mata yang menatap langit-langit kamar bernuansa silver hitam itu. Tangannya menggenggam erat sebuah ponsel ber-wallpaper sepasang kekasih yang sedang berangkulan mesra

“aigoo” ucap lelaki itu sambil sedikit memijat keningnya

“mengapa semuanya jadi seperti ini.. AKHHH!!!!!” teriak lelaki itu. Tiba-tiba terdengar deringan ponsel. Tertera sebuah nama ‘Kim Sung Soo hyung’ di layar ponselnya. Ia pun mengangkat panggilan itu.

“yobeseyo” sapa orang bernama Kim Sung Soo yang tak lain adalah managernya

“ada apa?” tanya pemuda bernama panggung Kim Bum itu dengan intonasi yang singit

“cepat datang ke lokasi 1 jam lagi kau harus take” kata manager Kim

“ne” jawab Kim Bum singkat dan langsung mematikan teleponnya. Ia memandang lurus ke depan dengan tatapan kejam.

“AKHHHHH!!!!!” teriak Kim Bum sambil mengambil lampu tidurnya lalu membantingnya ke lantai sehingga menimbulkan suara yang keras.

“tuan muda.. apa kau baik-baik saja” teriak seorang wanita paruh baya bernama Min Hee Geun dari luar kamar Kim Bum. Suaranya terdengar sangat cemas.

“tuan muda.. apa yang ter….” ucapan Min ahjumma itu terputus ketika Kim Bum membuka pintu kamarnya dengan tiba-tiba. Ia berjalan tanpa mempedulikan Min ahjumma yang sedang cemas itu

“tuan muda, kau mau kemana?” tanya Min ahjumma yang berusaha mensejajarkan langkahnya dengan tuan mudanya itu

“aku mau syuting. Tolong beri tahu eomma, hari ini aku tidak pulang. Aku ke apartmen” kata Kim Bum tanpa menoleh sedikitpun kepada Min ahjumma.

“oh ye, saya akan beritahu nyonya besar” kata Min ahjumma

Kemudian Kim Bum segera menjalankan mobilnya ke lokasi syuting dengan pikiran yang berantakan. Ini sangatlah berbahaya, menyetir dalam keadaan stress. Stress karena hubungannya dengan So Eun yang berakhir ‘tragis’ karena sandiwara belaka. Sandiwara tentang hubungannya dengan lawan mainnya dalam drama Goddes Of Fire yaitu Moon Geun Young. Sandiwara yang dibuat-buat oleh dua agensi terkait. Ia tau ia salah karena menuruti perintah dari agensinya, namun apa boleh buat, agensinya sudah terlebih dulu mengklarifikasi berita itu tanpa persetujuan darinya. Saat ini, ia sungguh merasa bersalah kepada kekasihnya atau sekarang lebih tepatnya mantan kekasihnya. Ia tau So Eun pasti merasa sangat sakit hati sehingga memutuskan hubungan ini begitu saja.

~~~

Hari sudah malam. Namun So Eun belum juga menyelesaikan syutingnya. Ia terus saja melakukan kesalahan, bahkan tak jarang ia membuat sang sutradara marah. Wajar saja, itulah yang dipikirakan manager Park. Ia tau betul apa yang sedang So Eun pikirkan saat ini. Sungguh, ini bukanlah hal yang mudah untuk dihadapi sendiri.

“eonni” panggil So Eun yang membuyarkan lamunan manager Park

“ne, kau sudah selesai?” tanya manager Park pada So Eun

“ne. Apa yang sedang kau lamunkan?” tanya So Eun yang tadi melihat manager Park sedang melamun

“tidak ada. Oh ya, kalau kau sudah selesai, mari sekarang kita pulang” kata manager Park sambil berdiri dan merapihkan beberapa barang milik So Eun

“ne, kajja” kata So Eun sambil berjalan lebih dulu. Sementara manager Park memandangnya dengan penuh rasa iba. Kemudian ia pun mengikuti langkah So Eun yang menghapiri crew lain untuk berpamitan

“semuanya, aku pulang dulu. Terimakasih untuk hari ini, maaf aku melakukan banyak NG” kata So Eun lalu membungkukan badannya

“ne. Hati-hati dijalan” kata seorang crew bernama Ha Jung Sun mewakili semua crew

“baiklah, kami pulang. Annyeongi Gaseyo” kata manager Park lalu segera meninggalkan lokasi syuting

~~~~

“eonni, bolehkah malam ini aku menginap di rumahmu. Aku tidak mau pulang ke rumah maupun ke apartmen” kata So Eun

“ne tentu saja. Pintu rumahku selalu terbuka untukmu” kata manager Park dengan senyumannya. Terjadi keheningan sejenak.

“So Eun” panggil manager Park

“ne” jawab So Eun

“kau menyesal?” tanya manager Park

“kurasa tidak” jawab So Eun yang sedikit mengerti arah ucapan manager Park

“tapi aku yakin jika Kim Bum itu benar-benar mencintaimu” ucap manager Park

“tapi aku tidak yakin” jawab So Eun dingin

“dulu sebelum aku menikah dengan Ji soo appa.. aku juga pernah mengalami hal sepertimu, karena dulu Ji soo appa juga merupakan seorang aktor” ucap manager Park mencoba membagi ceritanya dengan So Eun

“tapi karena kami berdua saling mempercayai, maka kami bisa melewati itu semua dengan baik. Sampai saat ini, saat kami menikah, saat kami memiliki anak, dan menjalakan kehidupan rumah tangga yang harmonis. Itu semua karena kami saling mempercayai. Kepercayaan merupakan sebuah kunci dalam suatu hubungan” lanjut manager Park. So Eun masih mendengarkannya dengan seksama

“maka dari itu, cobalah percaya padanya. Waktu 4 tahun yang kau habiskan bersamanya, apa kau rela membuangnya begitu saja. Jangan berhenti di tengah jalan So Eun-ah” nasehat manager Park

“tetap tidak bisa eonni” kata So Eun yang mulai meneteskan air matanya. Manager Park tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepalanya

“ne, lakukan yang kau suka. Tadi itu aku hanya berbagi pengalaman padamu. Sekarang, ikutilah kata hatimu. Jangan pernah berbohong pada hatimu, atau nanti kau yang akan lelah, sebab, hati itu tidak bisa dibohongi” pesan manager Park

“ne” jawab So Eun sambil menghapus air matanya

~~~

Kim Bum sedang menatap foto-foto di layar ponselnya. Foto seorang wanita cantik yang sedang tersenyum renyah

“bogosipheoyo” kata Kim Bum sambil menatap foto itu dengan tatapan sedih. Kemudian ia menarik napas panjang dan berdiri memandang sebuah apartmen di sebrang apartmen miliknya

“aku merindukanmu.. sangat merindukanmu” ucap Kim Bum sambil menatap jauh apartmen tersebut

“apa kau belum pulang?” tanya Kim Bum bermonolog masih dengan menatap apartmen tersebut. Kemudian ia mengambil ponsel yang tadi ia letakkan di kasur. Ia membuka menu ‘kontak’ lalu mencari nama ‘My Lovely Sso’ setelah menemukannya, ia pun segera meng-klik perintah ‘call’. Setelah beberapa kali malakukan panggilan, orang itu tak jua mengangkat telepon Kim Bum. Namun Kim Bum tak menyerah, ia terus mencoba menelpon orang itu.

~~~

So Eun baru saja sampai di rumah manager Park.

“ayo masuk” kata manager Park

“ne” ucap So Eun lalu segera masuk ke dalam rumah manager Park

“na wasseo!” seru manager Park sambil mengganti sepatu boat-nya dengan sandal karet yang sudah tersedia

“lihatlah.. eomma sudah pulang” kata seorang lelaki yang sedang menggendong seorang bayi laki-laki berusia sekitar 8 bulan itu

“wahh Ji soo, kau belum tidur” kata manager Park sambil mengambil bayi bernama Ji soo dari gendongan lelaki itu.

“hai So Eun, aku juga kemari” kata lelaki bernama Kim Ji Hoon yang tak lain adalah suami dari manager Park

“ne oppa. Aku akan menginap disini untuk malam ini, apakah boleh?” tanya So Eun

“oh tentu saja. Kau menginap selamanya disini juga tidak apa-apa” kata Ji Hoon sambil tersenyum pada So Eun

“gomawo” kata So Eun

“ayo So Eun, masuklah..” ajak manager Park

“Ji soo appa.. tolong beritahu So Eun kamarnya, aku akan menidurkan Ji soon dulu” kata manager Park sambil berjalan menuju kamarnya

“ne” jawab Ji Hoon

“kajja So Eun” kata Ji Hoon mengajak So Eun untuk ke kamarnya

“ini, untuk malam ini kau tidur disini yaa.. disana kamar mandinya. Kalau ada perlu apa-apa kau panggil saja aku atau tidak Ji Soo eomma, baiklah.. selamat malam” ucap Ji Hoon lalu meninggalkan So Eun. So Eun memandang sejenak kamar yang ia tempatinya malam ini, ia tersenyum tipis lalu membaringkan badannya di kasur.

“aigo,, aku belum menghubungi eomma” kata So Eun sambil menepuk jidatnya. Ia segera mengambil ponselnya di tas. Namun sial, ternyata ponselnya mati. Ia pun langsung mengambil charger dan men-charg ponselnya. Beberapa menit kemudian, So Eun menyalakan ponsel berwarna putih setelah baterainya terisi setengah. Ia terkejut begitu melihat 25 miss call di ponselnya. Ia men-chek orang yang sedari tadi menghubunginya itu. Dan ia menemukan nama ‘Lovely Bum’ yang tertera. Sontak So Eun kembali duduk di kasurnya dengan air mata yang mulai menari-nari di pipinya. Ia memandangi layar ponsel itu dengan sedihnya. Tak lama, ada sebuah pesan masuk. So Eun segera membukanya

From    : Lovely Bum

To        : Lovely Sso

Sso-ah.. bogosipheoyo.. aku sangat merindukanmu. Apakah kau tidak merindukanku? Satu hari saja tak bisa kulewati dengan baik tanpa suaramu yang menghiasi setiap langkahku. Aku ingin mendengar suaramu. Mengapa kau tidak menjawab teleponku? Kau masih marah padaku? Aku minta maaf, walaupun aku tahu kau tak akan memaafkanku. Tolong kau balas pesan ini. Anggap saja sebagai salam perpisahan kita, karena sekarang aku bisa menerimanya. Aku sadar aku menyakitimu, tapi sungguh aku tidak pernah berniat untuk menyakitimu. Maafkan Aku. Aku mencintaimu.

So Eun menangis saat membaca pesan dari Kim Bum. Dadanya terasa sesak, ia tak mampu bernafas dengan leluasa. Kemudian ia berusaha untuk mengontrol emosinya. Ia mulai mengetik pesan balasan untuk Kim Bum.

From    : Lovely Sso

To        : Lovely Bum

Aku sibuk. Mulai sekarang pergi jauh dari hidupku. Aku tidak ingin melihatmu lagi.

Setelah itu So Eun membaringkan tubuhnya sambil menghapus air mata dipipnya. Tak lama berselang, terdengan dering ponsel So Eun yang menandakan sebuah panggilan masuk. So Eun memandang ponselnya, lalu ia meletakkannya dibawah bantal tanpa menjawabnya.

“mengapa tidak kau angkat?” tanya manager Park sambil menutup kembali pintu kamar So Eun dengan sebuah map ditangannya

“eonni, sejak kapan kau ada disini?” tanya So Eun

“mana ponselmu?” tanya manager Park tanpa menjawab pertanyaan So Eun. Kemudian So Eun menyerahkan ponsel yang masih berdering itu kepada manager Park. Lalu manager Park mengangkat telepon itu

“yobeseyo” ucap manager Park mengawali pembicaraan

“yobeseyo. Siapa disana? ini bukan suara So Eun” ucap orang itu yang tak lain adalah Kim Bum

“ternyata kau kenal betul dengan suara So Eun ckck.. tunggu sebentar” kata manager park lalu menempelkan ponsel itu ke telinga So Eun

“bicaralah” kata manager park pada So Eun dengan tatapan mata yang memaksa

“shireo!” tolak So Eun sambil menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Namun manager Park tidak menyerah, ia melototi So Eun dengan kejam membuat So Eun akhirnya menurut juga

“yo..yobeseyo” kata So Eun sambil menahan air matanya

“So..So..So Eun.. apa..kabarmu?” tanya Kim Bum yang ternyata sedang menahan tangis juga

“tidak baik” jawab So Eun ketus dengan tetesan air mata yang mengiringi

“ada…yang ingin..aku bicarakan…pada..mu” gugup Kim Bum yang berusaha untuk mengontrol dirinya

“bicarakan sekarang, aku tak ada waktu” kata So Eun sambil menghapus air matanya

“bisakah besok kita….”belum selesai Kim Bum berbicara, So Eun sudah memotongnya

“aku bilang bicarakan sekarang, aku tak ada waktu. Bisakah kau mengerti??” ucap So Eun dengan keras

“kita harus bertemu. Ada yang harus ku jelaskan” kekeh Kim Bum dengan suara yang di tinggikan

“apa lagi,eoh?! Semuanya sudah berakhir. Tak ada yang perlu dijelaskan lagi” kata So Eun yang sekarang sudah benar-benar menangis, bisa dijamin bahwa Kim Bum dapat mendengar jelas tangisan So Eun

“kau hanya memutuskan sepihak. Bagiku kita belum putus. Kau masih kekasihku dan aku masih kekasihmu. Ada yang perlu kujelaskan” ucap Kim Bum lagi

“aku bukan kekasihmu dan kau pun bukan kekasihku lagi. Semuanya sudah berakhir. BERAKHIR KIM SANG BUM” kata So Eun dengan menekankan ucapannya pada kata ‘BERAKHIR KIM SANG BUM’ kemudian ia segera memutuskan sambungan teleponnya.

“kenapa kau matikan?” tanya manager Park dengan heran. Bukannya menjawab, So Eun malah menangis lebih kencang dari sebelumnya sehingga membuat Ji Hoo (suaminya manager Park) terbangun

“ada apa ini?” kata Ji Hoon yang sedang berdiri di depan pintu sambil mengucek sebelah matanya. Kemudian manager Park membalasnya dengan sebuah isyarat yang dapat diartikan dengan ‘sudahlah-kau-tak-perlu-tau’. Kemudian Ji Hoon pun kembali ke kamarnya

“hiks hiks hiks hiks” So Eun masih saja menangis, tangisannya yang tak juga reda membuat manager Park iba

“tenangkan dirimu” kata manager Park sambil memeluk So Eun, membuat tangisan So Eun semakin menjadi. Setelah merasa sedikit tenang, So Eun pun melepaskan pelukannya terhadap manager Park

“kau sudah tenang?” tanya manager Park. So Eun menganggukan kepalanya

“sebenarnya aku kesini karena memiliki maksud tertentu” kata manager Park sambil menunjukkan map nya kepada So Eun

“mwo?” tanya So Eun dengan suara lemah

“ini, mianhae, aku tau suasana saat ini kurang menudukung, namun kau harus segera mengambil keputusannya” kata manager Park sambil memperlihatkan map itu pada So Eun

“drama baru?” tanya So Eun sambil membaca map yang berisi sinopsis itu, ia membacanya dengan sangat tenang seolah-olah tidak ada hal menyakitkan yang terjadi didalam dirinya

“ne. Bagaimana? Apa sinopsisnya menarik?” jawab manager Park, ia memang selalu memperhatikan pendapat So Eun. Jika So Eun suka, maka akan ia terima. Namun jika So Eun tidak menyukainya, maka ia pasti akan menolaknya.

“sinopsisnya sungguh menarik. Tiga gadis bersahabat yang terang-terangan mengejar seorang lelaki. Sedangkan si lelaki sangat tidak menyukai tiga gadis itu. Namun, tiga gadis itu masih terus berusaha bersama untuk mendapatkan lelaki itu. Aku sungguh bingung, bagaimana bisa tiga bersahabat menyukai seorang lelaki yang sama. Anehnya lagi mereka bertiga saling terbuka dengan perasaan satu sama lain ckckck” So Eun terkekeh kecil sambil menutup kembali map itu

“jadi kau mau menerimanya?” tanya manager Park

“ne” jawab So Eun mantap

“tapi ngomong-ngomong, aku berperan sebagai apa?” tanya So Eun *capedeh eonni baru nanya sekarang*

“kau berperan sebagai Kim Joong Eun, kau merupakan teman dari Goo Na Hye dan Jo Ah Ra. Kalian bertiga mengejar satu lelaki bernama Lee Sang Byun. Namun pada akhirnya kau lah yang mendapatkan Sang Byun” terang manager Park

“ohh.. lalu siapa yang berperan sebagai Goo HyeAh, Jo Ah Ra, dan Lee Sang Byun?” tanya So Eun

“Goo Na Hye akan diperankan oleh Bae Suzy dan Jo Ah Ra akan diperankan oleh Kim Yoon Hye. Sedangkan untuk pemeran Lee Sang Byun aku belum tau” jawab manager Park

“begitu.. okelah.. aku terima ini” kata So Eun

“deal?” tanya manager Park sambil mengulurkan tangannya

“deal!” jawab So Eun sambil menjabat tangan manager Park

~~~

Sudah sebulan ia dan Moon Geun Young berpura-pura sebagai sepasang kekasih. Sudah 29 hari juga ia putus dengan So Eun. Semenjak putus dengan So Eun, ia merasa bahwa hidupnya terasa sangat hampa. Tak ada lagi senyum dan tawa seseorang yang selalu menjadi semangatnya. Bahkan di kampus pun So Eun tak menegurnya sama sekali, seolah-olah mereka tak pernah saling kenal. Ini sangatlah menyakitkan baginya.

“bum-ah.. aku punya suatu rencana, bagaimana kalau kita liburan ke Eropa?” usul seorang wanita di sebelah Kim Bum. Ya, wanita yang membuat hubungannya dan So Eun menjadi hancur

“yya! Nuna, untuk apa kita kesana,eoh?” tanya Kim Bum

“memangnya yang waktu itu tidak cukup, merepotkan saja” umpat Kim Bum

“kita jalan – jalan disana, apa kau tidak ingin?” tanya Geun Young sambil bergelayut manja di lengan Kim Bum

“noona.. kita pernah kesana. apa tidak cukup?” tanya Kim Bum sambil melepaskan pelukan Geun Young dilengannya

“kali ini kita kesana untuk benar-benar berlibur, bukan untuk bersandiwara seperti waktu itu” kata Geun Young sambil memeluk lengan kiri Kim Bum kembali

“aku tidak mau. Yya! Nuna, lepaskan” kata Kim Bum sambil melepaskan pelukan Geun Young

“issh.. kau ini kenapa? Aku ini kan kekasihmu, kenapa memeluk lenganmu saja tidak boleh?” protes Geun Young dengan sedikit berisik mengingat restoran ini sedang dikunjungi banyak orang

“kau lupa? Ini kan hanya hubungan kontrak, HANYA KONTRAK. Dua bulan lagi juga sudah tidak terikat apa-apa” ucap Kim Bum dengan keras

“ssstt.. tidak bisakah kau mengecilkan volume suaramu? Semua orang memandang kita” kata Geun Young yang sesekali menundukkan kepalanya dan melirik ke orang-orang sekitar

“ck..sudahlah, aku ada pertemuan dengan pemain di drama baruku. Aku pergi” kata Kim Bum lalu meninggalkan Geun Young sendiri di restoran itu

“yya! Yaa! Bum-ah.. siapa yang akan membayar semua makanan ini?” ucap Geun Young pada Kim Bum yang mulai menjauh. Namun sepertinya Kim Bum tidak mendengarnya

~~~

“annyeong haseimnika” ucap Kim Bum sambil memasuki ruang itu. Membuat seorang wanita membulatkan matanya dengan sempurna

“maaf aku terlambat” kata Kim Bum sambil menundukkan kepalanya

“ne, silahkan duduk” perintah sang penulis skenario

“ne” kemudian Kim Bum pun duduk di satu kursi yang kosong

“annyeong ha…” ucapan Kim Bum terputus ketika ia menyadari seseorang disampingnya yang hendak ia sapa. Seorang wanita berambut hitam pekat dengan mata yang berkaca-kaca

“baiklah Kim Bum, karena kau baru datang, maka kita ulang lagi semuanya dari awal supaya jelas” kata sang penulis skenario

“disini Kim Bum memerankan tokoh utama pria yaitu Lee Sang Byun dan pemeran utama wanita adalah Kim So Eun yang berperan sebagai Kim Gyu Ra. Aku memilih kalian sebagai pemainku karena aku merasakan chemistery yang luar biasa dalam drama Kkotboda Namja. Aku harap kalian bisa mengulangi chemistery luar biasa ini dalam drama Nareul Saranghae? / Do You Love Me? Ini. Dalam drama ini aku juga merekrut Group8, aku berharap ini bisa mengikuti kesuksesan drama Goong dan Kkotboda Namja” ucap sang penulis Cho Jung Ah

Mata So Eun terbelak begitu mengetahui bahwa Kim Bum yang menjadi lawan mainnya ‘lagi’. Bukan hanya So Eun, Kim Bum juga terkejut begitu mengetahui bahwa So Eun adalah lawan mainnya.

~~~

Setelah menyelesaikan sekitar 5 episode, hari ini adalah waktunya confrensi pers untuk drama Do You Love Me? Yang diperankan oleh Kim Bum dan So Eun. Kim Bum, So Eun, bae suzy, kim Yoon Hye, penulis Cho Jung Ah, serta sutradara Yoo saat ini sudah ada di atas sebuah panggung lesehan.

“selamat siang semuanya” kata sang sutradara Yoo

“ya.. kali ini saya akan mengadakan conferensi pers tentang drama yang baru saja saya buat. Drama berjudul Do You Love Me? Ini ditulis oleh penulis berbakat Cho Jung Ah. Pemeran utama prianya adalah Kim Bum yang berperan sebagai Lee Sang Byun sedangkan pemeran utama wanitanya adalah kim So Eun yang berperan sebagai Kim Gyu Ra. Dan ada tiga pemain pendukung yaitu Bae Suzy sebagai Goo Hye Ah dan Kim Yoon Hye sebagai Jo Ah Ra serta Kim Woo Bin sebagai Yoon Jae Ha. Sampai disini, apa ada pertanyaan?” tanya sutradara Yoo

“mengapa penulis Cho memilih Kim Bum dan kim So Eun sebagai pemeran utama?” tanya seorang netizen

“saya menonton drama dari Group8 yang mereka bintangi. Saya rasa mereka memiliki chemistery yang sangat natural. Saya sangat menyukainya, karena itu bisa memberikan efek baik untuk drama ini. Selain itu juga saya memilih mereka karena saya juga merupakan satu dari SoEulmates” jawab penulis Cho dengan sedikit terkekeh

“apa hal menarik dalam drama ini yang mengharuskan pemirsa untuk menontonnya?” tanya netizen lainnya

“drama ini mengisahkan tentang tiga sahabat yang menyukai seorang lelaki yang sama. Hal menarik terjadi ketika tiga sahabat ini saling mengungkapkan hati mereka. Apakah mereka akan bertengkar karena satu pria ini atau tetap berteman? Kalian harus menontonnya” Sutradara Yoo mempromosikan

“oh.. Kim Bum-ssi bagaimana pendapat kekasih anda tentang drama ini, Apakah ia tidak cemburu melihat anda bermain bersama Kim So Eun. Mengingkat anda dengan Kim So Eun pernah digosipkan berpacaran?” tanya seorang netizen yang membuat Kim Bum dan So Eun terhentak

“oh..ah.. i..itu tidak masalah. Ya.. itu tidak masalah” jawab Kim Bum dengan senyum hambarnya

“Kim So Eun-ssi bagaimana perasaan anda bisa bermain bersama Kim Bum untuk kedua kalinya?” tanya netizen yang duduk di paling belakang

“oh..aku.. tentunya aku merasa senang karena Kim Bum-ssi merupakan aktor yang hebat. Aku merasa senang bisa beradu acting dengannya” jawab So Eun mencoba untuk tidak gugup

“baiklah kurasa ini sudah cukup. Kami ucapkan terimakasih karena sudah menyempatkan datang kesini. Dan jangan lupa untuk menonton drama ini!” seru sang sutradara

“gamsahamnida” ucap semuanya

~~~

Saat ini So Eun sedang bersantai persama Kim Yoon Hye dan Kim Woo Bin mereka sedang bersenda gurau sambil menunggu take.

“eonni aku sungguh senang bisa satu drama denganmu” ucap Yoon Hye sambil tertawa senang

“aku juga senang bisa satu drama denganmu” sahut So Eun sambil bergaya memeluk Yoon Hye

“kalian tidak senang bisa satu drama denganku?” tanya Woo Bin yang berpura-pura marah

“haha.. tentu aku juga senang bisa terlibat drama denganmu” kata So Eun

“annyeong” kata seseorang yang tiba-tiba saja langsung duduk di samping Woo Bin dan berhadapan dengan So Eun

“bum-ah.. kau dari mana saja?” tanya Woo Bin

“aku habis membeli softdrink. Ini untuk kalian” kata Kim Bum sambil memberikan Woo Bin, So Eun, dan Yoon Hye softdrink yang baru saja dibelinya

“gomawo” kata Woo Bin sambil mengambil softdrink nya

“gomawo oppa” kata Yoon Hye

“kau tidak mau mengucapkan terimakasih padaku?” tanya Kim Bum pada So Eun yang hanya diam saja. Raut wajahnya terlihat gurat ketidak sukaan

“gomawo” ucap So Eun pelan tanpa menyentuh softdrink yang baru saja Kim Bum beli

“So Eun-ah” panggil Kim Bum. Namun So Eun tak menjawabnya, ia malah mengaihkan pandangannya kepada para crew yang sedang makan siang

“So Eun-ah” ucap Kim Bum lagi dengan suara yang lebih tinggi. Namun So Eun tak mempedulikannya. Hingga akhirnya dataglah dewi penghancur itu

“annyeong yeorobun” kata seorang wanita dengan kacamata hitam di kepalanya

“wah..annyeong noona” sapa Woo Bin

“annyeong eonni. Kau pasti kesini untuk menemui Kim Bum oppa yaa” tebak Yoon Hye. Sementara wajah So Eun dan Kim Bum terlihat kesal

“tentu saja, kau pintar sekali Yoon Hye-yaa.. Bum-ah ini aku bawakan kau makan siang” kata wanita bernama lengkap Moon Geun Young itu.

Karena tak ingin luka di hatinya bertambah besar, akhirnya So Eun pergi menginggalkan tempat itu tanpa aba-aba. Sehingga membuat yang Woo Bin dan Yoon Hye bingung. Kecuali Kim Bum, ia tau betul mengapa So Eun pergi.

“yya! Ada apa dengannya?” tanya Woo Bin yang melihat So Eun melangkah cepat

“molla” sahut Yoon Hye. Beberapa detik kemudian Woo Bin dan Yoon Hye saling menatap. Sepertinya mereka berpikiran yang sama.

“kajja” ucap keduanya berbarengan, lalu mereka meninggalkan Kim Bum dan Geun Young beruda.

“untuk apa noona kesini?” tanya Kim Bum datar

“tentu saja untuk menemuimu” jawab geun youn sambil duduk di samping Kim Bum

“aku bawakan kau makan siang. Ini aku sendiri yang membuatnya, ayo cicipi” kata Geun Young sambil membuka kotak bekal berwarna putih itu

“aku sudah makan, sebentar lagi aku harus take, jadi sekarang aku harus bersiap-siap. Sebaiknya noona pulang saja” kata Kim Bum yang langsung berdiri lalu meninggalkan Geun Young sendirian

“kau mungkin tak tau kalau sebenarnya aku mengerti, aku bisa merasakannya. Aku tau kau mencintai So Eun-sii. Tapi tak bisakah aku menggantikan posisinya dihatimu? Aku hanya ingin menjadi orang spesial bagimu, walau hanya sesaat. Tidak bisakah kau menempatkanku dihatimu seperti aku menempatkanmu dihatiku?” ucap Geun Young sambil menatap punggung Kim Bum yang mulai menjauh dengan lirih. Tak terasa air matanya menetes.

“ah.. untuk apa aku menangisinya. Dia saja tak pernah menangis untukku” ucap Geun Young mencoba menghibur dirinya sendiri

“makananku yang malang.. daripada tak termakan, lebih baik aku saja yang memakannya” kata Geun Young sambil memakan bekal yang tadi ia bawa

“massita” gumamnya dengan tumpukan air mata dipipinya

~~~

Kim Bum melangkahkan kakinya untuk mencari So Eun. Ia tau hati So Eun pasti terasa sangat sakit. Sudah mengelilingi rumah yang digunakan untuk syuting itu, namun Kim Bum tak menemuinya juga. Akhirnya ia bertanya kepada manager Park.

“noona.. hmm.. apa kau melihat So Eun?” tanya Kim Bum pada manager Park yang sedang sibuk dengan tablet ditangannya. Manager park mengalihkan pandangannya kepada Kim Bum. Ia menatap Kim Bum sejenak.

“kau mau menemui So Eun?” tanya manager Park sambil berdiri dari duduknya

“ne” jawab Kim Bum. Manager Park tersenyum tipis

“tadi dia bilang padaku bahwa dia ingin ke sungai dekat taman, coba kau cari dia disana. Sepertinya suasana hatinya sedang buruk, apa kau tau penyebabnya?” tanya manager Park

“tadi..tadi dia melihat Geun Young noona datang menghampiriku” jawab Kim Bum pelan

“ini kesempatan yang baik. Temuilah dia, jelaskan semua kebenaran padanya. Aku berdo’a yang terbaik untuk kalian” kata manager Park sambil menepuk bahu Kim Bum

“baiklah, gomawo noona” kata Kim Bum lalu pergi meninggalkan manager Park

“hyung, aku pergi sebentar” kata Kim Bum kepada managernya

“kau mau kemana?” tanya manager Kim Sung Soo

“aku mau ke sungai dekat taman” jawab Kim Bum sambil berjalan menjauh

Kim Bum melangkahkan kakinya menuju tempat yang dikatakan manager Park tadi. Dan benar saja, disana ia melihat seorang gadis mengenakan rok mini berwarna pink dan kaos berwarna kuning serta coat berwarna putih yang melekat ditubuhnya. Ia sedang duduk di sebuah bangku panjang dibawah pohon yang mulai mengugurkan daunnya. Kim Bum melangkahkan kakinya lebih dekat. Tentunya ia berusaha agar So Eun tak mengetahui keberadaannya. Semakin dekat, ia merasa mendengar sesuatu. Ternyata itu bersumber dari So Eun. So Eun sedang menangis.

“kau tidak memikirkan perasaanku? Kau tak tau betapa sakitnya hatiku? Mana janji yang kau ucapkan bahwa aku adalah wanita terakhir dalam hidupmu? Kenapa kau mengingkari janji yang kau buat sendiri? Kau tidak suka saat aku berdekatan dengan lelaki lain, aku hargai itu, aku tidak dekat dengan lelaki manapun. Tapi kenapa kau berkencan dengan wanita lain, padahal kau adalah kekasihku? Kau jahat, kau jahat. Nappeun Namja!!!! KIM SANG BUM, NEONEUN NAPPEUN NAMJA!!!!!” teriak So Eun, tiba-tiba ia menghentikan teriakannya saat ia merasa sebuah tangan kekar memeluk lehernya dari belakang. Pria itu meletakan dagunya di bahu So Eun

“aku sangat memikirkan perasaanmu. Aku tau hatimu sakit karena aku. Aku tidak mengingkari janjiku, karena sampai saat inipun kau masih menjadi akhir pelabuhan cintaku. Aku memang tidak suka saat kau dekat dengan lelaki lain. Hanya ragaku yang berkencan dengannya, namun hatiku masih sepenuhnya milikmu. Maafkan aku.. aku hanya tidak ingin menjadi nappeun namja bagimu” bisik Kim Bum

~~~

“Sung Soo oppa” sapa Geun Young sambil berlari kecil menghampiri manager kim yang sedang bersantai

“Geun Young-ah” sahut manager kim

“dimana Kim Bum? aku sudah mencarinya namun tak juga menemuinya” kata Geun Young sambil menatap sekelilingnya

“ohh dia sedang pergi sebentar katanya” jawab manager kim

“kemana?” tanya Geun Young penasaran

“ke sungai dekat taman. Tak jauh dari sini” kata manager kim

“baiklah, aku akan menemuinya, annyeongi gaseyo oppa” kata Geun Young lalu segera melangkahkan kakinya ketempat tujuan

“ne, hati-hati” teriak manager kim

~~~

“lepaskan” perintah So Eun kepada Kim Bum. Kim Bum melepaskan pelukannya. Kemudian ia duduk di samping So Eun.

“mianhae karena aku membuatmu sakit hati” ucap Kim Bum

“sudahlah, tak ada yang perlu ku maafkan. Kita sudah tak ada hubungan apapun” ucap So Eun dengan air mata menggenang

“mwo? Bagiku kita masih sepasang kekasih. Kau harus mendengarkan ceritaku dulu. Aku tidak mau kira berpisah” kata Kim Bum sambil menggenggam tangan So Eun. Dan rupanya So Eun tak menolaknya.

“So Eun, tataplah aku, apa kau tak bisa merasakan tulusnya cintaku padamu?” tanya Kim Bum sambil menuntun wajah So Eun untuk menatapnya

“kemana So Eun yang dulu? Kemana So Eun yang selalu mempercayaiku? Aku merindukan So Eun yang seperti itu. Aku mengerti ini membuatmu sakit hati, berulang kali aku meminta maaf padamu. Tapi percayalah, bukan hanya kau yang tersakiti, aku juga tersakiti Kim So Eun. Aku mohon.. kembalilah seperti hari-hari sebelumnya” kata Kim Bum sambil menatap So Eun dengan tulus. Ia bisa melihat air mata yang membasahi mata So Eun. Ia menghapus air mata dipipi So Eun. Kemudian ia mulai mendekatkan wajahnya ke wajah So Eun, semakin dekat… dan ia pun mencium So Eun beriringan dengan air mata So Eun yang membasahi.

Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang melihat kejadian itu. Seorang wanita tengah berdiri beberapa meter dibelakang mereka. Ya, dia adalah Geun Young. Ia melihat Kim Bum dan So Eun yang sedang berciuman.

“babo.. seharusnya aku tak datang kesini. Kau ini bodoh sekali” kata Geun Young yang merutuki dirinya sendiri

“ahh.. aku masih ada jadwal, sebaiknya aku segera pergi” kata Geun Young sambil berjalan dengan kepala yang mendongak ke atas, berharap air matanya tak berjatuhan saat ini.

Kim Bum melepaskan ciumannya, ia menatap So Eun sebentar kemudian ia memeluknya.

“saranghae” bisik Kim Bum tepat di telinga So Eun. Kemudian ia pun melepaskan pelukannya

“semua ini hanya sebuah sandiwara. Kau pasti mengerti permainan ini, kau tau bagaimana kerasnya dunia entertainment korea. Tunggulah aku.. waktunya tinggal 15 hari lagi. Hanya 15 hari lagi, setelah itu aku janji akan mempublikasikan hubungan kita” kata Kim Bum sambil memengang kedua bahu So Eun

“apa kau bersedia menungguku?” tanya Kim Bum. Tiba-tiba saja So Eun memeluk Kim Bum dengan erat

“tentu saja aku akan menunggumu. Maafkan aku sudah bersikap kekanak-kanakan, maafkan aku yang tidak bisa mengertimu” ucap So Eun

“gomawo” kata Kim Bum. So Eun melepaskan pelukannya pada Kim Bum. Ia menatap Kim Bum kemudian mencium Kim Bum secepat kilat

“setelah 4 tahun kita berpacaran, ini pertama kalinya kau menciumku lebih dulu” kata Kim Bum

“jadi kau tidak suka? Baiklah aku ambil kembali ciumanku” kata So Eun kemudian ia mencium Kim Bum sekilas untuk kedua kalinya. Kemudian Kim Bum menahan kedua lengan So Eun

“aku senang bisa melihatmu ceria lagi” kata Kim Bum sambil menatap So Eun dengan senyuman

“ah.. sudah jam berapa ini, ayo kita kembali ke lokasi” ajak So Eun sambil berdiri

“oh iya.. ayo kita kembali” sahut Kim Bum sambil menarik tangan So Eun

~~~

Tak terasa, ini adalah hari terakhir Kim Bum dan Geun Young menjadi sepasang ‘kekasih’. So Eun sangat bahagia menyambut hari ini, ia tau bahwa ini adalah hari terakhir ia menunggu Kim Bum. Ia membuka jendela kamarnya yang langsung berhadapan dengan jendela apartmen Kim Bum. Ia tersenyum memandang sebuah kamar yang masih tertutup gorden itu.

“GOOD MORNING MY BEAUTY LIFE” teriak So Eun sambil membentangkan kedua tangannya

“aigo.. aku harus memasakkan sarapan untukku dan untuknya” kata So Eun, lalu ia mengambil sebuah ikat rambut di kasurnya dan kemudian ia mulai mengikat rambutnya. Ia berjalan ke dapur dan memulai kegiatan memasaknya. Karena pagi ini ia mempunyai janji dengan Kim Bum untuk sarapan bersama

~~~

Kim Bum mengerejapkan matanya saat ia bisa mencium aroma harum yang melintasi indera penciumannya.

“So Eun” gumam Kim Bum sambil tersenyum. Ia berpikiran bahwa So Eun sedang memasakan sarapan untuknya, ia pun berjalan ke arah dapur apartmennya dengan semangat.

“So Eun pagi-pagi sekali kau sudah da… NOONA?!” Kim Bum terkejut ketika melihat seorang wanita yang bukan ia harapkan sedang menyiapkan sarapan untuknya

“ternyata kau sudah bangun. Kau pasti kecewa karena yang kau inginkan saat ini So Eun-ssi, bukan aku. Maaf mengecewakanmu” kata Geun Young sambil memainkan tali celemeknya

“ah..noona, apa yang kau lakukan disini?” tanya Kim Bum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Entah mengapa ia merasa tidak enak hati pada Geun Young

“aku menyiapkan sarapan untuk kita, ini hari terakhir kita bersandiwara sebagai sepasang kekasih. Aku hanya ingin menutup sandiwara ini dengan hal yang indah” kata Geun Young

“seharusnya kau tidak perlu memasak seperti ini. Sebenarnya aku sudah mempunyai janji sarapan bersama dengan seseorang. Jadi noona tak perlu memasak. Ini hanya akan sia-sia” ucap Kim Bum

“ayolah.. kau cicipi sedikit, selama ini kau tidak pernah memakan masakanku kan.. untuk kali ini saja, untuk terakhir kalinya” bujuk Geun Young sambil menyiapkan kursi untuk Kim Bum

“sudah kubilang, aku punya janji dengan orang lain! Mengapa noona tak mengerti juga?! kalau aku makan sekarang, nanti aku akan menjadi kenyang. Kalau aku kenyang, nanti aku tak memakan masakannya. Bagaimana kalau dia marah padaku, apa noona bisa bertanggung jawab, hah?!” kata Kim Bum dengan meninggikan suaranya

“lalu kau pikir aku tidak marah jika kau tak memakan masakanku?” tanya Geun Young dengan lirih

“ah.. aku tak peduli, sudahlah noona pulang saja. Aku khawatir saat dia kesini noona masih belum pergi” kata Kim Bum sambil berjalan kembali ke kamarnya. Tiba-tiba saja Geun Young berlari ke arah Kim Bum dan memeluk punggungnya.

“sekali saja, apa tidak bisa?” tanya Geun Young, cairan bening mulai membasahi pelupuk matanya

“aku hanya ingin menjalani hubungan ini denganmu seperti layaknya sepasang kekasih. Aku tau ini hanya sebuah kontrak, tapi apakah kau tidak bisa melakukannya walau hanya sekali saja?” tanya Geun Young lagi

“noona.. kau ini apa-apaan, cepat lepaskan sebelum dia datang” pinta Kim Bum sambil berusaha melepaskan pelukan Geun Young. Bukannya melepaskan, Geun Young malah semakin mengeratkan pelukannya

“dia. Siapa dia? So Eun-sii? Heoh.. ternyata benar, kau berpacaran dengan Kim So Eun. Ya, aku tau kau mencintainya. Dan aku juga tau dia mencintaimu. Namun apakah tak kau sadari ada wanita lain yang mencintaimu. Aku. Aku adalah wanita itu” aku Geun  young

“noona.. bicaramu semakin aneh saja” ucap Kim Bum sambil terus berusaha melepaskan pelukan Geun Young

“aku serius Bum-ah! AKU MENCINTAIMU!” teriak Geun Young

“aku mencintaimu Bum-ah, tak bisakah aku menggantikan posisinya dihatimu? Tidak bisakah kau menempatkanku dihatimu seperti aku menempatkanmu dihatiku?” ucap Geun Young

~~~

So Eun sudah sampai di depan apartmen Kim Bum. Saat ia baru akan memencet bel-nya, ia teringat sesuatu.

“kalau jam segini.. biasanya ia belum bangun. Ah.. sebaiknya aku masuk diam-diam lalu membuatkan kejutan untuknya” ucap So Eun dengan senangnya.

Kemudian iapun memencet “6977” yang merupakan password apartmen Kim Bum. Ia mulai membuka pintunya dengan perlahan. Setelah terbuka sedikit, iapun masuk dan menutup kembali pintunya. Ia mengganti sepatu dengan sandal karet berwarna putih yang biasa ia kenakan jika sedang berkunjung ke apartmen Kim Bum. Ia mulai melangkahkan kakinya. Baru beberapa langkah, ia mulai menghentikan langkahnya. Matanya membulat sempurna menyaksikan pandangan tak mengeenakan di depannya.

“ish.. noona sudahlah” kata Kim Bum

“APA LEBIHNYA DIA DARIKU?! APA KARENA DIA LEBIH MUDA DARIMU, MAKA KAU LEBIH MEMILIHNYA DARIPADA MEMILIHKU?! AKU HANYA INGIN KAU MENCINTAIKU SEHARI SAJA..SEHARI SAJA.. APA ITU TERLALU BERAT UNTUKMU?!!” Geun Young mengeluarkan tangisannya. Perlahan pelukannya pada Kim Bum mulai melemah seiring dengan air mata yang berjatuhan. Kakinya seolah tak kuat lagi untuk berdiri, sehingga membuatnya jatuh tersungkur ke lantai. Kim Bum sekarang bisa membalikan badannya menghadap Geun Young. Ia berjongkok dan berbicara dengan halus kepada Geun Young, tanpa menyadari ada sepasang mata indah yang mulai mengeluarkan cairannya sedang menatap mereka.

“noona.. mengapa kau…”kata-katanya terputus ketika manik matanya mendapatkan sesosok gadis berpenampilan cantik tengah menahan tangis di dekat pintu apartmennya

“So Eun” kejut Kim Bum, Geun Young juga ikut menolehkan pandangannya

“ah.. mi..mianhae.. aku mengganggu. Aku pergi” kata So Eun sambil memutar badannya meninggalkan Kim Bum dan Geun Young.

“So Eun, tunggu!” kata Kim Bum sambil berlari mengejar So Eun

“Kim Bum!” panggil Geun Young, namun Kim Bum tak menganggap panggilannya

“HAAAAA!!!!!!!!” teriak Geun Young dengan frustasi

~~~

“So Eun, tunggu! Kau perlu mendengar penjelasanku” kata Kim Bum sambil menahan tangan So Eun

“bum-ah, kau ini apa-apaan.. ini tempat umum, lepaskan tanganku” kata So Eun dengan mata yang memerah. Kim Bum tidak melepaskan genggaman tanganya, justru saat ini ia malah memeluk So Eun

“biarkan saja mereka tau bahwa kekasih Kim Bum yang sesungguhnya itu Kim So Eun. Bukan Moon Geun Young” ucap Kim Bum dalam pelukan So Eun

“bum-ah.. apa yang kau lakukan. Cepat lepaskan” ujar So Eun dengan suara yang ia buat selembut mungkin, seolah-olah ia sama sekali tak merasa sakit hati. Kemudian Kim Bum melepaskan pelukan Kim Bum

“jangan membohongi perasaanmu sendiri. Aku tau kau merasa sakit hati. Maafkan aku. Aku tak bermaksud membuat pagi mu menjadi berantakan” kata Kim Bum

“ne, aku percaya padamu. Aku tadi mendengar pengakuan eonni itu” kata So Eun tanpa menyebut nama ‘eonni’ yang ia maksud itu

“jadi kau tak marah padaku?” tanya Kim Bum. So Eun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Kemudian Kim Bum memeluk So Eun

“terimakasih telah mengertiku” bisik Kim Bum

“aku tak marah padamu, karena aku sudah menganggap semua ini sebuah drama” jawab So Eun

“hanya saja aku sedikit cemburu” umpat So Eun

“kau sedikit apa??” pancing Kim Bum yang ternyata mendengar ucapan So Eun

“sedikit apa?? Tidak apa-apa” elak So Eun. Kim Bum melepaskan pelukannya

“ahh.. tadi kau mengucapkannya. Ayo ucapkan sekali lagi” pinta Kim Bum dengan sedikit menggoda

“tak apa-apa.. sudahlah aku mau pulang saja” ucap So Eun sambil berjalan menuju apartmennya yang memang tak jauh dari apartmen Kim Bum karena letaknya hanya bersebrangan

“yya! Aku ikut denganmu” kata Kim Bum sambil menggandeng tangan So Eun

“eonni itu…” ucap So Eun menggantung

“biarkan saja dia, nanti juga dia akan pulang” balas Kim Bum

“yya! Kau kejam sekali” sahut So Eun

“sudahlah.. ayo cepat.. aku sudah lapar” kata Kim Bum sambil menarik tangan So Eun. mereka berjalan dengan santai. Untung saja jalanan belum ramai, kalau tidak bisa-bisa nanti siang sudah muncul skandal Kim Bum dan So Eun.

~~~

Geun Young menunggu Kim Bum kembali. Ia masih terduduk di lantai dengan mata yang sembab. Sudah sekitar 2 jam-an namun Kim Bum tak juga kembali. Selama dua jam itu ia juga merenung. Setelah ia menemukan titik terang. Akhirnya ia pulang dengan jiwa yang mulai kembali tegar.

~~~

Seminggu sudah Kim Bum dan So Eun mengklarifikasikan hubungan mereka kepada publik. Siang ini Kim Bum sedang beristirahat di apartmen So Eun.

“kau sudah menghafal naskahmu? Ini syuting terakhir kita, jangan sampai kita membuat banyak NG” kata So Eun pada Kim Bum yang sedang berbaring di paha-nya

“itu bukan hal yang sulit.. sudahlah nanti saja” kata Kim Bum yang masih fokus dengan game di ponselnya

“jangan suka menunda-nunda pekerjaan” kata So Eun sambil mengambil alih ponsel Kim Bum lalu mematikannya

“yya! Aku hampir mendekati garis finish, mengapa kau matikan akh!!” keluh Kim Bum

“kau itu sulit menghafal naskah, kalau kau tak menghafalkannya dari sekarang, bisa-bisa kau menghasilkan banyak NG. Aku tak mau jam kerjaku bertambah hanya karena kesalahanmu” omel So Eun

“baiklah-baiklah Ny. Kim Sang Bum aku akan menghafalkan naskahnya” kata Kim Bum sambil berjalan malas menuju tumpukan kertas yang berada tak jauh darinya.

“mwo?! Ny. Kim Sang Bum? aku belum menjadi istrimu, jangan memanggilku dengan sebutan itu” kata So Eun

“belum berarti akan. Iya kan’?” goda Kim Bum

“mulai lagi.. terserah kau saja laah” parah So Eun

“ah.. kau tidak asik” kata Kim Bum sambil kembali berbaring di paha So Eun

“Bum-ah.. eonni itu pergi kemana? Aku tak melihatnya akhir-akhir ini” ucap So Eun

“entahlah.. bukan urusanku” kata Kim Bum dengan cuek

“terakhir yang ku dengar, dia pergi ke Inggris. Apa itu benar?” tanya So Eun

“aku tak tau. Sudahlah jangan bicarakan dia lagi” kata Kim Bum sambil meletakan kertas naskah itu di wajahnya

“So Eun-ah.. aku mengantuk” ucap Kim Bum sambil menarik tangan kanan So Eun untuk dijadikan ‘pelukan’

“ne.. tidurlah” kata So Eun lalu mengelus rambut Kim Bum dengan tangan kirinya. Ia tau, jika Kim Bum mengantuk maka ia tak bisa menghafal naskah dengan baik, hasilnya akan percuma saja. Jadi lebih baik Kim Bum tidur dahulu baru setelahnya menghafal naskah.

Setelah beberapa menit, So Eun bisa melihat Kim Bum yang sudah terlelap sambil memeluk tangan kanannya. Ia tersenyum melihat wajah Kim Bum yang nampak tenang.

“saranghae” ucap So Eun sambil mengecup bibir Kim Bum

~~~

7 tahun kemudian…

“Yoo Bin-ah” ucap seorang laki-laki sambil berjalan menuju seorang anak kecil bernama Yoo Bin lalu berbaring sambil memeluk pinggang anak kecil itu

“appaa” ucap Yoo Bin kegelian saat orang yang ia panggil appa itu menggelitik perutnya

“appa… sudah…geli.. appa.. aku ingin menonton televisi” ucap Yoo Bin sambil berusaha melepaskan tangan sang ayah yang terus menggelitik perutnya

“yya! Bum-ah.. aku menyuruhmu mandi bukan mengganggu Yoo Bin” kata So Eun yang sedang menyiapkan sarapan. Namun Kim Bum tak juga mendengarkan perkataan So Eun. Ya, beberapa bulan setelah mereka mengklarifikasi hubungan mereka, Kim Bum dan So Eun segera menyelenggarakan pernikahan mereka. Pernikahan yang hanya dihadiri oleh orang-orang terdekat saja. Saat ini, mereka sudah di anugerahi dengan seorang putri bernama Kim Yoo Bin. Sekarang ini mereka tinggal di sebuah rumah yang lumayan megah yang merupakan hadiah pernikahan dari appa Kim Bum.

“appa belum mandi, pantas saja aku mencium bau aneh” kata Yoo Bin dengan isengnya

“oh.. sekarang anak appa sudah pandai berkompromi dengan eomma yaa” kata Kim Bum sambil menggendong Yoo Bin

“yya.. appa turunkan aku, aku sudah besar” protes Yoo Bin. Kemudian Kim Bum menurunkan Yoo Bin di sebuah sofa di depan televisi

“anah appa sudah besar? Kau masih pendek, kau belum besar” kata Kim Bum meremehkan

“heehh.. sudah cepat masuk kamar mandi, jangan membuat pencemaran udara” kata So Eun sambil memberikan Kim Bum handuk dan mendorongnya ke kamar mandi.

“Yoo Bin.. sini ibu ikat rambutmu” kata So Eun sambil menghampiri sang anak

“ne” jawab Yoo Bin lalu duduk di depan So Eun

Ting Nong Ting Nong

“ada yang datang eomma” kata Yoo Bin yang menyadari ada bunyi bell

“ne, Yoo Bin tunggu sini. Eomma liat dulu siapa yang datang” kata So Eun yang bergegas menuju intercom yang terletak di ruang tamu

“silahkan masuk” kata So Eun kemudian menekan tombol untuk membuka pintu

“annyeong haseyo” ucap seorang perempuan paruh baya

“annyeong haseyo” ucap seorang pria yang berdiri di belakang wanita itu. Pria itu terlihat sedang menggandeng seorang anak kecil yang berusia kurang lebih 2 tahun dibawah Yoo Bin.

“eonni” So Eun merasa terpaku melihat sebuah keluarga kecil dihadapannya

“apa kabarmu So Eun?” tanya wanita itu yang ternyata adalah Geun Young

“eonni.. oh.. kabarku baik, ayo silahkan masuk” kata So Eun mempersilahkan. Geun Young beserta keluarga kecilnya pun mengikuti langkah So Eun yang menuntun mereka untuk duduk di sebuah kursi ruang tamu

“Yoo Bin-ah” panggil So Eun. Tak lama datanglah seorang gadis kecil yang sangat imut itu

“iya eomma” balas Yoo Bin dengan imutnya

“apakah appa sudah selesai mandi?” tanya So Eun

“sudah eomma” jawab Yoo Bin

“tolong panggilkan appa, bilang padanya bahwa ada tamu” pesan So Eun pada Yoo Bin

“ne” jawab Yoo Bin lalu segera memanggilkan Kim Bum yang sepertinya sedang berganti pakaian

“itu anak kalian?” tanya Geun Young dengan ramahnya

“hm…n..ne itu anak kami” jawab So Eun dengan gugup. Ia sungguh tidak menyangka, karena sudah beberapa tahun terakhir ia tidak melihat batang hidung Geun Young

“ada siapa so..Noona?!” kejut Kim Bum

“annyeong bum-ah, apa kabarmu?” tanya Geun Young

“kabarku baik” jawab Kim Bum sambil duduk disamping So Eun diikuti dengan Yoo Bin

“eomma… aku mau itu” tunjuk seorang anak laki-laki yang tadi datang bersama Geun Young. Ia terlihat menunjuk cokelat yang sedang dimakan Yoo Bin

“oh.. kau mau ini.. baiklah.. tunggu sebentar yaaa” kata So Eun, ia bergegas ke dapur untuk mengambil cokelat itu. tak berapa lama, ia sudah kembali dengan setoples cokelat bermacam bentuk itu

“ini silahkan” kata So Eun dengan manisnya. Anak bernama Mason itupun mengambil beberapa buah cokelat

“dia memanggilmu eomma?” tanya Kim Bum tak percaya

“ne, dia adalah anakku. Namanya Mason Moon. Dan dia adalah suamiku, namanya Moon Joo Won” kata Geun Young

“manna bangapseumnida” sapa Joo Won

“nado manna bangawoyo” balas So Eun dan Kim Bum

“ah eonni.. hubungan kita terakhir bertemu tidak begitu baik. Kita tak saling bertukar kabar, dan kau menghilang begitu saja. Bahkan semua fans mu tidak tau kemana kau pergi. Ini sangat mengejutkan bagiku, kau datang bersama anak dan suamimu” ucap So Eun

“ne, setelah kejadian itu aku memutuskan untuk pindah ke Inggris bersama paman dan bibi ku. Dan disana aku menjalankan hidup seperti orang biasa saja, aku bekerja sebagai manager di suatu perusahaan pertambangan. Dan disanalah aku bertemu dengan suamiku ini. setelah itu kami berpacaran dan kemudian menikah” cerita Geun Young

“ngomong-ngomong, kapan kalian menikah?” tanya Geun Young

“ditahun yang sama dengan perginya kau” jawab Kim Bum

“wahh rupanya kau berpesta saat aku pergi” ucap Geun Young pura-pura marah

“hahaha.. tidak seperti itu eonni” jawab So Eun

“apa kalian mempunyai rencana untuk hari ini?” tanya Joo Won

“sebenarnya nanti sore kami akan ke rumah Soo Jin eonni, dia baru saja melahirkan anak keduanya” jawab So Eun. sementara Joo Won kebingungnan memikirkan siapa itu Soo Jin

“Soo Jin, manager Park maksudmu?” ucap Geun Young tak percaya

“ne” jawab So Eun

“woa.. dia sudah memiliki dua anak ternyata” gumam Geun Young tak percaya

“oh ya, apa kalian sudah sarapan?” tanya So Eun

“belum, dari bandara kami langsung kesini” jawab Joo Won

“baiklah, kalau begitu ayo kita sarapan bersama” ajak So Eun

~~~

Malam harinya, Kim Bum, So Eun, Geun Young, dan Joo Won sedang menonton Yoo Bin dan Mason yang sedang asik bermain kejar-kejaran sambil memegang kembang api di taman belakang rumah kimbum. Ya, Geun Young, Joo Won, dan Mason memutuskan untuk menginap di rumah Kim Bum malam ini

“mereka terlihat bahagia sekali” gumam So Eun sambil memandang pemandangan membahagiakan itu

“ne, itulah nikmatnya menjadi anak-anak. Mereka bebas mengekspresikan apa yang mereka ingin lakukan. Mereka berlari tanpa memikirkan akan terjatuh. Mereka bermain api tanpa memikirkan akan terbakar. Sangat berbeda dengan orang dewasa yang selalu terbebani” kata Kim Bum sambil merangkul So Eun

“hanya dua orang anak yang sedang berlarian sambil tertawa. Entah mengapa hanya dengan hal sederhana itu bisa membuat hatiku merasa sangat tenang” kata Geun Young sambil menyandarkan kepalanya di bahu Joo Won

“satu kali tawanya, itu seperti menambahkan 10 menit waktu hidupku” sambung Joo Won sambil merangkul pinggang Geun Young

“tak kusangka, dulu hubungan kita sangatlah rumit. Tapi sekarang semuanya terasa indah” ucap Kim Bum sambil mengelus kepala So Eun

“Tuhan memang selalu mempunyai rencana yang terbaik untuk umatnya” sahut So Eun. Mereka masih memandang Yoo Bin dan Mason yang tampak semakin akrab.

THE END

Gimana?? Maaf yaa kalo endingnya kurang memuaskan. Maaf kalo banyak typo, alurnya ga jelas. Oh yaa.. maaf juga kalo kata-katanya kaku, maklum udah lama ga nulis -_-
oke… makasih bagi yang udah mau baca sampe akhir, dan bagi yang merasa orang bertanggung jawab, tolong tinggalin jejak yaa…  Gomawo ~~ :*

 

 

Mau FF-nya Cepet-Cepet di Publish??

Annyeong haseyo my readers^^ apa kabarnya?? kali ini aku cuma mau kasih jawaban ajaa untuk komenters di wp dan orang2 yang suka inbox di fb. Gini nihh.. kan banyak yang minta buat cepet2 ngelanjutin ff-nya… jujur aja siiihh.. selama ini aku ngepost ff part baru KALAU komentar di ff part sebelumnya itu 30+ (kecuali untuk yang di proteksi) , jadi misalnya readers pada minta SoF part 9 di post, penuhin dulu komennya di SoF part 8 begituu ^v^

Oh yaaa… untuk readers yang setiaa… yang selalu RCL a.k.a ninggalin jejak… jeongmal gamsahamnidaaaaa…. makasih banget udah mau komentarin ff disini,, yaa walaupun ffnya gak baguuss2 amat >,<

dan buat para siders…. aku sih masih berharap kalian mau ninggalin jejak walaupun cuma bilang “next” atau “keren” kk~~ ayoo dong tinggalin jejak kalian, buktiin bahwa kalian itu readers yang punya tanggung jawab dan menghargai authornya oke okeee ^^

Sekian dulu infonya… Byeeee

Secret Of Love Part 8

Secret Of Love

Part 8

cats

Author                       : Kim Sang Eun

Main Cast                 : Kim Sang Bum dan Kim So Eun

Cast                            : Goo Hye Sun, Lee Min Ho, Kim Hyun Joong, Kim Joon, Jessica, Suzy, Eun Jung, Kim Soo Hyun, Park Jiyeon, Yoo Seungho, Yoo Ah In, Kim Jo Kwang (fiction), Elisha Melville (fiction), William Ville Kim / Kim Woon Ha (fiction)

Genre                         : Romance, Friendly, #yahh tentuin sendiri lah#

Type                           : Chaptered

PENTING!!! : karakter yang ada dalam ff ini, semuanya bukan milik author. Mereka milik keluarga, agensi, dan fans masing – masing. Disini author hanya meminjam saja. Bila ada kesamaan judul, jalan cerita, pemain, dsb, itu merupakan sebuah ketidak sengajaan. Tidak ada maksud untuk meniru (plagiat-kan) karya orang lain.

Annyeong readers😀
Part 8 nya dateeenggg🙂 Berharap semua readers suka..
jangan lupa tinggalin jejak, Arrasso??!!😉

dari pada banyak abcdefghijklmnopqrstuvwxyz, mending langsung aja yaa😀
happy reading ****

¤¤¤

Jessica dan Jiyeon adalah teman. Teman sebelum Jessica di adopsi oleh keluarga Jung Yo Bin. Dulunya, Jessica dan Jiyeon adalah teman karena rumah mereka yang berdekatan. Ibu Jessica adalah seorang pedagang baso ikan sedangkan ayahnya adalah seorang pengantar koran dan susu. Pada suatu hari, mobil Jung Yobin secara tidak sengaja menabrak ayah Jessica, Jung Won Jae yang sedang mengantar susu. Sebagai rasa tanggung jawabnya, keluarga Jung Yobin mengadopsi Jessica yang saat itu bernama Jung Soo Yeon. Awalnya Jessica menolak, namun sang ibu terus membujuk Jessica. Ibu Jessica, Ha Yomin tau jika Jessica sangat ingin bersekolah di luar negeri, Yomin berpikir ini adalah jalan yang Tuhan berikan untuk mewujudkan mimpi Jessica. Namun sekarang semua itu jauh meleset. Semenjak diadopsi, Jessica tidak pernah menengok ibunya di rumah lamanya, bahkan saat natal pun Jessica tidak datang untuk merayakan natal bersama ibu kandungnya. Setiap orang lain bertanya ‘mengapa soo yeon tidak pernah menjengukmu?’ ibu Jessica selalu menjawab jika Jessica sedang sekolah di luar negeri, jadi Jessica tidak bisa menghubunginya, namun Jessica masih suka meneleponnya saat malam hari. walaupun di dalam lubuk hatinya, ibu Jessica juga bertanya-tanya mengapa Jessica tidak menjenguknya sama sekali??

Part 8

Kim Bum sedang memakan sarapannya bersama dengan ayah, paman, bibi serta sepupunya.

“kalian akan tinggal disini selama berapa lama?” tanya ayah Kim Bum pada paman Kim Bum

“mungkin sekitar 2 minggu” jawab paman Kim Bum

“kau keberatan?” tanya bibi Kim Bum

“tentu tidak. Aku senang kalian disini, berarti kalian bisa menemani Kim Bum disaat aku kerja. Aku tidak akan mengijinkan Kim Bum untuk tinggal di apartemennya selama kondisinya belum benar-benar pulih” balas ayah Kim Bum

“aku bisa meminta So Eun dan Hyun Joong untuk menemaniku” sahut Kim Bum

“ayah tau, tapi mereka tidak bisa memantaumu selama 24 jam” jawab ayah Kim Bum

“aku akan menemanimu hyung” celetuk William

“kau ingin menemaniku atau mendekati So Eun?” cibir Kim Bum

“kau ini, menjadi sensitif sekali pada Willy” ucap paman Kim Bum sambil mengelus kepala anak semata wayangnya

“bagaimana tidak, sekarang dia menjadi sebuah ancaman” balas Kim Bum. sementara yang lainnya hanya tertawa mendengar ucapan Kim Bum.

###

Hari ini So Eun pergi ke sekolahnya seperti biasa. Setelah meletakkan tasnya di loker, So Eun segera pergi ke ruang FB4 karena tadi Hyun Joong sudah mengirim pesan kepada So Eun untuk segera ke ruang FB4 setelah sampai sekolah.

“annyeong! Na wasseo” kata So Eun

“kau datang siang sekali” kata Kim Joon

“mianhae, tadi Soo Hyun oppa bangunnya terlambat” jawab So Eun. sekarang Kim Joon dan Min Ho sudah tau jika Soo Hyun adalah kakak So Eun, bukan kekasihnya.

“kemarin kau ikut menjemput Kim Bum di bandara?” tanya Min Ho

“ne” jawab So Eun sambil duduk di samping Hyun Joong

“bagaimana keadaannya?” tanya Hyun Joong

“syukurlah, dia baik-baik saja. Hanya saja, kalau berjalan dia harus di papah atau tidak dia harus menggunakan tongkat” kata So Eun

“oh ya, Hye Sun, aku minta maaf padamu tentang kejadian waktu itu. aku benar-benar diluar kendali” lanjutnya dengan penuh penyesalan

“aku bisa mengerti. Kau pernah seperti ini sebelumnya, dan seharusnya waktu itu aku tidak berkata seperti itu karena aku tau respon darimu akan seperti apa” kata Hye Sun

“dia akan tinggal di korea?” tanya Min Ho pada So Eun

“Jo Kyung ahjussi bilang bahwa Kim Bum akan tinggal di korea sampai kondisinya benar-benar pulih” jawab So Eun dengan senyumannya

“lalu bagaimana dengan sekolahnya? Bukankah itu akan dimulai bulan depan?” tanya Kim Joon

“entahlah, aku belum bertanya tentang itu” jawab So Eun

“bagaimana jika nanti kita menjenguknya?” usul Hyun Joong

“ide bagus” sahut Min Ho dan yang lainnya pun menyetujui

¤¤¤

Sepulang sekolah, FB3, Hye Sun, serta So Eun pun mengunjungi Kim Bum di rumahnya. Mereka membawakan beberapa bingkisan untuk Kim Bum.

Ting nong ting nong *bel ceritanya*

“tunggu sebentar” teriak seseorang dari dalam rumah Kim Bum setelah So Eun menekan belnya. Kemudian pagar rumahpun terbuka, mereka segera masuk ke rumah Kim Bum yang megah itu.

“annyeong haseyo” sama So Eun ketika masuk ke dalam rumah Kim Bum

“nuna” girang William sambil menghampiri So Eun. Hye Sun merasa heran mendapati seorang anak kecil di rumah Kim Bum. Namun tidak dengan Hyun Joong, Min Ho, dan Kim Joon.

“nuguya?” bisik Hye Sun pada Min Ho

“William, anak dari pamannya Kim Bum” balas Min Ho dengan suara yang tak kalah pelan

“oh kalian, silahkan masuk” bibi Kim Bum segera mempersilahkan FB4, Hye Sun, dan So Eun untuk masuk.

“Kim Bum ada di kamarnya, aku akan membuatkan minum untuk kalian” kata bibi Kim Bum

“gamsahamnida” ucap Hye Sun. Lalu FB3, Hye Sun, So Eun dan diikuti William menghampiri Kim Bum yang ada di kamarnya.

Tok-tok-tok

“masuk saja, tidak dikunci” balas Kim Bum dari dalam kamarnya

“bum-ah” panggil So Eun sambil membuka pintu kamar Kim Bum lalu masuk ke kamar Kim Bum diikuti yang lainnya

“So Eun-ah” balas Kim Bum dengan senangnya

“heii mengapa kau ikut kekamarku, hah?!” ucap Kim Bum pada William yang terlihat menggandeng tangan So Eun

“tak apa” jawab William dengan tatapan santai

“kau sedang apa?” tanya Hyun Joong sambil duduk di sofa dekat pintu kamar mandi

“hanya menonton televisi saja” jawab Kim Bum

“kenapa hanya duduk di kasur saja? Oh..ya..yaa aku baru mengingat, kau tidak bisa berjalan” canda Hyun Joong

“yya! Kau ini, aku bisa berjalan, hanya saja butuh bantuan” balas Kim Bum

“kau ini, baru sebentar disana sudah celaka. Bagaimana jika sudah 2 tahun disana? bisa-bisa kau pulang tinggal nama” ucap Min Ho yang mendapat tatapan tajam dari yang lainnya

“ne? Kau mendo’akan aku mati, hah!” ucap Kim Bum dengan sedikit kesal. Lalu ia menatap Min Ho, Kim Joon dan Hye Sun dari atas sampai bawah

“apa? Melihatku seperti itu?” tanya Min Ho yang merasa risih diperhatikan seperti itu

“kalian…..nuguya?” tanya Kim Bum. Semuanya memandang Kim Bum dengan terkejut

“kau…Kim Bum…kau…tidak tau mereka?” ucap So Eun dengan heran. Kim Bum menggeleng

“yya! Bercandamu lucu sekali” timpal Kim Joon sambil menoyol jidat Kim Bum dengan jari telunjuknya

“issh.. kau ini apa-apaan” kesal Kim Bum sambil menyingkirkan jari telunjuk Kim Joon dari jidatnya

“aku sungguh-sungguh. Kalian siapa?! Kenapa kalian ke kamarku,hah?!” tanya Kim Bum dengan wajah kesal

“kenal saja tidak, sudah menoyol kepalaku saja. Bahkan mendo’akan aku mati. Kalau kakiku baik-baik saja, akan kulempar mereka berdua kelantai dasar” gerutu Kim Bum

“Kim Bum, kau tau aku?” tanya Hyun Joong sambil menunjuk didirnya sendiri

“tentu, kau Kim Hyun Joong” jawab Kim Bum yang amarahnya mulai mereda

“siapa nama ayahmu?” tanya Min Ho

“Kim Jo Kyung. Ah, kalian seperti dokter yang di Berlin” sahut Kim Bum

“kau benar-benar tidak ingat mereka?” tanya So Eun

“untuk apa aku berbohong? Aku tidak tau siapa mereka” jawab Kim Bum

“aku? Kau tidak ingat aku? Aku temannya So Eun, kau ingat?” tanya Hye Sun. Kim Bum terlihat berfikir

“temannya So Eun yang mana? Aku tidak tau siapa kau” ucap Kim Bum

“kau ingat…..Jung Eun Ji?” tanya Kim Joon dengan hati-hati

“ingat” jawab Kim Bum

“giliran wanita saja dia ingat” umpat Kim Joon

“bagaimana bisa kau ingat dengan wanita jahat itu namun kau tidak ingat dengan pria baik sepertiku?” protes Min Ho

“pria baik? Aku tidak mengenalmu, tapi aku yakin kau ini pria menyebalkan. Baru sekali bertemu saja sudah mendoakanku mati” ucap Kim Bum dengan sewot. Kemudian Hyun Joong pun menengahkan keduanya dengan sebuah pertanyaan untuk Kim Bum

“dimana Jung Eun Ji sekarang?” tanya Hyun Joong

“Vancouver, Kanada” jawab Kim Bum

“ada yang tidak beres” gumam Hyun Joong

“kau ingat aku hyung?” tanya William. Sementara Kim Bum tidak menjawabnya dan  hanya mengendus kesal

“kau ingat ibumu? Kau ingat adikmu? Pria yang merebut ibumu? Kau ingat tentang perceraian kedua orang tuamu? Kau ingat dimana pertama kali kau bertemu So Eun? kau ingat dengan kakaknya So Eun?” Kim Joon begitu heran dengan daya ingat Kim Bum. dia terus menghujani Kim Bum dengan berbagai pertanyaan. Sementara Kim Bum, ia terlihat berpikir keras, ia memegangi kepalanya, dan wajahnya terlihat menahan sakit.

“aku….aku….aku…tidak” lirih Kim Bum. ia merasakan rasa sakit yang amat sangat di kepalanya. Dan kemudian, iapun hilang kesadaran.

“Kim Bum! bum-ah, buka matamu” panik So Eun yang melihat Kim Bum tidak sadarkan diri. Hyun Joong yang hendak menenangkan So Eun kemudian ditahan oleh Hye Sun. Karena Hye Sun tau apa yang akan terjadi jika Hyun Joong menyuruh So Eun tenang disaat seperti ini

“hyung!” ucap William yang menepuk-nepuk tangan Kim Bum

“aku akan panggilkan paman Kim Bum” ucap Kim Joon

“yya! Bum-ah, kau kenapa? Bangunlah” kata So Eun sambil memangku kepala Kim Bum dipahanya

“So Eun, Kim Bum tidak apa-apa. Sebentar lagi dia akan bangun” ucap Hyun Joong dengan perlahan

¤¤¤

Jessica sedang berjalan di sebuah jalanan sempit. Terlihat bahwa disana bukanlah pemukiman mewah, itu hanya sebuah pemukiman sederhana. Ia terus melangkahkan kakinya sambil menutupi separuh wajahnya dengan masker. Ia juga menggunakan topi dan kacamata layaknya seorang selebriti yang menghindari paparazzi. Kemudian langkahnya berhenti di sebuah rumah yang ukurannya bisa dibilang kecil. Kemudian iapun masuk ke rumah itu.

“Soo Yeon” panggil seorang wanita paruh baya saat melihat Jessica masuk kedalam rumah kecil miliknya

“akhirnya kau kesini juga, ibu sudah menunggumu sejak lama” kata wanita paruh baya itu lalu memeluk Jessica. Dengan kasar, Jessica segera melepaskan pelukan ibu itu.

“aku kesini hanya untuk mengingatkanmu. Jangan pernah katakan pada orang-orang jika aku ini adalah anakmu. Sekarang, aku adalah anak dari pemilik Starlight Corp Jung Yobin dan Lee Sung Mi. Aku bukan anak dari Ha Yo Min dan Jung Won Jae. Jadi, jangan pernah katakan pada orang lain jika aku ini anakmu. Katakan saja jika kau ini tidak memiliki anak. Dan satu lagi, jika bertemuku lagi, bertingkahlah seakan kita tidak pernah saling kenal sebelumnya. Sungguh, sebenarnya aku tidak ingin bertemu denganmu lagi” kata Jessica lalu keluar dari rumah yang dianggapnya sangat jelek itu. Ha Yo Min terpaku sejenak mendengar perkataan Jessica. Kemudiaan iapun mengejar Jessica.

“Soo Yeon, tunggu” kata Yo Min sambil menahan tangan Jessica

“NAMAKU JESSICA BUKAN SOO YEON!!” teriak Jessica sambil menghempaskan tangan Yo Min yang menahan tangannya

“aku ibu kandungmu. Seorang wanita yang mengandungumu selama 9 bulan, teganya kau bicara seperti itu padaku” ucap Yo Min yang sebenarnya adalah ibu kandung Jessica. Ia sudah tidak bisa menahan air matanya lagi

“aku tidak pernah memintamu untuk mengandungku selama 9 bulan,  jika kau keberatan seharusnya saat itu kau gugurkan saja aku” balas Jessica sambil menatap ibunya tajam. Sungguh, benar-benar anak yang durhaka

“ya Tuhan, setan jahat apa yang merasuki dirimu? Apa mereka tak memberikan pendidikan yang cukup untukmu sehingga kau menjadi seperti ini, hah?!” ucap ibu kandung Jessica dengan air mata yang sudah berlalu lalang di pipinya

“mereka memberikan semua yang aku butuhkan dan aku inginkan. Mereka memenuhi itu semua. Tidak seperti kau yang hanya bisa membuatku menderita” ucap Jessica

“Soo Yeon, apa yang kau ucapkan? Mengapa hatimu menjadi beku seperti ini? kemana Soo Yeon-ku yang selalu menghormati orang tua? Aku ibumu Soo Yeon!” ucap ibu kandung Jessica. Hatinya begitu terasa sakit melihat Jessica bersikap seperti itu padanya.

“dengar sekali lagi! Ibuku Lee Sung Mi, bukan Ha Yo Min. DENGAR ITU WANITA TUA!!!” teriak Jessica lalu pergi meninggalkan ibunya yang sudah menangis.

“Soo Yeon-ah!! Soo Yeon-ah!!” teriak sang ibu

“mengapa sekarang kau jadi seperti itu Soo Yeon” tangis sang ibu. Hatinya benar-benar terasa sakit. Rasanya sakit sekali. Bahkan rasa sakit ini terasa jauh lebih sakit daripada ketika ia kehilangan suami tercintanya.

¤¤¤

“bagaimana keadaannya dokter?” tanya So Eun yang sudah mulai bisa tenang

“sebelumnya, saya tanya kepada kalian” ucap dokter Yoo yang merupakan dokter pribadi keluarga Kim Bum

“apakah kalian termasuk dalam golongan orang yang Kim Bum benci, suka, atau sebagainya?” tanya dokter kim pada Min Ho, Kim Joon, dan Hye Sun

“kami berteman biasa saja dengannya. Tidak ada konflik apapun padanya” jawab Kim Joon

“apakah ada orang yang berteman biasa dengannnya namun bisa dia ingat?” tanya dokter Yoo

“aku” jawab Hyun Joong

“ohh begitu… aku rasa dia terkena penyakit amnesia disosiatif. Mungkin ini adalah akibat dari benturan saat kecelakaan” jelas dokter Yoo

“amnesia disosiatif?” paman Kim Bum menyiritkan keningnya

“ne, penderita amnesia disosiatif hanya hilang ingatan pada hal tertentu. Ini juga bisa disebut sebagai amnesia psikogenik. Namun ini hal yang aneh, biasanya penderita akan tidak mengingat satu kelompok. Misalnya satu kelompok orang yang ia benci. Namun, disini Kim Bum mengingat satu orang dari temannya” terang dokter Yoo

“apa ini sama seperti penyakit demensia?” tanya Kim Joon yang memang awam tentang hal seperti ini

“tentu tidak. Demensia bukanlah sebuah penyakit. Orang yang terkena demensia akan ingat kembali jika di ingatkan. Sedangkan penderita amnesia tidak. Jika terus diingatkan maka akibatnya akan seperti ini. Dia akan pingsan” jawab dokter Yoo

“Oh ya, apa hal lain yang tidak dia ingat?” tanya dokter Yoo

“sampai saat ini hanya itu yang aku temui dok” jawab So Eun

“bagaimana caranya supaya Kim Bum bisa mengingat semuanya lagi?” tanya bibi Kim Bum yang juga cemas

“harus perlahan, tidak boleh langsung menyerangnya dengan berbagai penjelasan. Karena itu akan membuat pikirannya menjadi berat dan bisa bertambah buruk. Misalnya, yang tadinya ia mengingat nona So Eun, setelah pikirannya dipaksakan, ia menjadi tidak mengingat nona So Eun lagi. Jadi, saya sarankan agar kalian bisa membimbingnya dengan sabar. Jika dia tidak bisa menjawab pertanyaan yang kalian berikan, sebaiknya kalian tidak menanyakan hal itu kembali padanya” saran dokter Yoo

“baiklah dokter, saya mengerti” ucap bibi Kim Bum

“ya sudah, saya permisi” kata dokter Yoo sambil melangkah keluar

“mari saya antar sampai depan” ucap paman Kim Bum lalu menyusul dokter Yoo

“huhh…kalau dia belum sadar sampai ayahnya pulang nanti, pasti kita akan kena marah” ucap bibi Kim Bum sambil duduk di lantai lalu menidurkan kepalanya pada pinggir ranjang Kim Bum

“ne, Hye Sun-ah, sebelum kita kena marah, lebih baik sekarang kita pulang” kata Min Ho yang mendapatkan sebuah pukulan dari Hyun Joong

“hyung.. kenapa tidur lagi?” ucap William yang ikut berbaring di samping Kim Bum

“bangunlah bum-ah. Kalau kau tidak bangun, kami akan dimarahi ayahmu. Apa kau tidak kasihan pada kami?” kata So Eun sambil mengusap lebut kepala Kim Bum. wajahnya terlihat sangat lesu. Ia mencoba untuk tidak menangis dan tidak berpikiran negatif.

“aku minta maaf, aku tahu. Dia pingsan karena aku” ucap Kim Joon

“lupakanlah” sahut bibi Kim Bum

¤¤¤

Semua pekerjaan Soo Hyun untuk hari ini sudah selesai. Waktu masih menunjukkan pukul 5.30 KST. Ia segera melangkahkan kakinya ke cafetaria untuk sekedar minum Capuccino. Kemudian iapun menghubungi So Eun.

“yobeseyo” ucap So Eun disebrang sana

“So Eun-ah, kau sudah di rumah?” tanya Soo Hyun

“aniyo. Aku di rumah Kim Bum” jawab So Eun

“dirumah Kim Bum? Sekarang aku sudah pulang, kau mau aku bawakan apa?” tanya Soo Hyun

“oppa… bolehkah untuk malam ini aku menginap di rumah Kim Bum?” tanya So Eun dengan hati-hati

“mwo?! Kau ini apa-apaan?! Kau itu perempuan mana mungkin menginap di rumah laki-laki. Apa yang akan orang lain katakan jika mengetahui hal ini, hah?!” ucap Soo Hyun dengan wajah sedikit emosi

“oppa.. Kim Bum sedang sakit. Dia menderita amnesia disosiatif. Aku ingin selalu ada di sampingnya, aku takut dia akan lupa padaku, oppa.. lagipula disini juga ada bibi dan pamannya. Ayolah oppa, kali ini saja” mohon So Eun

“bagaimana jika dia berbuat diluar batas padamu?” tanya Soo Hyun

“aigoo…oppa… itu tidak akan terjadi. Kumohon oppa.. kali ini saja” So Eun terus memohon

“kau bisa menjamin?” tanya Soo Hyun

“ya aku jamin” jawab So Eun

“baiklah, untuk kali ini saja aku mengijinkan” ucap Soo Hyun

“oppajjang!! Gomawoyo” balas So Eun dengan senangnya. Kemudian ia memutuskan sambungan teleponnya.

“mengijinkan untuk apa?” tanya seseorang di belakang Soo Hyun. Soo Hyun pun menoleh ke belakangnya

“annyeong, kau sendirian?” tanya orang itu yang tak lain adalah Suzy, kemudian ia duduk di depan Soo Hyun

“apa yang kau lakukan disini?” tanya Suzy dengan manisnya

“hanya bersantai” jawab Soo Hyun seadanya

“bersantai?? Memangnya semua pekerjaanmu sudah selesai, hah?” cibir Suzy

“kalau belum tidak mungkin aku bersantai, aku bukan tipe orang seperti itu” kata Soo Hyun

“kalau sudah selesai semuanya mengapa tidak langsung pulang?” tanya Suzy

“geurae, aku akan pulang” ucap Soo Hyun lalu berdiri dan melangkahkan kakinya

“yya!” teriak Suzy, Soo Hyun menghentikan langkahnya lalu menghampiri Suzy

“oh ya, seharusnya kau memberi salam padaku dengan mengucapkan ‘annyeong haseyo’ bukan hanya ‘annyeong’. Walaupun kau adalah anak pemilik perusahaan ini, tapi kau tetap harus menghormatiku karena aku lebih tua darimu. Aku yakin orang tuamu pasti mengajari hal itu padamu” ucap Soo Hyun lalu melenggang pergi.

“aku kan hanya berbasa-basi. Akh! Bae Suzy, kau salah kata-kata” gerutu Suzy sambil memukul kepalanya sendiri.

¤¤¤

Jam sudah menunjukkan pukul 5.45 pm. Namun, Kim Bum juga belum membuka matanya. Paman dan bibi Kim Bum sudah cemas, bukan hanya karena Kim Bum yang belum sadar, tapi juga karena sebentar lagi ayah Kim Bum pulang dari kantornya. So Eun masih setia di samping Kim Bum, ia terus memandangi wajah Kim Bum.

“bum-ah, ayolah bangun. Sebentar lagi ayahmu pulang, jika kau tidak segera bangun maka paman dan bibimu akan dimarahi habis-habisan oleh ayahmu. Apa kau tidak kasihan pada mereka” ucap So Eun sambil mengelus tangan kanan Kim Bum

“hyung, bangunlah. Apa kau tidak lelah tidur terus-menerus? Aku saja lelah” ucap William

“dia belum sadar juga” ucap bibi Kim Bum yang baru saja masuk ke kamar Kim Bum

“ini bisa gawat” ucap bibi Kim Bum lagi sambil duduk di pinggir ranjang Kim Bum

“So Eun, Hyun Joong, apa kalian akan tetap disini?” tanya bibi Kim Bum. disini hanya tinggal So Eun dan Hyun Joong, sementara Min Ho, Hye Sun, dan Kim Joon sudah pulang beberapa waktu lalu

“bibi, bolehkah aku menginap disini, untuk satu malam saja. Aku cemas akan keadaan Kim Bum” pinta So Eun

“aku juga, bolehkah aku menginap disini?” tanya Hyun Joong

“kalian ingin menginap disini?” ulang bibi Kim Bum. Hyun Joong dan So Eun mengangguk

“baiklah, aku akan senang sekali jika kalian ingin menginap disini” ucap bibi Kim Bum dengan senangnya.

“aku harap, kalian bisa membimbing Kim Bum untuk mengenal lingkungan sekitarnya lagi. Dia sangat butuh bantuan, aku yakin banyak hal-hal penting yang hilang” kata bibi Kim Bum sambil memandang Kim Bum yang masih memejamkan matanya

“itu pasti, aku akan selalu ada disampingnya. Aku akan membantunya untuk menemukan hal-hal yang hilang itu” balas So Eun

“dimulai dari teman sekitar. Aku akan mengingatkannya perlahan pada masa kanak-kanak kami. Siapa itu Min Ho, Kim Joon dan Hye Sun. Aku akan menjelaskannya secara perlahan” timpal Hyun Joong

“aku berterimakasih sebelumnya. Kim Bum sungguh beruntung, karena dia memiliki orang-orang seperti kalian” sahut bibi Kim Bum

“terutama Kim So Eun” kata Hyun Joong. So Eun dan bibi Kim Bum mengalihkan padangannya pada Hyun Joong

“yang ku tahu, sejak Jung Eun Ji meninggalkannya, perilakunya pada wanita sangatlah buruk. Dia sangat sering membuat wanita sakit hati, termasuk So Eun. Tapi entah hal baik apa yang dia lakukan sehingga bisa mendapatkan seorang Kim So Eun. Aku saja yang sering melakukan hal baik tak bisa mendapatkan hati So Eun” ucap Hyun Joong yang diselingi candanya

“kau jangan mengambil hatiku. Aku bisa mati jika hatiku kau ambil” canda So Eun. bibi Kim Bum hanya tertawa mendengar keduanya. Saat sedang bersenda gurau, tiba-tiba saja So Eun merasakan jika tangan Kim Bum yang berada di genggamannya bergerak. Ia segera menoleh ke Kim Bum, begitupun yang lainnya. Terlihat Kim Bum yang berusaha membuka matanya.

“bum-ah, kau sadar!”ucap So Eun

“so..soeun-ah” lirih Kim Bum sambil memegang kepalanya

“tiga orang aneh itu sudah pulang?” tanya Kim Bum yang memperhatikan bahwa Min Ho, Hye Sun, dan Kim Joon tidak ada dikamarnya

“ne” jawab So Eun dengan senyumnya

“heuh…baguslah” gumam Kim Bum sambil mendudukan tubuhnya lalu bersandar di kepala tempat tidur

“aku sudah sangat cemas karena kau tak kunjung sadar, padahal sebentar lagi adalah waktunya ayahmu pulang” kata bibi Kim Bum, sementara Kim Bum hanya membalasnya dengan senyuman

“malam ini aku akan menginap disini” ujar So Eun

“benarkah? Aku senang sekali” balas Kim Bum dengan senyum senangnya

“aku juga. aku akan menginap disini” sahut Hyun Joong

“benarkah? Aku tidak terlalu senang. Hahaha..” tawa Kim Bum diikuti dengan yang lainnya

“gawat! Gawat! Gawat!” ucap paman Kim Bum yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar Kim Bum

“gawat apanya?” tanya bibi Kim Bum

“Jo Kyung hyung! Dia sudah pulang, aku sudah mendengar suara mobilnya di depan” ucap paman Kim Bum dengan paniknya

“mwo?! Aigoo.. bagaimana ini” bibi Kim Bum ikut panik mendegarnya

“Kim Bum! Kim Bum, kau satu-satunya. Jangan katakan pada ayahmu jika kau sempat pingsan. Jebal…kalau tidak pasti ayahmu itu akan memarahiku. Ayolah.. aku mohon” ucap paman Kim Bum

“jika aku tidak mau?” jahil Kim Bum

“omo.. sejak kapan kau jahil seperti ini, ayolah.. apa kau tidak kasihan pada kami. Kata-kata ayahmu saat marah itu pedas sekali. Aku tidak kuat mendengarnya” pinta bibi Kim Bum

“ne..ne baiklah” ucap Kim Bum

“na wasseo!” ucap ayah Kim Bum

“itu dia!” ucap paman Kim Bum. So Eun, Hyun Joong, paman dan bibi Kim Bum pun langsung berpura-pura untuk tidak terjadi apa-apa

“bum-ah, ayo kau duduk” kata So Eun sambil membantu Kim Bum untuk duduk

“aaaa..appoo” bisik Kim Bum saat So Eun menarik kakinya terlalu kencang

“mian..sstt” ucap Kim Bum yang tak kalah pelannya

“kalian sedang apa?” tanya ayah Kim Bum yang ternyata sudah berada di kamar Kim Bum

“a..aa..anieyo. eobseo” ucap paman Kim Bum yang tersenyum tidak jelas

“Kim Bum, kau sudah baikan?” tanya ayah Kim Bum yang masih berdiri di depan pintu

“ne, aku baik-baik saja” balas Kim Bum

“baguslah” ucap ayah Kim Bum lalu berjalan keluar dari kamar Kim Bum.

“ini hal terkonyol yang pernah kulakukan” gumam Hyun Joong. Dari dalam kamar Kim Bum, terdengar suara William yang berteriak memanggil ayah Kim Bum. Kim Bum, So Eun, Hyun Joong, paman dan bibi Kim Bum mendengarkan dengan sesama.

“samcheon!!” panggil William sambil menghampiri ayah Kim Bum

“ada apa?” tanya ayah Kim Bum

“Kim Bum hyung! Dia pingsan lagi!” ucap William dengan polosnya. Sementara Kim Bum, So Eun, Hyun Joong, paman dan bibi Kim Bum yang mendengarnya langsung menepuk jidat. Ayah Kim Bum yang terlihat terkejut sekaligus kesal langsung menarik tangan William untuk mengikutinya ke kamar Kim Bum.

“permainan apa lagi ini, hah?!” tanya ayah Kim Bum sambil memandang Kim Bum, So Eun, Hyun Joong, paman dan bibi Kim Bum secara bergantian.

¤¤¤

Suzy, Jessica, dan Eunjung sedang berada di sebuah cafe. Mereka baru saja selesai shopping. Malam ini cuaca lumayan dingin, maka dari itu mereka memutuskan untuk meminum cokelat hangat di sebuah caffe.

“kalian tahu, tadi aku bertemu dengannya” ucap Suzy dengan senangnya

“dengannya? Siapa?” tanya eunjung sambil menggenggam cangkir berisi cokelat hangat itu

“kakaknya So Eun. Kim Soo Hyun, di cafetaria” ucap Suzy dengan sebuah senyum yang mengembang diwajahnya

“cih..jangan katakan kau suka dengannya” cibir eunjung

“apa salahnya?” tanya Suzy polos

“huft.. kau tau, dia itu kakaknya So Eun, So Eun itu orang miskin, itu berarti kakaknya juga orang miskin. Apa kau mau berhubungan dengan orang-orang miskin itu, hah?! Bisa-bisa hartamu habis dikeruk mereka” jelas eunjung

“aku yakin, dia bukan orang seperti itu” bela Suzy

“jika kau berpacaran dengannya, lalu menikah dengannya. Maka kau akan menjadi kakak ipar Kim So Eun, kau mau,hah?” tanya eunjung

“tapi kurasa aku benar-benar menyukainya” kata Suzy sambil menopang dagunya. Sementara eunjung hanya memutar bola mata mendengarnya

“tapi mengapa dia itu sulit untuk diraih. Kurasa aku sudah cukup cantik untuk menjadi kekasihnya” ucap Suzy sambil memainkan rambutnya

“mwo? Jadi kau benar-benar ingin menjadi kekasihnya?” ucap eunjung tak percaya

“kukira hanya sekedar suka kagum”umpatnya

“apa aku harus mendekati So Eun dulu untuk mendapatkan Soo Hyun” gumam Suzy

“jika kau ingin berteman dengan So Eun, kau berteman saja sendiri. Sana, bergabunglah dengan So Eun dan temannya itu. Aku dan Jessica tidak ikut-ikutan. Iyakan Jessica?” kata eunjung sambil memalingkan pandangannya ke Jessica. Sementara Jessica hanya diam, ia terlihat sedang melamun

“Jessica” panggil eunjung sambil menyenggol lengan Jessica. Jessica pun tersadar

“eh…mian, tadi kalian bilang apa?” tanya Jessica sambil tersenyum

“kau sedang ada masalah?” tanya Suzy tanpa menjawab pertanyaan Jessica

“a..anieyo. Aku baik-baik saja” jawab Jessica yang masih dengan senyumnya. Eunjung dan Suzy saling pandang ketika melihat ekspresi Jessica yang terlihat beda dari biasanya

¤¤¤

“jangan dipercaya, dia berbohong hyung” ucap paman Kim Bum

“tidak, anak kecil tidak mungkin berbohong” kekeh ayah Kim Bum

“geurae. Ayah, aku tidak berbohong. Bukankah tadi Kim Bum hyung benar-benar pingsan, dan ayah pun tau hal itu” ucap William, Hyun Joong hanya menundukkan kepalanya mendengar ucapan sepupu Kim Bum itu

“samcheon, kalau kau tidak percaya, kau tanyakan saja pada So Eun nuna dan Hyun Joong hyung. Atau sekalian saja, pada Kim Bum hyung” kata William sambil menunjuk So Eun, Kim Bum dan Hyun Joong

“apa yang dikatakan Willy itu benar, So Eun?” tanya ayah Kim Bum pada So Eun. sementara So Eun kebingungan menjawabnya. Ia memandang paman dan bibi Kim Bum bergantian. Wajah mereka terlihat cemas

“tidak ayah, Willy hanya berbohong. Dia berkata tanpa berpikir” ucap Kim Bum yang mencoba membantu So Eun

“hyung! Aku tidak bohong, paman kau tanyakan saja pada orang berbaju putih yang tadi memeriksa Kim Bum hyung” ucap William. Kim Bum, So Eun, Hyun Joong, paman, dan bibi Kim Bum kewalahan mendengar semua ucapan William yang tidak bisa diajak kompromi itu. ayah Kim Bum menatap semuanya dengan intens. Tak ada yang berani mengeluarkan sepatah katapun. Sampai akhirnya paman Kim Bum memberanikan diri untuk mengaku.

“baiklah hyung, tadi Kim Bum memang sempat pingsan” aku paman Kim Bum yang membuat semuanya terkejut. Belum ayah Kim Bum menanggapi, Kim Bum sudah berbicara duluan.

“tapi ayah, aku baik-baik saja. Tadi kepalaku memang sempat sakit, tapi itu bukan karena paman dan bibi. Itu karena tiga orang aneh yang tadi datang bersama So Eun dan Hyun Joong. jangan marahi mereka, mereka menjagaku dengan baik” ucap Kim Bum yang berusaha membela paman dan bibinya

“tiga orang aneh?” tanya ayah Kim Bum

“tadi Kim Joon, Min Ho, dan Hye Sun datang kesini” sahut Hyun Joong

“kenapa Kim Bum menyebutnya dengan orang aneh?” tanya ayah Kim Bum lagi

“tadi, dokter Yoo mengatakan bahwa Kim Bum menderita amnesia” jawab paman Kim Bum. ayah Kim Bum dan juga Kim Bum sontak menoleh ke paman Kim Bum

“amnesia disosiatif. Akibatnya, Kim Bum tidak bisa mengingat beberapa memorinya. Dokter Yoo bilang, biasanya penderita akan tidak mengingat sekelompok orang. Misalnya kelompokan orang yang dibenci ataupun sekelompok orang penting dalam hidupnya. Tapi pada Kim Bum, ini sedikit langka. Memori yang hilang bersifat random, karena Kim Bum bisa mengingat sebagian temannya” jelas paman Kim Bum

“jadi..aku menderita amnesia?” tanya Kim Bum. Paman Kim Bum mengangguk

“lalu, mengapa aku mengingat kalian?” tanya Kim Bum

“hanya beberapa memori yang hilang dari otakmu” jawab bibi Kim Bum

“bagaimana caraku supaya bisa mengingat semuanya kembali? Bagaimana jika ada hal-hal penting yang aku lupakan?” tanya Kim Bum dengan sedikit khawatir

“tenang saja, aku akan membimbingmu” ucap So Eun sambil mengelus punggung Kim Bum. Kim Bum pun tersenyum kepada So Eun

“bagaimana jika ia lupa pada ibunya? Apakah aku harus senang atau sedih? Lalu bagaimana dengan adiknya?” batin ayah Kim Bum

“Jo Kwang, Elisha, ada yang ingin aku bicarakan pada kalian. Ikut aku” ucap ayah Kim Bum lalu melenggang pergi

“ne” jawab paman dan bibi Kim Bum lalu mengikuti langkah kaki ayah Kim Bum

“apa yang ingin mereka bicarakan?” tanya Kim Bum

“molla” jawab So Eun. kemudian Kim Bum menoleh ke So Eun

“Willy, mengapa kau masih disini? Sana pergi” usir Kim Bum

“aku tidak mau” kata William yang sekarang membaringkan tubuhnya di samping Kim Bum. Kim Bum pun hanya mengabaikannya

“aku sangat bersyukur pada Tuhan, karena Tuhan masih mengijinkan aku untuk bisa mengingatmu” kata Kim Bum sambil tersenyum pada So Eun

“nado. Aku akan berusaha sebaik mungkin supaya kau bisa mengingat semuanya kembali” ucap So Eun sambil menata Kim Bum dengan penuh ketulusan

“gomawo” ucap Kim Bum. Baru saja ia ingin memeluk So Eun, namun ada saja gangguannya

“hoammm… sudah malam, dimana aku bisa tidur?” tanya Hyun Joong

“malam? BukankAh Ini masih jam 6.30. Kau sudah mengantuk?” tanya So Eun

“dia itu sebenarnya tidak mengantuk, dia hanya ingin menggagalkan pelukan kita saja” cibir Kim Bum. Hyun Joong kemudian melemparkan bantal ke kepala Kim Bum

“apa karena amnesia maka sifatmu juga berubah. Sejak kapan kau menjadi jahil sekali, hah” ucap Hyun Joong diselingi tawa

“jadi, dimana aku bisa tidur?” tanya Hyun Joong

“aku tidak tau, mungkin kau bisa tidur di kamar sebelah” jawab Kim Bum

“disebelah itu kamarku hyung” kata William

“apa masih ada kamar kosong, atau aku tidur disini saja bersamamu?” tanya Hyun Joong

“aku tidak tau ada berapa kamar di rumAh Ini, tapi yang jelas kau tidak bisa tidur disini karena disini sudah ada aku dan So Eun

“MWO?!” ucap Hyun Joong, So Eun, dan William berbarengan

“hyung! So Eun nuna tidur dikamarku” protes So Eun

“yya! So Eun itu kekasihku, jadi malam ini dia dikamarku” sahut Kim Bum

“itu tidak bisa, dia bukan istrimu. Kalau sudah jadi istrimu baru boleh” kata Hyun Joong yang ikut bicara. Sementara So Eun hanya bingung melihatnya, beberapa detik kemudian ia tersenyum melihat tiga lelaki yang terlihat memperebutkannya

“kau mau ikut-ikutan, hah?! Dia juga bukan istrimu, jadi tidak boleh bersamamu” kata Kim Bum sambil merangkul So Eun

“yya! Kalian kira So Eun barang? Supaya adil, malam ini So Eun tidur bersamaku” kata bibi Kim Bum yang ternyata sudah di depan pintu

“kalau begitu, aku tidur bersama ibu” kata William sambil menghampiri ibunya

“tidak. Kau tidur bersama ayahmu di kamarmu” kata bibi Kim Bum

“Hyun Joong, kau bisa tidur bersama Kim Bum disini” kata bibi Kim Bum sambil tersenyum

“baik bi” turut Hyun Joong

¤¤¤

Dikamar bibi Kim Bum…

Terlihat So Eun yang baru saja keluar dari kamar mandi.

“bibi belum tidur?” tanya So Eun sambil menyikap selimut lalu berbaring di samping bibi Kim Bum

“bibi menunggumu” jawab bibi Kim Bum

“menungguku?” heran So Eun

“ada yang ingin bibi katakan padamu” kata bibi Kim Bum sambil menatap So Eun dengan intens

TBC

Eottae? Makin GaJe?? Mianhae.. u,u  Bagi yang udah baca,jangan lupa tinggalin jejak OK😉

 

How to Get the Password??

Annyeong chingu-yaa..
banyak yang nanya gimana cara dapetin pw nya. Caranya… kalian bisa lewat facebook di https://www.facebook.com/bumssoelf.icha atau yang nggak punya facebook bisa DM twitter https://twitter.com/kse9972

Sebenernya admin nggak pengen protec ff disini, tapi berhubung ini ff kiriman dan authornya minta di protec, jadi admin protec. Dan bagi yang udah dapet pw-nya, jangan lupa tinggalin jejak yaaa ^^ be a good readers, friends ^v^