Secret of Love Part 10

Secret Of Love

Part 10

Author                       : Kim Sang Eun

Main Cast                 : Kim Sang Bum dan Kim So Eun

Cast                            : Goo Hye Sun, Lee Min Ho, Kim Hyun Joong, Kim Joon, Jessica, Suzy, Eun Jung, Kim Soo Hyun, Park Ji Yeon, Yoo Seungho, Yoo Ah In, Kim Jo Kyung (fiction)

Genre                                    : Romance, Friendly, #yahh tentuin sendiri lah#

Type                           : Chaptered

PENTING!!! : karakter yang ada dalam ff ini, semuanya bukan milik author. Mereka milik keluarga, agensi, dan fans masing – masing. Disini author hanya meminjam saja. Bila ada kesamaan judul, jalan cerita, pemain, dsb, itu merupakan sebuah ketidak sengajaan. Tidak ada maksud untuk meniru (plagiat-kan) karya orang lain.

***

            “apa yang ia bicarakan” gumam Hye Sun sambil memegangi kepalanya atau lebih tepatnya rambutnya

            “Hye Sun-ah.. kau baik-baik saja?” tanya So Eun dengan cemas

            “tadi nenek sihir itu bilang apa?” tanya Hye Sun tanpa mengindahkan pertanyaan So Eun, wajahnya pun masih terlihat seperti orang ling-lung

            “ckckckck” gumamnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya

Part 10

“Hye Sun-ah, apa kau baik-baik saja?” tanya Suzy sambil menghampiri Hye Sun yang terlihat kebingungan. Eun Jung hanya diam ditempat. Ia juga ikut merasa bingung dengan keadaan ini. Sementara murid-murid yang berada di kantin masih sibuk berbisik-bisik.

“heh, temanmu tadi bicara apa?” tanya Hye Sun pada Suzy

“ckckck… aku tidak percaya” lanjutnya. Kemudian Eun Jung menghampiri Suzy, So Eun, dan Eun Jung

“kau tau dari mana kalau Jessica itu hanya anak angkat?” tanya Eun Jung dengan intonasi kasar yang sudah menjadi ciri khasnya. Hye Sun menggelengkan kepalanya

“aku tak tau sama sekali. Kan yang mengucapkan dia, bukan aku. Kau tanyakan saja padanya” jawab Hye Sun

“jadi tadi apa yang mau kau ungkapkan Hye Sun-ah?” tanya So Eun dengan wajah heran yang sangat imut

“aku mau mengungkap tentang dia dan kakakmu” kata Hye Sun dengan jari telunjuk yang mengarah pada Suzy

“aku?” tanya Suzy sambil menunjuk dirinya sendiri

“iya, kau! Tentang kau berpacaran dengan Soo Hyun oppa” ucap Hye Sun dengan entengnya. Eun Jung yang mendengarnya sangat terkejut. Entahlah, sepertinya hari ini kedua sahabatnya akan membuatnya pusing

“kau tau dari mana?” tanya Suzy dengan wajah yang santai. Sepertinya ia tidak keberatan jika seisi sekolah tau kalau ia berpacaran dengan kakaknya So Eun.

“aku tau dari So Eun” jawab Hye Sun sambil menunjuk So Eun yang sedari tadi hanya diam

“So Eun-ah, Soo Hyun oppa memberitahumu?” tanya Suzy

“aniya, aku membaca pesan di poselnya” jawab So Eun

“Suzy-ah.. jadi ini benar? Kau berpacaran dengan kakaknya So Eun?” tanya Eun Jung dengan mata membulat

“ne” jawab Suzy sambil tersenyum senang

“mungkin aku dan So Eun akan jadi saudara” kata Suzy sambil merangkul So Eun. sementara So Eun hanya diam

“hah?! Sebenarnya ada apa dengan kalian berdua. Heuh.. kalian membuatku pusing” akta Eun Jung sambil mengacak-acak rambutnya. Kemudian ia pergi meninggalkan Suzy, So Eun, dan Hye Sun. Sepertinya ia ingin mencari tempat untuk menjernihkan pikirannya

“So Eun-ah, ayo kita pergi” ajak Suzy yang masih merangkul bahu So Eun

“eh?” So Eun terbengong melihat Suzy

“yya! So Eun temanku. Sembarangan saja kau mengambilnya” protes Hye Sun sambil menarik lengan So Eun

“kau ini, biarkan kami pergi. Aku dan So Eun ingin mengakrabkan diri dulu. Iya kan’ So Eun?” ucap Suzy sambil menatap So Eun dengan manisnya. Belum sempat So Eun menjawab, Hye Sun sudah menyambarnya

“enak saja. Kau itukan punya teman yang lain, sedangkan aku hanya punya So Eun. Kalau So Eun pergi, aku dengan siapa? Enak saja kau ini” kata Hye Sun sambil terus menarik tangan So Eun. Dari kejauhan nampak Kim Bum dan Min Ho yang sedang berjalan di arena kantin. Tak sengaja Kim Bum melihat So Eun yang sedang ditarik-tarik (?). Ia pun berniat menghampirinya

“kau kan ada kekasih, pergilah bersama kekasihmu. Kekasihku kan sedang tidak ada disini. Sudah sana” usir Suzy sambil melepaskan tarikan tangan Hye Sun terhadap tangan So Eun. Sudah Suzy coba berkali-kali tetapi Hye Sun tak mau melepaskannya juga. Tiba-tiba ada sebuah tangan kekar yang memisahkan mereka.

“kalian ini apa-apaan, hah?” ucap pria itu sambil melepaskan So Eun dari rangkulan Suzy dan tarikan Hye Sun

“So Eun-ah, gwaenchanayo?” tanya orang itu yang tak lain adalah Kim Bum. So Eun menganggukan kepalanya

“kalian pikir So Eun boneka yang bisa direbutkan sana sini” omel Kim Bum kepada Suzy dan Hye Sun

“dia yang mulai, dia membawa So Eun seenaknya. Bagaimana jika ia berbuat jahat kepada So Eun? selama ini dia kan selalu jahat terhadap So Eun” ucap Hye Sun. Kim Bum menatap Suzy seolah meminta penjelasan darinya. Suzy pun mengerti.

“aku hanya ingin mengakrabkan diri kepada So Eun. Karena dia ini akan menjadi saudara iparku” jawab Suzy

“oh seperti itu” ucap Kim Bum sambil mengangguk-angguk

“kau tidak terkejut?” tanya Suzy yang heran melihat Kim Bum hanya mengangguk-angguk. Orang lain yang mengetahuinya pasti terkejut, tapi mengapa Kim Bum tidak? Jawabannya adalah..

“karena aku sudah tau sejak pagi tadi” jawab Kim Bum

“okey.. supaya adil, begini saja.. hmm.. Min Ho!” panggil Kim Bum kepada Min Ho yang sedang membeli softdrink. Kemudian ia pun menggerakan tangannya mengisyaratkan Min Ho untuk menghampirinya. Tak butuh waktu lama, Min Ho pun sudah ada di hadapannya

“kekasihmu ini tak ada temannya, kau bawa pergilah sana” ucap Kim Bum kepada Min Ho

“bukan hal berat. Sayang, kau kesepian? Apa karena tak ada aku maka kau menjadi kesepian?” tanya Min Ho sambil merangkul Hye Sun dan membawanya pergi

“menjijikan” komentar Hye Sun sambil terus melangkah

“kau ini tak bisa dirayu sama sekali” cibir Min Ho

“naah…sekarang So Eun-ah, ayo ikut aku” kata Kim Bum sambil merangkul So Eun lalu membawanya pergi

“lalu aku dengan siapa?!” tanya Suzy setengah berteriak

“terserah kau saja..bye~~” ucap Kim Bum sambil melambaikan tangannya tanpa menoleh ke orang yang dituju

****

Sepulang sekolah So Eun menyempatkan waktu untuk datang ke rumah Kim Bum. Sebenarnya Kim Bum yang meminta So Eun untuk menemaninya sampai malam nanti. Kebetulan besok adalah hari sabtu, jadi mereka libur. Dan kebetulan, malam ini So Eun sedang libur bekerja di caffe. Jadi So Eun tak masalah jika harus pulang malam. Toh, ia sudah menghubungi kakaknya saat diperjalanan menuju rumah Kim Bum tadi.

“lekaslah mandi, aku akan siapkan minum untukmu” kata So Eun sambil melepaskan sepatunya

“ne” jawab Kim Bum sambil berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Setelah mengganti sepatu dengan sadal karet yang tersedia, So Eun segera bergegas menuju dapur untuk menyiapkan minum untuknya dan untuk Kim Bum. Setelahnya, ia pun membereskan ruang tv dan ruang makan yang berantakan, Mungkin Jo Kyung ahjussi tidak sempat membereskannya tadi pagi, pikir So Eun. Maklumlah, dirumah Kim Bum yang bisa dibilang besar ini tak ada pelayan satu orangpun. Sejak Kim Bum kembali dari German Ayah Kim Bum sengaja memberhentikan semua pelayan dan pengurus di rumah ini dan tidak menyewa pelayan lagi, ia ingin dirumah ini hanya ada ia, Kim Bum, istri Kim Bum kelak, dan beberapa cucunya. Bahkan ia tak berniat menikah lagi. Selama Kim Bum belum menikah, ia ingin mengisi rumah ini dengan kehangatan bersama Kim Bum. Hitung-hitung ini untuk membayar kebersamaan yang hilang antara dirinya dengan Kim Bum beberapa tahun terakhir. So Eun sempat terharu saat ayah Kim Bum menjelaskan alasan mengapa ia tak menyewa pelayan ataupun pengurus di rumah ini. Tak disangkanya, bahwa ayah Kim Bum sangat menyayangi Kim Bum. Ia begitu terharu saat merasakan kasih sayang antara Kim Bum dan ayahnya. Saat sedang membereskan buku-buku di depan televisi, tak sengaja ada secarik foto yang terjatuh dari buku bacaan ayah Kim Bum.

“siapa ini?” tanya So Eun sambil mengambil foto itu

“wajahnya mirip seperti Kim Bum. Ah.. tapi apakah ini Kim Bum?” tanya So Eun pada dirinya sendiri

“kau sedang apa?” tanya Kim Bum sambil berjalan menuruni tangga

“ini. Apa ini fotomu saat bayi?” tanya So Eun sambil menunjukkan foto itu kepada Kim Bum. Kim Bum menghampirinya dan mengambil foto itu dari tangan So Eun

“hmm.. tunggu sebentar, aku akan berusaha mengingatnya. Hmm…. aku punya foto seperti ini atau tidak yaaa??” gumam Kim Bum dengan mata yang terpejam, berusaha untuk mengingat ‘apakah ia mempunyai foto masa kecil seperti itu atau tidak’. Sepertinya memori itu ikut hilang juga. So Eun yang takut akan terjadi hal buruk pada Kim Bum apabila Kim Bum terus berusaha mengingat pun segera menghentikannya.

“aish.. sudah..sudah.. tak perlu sekeras itu memikirkannya. Mungkin saja ini kau” kata So Eun sambil merebut foto itu

“tapi lihatlah, dagunya lebih pendek daripada dagu ku” ucap Kim Bum sambil menunjuk foto itu

“yaa.. itukan masih bayi. Mungkin saja dulu dagu mu itu pendek. Lalu setelah mengalami masa pertumbuhan dagumu bertambah panjang” jawab So Eun dengan asal

“anak itu terlihat tidak tampan. Wajahnya biasa saja” kata Kim Bum dengan PD-nya

“kau pikir kau tampan, hah?!” kata So Eun sambil mengetukkan foto itu ke dahi Kim Bum. lalu iapun melanjutkan kegiatan berberesnya

“yya! Kalau aku tidak tampan mana mungkin Kim So Eun mau berpacaran denganku” kata Kim Bum sambil memeluk So Eun dari belakang

“kau pikir aku melihat seseorang hanya dari luarnya hah?” kata So Eun sambil menyelipkan foto itu di buku berwarna biru

“yaa.. selain tampan kan aku baik, pintar, kaya, berbakat.. banyak sekali kelebihan yang kau punya” ucap Kim Bum dengan narsisnya

“cih,,sombong” cibir So Eun

“itu memang benar, sayangku” kata Kim Bum sambil menarik So Eun ke pangkuannya

“ya..ya..ya… kau tampan, sehingga kau memanfaatkan ketampananmu untuk menjadi seorang playboy. Kau baik hanya kepada wanita-wanita cantik dan sexy saja. Kau pintar mengelabuhi wanita. Kau kaya dan selalu menunjukkan kekayaanmu supaya semua wanita cantik dan sexy datang kepadamu dan menggodamu. Dan kau berbakat untuk menyakiti hati wanita” sahut So Eun. Kim Bum merebahkan tubuh So Eun di atas So Eun dengan kepala yang menyandar ke handel sofa

“kenapa semuanya buruk? Ckckck… Itu masa lalu” kata Kim Bum sambil mendekatkan wajahnya kepada So Eun

“masa lalu tentang wanita kau selalu ingat. Kenapa kau tak ingat sahabat-sahabatmu,hah?” kata So Eun. sementara Kim Bum terkekeh mendengarnya. Tangannya mulai mengelus pipi mulus So Eun

“aku tampan. Aku berusaha untuk menjadi setampan mungkin supaya bisa bersanding dengan wanita secantik Kim So Eun. Aku baik, dan semua kebaikanku bersumber kepada seorang wanita bernama Kim So Eun. Aku pintar, kalau aku bodoh mana mungkin Kim So Eun mau menjadi kekasihku. Aku kaya karena aku ingin melihat Kim So Eun serta anak-anakku bahagia. Harta memang tidak akan dibawa mati, namun aku sangat membutuhkan uang dalam hidupku. Karena aku tidak sanggup melihat Kim So Eun istriku serta anak-anakku kelaparan dihari esok. Aku berbakat, namun bakatku kalah terang dibandingkan bakat seorang Kim So Eun yang bisa menaklukan harimau buas dan mengubahnya menjadi anak kucing yang selalu menurut kepada majikannya” ucap Kim Bum sambil terus menjalankan jari-jarinya di wajah So Eun

“kau menyebut dirimu harimau dan anak kucing?” tanya So Eun yang sedari tadi menatap dalam kedua mata Kim Bum. Kim Bum tersenyum. Kemudian iapun menarik So Eun untuk bangun dan kembali duduk di pangkuannya

“aku sangat mencintaimu” kata Kim Bum sambil merangkul pinggang So Eun

“nado” ucap So Eun setengah berbisik. Kemudian Kim Bum mendekatkan wajahnya ke wajah So Eun..semakin dekat..dan…

“ah, aku harus membereskan ini semua” kata So Eun sambil berdiri

“kenapa kau menghancurkan moment indah ini?” tanya Kim Bum yang sepertinya sedikit kesal

“jangan banyak protes. Lebih baik kau bantu aku untuk membereskan ini semua” kata So Eun. Dengan wajah kusut, Kim Bum pun menuruti ucapan So Eun.

***

Jessica masih berdiam diri di atap sekolah. Ia masih memikirkan kejadian tadi. Tega sekali Jiyeon menceritakan hal ini kepada Hye Sun dan So Eun, pikirnya. Kepalanya sangat pusing saat ini. Ia tak tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia yakin, seluruh murid pasti sudah mengetahui hal ini. Untuk kesekian kalinya, ia menghapus air mata yang mengalir di pipi nya.

“kau belum pulang?” tanya seseorang di belakang Jessica. Ia pun membalikan badannya

“kau? Untuk apa kau disini?” tanya Jessica dengan juteknya

“ini tempatku. Kau yang sedang apa?” tanya orang itu yang ternyata adalah Hyun Joong

“kalau kau mau meledekku. Silahkan, langsung saja. Aku akan mendengarkan semua ejekanmu” kata Jessica sambil menundukan kepalanya

“meledek apa? Siapa yang mau meledekmu, hah? Untuk apa juga, seperti tak ada pekerjaan lain” kata Hyun Joong sambil duduk berselonjor

“kau? Apa kau tidak mengetahuinya?” tanya Jessica. Ia heran mengapa Hyun Joong tak tau berita itu. Padahal ia yakin kalau berita itu sudah tersebar seantero sekolah

“mengetahui apa?” tanya Hyun Joong dengan santainya. Jessica memandang Hyun Joong sejenak

“lupakanlah” kata Jessica lalu meninggalkan Hyun Joong sendiri di atap sekolah

“mana mungkin aku tak tau berita itu. Aku hanya tak ingin menyakiti orang lain saja” gumam Hyun Joong setelah Jessica menjauh. Kemudian iapun memejamkan matanya.

***

“ah lelah sekali” ucap So Eun sambil mendudukan dirinya di sofa

“aku kan sudah bilang, kau tak usah bersih-bersih dirumahku. Kau itu bukan pengurus di rumahku. Lihat, sekarang kau kelelahan” kata Kim Bum sambil membukakan sebuah minuman kaleng untuk So Eun lalu ikut duduk di sampingnya.

“bagaimana bisa aku diam melihat rumah ini berantakan seperti ini. Apa kau tak pernah membantu ayahmu membereskan rumah? Kau ini tega sekali membiarkan ayahmu membereskan rumah sebesar ini seorang diri” ucap So Eun sambil menerima minuman kaleng dari Kim Bum.

“aku sudah menyuruh ayah untuk menyewa pengurus, tapi ayah tetap saja tidak mau. Orang tua itu sangat keras kepala. Benar-benar tak mau mengeluarkan uang untuk menyewa seorang pengurus” ucap Kim Bum. So Eun sontak menepuk paha Kim Bum dengan kerasnya membuat Kim Bum mengaduh kesakitan.

“seenaknya kau bicara seperti itu. Apa kau tidak tau alasan mengapa Jo Kyung ahjussi tidak menyewa pelayan ataupun pengurus dirumah ini,hah?” tanya So Eun yang merasa tidak suka dengan ucapan Kim Bum barusan.

“tentu saja karena ayah tidak ingin membuang-buang uang untuk menyewa pengurus lagi. Mungkin ia merasa bangkrut dengan keberadaan pengurus dan pelayan sebelumnya” jawab Kim Bum dengan asal. So Eun menggebuk kepala Kim Bum dengan bantal kecil yang ada di pangkuannya

“bicara seenaknya saja!” ucap So Eun. Kemudian ia menggenggam kedua tangan Kim Bum. Membuat Kim Bum memperhatikannya.

“Jo Kyung ahjussi melakukannya karena ia sangat menyayangimu. Beberapa hari lalu aku sempat bertanya kepadanya soal ini, lalu ia menjawab bahwa ia sengaja memberhentikan semua pelayan dan pengurus di rumah ini dan tidak menyewa pelayan lagi, ia ingin dirumah ini hanya ada ia, kau, istrimu kelak, dan beberapa cucunya. Bahkan ia tak berniat menikah lagi. Selama kau belum menikah, ia ingin mengisi rumah ini dengan kehangatan bersamamu. Hitung-hitung ini untuk membayar kebersamaan yang hilang antara dirinya dengan kau beberapa tahun terakhir” ucap So Eun sambil tersenyum dan menatap dalam kedua bola mata Kim Bum. Namun beberapa saat kemudian ia melepaskan genggaman tangannya dengan kasar. Lalu kembali memukul kepala Kim Bum dengan bantal tadi.

“makanya kalau bicara jangan asal saja” ucap So Eun.

“ah, iya iya aku mengerti. Tapi tak perlu memukul kepalaku juga kan’?” protes Kim Bum. Bukannya berhenti, So Eun malah semakin menjadi.

“biar saja, biar ingatanmu kembali lagi” kata So Eun sambil memukul kepala Kim Bum.

“kau benar-benar minta dihukum!” ucap Kim Bum sambil memeluk pinggang lalu menggelitiknya.

“hahaha.. yya! Kim Bum hentikan! Hahaha” tawa So Eun saat Kim Bum menggelitik pinggangnya.

“haha.. rasakan balasanku. Ayo So Eun sayang.. memohonlah” ledek Kim Bum tanpa menghentikan kegiatannya. Sementara So Eun sudah terbaring di sofa bergerak kesana kesini layaknya cacing kepanasan.

“hahaha… iyaa ampun.. hentikan Bum-ah hahaha” tawa So Eun yang mencoba menahan tangan Kim Bum. Saat sedang asyik bercanda, tiba-tiba terdengar bunyi pintu yang terbuka. Kim Bum pun menghentikan aktivitasnya.

“apakah itu Jo Kyung ahjussi?” tanya So Eun sambil mendudukan dirinya.

“mungkin saja. Ini sudah jam 06.00 p.m sudah waktunya ayah pulang” sahut Kim Bum sambil berdiri.

“Kim Bum. Na wasseo” seru ayah Kim Bum dari ruang tamu. Ah, ternyata benar, yang datang adalah ayah Kim Bum.

“ayah sudah pulang” ucap Kim Bum sambil berjalan menghampiri ayahnya diikuti dengan So Eun.

“oh ada So Eun juga disini. Yya, Kim Bum, ayah punya hadiah untukmu” ucap ayah Kim Bum sambil memakai sandal lalu berjalan menuju kamarnya.

“hadiah apa?” tanya Kim Bum kepada ayahnya yang sedang berjalan di tangga.

“tunggu sesaat lagi” jawab ayah Kim Bum sambil tersenyum.

“apakah hari ini hari penting untukku? Ini bukan hari ulang tahunku kan’?” tanya Kim Bum kepada So Eun. So Eun mengangkat bahunya.

“setahuku ini bukan hari penting. Ulang tahunmu itu kan bulan Juli, sekarang bulan Desember” sahut So Eun.

***

Soo Hyun memandangi ponselnya. Ia sedang penunggu panggilan dari So Eun. Apakah So Eun belum pulang, pikirnya. Kalau So Eun sudah pulang dan tidak menemukan Soo Hyun dirumah pasti adiknya itu langsung menelponnya. Tapi sampai saat ini tak ada panggilan masuk dari So Eun.

“oppa, kenapa kau terus memandangi ponselmu?” tanya seorang gadis sambil memasukkan potongan steak ke dalam mulutnya.

“So Eun belum menghubungiku” kata Soo Hyun sambil memasukkan ponselnya kedalam saku jasnya.

“biasanya kalau ia pulang terlambat dan tidak menemukan aku didalam rumah, dia pasti langsung menelponku” lanjut Soo Hyun.

“memangnya So Eun belum pulang?” tanya gadis itu yang ternyata adalah Suzy.

“sepertinya belum. Tadi ia minta izin padaku untuk pergi ke rumah Kim Bum. Entahlah, sepertinya ia betah sekali sampai-sampai ia tak menghubungiku, bahkan untuk sekedar mengingatkan untuk makan malam” ucap Soo Hyun dengan wajah cemberut.

“oppa, kau merasa iri pada Kim Bum? Ckckck.. kau menunjukkan kecemburuanmu atas wanita lain didepan kekasihmu sendiri? Sungguh tak berperasaan” timpal Suzy dengna wajah yang pura-pura marah.

“bukan begitu maksudku. Ngomong-ngomong, apa kau kenal Kim Bum dengan baik?” tanya Soo Hyun.

“kau lucu sekali, kami satu sekolah mana mungkin aku tak mengenalnya” jawab Suzy sambil terkekeh.

“memangnya ia orang seperti apa?” tanya Soo Hyun dengan wajah penasarannya.

“hmm.. dia tampan, tinggi, menawan, pintar, berbakat, senyumannya manis sekali, dia ramah, dia jago segala jenis olahraga, ah.. pokoknya ia lelaki sempura. Beruntung sekali So Eun bisa mendapatkan lelaki seperti Kim Bum” kata Suzy dengan senyum senangnya. Sepertinya ia belum menyadari wajah Soo Hyun yang mulai kusut.

“oppa, kau kenapa?” tanya Suzy dengan polosnya. Soo Hyun tak menjawab pertanyaan Suzy. Suzy berfikir sejenak. Lalu ia pun menyadari sesuatu.

“ah oppa.. ah.. tapi oppa, walaupun begitu, dia playboy. Hobinya itu ke bar setiap malam, naah.. kalau di bar, ia suka menggoda wanita-wanita jalang. Ia suka sekali mempermainkan wanita, mungkin baginya wanita itu boneka. Disekolah saja ia selalu menggoda murid-murid perempuan, apalagi yang penampilannya sexy, ckck.. pasti akan langsung ia kejar” ucap Suzy dengan wajah yang dibuat sesinis mungkin. Seketika raut wajah Soo Hyun berubah.

“benarkah seperti itu? Bagaimana ia bisa masuk bar sedangkan ia masih siswa SMA?” tanya Soo Hyun dengan antusias, seolah lupa bahwa beberapa detik lalu ia kesal kepada Suzy.

“kebanyakan bar yang ia datangi itu milik temannya, Kim Joon yang juga anggota F4. Jadi ia bebas keluar masuk bar sesuka hatinya” jawab Suzy lalu menyeruput jus alpukatnya

“benar-benar lelaki kurang ajar. So Eun tidak boleh dekat-dekat dengannya. Mereka harus mengakhiri hubungan mereka sekarang juga” marah Soo Hyun membuat Suzy yang sedang minum menjadi tersedak.

“uhuk..uhuk.. eh, oppa jangan!” ucap Suzy.

“jangan bagaimana? Sebelum adikku merasa sakit hati yang mendalam. Ah anak itu, selama ini ia bercerita bahwa Kim Bum adalah lelaki yang baik padanya, perhatian, dan pastinya sangat menyayanginya. Tapi ternyata, itu semua bertolak belakang dengan kenyataannya” ucap Soo Hyun dengan kesalnya.

“ah oppa, aku belum selesai bercerita. Itu semua sifat Kim Bum sebelum bertemu Kim So Eun” ucap Suzy yang memulai ceritanya kembali.

“maksudmu?” tanya Soo Hyun tak mengerti.

“iya, setelah bertemu So Eun, Kim Bum berubah menjadi ‘jinak’. So Eun sungguh hebat menaklukan playboy ulung macam Kim Bum. Semenjak mengenal So Eun dan mereka berpacaran, kudengar Kim Bum tak pernah ke bar lagi. Dan ia juga tak pernah menggoda murid-murid perempuan di sekolah kami lagi. Dan hmm.. oppa.. kau taukan sebelumnya hubungan aku, teman-temanku, dengan So Eun dan Hye Sun tak terlalu baik. Itu sebenarnya karena kami iri kepada So Eun dan Hye Sun. Kami berpikir, mereka murid baru, tidak kaya, tidak populer, dan hanya mengandalakan beasiswa. Tapi mengapa dia bisa dekat dengan FB4? Lalu mengapa kami yang sudah lama disitu tak bisa dekat dengan FB4? Itu salah satu penyebab kami selalu bertengkar. Tapi itu masa lalu oppa, sekarang hubunganku dengan So Eun dan Hye Sun sudah baik” kata Suzy sambil merangkul lengan Soo Hyun dan bersandar di dada bidang Soo Hyun.

“benarkah seperti itu?” tanya Soo Hyun yang masih meragukan Kim Bum.

“ne. Bahkan tadi saja dia melerai perdebatanku dengan Hye Sun untuk melindungi So Eun” ucap Suzy yang masih bersandar di dada Soo Hyun.

“apa maksudmu?” tanya Soo Hyun yang tak mengerti ucapan Suzy.

“begini oppa, tadi di kantin sempat terjadi keganduhan” ucap Suzy. Kemudian iapun menceritakan tentang pengakuan Jessica yang mengejutkan itu. Soo Hyun terkejut mendengarnya. Tak disangkanya jika ternyata Jessica hanyalah anak angkat.

“setelah itu, dia pergi meninggalkan kantin. Lalu Eun Jung juga pergi. Aku juga berniat pergi dari kantin, saat aku ingin pergi membawa So Eun, Hye Sun menghalangiku. Ia menarik tangan So Eun, dan terjadilah aksi rebutan antara aku dan Hye Sun. Padahal maksudku aku ingin lebih mendekatkan diri dengan So Eun, tapi Hye Sun malah menghalangi niatanku. Tiba-tiba Kim Bum datang dan langsung melepaskan So Eun dari kami. Terlihat wajah So Eun yang kesakitan. Kemudian ia membawa So Eun pergi. Hmm.. oppa, aku minta maaf membuat So Eun menjadi sulit” cerita Suzy.

“hm.. kau yakin Kim Bum sudah berubah?” tanya Soo Hyun yang rupanya masih ragu dengan sifat Kim Bum.

“ckckck.. oppa.. harus berapa kali aku menjelaskannya. Kim Bum itu sekarang sudah benar-benar baik. Apalagi saat ini, sejak ia amnesia sikapnya sedikit berubah. Ia sangat protective terhadap So Eun. Ada lelaki yang mendekati So Eun sedikit, pasti langsung mendapatkan tatapan tajam darinya. Jika ia mengetahui ada murid perempuan yang membully So Eun, pasti ia langsung meminta kepada kepala yayasan untuk mengeluarkan murid itu atas tuduhan bullying. Pernah suatu ketika, aku menghampiri So Eun yang sedang sendiri. Aku berniat ingin berbincang dengan So Eun. tiba-tiba dia muncul dan langsung menjauhkan So Eun dariku. Ia bilang, ia khawatir jika So Eun dekat-dekat denganku, ia takut aku akan berbuat hal buruk pada So Eun. Sudah yaa oppa, jangan bertanya lagi” jelas Suzy panjang lebar.

“hm.. baiklah. Aku tak kan bertanya lagi. Aku minta tolong padamu, tolong awasi Kim Bum selama di sekolah” pesan Soo Hyun.

“siap boss!” seru Suzy sambil hormat kepada Soo Hyun.

“Suzy-ah.. sekarangkan kau sudah tau bahwa Jessica seperti itu, apakah kau akan menjadi temannya?” tanya Soo Hyun sambil menatap Suzy dengan intens.

“molla oppa” jawab Suzy sambil menundukkan kepalanya.

“kenapa? Apa karena dia anak angkat dan orang tua kandungnya miskin maka kau tak mau berteman dengannya? Kenapa kau seperti itu? Kalau kau seperti itu, lalu mengapa kau berpacaran denganku? Aku tak ada bedanya dengan dia. Kami sama-sama berasal dari keluarga menengah kebawah. Mengapa kau menjadi begini? Bukankah aku sudah memberitahukanmu bahwa jangan hanya melihat orang lain dari latar belakang dan kasta belaka?” rentetan pertanyaan Soo Hyun berikan untuk Suzy.

“bukan oppa. Bukan begitu. Oppa kan sudah pernah bilang padaku bahwa aku tidak boleh melihat orang dari kekayaannya saja. Sejak oppa berkata seperti itu, aku tak pernah melakukannya lagi. Dia anak angkat, itu tak masalah bagiku. Yang membuatku kecewa adalah dia lebih memilih harta daripada orang tua kandungnya. Oppa, apakah kau berpikir bagaimana sakitnya kedua orang tua kandung Jessica? Mereka pasti sangat kecewa kepada Jessica karena Jessica lebih memilih meninggalkan mereka demi limpahan harta. Apalagi ibunya, dia pasti sangat sakit hati terhadap Jessica. Bagaimana bisa seorang anak yang dikandungnya selama 9 bulan bisa berbuat seperti itu kepadanya. Bagaimana bisa ia mempertaruhkan nyawanya untuk sebuah kehidupan bagi anak yang meninggalkannya saat ini. Betapa sakitnya hati kedua orang tua Jessica, oppa. Aku sungguh tak menyangka bahwa Jessica sangat dibutakan oleh harta” ucap Suzy dengan wajah prihatinnya. Soo Hyun menatap Suzy tak percaya, ia tak menyangka bahwa wanita manja ini bisa bicara begitu bijaknya.

“Suzy-ah, apakah yang barusan bicara itu kau?” tanya Soo Hyun dengan terpukaunya.

“ne, memangnya siapa lagi?” tanya Suzy dengan wajah polosnya. Kemudian Soo Hyun pun memeluk Suzy dan mengelus rambutnya.

“ne, benar. Dia keterlaluan karena memperlakukan orang tua kandungnya seperti itu. Tapi disaat seperti ini, disaat semua orang memandang benci kepadanya, ia membutuhkan tempat sandaran. Datanglah padanya, berikan pundakmu untuknya menangis. Dan segeralah sadarkan dia” pesan Soo Hyun. Suzy menatap Soo Hyun sejenak. Lalu ia pun menganggukan kepalanya tanda setuju.

***

wild card?” tanya Kim Bum sambil memandang aneh keping kartu di tangannya.

“ne” jawab ayah Kim Bum sambil tersenyum. Kim Bum dan So Eun memandang ayah Kim Bum dan keping kartu itu secara bergantian.

“ini apa?” tanya Kim Bum.

“itu wild card apartmen mu. Kau pasti sangat jenuhkan tinggal di rumah ini, maka dari itu, mulai saat ini ayah mengizinkanmu untuk tinggal di apartmen mu” ucap ayah Kim Bum.

“mulai lusa kau boleh pindah ke apartmen mu. Bagaimana? Kau senang bukan? Ah, baiklah, ayah ingin beristirahat dulu. Nanti kau antarkan So Eun pulang ya” kata ayah Kim Bum lalu bergegas menuju kamarnya.

“kenapa kau diam saja? Kau tidak senang akan tinggal di apartmen mu kembali?” tanya So Eun yang melihat Kim Bum hanya diam saja. Kim Bum belum merespon ucapan So Eun, ia masih berkutat pada pikirannya.

‘Ia sengaja memberhentikan semua pelayan dan pengurus di rumah ini dan tidak menyewa pelayan lagi, ia ingin dirumah ini hanya ada ia, kau, istrimu kelak, dan beberapa cucunya. Bahkan ia tak berniat menikah lagi. Selama kau belum menikah, ia ingin mengisi rumah ini dengan kehangatan bersamamu. Hitung-hitung ini untuk membayar kebersamaan yang hilang antara dirinya dengan kau beberapa tahun terakhir’

“kalau aku pergi, maka ayah akan kesepian” lirih Kim Bum dengan pandangan kosong. Awalnya So Eun sedikit bingung dengan maksud ucapan Kim Bum. namun beberapa detik kemudian nampaknya ia mengerti. Ia pun mengelus punggung Kim Bum, bermaksud untuk membuat Kim Bum tenang.

“bukankah ia bilang ia ingin  mengisi rumah ini dengan kehangatan bersamaku. Tapi mengapa ia malah menyuruhku pergi? Dasar lelaki tua yang bodoh, mengapa dia membiarkan dirinya merasa dingin dan kesepian demi kesenangan anak tak tau diri sepertiku” ucap Kim Bum sambil mengusap setetes air mata yang menetesnya dari mata indahnya. So Eun merasa tersentuh dengan ucapan Kim Bum, ia tak menyangka bisa melihat Kim Bum menangis lagi. Rasanya sudah lama ia tak melihat Kim Bum menangis. Ia pun memeluk bahu Kim Bum.

“dia sangat menyayangimu. Balaslah kasih sayangnya” bisik So Eun.

***

“ah ya..ya.. akan aku usahakan untuk mengajak mereka juga. Tapi itu kalau mereka mau yaa.. aku tak menjamin mereka mau ikut”

“………………..”

“iya.. kau ini cerewet sekali”

“………………..”

“baiklah, sampai bertemu besok malam”

“siapa?” tanya So Eun yang sedang bersandar di lengan Kim Bum yang dibentangkan di belakangnya.

“ji yeon, dia ingin mengajak aku dan kau untuk hadir di apartmen kekasihnya besok malam. Mereka sedang merayakan month anniversary mereka” jawab Hye Sun sambil memasukkan ponsel ke dalam saku kemejanya.

“hanya kau dan So Eun? lalu kami tidak?” tanya Kim Joon yang sedang bertengger diatas meja.

“itu terserah kalian, silahkan kalau kalian mau ikut. Dia pasti akan senang” kata Hye Sun.

“apartmennya dimana?” tanya Min Ho yang duduk di samping Hye Sun.

“di daerah apgujeong” jawab Hye Sun.

“apa itu dekat dengan apartmen Kim Bum?” tanya So Eun

“memangnya apartmen ku di daerah apgujeong?” tanya Kim Bum. So Eun menggetokkan gulungan kertas yang ia pegang ke kepala Kim Bum.

“bagaimana kau bisa lupa dengan alamat apartmenmu Kim Sang Bum” ucap So Eun

“ingatan itu hilang” jawab Kim Bum sambil mengambil gulungan kertas itu dari tangan So Eun. Bermaksud supaya So Eun tidak memukul kepalanya lagi.

“entah, aku tak tau persisnya” jawab Hye Sun.

***

“ayah, aku tak ingin tinggal di apartmen. Aku ingin disini saja” kata Kim Bum sambil tiduran di sofabad yang terdapat di ruang tv.

“mengapa? Bukankah kau suka tinggal di apartmen?” tanya ayah Kim Bum sambil duduk di dekat Kim Bum. Kim Bum membangunkan tubuhnya.

“disini tak ada pengurus. Paman, bibi, dan Willy sudah kembali ke Jerman. Jika aku pergi, lalu ayah dengan siapa disini?” ucap Kim Bum.

“kau tenang saja, ayah sudah biasa seperti itu. Itu bukan masalah besar” kata ayah Kim Bum sambil menepuk bahu Kim Bum.

“tapi ayah…” belum selesai Kim Bum bicara. Ayah Kim Bum langsung memotongnya.

“kau hanya perlu tinggal beberapa waktu disana. Mungkin saja kau mempunyai beberapa memori indah disana, dan kau akan mulai mengingat kembali. Ayah ingin kau bisa mengingat lagi, menurutlah Kim Bum” kata ayah Kim Bum. sementara Kim Bum masih menundukkan kepalanya.

***

Kim Bum dan So Eun sedang berjalan di lorong kamar menuju kamar apartmen Kim Bum.

“aku tidak ingat aku mempunyai apartmen disini. Tapi aku ingat telah membuatmu menangis disitu” kata Kim Bum sambil menunjuk sebuah pintu kamar apartmen.

“ne, kau pernah membuatku menangis di depan kamar apartmenmu” sahut So Eun sambil menghentikan langkahnya di depan kamar itu.

“ini kamar apartmenku?” tanya Kim Bum. So Eun mengangguk. Lalu Kim Bum pun mengarahkan wild card nya ke sensor yang tersedia. Tak menunggu lama, kunci pun terbuka.

“tidak banyak berubah” ucap So Eun sambil menutup pintu kembali.

“sepertinya aku mengingat sesuatu” ucap Kim Bum sambil memejamkan mata dan memegangi kepalanya.

“jangan dipaksakan jika itu sulit” ucap So Eun sambil menarik tangan Kim Bum untuk masuk.

“aku rasa ini suatu hal yang penting. Aku harus mengingatnya” kekeh Kim Bum.

“jangan dipaksakan atau nanti akan terjadi hal buruk kepadamu. Sudahlah..” ucap So Eun. Kim Bum pun menurutinya. Ia tidak ingin ia pingsan lalu merepotkan So Eun.

***

“apa katanya?” tanya Kim Bum setelah So Eun menutup sambungan telephone-nya.

“dia bilang dia tinggal di apartmen ini juga. Hanya berbeda lantai aja. Kajja, ikut aku” kata So Eun sambil berjalan keluar kamar apartmen Kim Bum. Kim Bum mengikuti di belakang So Eun. Beberapa menit kemudian, sampailah mereka pada sebuah kamar apartmen.

“yang ini?” tanya Kim Bum.

“ne, 89G. Persis seperti yang di katakan Hye Sun” kata So Eun.

“hm.. baiklah, sepertinya mereka sudah berkumpul. Kajja, tekan bel-nya” kata Kim Bum. So Eun pun menekan bel nya.

“nuguseyo?” tanya seseorang dari dalam melalui intercom.

“So Eun ieyo” jawab So Eun.

“oh, eonni, aku akan bukakan pintunya” balas orang itu yang ternyata adalah Jiyeon.

Tak lama kemudian pintu pun terbuka. Kim Bum dan So Eun pun masuk.

“hyung!” seru Seungho ketika melihat Kim Bum.

“kau mengenalnya?” tanya Hye Sun pada Seungho.

“ne, Kim Bum hyung. Ternyata kau sudah kembali. Mengapa kau tak mengabarkanku?” tanya Seungho dengan antusiasnya.

“kau mengenalku?” tanya Kim Bum kepada Seungho.

“tentu saja. Kita pernah berkenalan sebelumnya. Apa kau lupa?” tanya Seungho sambil berdiri dan menghampiri Kim Bum.

“kau siapa? Aku tak mengingatmu” kata Kim Bum sambil menatap Seungho dengan aneh.

“aku Seungho. Yoo Seungho” ucap Seungho dengan wajah riangnya.

“Seu….Seung..Ho?” ucap Kim Bum dengan terbata-bata. Tiba-tiba saja pandangannya menjadi buram. Tetapi ia masih bisa mendengar suara So Eun yang meneriaki namanya.

TBC

Gimana? Makin gaje kah? Banyak typo? Mianhae -_- Oh ya.. maaf yaa kalo aku ngepost ff ini kelamaan. BTW, kenapa sih banyak yang gak ninggalin komen? Kalau emang ff-nya jelek, ya gak usah di kunjungin. Jumlah visitor dan jumlah komentar itu sama sekali gak imbang. Maaf, bukan maksud marah-marah, Cuma aku agak kecewa aja sama siders. Okey, kalau komentarnya di part 10 ini masih dibawah 25, maka aku akan STOP ff ini. Dan.. makasih untuk yang udah mau ninggalin komentar :) komentar kalian berharga banget untukku :) semoga Tuhan membalas kebaikan kalian *amiiin* sekali lagi, gomawo :D

This is My Evidence That I Love You

THIS IS MY EVIDENCE THAT I LOVE YOU

Author                       : Angel’s Wings

Main Cast                 : Kim Bum dan Kim So Eun

Cast                            : Moon Geun Young, Park Soo Jin, Kim Sung Soo, Kim Ji Hoon, Kim Yoo Bin, Mason Moon, Kim Woo Bin (cameo), Kim Yoon Hye (cameo), Moon Joo Won (cameo),

Genre                                    : Romance, Sad,

Type                           : One Shot

Disclamier : Semua artis yang terlibat bukan milik author. Mereka milik Tuhan, agensi, keluarga, rekan, dan fans masing-masing. Karya ini murni milik author. Bila ada kesamaan watak tokoh, alur, dll merupakan suatu ketidak sengajaan. Tidak ada maksud untuk menjiplak karya orang lain.

~~~

Annyeong mates yang mungkin lagi pada galau *termasuk saya*

Kali ini aku bawakan OS bumsso. Semoga bisa menghibur :)

Happy reading!!

~~~

Disebuah ruang make up artis, duduklah gadis manis yang sedang memandang kosong kearah cermin. Wajahnya terlihat lesu, mengingat hal menyakitkan yang baru saja terjadi.

“kim So Eun” panggil sang manager. Gadis yang merupakan artis besar bernama kim So Eun itupun segera menoleh ke sumber suara.

“ada apa eonni?” tanya So Eun masih dengan ekspresi sedihnya.

“sebentar lagi syuting akan dimulai. Persiapkan dirimu dengan baik, ini adalah syuting hari pertamamu. Tadi kau sudah melakukan beberapa NG, kali ini kau harus mengulanginya dengan baik” kata sang manager sambil menarik kursi untuk duduk di depan So Eun. So Eun tak menjawabnya, ia hanya diam dan menundukkan kepalanya. Tanpa terasa setetes cairan bening muncul dari mata indahnya. So Eun menangis. Namun ia mencoba untuk menyembunyikan tangisnya.

“So Eun” lirih manager So Eun kemudian ia memeluk tubuh So Eun. So Eun membalas pelukan manager yang sudah ia anggap sebagai kakak itu. Dalam pelukan managernya, So Eun meluapkan semua rasa gundah dalam dirinya, ia menangis histeris. Untung saja saat ini semua crew dan pemain sedang rehat sambil menyetel musik dengan suara yang keras sehingga tangisan So Eun tidak terdengar.

“hatiku sakit eonni hiks hiks hiks” tangis So Eun kemudian ia melepaskan pelukannya pada manager bernama Park Soo Jin itu. Manager yang selama 5 tahun terakhir sudah menemani kegiatannya. Manager yang sudah ia anggap seperti seorang kakak. Bahkan ia lebih dekat kepada manager Park dibanding adik perempuannya sendiri.

“bersabarlah.. mungkin ini cobaan dalam hubungan kalian. Yang harus kau lakukan saat ini adalah bertahan. Cobalah untuk mempercayainya” kata manager Park sambil mengelus punggung So Eun

“tidak. Aku sudah memutuskan hubungan kami semalam” kata So Eun dengan tatapan kosong

“mwo?!” kejut manager Park

“apa yang kau lakukan sso-ah?!” tanya manager Park dengan suara yang agak tinggi

“aku sudah tidak tahan, ini semua sudah cukup. Selama 4 tahun ini aku sudah banyak bersabar, eonni” kata So Eun masih dengan linangan air mata di pipi mulusnya

“So Eun..apa kau yakin keputusanmu itu yang terbaik?” tanya manager Park memastikan

“ne, aku yakin” ucap So Eun

“nona Park, Kim So Eun harus take” teriak sang sutradara dari luar ruang make up

“ye!” teriak manager Park

“ya sudah, sekarang hapus air matamu. Make up mu jadi berantakan seperti ini. Aigo.. matamu bengkak” kata manager Park sambil menghapus air mata di pipi So Eun lalu membedakinya kembali.

Ya, dia adalah Kim So Eun atris yang namanya melejit setelah membintangi drama Kkotboda Namja atau yang lebih dikenal dengan nama Boys Before Flowers. Drama itu memberikan banyak efek dalam hidupnya, salah satunya adalah seorang pangeran cinta. Di dalam drama itu ia menemukan seorang pangeran cinta. Namanya adalah Kim Sang Bum atau Kim Bum. Kalian pasti sudah tau, ya.. dia adalah pemeran si cassanova So Yi Jeong. Mereka sudah menjalin kasih selama kurang lebih 4 tahun, kisah cinta yang bisa dibilang ‘awet’ untuk seorang public figure Korea Selatan. Namun sayang, kisah cinta mereka sudah berakhir beberapa jam lalu. Bisa dibilang kehadiran orang ketiga adalah penyebab runtuhnya jalinan cinta mereka. Sangat disayangkan.. 4 tahun yang berharga menjadi sia-sia begitu saja. Padahal mereka sudah mempunyai bayangan untuk jenjang yang lebih serius.

~~~

Ditempat lain, seorang pemuda tampan yang merupakan aktor besar Korea Selatan sedang berbaring di ranjanganya dengan mata yang menatap langit-langit kamar bernuansa silver hitam itu. Tangannya menggenggam erat sebuah ponsel ber-wallpaper sepasang kekasih yang sedang berangkulan mesra

“aigoo” ucap lelaki itu sambil sedikit memijat keningnya

“mengapa semuanya jadi seperti ini.. AKHHH!!!!!” teriak lelaki itu. Tiba-tiba terdengar deringan ponsel. Tertera sebuah nama ‘Kim Sung Soo hyung’ di layar ponselnya. Ia pun mengangkat panggilan itu.

“yobeseyo” sapa orang bernama Kim Sung Soo yang tak lain adalah managernya

“ada apa?” tanya pemuda bernama panggung Kim Bum itu dengan intonasi yang singit

“cepat datang ke lokasi 1 jam lagi kau harus take” kata manager Kim

“ne” jawab Kim Bum singkat dan langsung mematikan teleponnya. Ia memandang lurus ke depan dengan tatapan kejam.

“AKHHHHH!!!!!” teriak Kim Bum sambil mengambil lampu tidurnya lalu membantingnya ke lantai sehingga menimbulkan suara yang keras.

“tuan muda.. apa kau baik-baik saja” teriak seorang wanita paruh baya bernama Min Hee Geun dari luar kamar Kim Bum. Suaranya terdengar sangat cemas.

“tuan muda.. apa yang ter….” ucapan Min ahjumma itu terputus ketika Kim Bum membuka pintu kamarnya dengan tiba-tiba. Ia berjalan tanpa mempedulikan Min ahjumma yang sedang cemas itu

“tuan muda, kau mau kemana?” tanya Min ahjumma yang berusaha mensejajarkan langkahnya dengan tuan mudanya itu

“aku mau syuting. Tolong beri tahu eomma, hari ini aku tidak pulang. Aku ke apartmen” kata Kim Bum tanpa menoleh sedikitpun kepada Min ahjumma.

“oh ye, saya akan beritahu nyonya besar” kata Min ahjumma

Kemudian Kim Bum segera menjalankan mobilnya ke lokasi syuting dengan pikiran yang berantakan. Ini sangatlah berbahaya, menyetir dalam keadaan stress. Stress karena hubungannya dengan So Eun yang berakhir ‘tragis’ karena sandiwara belaka. Sandiwara tentang hubungannya dengan lawan mainnya dalam drama Goddes Of Fire yaitu Moon Geun Young. Sandiwara yang dibuat-buat oleh dua agensi terkait. Ia tau ia salah karena menuruti perintah dari agensinya, namun apa boleh buat, agensinya sudah terlebih dulu mengklarifikasi berita itu tanpa persetujuan darinya. Saat ini, ia sungguh merasa bersalah kepada kekasihnya atau sekarang lebih tepatnya mantan kekasihnya. Ia tau So Eun pasti merasa sangat sakit hati sehingga memutuskan hubungan ini begitu saja.

~~~

Hari sudah malam. Namun So Eun belum juga menyelesaikan syutingnya. Ia terus saja melakukan kesalahan, bahkan tak jarang ia membuat sang sutradara marah. Wajar saja, itulah yang dipikirakan manager Park. Ia tau betul apa yang sedang So Eun pikirkan saat ini. Sungguh, ini bukanlah hal yang mudah untuk dihadapi sendiri.

“eonni” panggil So Eun yang membuyarkan lamunan manager Park

“ne, kau sudah selesai?” tanya manager Park pada So Eun

“ne. Apa yang sedang kau lamunkan?” tanya So Eun yang tadi melihat manager Park sedang melamun

“tidak ada. Oh ya, kalau kau sudah selesai, mari sekarang kita pulang” kata manager Park sambil berdiri dan merapihkan beberapa barang milik So Eun

“ne, kajja” kata So Eun sambil berjalan lebih dulu. Sementara manager Park memandangnya dengan penuh rasa iba. Kemudian ia pun mengikuti langkah So Eun yang menghapiri crew lain untuk berpamitan

“semuanya, aku pulang dulu. Terimakasih untuk hari ini, maaf aku melakukan banyak NG” kata So Eun lalu membungkukan badannya

“ne. Hati-hati dijalan” kata seorang crew bernama Ha Jung Sun mewakili semua crew

“baiklah, kami pulang. Annyeongi Gaseyo” kata manager Park lalu segera meninggalkan lokasi syuting

~~~~

“eonni, bolehkah malam ini aku menginap di rumahmu. Aku tidak mau pulang ke rumah maupun ke apartmen” kata So Eun

“ne tentu saja. Pintu rumahku selalu terbuka untukmu” kata manager Park dengan senyumannya. Terjadi keheningan sejenak.

“So Eun” panggil manager Park

“ne” jawab So Eun

“kau menyesal?” tanya manager Park

“kurasa tidak” jawab So Eun yang sedikit mengerti arah ucapan manager Park

“tapi aku yakin jika Kim Bum itu benar-benar mencintaimu” ucap manager Park

“tapi aku tidak yakin” jawab So Eun dingin

“dulu sebelum aku menikah dengan Ji soo appa.. aku juga pernah mengalami hal sepertimu, karena dulu Ji soo appa juga merupakan seorang aktor” ucap manager Park mencoba membagi ceritanya dengan So Eun

“tapi karena kami berdua saling mempercayai, maka kami bisa melewati itu semua dengan baik. Sampai saat ini, saat kami menikah, saat kami memiliki anak, dan menjalakan kehidupan rumah tangga yang harmonis. Itu semua karena kami saling mempercayai. Kepercayaan merupakan sebuah kunci dalam suatu hubungan” lanjut manager Park. So Eun masih mendengarkannya dengan seksama

“maka dari itu, cobalah percaya padanya. Waktu 4 tahun yang kau habiskan bersamanya, apa kau rela membuangnya begitu saja. Jangan berhenti di tengah jalan So Eun-ah” nasehat manager Park

“tetap tidak bisa eonni” kata So Eun yang mulai meneteskan air matanya. Manager Park tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepalanya

“ne, lakukan yang kau suka. Tadi itu aku hanya berbagi pengalaman padamu. Sekarang, ikutilah kata hatimu. Jangan pernah berbohong pada hatimu, atau nanti kau yang akan lelah, sebab, hati itu tidak bisa dibohongi” pesan manager Park

“ne” jawab So Eun sambil menghapus air matanya

~~~

Kim Bum sedang menatap foto-foto di layar ponselnya. Foto seorang wanita cantik yang sedang tersenyum renyah

“bogosipheoyo” kata Kim Bum sambil menatap foto itu dengan tatapan sedih. Kemudian ia menarik napas panjang dan berdiri memandang sebuah apartmen di sebrang apartmen miliknya

“aku merindukanmu.. sangat merindukanmu” ucap Kim Bum sambil menatap jauh apartmen tersebut

“apa kau belum pulang?” tanya Kim Bum bermonolog masih dengan menatap apartmen tersebut. Kemudian ia mengambil ponsel yang tadi ia letakkan di kasur. Ia membuka menu ‘kontak’ lalu mencari nama ‘My Lovely Sso’ setelah menemukannya, ia pun segera meng-klik perintah ‘call’. Setelah beberapa kali malakukan panggilan, orang itu tak jua mengangkat telepon Kim Bum. Namun Kim Bum tak menyerah, ia terus mencoba menelpon orang itu.

~~~

So Eun baru saja sampai di rumah manager Park.

“ayo masuk” kata manager Park

“ne” ucap So Eun lalu segera masuk ke dalam rumah manager Park

“na wasseo!” seru manager Park sambil mengganti sepatu boat-nya dengan sandal karet yang sudah tersedia

“lihatlah.. eomma sudah pulang” kata seorang lelaki yang sedang menggendong seorang bayi laki-laki berusia sekitar 8 bulan itu

“wahh Ji soo, kau belum tidur” kata manager Park sambil mengambil bayi bernama Ji soo dari gendongan lelaki itu.

“hai So Eun, aku juga kemari” kata lelaki bernama Kim Ji Hoon yang tak lain adalah suami dari manager Park

“ne oppa. Aku akan menginap disini untuk malam ini, apakah boleh?” tanya So Eun

“oh tentu saja. Kau menginap selamanya disini juga tidak apa-apa” kata Ji Hoon sambil tersenyum pada So Eun

“gomawo” kata So Eun

“ayo So Eun, masuklah..” ajak manager Park

“Ji soo appa.. tolong beritahu So Eun kamarnya, aku akan menidurkan Ji soon dulu” kata manager Park sambil berjalan menuju kamarnya

“ne” jawab Ji Hoon

“kajja So Eun” kata Ji Hoon mengajak So Eun untuk ke kamarnya

“ini, untuk malam ini kau tidur disini yaa.. disana kamar mandinya. Kalau ada perlu apa-apa kau panggil saja aku atau tidak Ji Soo eomma, baiklah.. selamat malam” ucap Ji Hoon lalu meninggalkan So Eun. So Eun memandang sejenak kamar yang ia tempatinya malam ini, ia tersenyum tipis lalu membaringkan badannya di kasur.

“aigo,, aku belum menghubungi eomma” kata So Eun sambil menepuk jidatnya. Ia segera mengambil ponselnya di tas. Namun sial, ternyata ponselnya mati. Ia pun langsung mengambil charger dan men-charg ponselnya. Beberapa menit kemudian, So Eun menyalakan ponsel berwarna putih setelah baterainya terisi setengah. Ia terkejut begitu melihat 25 miss call di ponselnya. Ia men-chek orang yang sedari tadi menghubunginya itu. Dan ia menemukan nama ‘Lovely Bum’ yang tertera. Sontak So Eun kembali duduk di kasurnya dengan air mata yang mulai menari-nari di pipinya. Ia memandangi layar ponsel itu dengan sedihnya. Tak lama, ada sebuah pesan masuk. So Eun segera membukanya

From    : Lovely Bum

To        : Lovely Sso

Sso-ah.. bogosipheoyo.. aku sangat merindukanmu. Apakah kau tidak merindukanku? Satu hari saja tak bisa kulewati dengan baik tanpa suaramu yang menghiasi setiap langkahku. Aku ingin mendengar suaramu. Mengapa kau tidak menjawab teleponku? Kau masih marah padaku? Aku minta maaf, walaupun aku tahu kau tak akan memaafkanku. Tolong kau balas pesan ini. Anggap saja sebagai salam perpisahan kita, karena sekarang aku bisa menerimanya. Aku sadar aku menyakitimu, tapi sungguh aku tidak pernah berniat untuk menyakitimu. Maafkan Aku. Aku mencintaimu.

So Eun menangis saat membaca pesan dari Kim Bum. Dadanya terasa sesak, ia tak mampu bernafas dengan leluasa. Kemudian ia berusaha untuk mengontrol emosinya. Ia mulai mengetik pesan balasan untuk Kim Bum.

From    : Lovely Sso

To        : Lovely Bum

Aku sibuk. Mulai sekarang pergi jauh dari hidupku. Aku tidak ingin melihatmu lagi.

Setelah itu So Eun membaringkan tubuhnya sambil menghapus air mata dipipnya. Tak lama berselang, terdengan dering ponsel So Eun yang menandakan sebuah panggilan masuk. So Eun memandang ponselnya, lalu ia meletakkannya dibawah bantal tanpa menjawabnya.

“mengapa tidak kau angkat?” tanya manager Park sambil menutup kembali pintu kamar So Eun dengan sebuah map ditangannya

“eonni, sejak kapan kau ada disini?” tanya So Eun

“mana ponselmu?” tanya manager Park tanpa menjawab pertanyaan So Eun. Kemudian So Eun menyerahkan ponsel yang masih berdering itu kepada manager Park. Lalu manager Park mengangkat telepon itu

“yobeseyo” ucap manager Park mengawali pembicaraan

“yobeseyo. Siapa disana? ini bukan suara So Eun” ucap orang itu yang tak lain adalah Kim Bum

“ternyata kau kenal betul dengan suara So Eun ckck.. tunggu sebentar” kata manager park lalu menempelkan ponsel itu ke telinga So Eun

“bicaralah” kata manager park pada So Eun dengan tatapan mata yang memaksa

“shireo!” tolak So Eun sambil menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Namun manager Park tidak menyerah, ia melototi So Eun dengan kejam membuat So Eun akhirnya menurut juga

“yo..yobeseyo” kata So Eun sambil menahan air matanya

“So..So..So Eun.. apa..kabarmu?” tanya Kim Bum yang ternyata sedang menahan tangis juga

“tidak baik” jawab So Eun ketus dengan tetesan air mata yang mengiringi

“ada…yang ingin..aku bicarakan…pada..mu” gugup Kim Bum yang berusaha untuk mengontrol dirinya

“bicarakan sekarang, aku tak ada waktu” kata So Eun sambil menghapus air matanya

“bisakah besok kita….”belum selesai Kim Bum berbicara, So Eun sudah memotongnya

“aku bilang bicarakan sekarang, aku tak ada waktu. Bisakah kau mengerti??” ucap So Eun dengan keras

“kita harus bertemu. Ada yang harus ku jelaskan” kekeh Kim Bum dengan suara yang di tinggikan

“apa lagi,eoh?! Semuanya sudah berakhir. Tak ada yang perlu dijelaskan lagi” kata So Eun yang sekarang sudah benar-benar menangis, bisa dijamin bahwa Kim Bum dapat mendengar jelas tangisan So Eun

“kau hanya memutuskan sepihak. Bagiku kita belum putus. Kau masih kekasihku dan aku masih kekasihmu. Ada yang perlu kujelaskan” ucap Kim Bum lagi

“aku bukan kekasihmu dan kau pun bukan kekasihku lagi. Semuanya sudah berakhir. BERAKHIR KIM SANG BUM” kata So Eun dengan menekankan ucapannya pada kata ‘BERAKHIR KIM SANG BUM’ kemudian ia segera memutuskan sambungan teleponnya.

“kenapa kau matikan?” tanya manager Park dengan heran. Bukannya menjawab, So Eun malah menangis lebih kencang dari sebelumnya sehingga membuat Ji Hoo (suaminya manager Park) terbangun

“ada apa ini?” kata Ji Hoon yang sedang berdiri di depan pintu sambil mengucek sebelah matanya. Kemudian manager Park membalasnya dengan sebuah isyarat yang dapat diartikan dengan ‘sudahlah-kau-tak-perlu-tau’. Kemudian Ji Hoon pun kembali ke kamarnya

“hiks hiks hiks hiks” So Eun masih saja menangis, tangisannya yang tak juga reda membuat manager Park iba

“tenangkan dirimu” kata manager Park sambil memeluk So Eun, membuat tangisan So Eun semakin menjadi. Setelah merasa sedikit tenang, So Eun pun melepaskan pelukannya terhadap manager Park

“kau sudah tenang?” tanya manager Park. So Eun menganggukan kepalanya

“sebenarnya aku kesini karena memiliki maksud tertentu” kata manager Park sambil menunjukkan map nya kepada So Eun

“mwo?” tanya So Eun dengan suara lemah

“ini, mianhae, aku tau suasana saat ini kurang menudukung, namun kau harus segera mengambil keputusannya” kata manager Park sambil memperlihatkan map itu pada So Eun

“drama baru?” tanya So Eun sambil membaca map yang berisi sinopsis itu, ia membacanya dengan sangat tenang seolah-olah tidak ada hal menyakitkan yang terjadi didalam dirinya

“ne. Bagaimana? Apa sinopsisnya menarik?” jawab manager Park, ia memang selalu memperhatikan pendapat So Eun. Jika So Eun suka, maka akan ia terima. Namun jika So Eun tidak menyukainya, maka ia pasti akan menolaknya.

“sinopsisnya sungguh menarik. Tiga gadis bersahabat yang terang-terangan mengejar seorang lelaki. Sedangkan si lelaki sangat tidak menyukai tiga gadis itu. Namun, tiga gadis itu masih terus berusaha bersama untuk mendapatkan lelaki itu. Aku sungguh bingung, bagaimana bisa tiga bersahabat menyukai seorang lelaki yang sama. Anehnya lagi mereka bertiga saling terbuka dengan perasaan satu sama lain ckckck” So Eun terkekeh kecil sambil menutup kembali map itu

“jadi kau mau menerimanya?” tanya manager Park

“ne” jawab So Eun mantap

“tapi ngomong-ngomong, aku berperan sebagai apa?” tanya So Eun *capedeh eonni baru nanya sekarang*

“kau berperan sebagai Kim Joong Eun, kau merupakan teman dari Goo Na Hye dan Jo Ah Ra. Kalian bertiga mengejar satu lelaki bernama Lee Sang Byun. Namun pada akhirnya kau lah yang mendapatkan Sang Byun” terang manager Park

“ohh.. lalu siapa yang berperan sebagai Goo HyeAh, Jo Ah Ra, dan Lee Sang Byun?” tanya So Eun

“Goo Na Hye akan diperankan oleh Bae Suzy dan Jo Ah Ra akan diperankan oleh Kim Yoon Hye. Sedangkan untuk pemeran Lee Sang Byun aku belum tau” jawab manager Park

“begitu.. okelah.. aku terima ini” kata So Eun

“deal?” tanya manager Park sambil mengulurkan tangannya

“deal!” jawab So Eun sambil menjabat tangan manager Park

~~~

Sudah sebulan ia dan Moon Geun Young berpura-pura sebagai sepasang kekasih. Sudah 29 hari juga ia putus dengan So Eun. Semenjak putus dengan So Eun, ia merasa bahwa hidupnya terasa sangat hampa. Tak ada lagi senyum dan tawa seseorang yang selalu menjadi semangatnya. Bahkan di kampus pun So Eun tak menegurnya sama sekali, seolah-olah mereka tak pernah saling kenal. Ini sangatlah menyakitkan baginya.

“bum-ah.. aku punya suatu rencana, bagaimana kalau kita liburan ke Eropa?” usul seorang wanita di sebelah Kim Bum. Ya, wanita yang membuat hubungannya dan So Eun menjadi hancur

“yya! Nuna, untuk apa kita kesana,eoh?” tanya Kim Bum

“memangnya yang waktu itu tidak cukup, merepotkan saja” umpat Kim Bum

“kita jalan – jalan disana, apa kau tidak ingin?” tanya Geun Young sambil bergelayut manja di lengan Kim Bum

“noona.. kita pernah kesana. apa tidak cukup?” tanya Kim Bum sambil melepaskan pelukan Geun Young dilengannya

“kali ini kita kesana untuk benar-benar berlibur, bukan untuk bersandiwara seperti waktu itu” kata Geun Young sambil memeluk lengan kiri Kim Bum kembali

“aku tidak mau. Yya! Nuna, lepaskan” kata Kim Bum sambil melepaskan pelukan Geun Young

“issh.. kau ini kenapa? Aku ini kan kekasihmu, kenapa memeluk lenganmu saja tidak boleh?” protes Geun Young dengan sedikit berisik mengingat restoran ini sedang dikunjungi banyak orang

“kau lupa? Ini kan hanya hubungan kontrak, HANYA KONTRAK. Dua bulan lagi juga sudah tidak terikat apa-apa” ucap Kim Bum dengan keras

“ssstt.. tidak bisakah kau mengecilkan volume suaramu? Semua orang memandang kita” kata Geun Young yang sesekali menundukkan kepalanya dan melirik ke orang-orang sekitar

“ck..sudahlah, aku ada pertemuan dengan pemain di drama baruku. Aku pergi” kata Kim Bum lalu meninggalkan Geun Young sendiri di restoran itu

“yya! Yaa! Bum-ah.. siapa yang akan membayar semua makanan ini?” ucap Geun Young pada Kim Bum yang mulai menjauh. Namun sepertinya Kim Bum tidak mendengarnya

~~~

“annyeong haseimnika” ucap Kim Bum sambil memasuki ruang itu. Membuat seorang wanita membulatkan matanya dengan sempurna

“maaf aku terlambat” kata Kim Bum sambil menundukkan kepalanya

“ne, silahkan duduk” perintah sang penulis skenario

“ne” kemudian Kim Bum pun duduk di satu kursi yang kosong

“annyeong ha…” ucapan Kim Bum terputus ketika ia menyadari seseorang disampingnya yang hendak ia sapa. Seorang wanita berambut hitam pekat dengan mata yang berkaca-kaca

“baiklah Kim Bum, karena kau baru datang, maka kita ulang lagi semuanya dari awal supaya jelas” kata sang penulis skenario

“disini Kim Bum memerankan tokoh utama pria yaitu Lee Sang Byun dan pemeran utama wanita adalah Kim So Eun yang berperan sebagai Kim Gyu Ra. Aku memilih kalian sebagai pemainku karena aku merasakan chemistery yang luar biasa dalam drama Kkotboda Namja. Aku harap kalian bisa mengulangi chemistery luar biasa ini dalam drama Nareul Saranghae? / Do You Love Me? Ini. Dalam drama ini aku juga merekrut Group8, aku berharap ini bisa mengikuti kesuksesan drama Goong dan Kkotboda Namja” ucap sang penulis Cho Jung Ah

Mata So Eun terbelak begitu mengetahui bahwa Kim Bum yang menjadi lawan mainnya ‘lagi’. Bukan hanya So Eun, Kim Bum juga terkejut begitu mengetahui bahwa So Eun adalah lawan mainnya.

~~~

Setelah menyelesaikan sekitar 5 episode, hari ini adalah waktunya confrensi pers untuk drama Do You Love Me? Yang diperankan oleh Kim Bum dan So Eun. Kim Bum, So Eun, bae suzy, kim Yoon Hye, penulis Cho Jung Ah, serta sutradara Yoo saat ini sudah ada di atas sebuah panggung lesehan.

“selamat siang semuanya” kata sang sutradara Yoo

“ya.. kali ini saya akan mengadakan conferensi pers tentang drama yang baru saja saya buat. Drama berjudul Do You Love Me? Ini ditulis oleh penulis berbakat Cho Jung Ah. Pemeran utama prianya adalah Kim Bum yang berperan sebagai Lee Sang Byun sedangkan pemeran utama wanitanya adalah kim So Eun yang berperan sebagai Kim Gyu Ra. Dan ada tiga pemain pendukung yaitu Bae Suzy sebagai Goo Hye Ah dan Kim Yoon Hye sebagai Jo Ah Ra serta Kim Woo Bin sebagai Yoon Jae Ha. Sampai disini, apa ada pertanyaan?” tanya sutradara Yoo

“mengapa penulis Cho memilih Kim Bum dan kim So Eun sebagai pemeran utama?” tanya seorang netizen

“saya menonton drama dari Group8 yang mereka bintangi. Saya rasa mereka memiliki chemistery yang sangat natural. Saya sangat menyukainya, karena itu bisa memberikan efek baik untuk drama ini. Selain itu juga saya memilih mereka karena saya juga merupakan satu dari SoEulmates” jawab penulis Cho dengan sedikit terkekeh

“apa hal menarik dalam drama ini yang mengharuskan pemirsa untuk menontonnya?” tanya netizen lainnya

“drama ini mengisahkan tentang tiga sahabat yang menyukai seorang lelaki yang sama. Hal menarik terjadi ketika tiga sahabat ini saling mengungkapkan hati mereka. Apakah mereka akan bertengkar karena satu pria ini atau tetap berteman? Kalian harus menontonnya” Sutradara Yoo mempromosikan

“oh.. Kim Bum-ssi bagaimana pendapat kekasih anda tentang drama ini, Apakah ia tidak cemburu melihat anda bermain bersama Kim So Eun. Mengingkat anda dengan Kim So Eun pernah digosipkan berpacaran?” tanya seorang netizen yang membuat Kim Bum dan So Eun terhentak

“oh..ah.. i..itu tidak masalah. Ya.. itu tidak masalah” jawab Kim Bum dengan senyum hambarnya

“Kim So Eun-ssi bagaimana perasaan anda bisa bermain bersama Kim Bum untuk kedua kalinya?” tanya netizen yang duduk di paling belakang

“oh..aku.. tentunya aku merasa senang karena Kim Bum-ssi merupakan aktor yang hebat. Aku merasa senang bisa beradu acting dengannya” jawab So Eun mencoba untuk tidak gugup

“baiklah kurasa ini sudah cukup. Kami ucapkan terimakasih karena sudah menyempatkan datang kesini. Dan jangan lupa untuk menonton drama ini!” seru sang sutradara

“gamsahamnida” ucap semuanya

~~~

Saat ini So Eun sedang bersantai persama Kim Yoon Hye dan Kim Woo Bin mereka sedang bersenda gurau sambil menunggu take.

“eonni aku sungguh senang bisa satu drama denganmu” ucap Yoon Hye sambil tertawa senang

“aku juga senang bisa satu drama denganmu” sahut So Eun sambil bergaya memeluk Yoon Hye

“kalian tidak senang bisa satu drama denganku?” tanya Woo Bin yang berpura-pura marah

“haha.. tentu aku juga senang bisa terlibat drama denganmu” kata So Eun

“annyeong” kata seseorang yang tiba-tiba saja langsung duduk di samping Woo Bin dan berhadapan dengan So Eun

“bum-ah.. kau dari mana saja?” tanya Woo Bin

“aku habis membeli softdrink. Ini untuk kalian” kata Kim Bum sambil memberikan Woo Bin, So Eun, dan Yoon Hye softdrink yang baru saja dibelinya

“gomawo” kata Woo Bin sambil mengambil softdrink nya

“gomawo oppa” kata Yoon Hye

“kau tidak mau mengucapkan terimakasih padaku?” tanya Kim Bum pada So Eun yang hanya diam saja. Raut wajahnya terlihat gurat ketidak sukaan

“gomawo” ucap So Eun pelan tanpa menyentuh softdrink yang baru saja Kim Bum beli

“So Eun-ah” panggil Kim Bum. Namun So Eun tak menjawabnya, ia malah mengaihkan pandangannya kepada para crew yang sedang makan siang

“So Eun-ah” ucap Kim Bum lagi dengan suara yang lebih tinggi. Namun So Eun tak mempedulikannya. Hingga akhirnya dataglah dewi penghancur itu

“annyeong yeorobun” kata seorang wanita dengan kacamata hitam di kepalanya

“wah..annyeong noona” sapa Woo Bin

“annyeong eonni. Kau pasti kesini untuk menemui Kim Bum oppa yaa” tebak Yoon Hye. Sementara wajah So Eun dan Kim Bum terlihat kesal

“tentu saja, kau pintar sekali Yoon Hye-yaa.. Bum-ah ini aku bawakan kau makan siang” kata wanita bernama lengkap Moon Geun Young itu.

Karena tak ingin luka di hatinya bertambah besar, akhirnya So Eun pergi menginggalkan tempat itu tanpa aba-aba. Sehingga membuat yang Woo Bin dan Yoon Hye bingung. Kecuali Kim Bum, ia tau betul mengapa So Eun pergi.

“yya! Ada apa dengannya?” tanya Woo Bin yang melihat So Eun melangkah cepat

“molla” sahut Yoon Hye. Beberapa detik kemudian Woo Bin dan Yoon Hye saling menatap. Sepertinya mereka berpikiran yang sama.

“kajja” ucap keduanya berbarengan, lalu mereka meninggalkan Kim Bum dan Geun Young beruda.

“untuk apa noona kesini?” tanya Kim Bum datar

“tentu saja untuk menemuimu” jawab geun youn sambil duduk di samping Kim Bum

“aku bawakan kau makan siang. Ini aku sendiri yang membuatnya, ayo cicipi” kata Geun Young sambil membuka kotak bekal berwarna putih itu

“aku sudah makan, sebentar lagi aku harus take, jadi sekarang aku harus bersiap-siap. Sebaiknya noona pulang saja” kata Kim Bum yang langsung berdiri lalu meninggalkan Geun Young sendirian

“kau mungkin tak tau kalau sebenarnya aku mengerti, aku bisa merasakannya. Aku tau kau mencintai So Eun-sii. Tapi tak bisakah aku menggantikan posisinya dihatimu? Aku hanya ingin menjadi orang spesial bagimu, walau hanya sesaat. Tidak bisakah kau menempatkanku dihatimu seperti aku menempatkanmu dihatiku?” ucap Geun Young sambil menatap punggung Kim Bum yang mulai menjauh dengan lirih. Tak terasa air matanya menetes.

“ah.. untuk apa aku menangisinya. Dia saja tak pernah menangis untukku” ucap Geun Young mencoba menghibur dirinya sendiri

“makananku yang malang.. daripada tak termakan, lebih baik aku saja yang memakannya” kata Geun Young sambil memakan bekal yang tadi ia bawa

“massita” gumamnya dengan tumpukan air mata dipipinya

~~~

Kim Bum melangkahkan kakinya untuk mencari So Eun. Ia tau hati So Eun pasti terasa sangat sakit. Sudah mengelilingi rumah yang digunakan untuk syuting itu, namun Kim Bum tak menemuinya juga. Akhirnya ia bertanya kepada manager Park.

“noona.. hmm.. apa kau melihat So Eun?” tanya Kim Bum pada manager Park yang sedang sibuk dengan tablet ditangannya. Manager park mengalihkan pandangannya kepada Kim Bum. Ia menatap Kim Bum sejenak.

“kau mau menemui So Eun?” tanya manager Park sambil berdiri dari duduknya

“ne” jawab Kim Bum. Manager Park tersenyum tipis

“tadi dia bilang padaku bahwa dia ingin ke sungai dekat taman, coba kau cari dia disana. Sepertinya suasana hatinya sedang buruk, apa kau tau penyebabnya?” tanya manager Park

“tadi..tadi dia melihat Geun Young noona datang menghampiriku” jawab Kim Bum pelan

“ini kesempatan yang baik. Temuilah dia, jelaskan semua kebenaran padanya. Aku berdo’a yang terbaik untuk kalian” kata manager Park sambil menepuk bahu Kim Bum

“baiklah, gomawo noona” kata Kim Bum lalu pergi meninggalkan manager Park

“hyung, aku pergi sebentar” kata Kim Bum kepada managernya

“kau mau kemana?” tanya manager Kim Sung Soo

“aku mau ke sungai dekat taman” jawab Kim Bum sambil berjalan menjauh

Kim Bum melangkahkan kakinya menuju tempat yang dikatakan manager Park tadi. Dan benar saja, disana ia melihat seorang gadis mengenakan rok mini berwarna pink dan kaos berwarna kuning serta coat berwarna putih yang melekat ditubuhnya. Ia sedang duduk di sebuah bangku panjang dibawah pohon yang mulai mengugurkan daunnya. Kim Bum melangkahkan kakinya lebih dekat. Tentunya ia berusaha agar So Eun tak mengetahui keberadaannya. Semakin dekat, ia merasa mendengar sesuatu. Ternyata itu bersumber dari So Eun. So Eun sedang menangis.

“kau tidak memikirkan perasaanku? Kau tak tau betapa sakitnya hatiku? Mana janji yang kau ucapkan bahwa aku adalah wanita terakhir dalam hidupmu? Kenapa kau mengingkari janji yang kau buat sendiri? Kau tidak suka saat aku berdekatan dengan lelaki lain, aku hargai itu, aku tidak dekat dengan lelaki manapun. Tapi kenapa kau berkencan dengan wanita lain, padahal kau adalah kekasihku? Kau jahat, kau jahat. Nappeun Namja!!!! KIM SANG BUM, NEONEUN NAPPEUN NAMJA!!!!!” teriak So Eun, tiba-tiba ia menghentikan teriakannya saat ia merasa sebuah tangan kekar memeluk lehernya dari belakang. Pria itu meletakan dagunya di bahu So Eun

“aku sangat memikirkan perasaanmu. Aku tau hatimu sakit karena aku. Aku tidak mengingkari janjiku, karena sampai saat inipun kau masih menjadi akhir pelabuhan cintaku. Aku memang tidak suka saat kau dekat dengan lelaki lain. Hanya ragaku yang berkencan dengannya, namun hatiku masih sepenuhnya milikmu. Maafkan aku.. aku hanya tidak ingin menjadi nappeun namja bagimu” bisik Kim Bum

~~~

“Sung Soo oppa” sapa Geun Young sambil berlari kecil menghampiri manager kim yang sedang bersantai

“Geun Young-ah” sahut manager kim

“dimana Kim Bum? aku sudah mencarinya namun tak juga menemuinya” kata Geun Young sambil menatap sekelilingnya

“ohh dia sedang pergi sebentar katanya” jawab manager kim

“kemana?” tanya Geun Young penasaran

“ke sungai dekat taman. Tak jauh dari sini” kata manager kim

“baiklah, aku akan menemuinya, annyeongi gaseyo oppa” kata Geun Young lalu segera melangkahkan kakinya ketempat tujuan

“ne, hati-hati” teriak manager kim

~~~

“lepaskan” perintah So Eun kepada Kim Bum. Kim Bum melepaskan pelukannya. Kemudian ia duduk di samping So Eun.

“mianhae karena aku membuatmu sakit hati” ucap Kim Bum

“sudahlah, tak ada yang perlu ku maafkan. Kita sudah tak ada hubungan apapun” ucap So Eun dengan air mata menggenang

“mwo? Bagiku kita masih sepasang kekasih. Kau harus mendengarkan ceritaku dulu. Aku tidak mau kira berpisah” kata Kim Bum sambil menggenggam tangan So Eun. Dan rupanya So Eun tak menolaknya.

“So Eun, tataplah aku, apa kau tak bisa merasakan tulusnya cintaku padamu?” tanya Kim Bum sambil menuntun wajah So Eun untuk menatapnya

“kemana So Eun yang dulu? Kemana So Eun yang selalu mempercayaiku? Aku merindukan So Eun yang seperti itu. Aku mengerti ini membuatmu sakit hati, berulang kali aku meminta maaf padamu. Tapi percayalah, bukan hanya kau yang tersakiti, aku juga tersakiti Kim So Eun. Aku mohon.. kembalilah seperti hari-hari sebelumnya” kata Kim Bum sambil menatap So Eun dengan tulus. Ia bisa melihat air mata yang membasahi mata So Eun. Ia menghapus air mata dipipi So Eun. Kemudian ia mulai mendekatkan wajahnya ke wajah So Eun, semakin dekat… dan ia pun mencium So Eun beriringan dengan air mata So Eun yang membasahi.

Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang melihat kejadian itu. Seorang wanita tengah berdiri beberapa meter dibelakang mereka. Ya, dia adalah Geun Young. Ia melihat Kim Bum dan So Eun yang sedang berciuman.

“babo.. seharusnya aku tak datang kesini. Kau ini bodoh sekali” kata Geun Young yang merutuki dirinya sendiri

“ahh.. aku masih ada jadwal, sebaiknya aku segera pergi” kata Geun Young sambil berjalan dengan kepala yang mendongak ke atas, berharap air matanya tak berjatuhan saat ini.

Kim Bum melepaskan ciumannya, ia menatap So Eun sebentar kemudian ia memeluknya.

“saranghae” bisik Kim Bum tepat di telinga So Eun. Kemudian ia pun melepaskan pelukannya

“semua ini hanya sebuah sandiwara. Kau pasti mengerti permainan ini, kau tau bagaimana kerasnya dunia entertainment korea. Tunggulah aku.. waktunya tinggal 15 hari lagi. Hanya 15 hari lagi, setelah itu aku janji akan mempublikasikan hubungan kita” kata Kim Bum sambil memengang kedua bahu So Eun

“apa kau bersedia menungguku?” tanya Kim Bum. Tiba-tiba saja So Eun memeluk Kim Bum dengan erat

“tentu saja aku akan menunggumu. Maafkan aku sudah bersikap kekanak-kanakan, maafkan aku yang tidak bisa mengertimu” ucap So Eun

“gomawo” kata Kim Bum. So Eun melepaskan pelukannya pada Kim Bum. Ia menatap Kim Bum kemudian mencium Kim Bum secepat kilat

“setelah 4 tahun kita berpacaran, ini pertama kalinya kau menciumku lebih dulu” kata Kim Bum

“jadi kau tidak suka? Baiklah aku ambil kembali ciumanku” kata So Eun kemudian ia mencium Kim Bum sekilas untuk kedua kalinya. Kemudian Kim Bum menahan kedua lengan So Eun

“aku senang bisa melihatmu ceria lagi” kata Kim Bum sambil menatap So Eun dengan senyuman

“ah.. sudah jam berapa ini, ayo kita kembali ke lokasi” ajak So Eun sambil berdiri

“oh iya.. ayo kita kembali” sahut Kim Bum sambil menarik tangan So Eun

~~~

Tak terasa, ini adalah hari terakhir Kim Bum dan Geun Young menjadi sepasang ‘kekasih’. So Eun sangat bahagia menyambut hari ini, ia tau bahwa ini adalah hari terakhir ia menunggu Kim Bum. Ia membuka jendela kamarnya yang langsung berhadapan dengan jendela apartmen Kim Bum. Ia tersenyum memandang sebuah kamar yang masih tertutup gorden itu.

“GOOD MORNING MY BEAUTY LIFE” teriak So Eun sambil membentangkan kedua tangannya

“aigo.. aku harus memasakkan sarapan untukku dan untuknya” kata So Eun, lalu ia mengambil sebuah ikat rambut di kasurnya dan kemudian ia mulai mengikat rambutnya. Ia berjalan ke dapur dan memulai kegiatan memasaknya. Karena pagi ini ia mempunyai janji dengan Kim Bum untuk sarapan bersama

~~~

Kim Bum mengerejapkan matanya saat ia bisa mencium aroma harum yang melintasi indera penciumannya.

“So Eun” gumam Kim Bum sambil tersenyum. Ia berpikiran bahwa So Eun sedang memasakan sarapan untuknya, ia pun berjalan ke arah dapur apartmennya dengan semangat.

“So Eun pagi-pagi sekali kau sudah da… NOONA?!” Kim Bum terkejut ketika melihat seorang wanita yang bukan ia harapkan sedang menyiapkan sarapan untuknya

“ternyata kau sudah bangun. Kau pasti kecewa karena yang kau inginkan saat ini So Eun-ssi, bukan aku. Maaf mengecewakanmu” kata Geun Young sambil memainkan tali celemeknya

“ah..noona, apa yang kau lakukan disini?” tanya Kim Bum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Entah mengapa ia merasa tidak enak hati pada Geun Young

“aku menyiapkan sarapan untuk kita, ini hari terakhir kita bersandiwara sebagai sepasang kekasih. Aku hanya ingin menutup sandiwara ini dengan hal yang indah” kata Geun Young

“seharusnya kau tidak perlu memasak seperti ini. Sebenarnya aku sudah mempunyai janji sarapan bersama dengan seseorang. Jadi noona tak perlu memasak. Ini hanya akan sia-sia” ucap Kim Bum

“ayolah.. kau cicipi sedikit, selama ini kau tidak pernah memakan masakanku kan.. untuk kali ini saja, untuk terakhir kalinya” bujuk Geun Young sambil menyiapkan kursi untuk Kim Bum

“sudah kubilang, aku punya janji dengan orang lain! Mengapa noona tak mengerti juga?! kalau aku makan sekarang, nanti aku akan menjadi kenyang. Kalau aku kenyang, nanti aku tak memakan masakannya. Bagaimana kalau dia marah padaku, apa noona bisa bertanggung jawab, hah?!” kata Kim Bum dengan meninggikan suaranya

“lalu kau pikir aku tidak marah jika kau tak memakan masakanku?” tanya Geun Young dengan lirih

“ah.. aku tak peduli, sudahlah noona pulang saja. Aku khawatir saat dia kesini noona masih belum pergi” kata Kim Bum sambil berjalan kembali ke kamarnya. Tiba-tiba saja Geun Young berlari ke arah Kim Bum dan memeluk punggungnya.

“sekali saja, apa tidak bisa?” tanya Geun Young, cairan bening mulai membasahi pelupuk matanya

“aku hanya ingin menjalani hubungan ini denganmu seperti layaknya sepasang kekasih. Aku tau ini hanya sebuah kontrak, tapi apakah kau tidak bisa melakukannya walau hanya sekali saja?” tanya Geun Young lagi

“noona.. kau ini apa-apaan, cepat lepaskan sebelum dia datang” pinta Kim Bum sambil berusaha melepaskan pelukan Geun Young. Bukannya melepaskan, Geun Young malah semakin mengeratkan pelukannya

“dia. Siapa dia? So Eun-sii? Heoh.. ternyata benar, kau berpacaran dengan Kim So Eun. Ya, aku tau kau mencintainya. Dan aku juga tau dia mencintaimu. Namun apakah tak kau sadari ada wanita lain yang mencintaimu. Aku. Aku adalah wanita itu” aku Geun  young

“noona.. bicaramu semakin aneh saja” ucap Kim Bum sambil terus berusaha melepaskan pelukan Geun Young

“aku serius Bum-ah! AKU MENCINTAIMU!” teriak Geun Young

“aku mencintaimu Bum-ah, tak bisakah aku menggantikan posisinya dihatimu? Tidak bisakah kau menempatkanku dihatimu seperti aku menempatkanmu dihatiku?” ucap Geun Young

~~~

So Eun sudah sampai di depan apartmen Kim Bum. Saat ia baru akan memencet bel-nya, ia teringat sesuatu.

“kalau jam segini.. biasanya ia belum bangun. Ah.. sebaiknya aku masuk diam-diam lalu membuatkan kejutan untuknya” ucap So Eun dengan senangnya.

Kemudian iapun memencet “6977” yang merupakan password apartmen Kim Bum. Ia mulai membuka pintunya dengan perlahan. Setelah terbuka sedikit, iapun masuk dan menutup kembali pintunya. Ia mengganti sepatu dengan sandal karet berwarna putih yang biasa ia kenakan jika sedang berkunjung ke apartmen Kim Bum. Ia mulai melangkahkan kakinya. Baru beberapa langkah, ia mulai menghentikan langkahnya. Matanya membulat sempurna menyaksikan pandangan tak mengeenakan di depannya.

“ish.. noona sudahlah” kata Kim Bum

“APA LEBIHNYA DIA DARIKU?! APA KARENA DIA LEBIH MUDA DARIMU, MAKA KAU LEBIH MEMILIHNYA DARIPADA MEMILIHKU?! AKU HANYA INGIN KAU MENCINTAIKU SEHARI SAJA..SEHARI SAJA.. APA ITU TERLALU BERAT UNTUKMU?!!” Geun Young mengeluarkan tangisannya. Perlahan pelukannya pada Kim Bum mulai melemah seiring dengan air mata yang berjatuhan. Kakinya seolah tak kuat lagi untuk berdiri, sehingga membuatnya jatuh tersungkur ke lantai. Kim Bum sekarang bisa membalikan badannya menghadap Geun Young. Ia berjongkok dan berbicara dengan halus kepada Geun Young, tanpa menyadari ada sepasang mata indah yang mulai mengeluarkan cairannya sedang menatap mereka.

“noona.. mengapa kau…”kata-katanya terputus ketika manik matanya mendapatkan sesosok gadis berpenampilan cantik tengah menahan tangis di dekat pintu apartmennya

“So Eun” kejut Kim Bum, Geun Young juga ikut menolehkan pandangannya

“ah.. mi..mianhae.. aku mengganggu. Aku pergi” kata So Eun sambil memutar badannya meninggalkan Kim Bum dan Geun Young.

“So Eun, tunggu!” kata Kim Bum sambil berlari mengejar So Eun

“Kim Bum!” panggil Geun Young, namun Kim Bum tak menganggap panggilannya

“HAAAAA!!!!!!!!” teriak Geun Young dengan frustasi

~~~

“So Eun, tunggu! Kau perlu mendengar penjelasanku” kata Kim Bum sambil menahan tangan So Eun

“bum-ah, kau ini apa-apaan.. ini tempat umum, lepaskan tanganku” kata So Eun dengan mata yang memerah. Kim Bum tidak melepaskan genggaman tanganya, justru saat ini ia malah memeluk So Eun

“biarkan saja mereka tau bahwa kekasih Kim Bum yang sesungguhnya itu Kim So Eun. Bukan Moon Geun Young” ucap Kim Bum dalam pelukan So Eun

“bum-ah.. apa yang kau lakukan. Cepat lepaskan” ujar So Eun dengan suara yang ia buat selembut mungkin, seolah-olah ia sama sekali tak merasa sakit hati. Kemudian Kim Bum melepaskan pelukan Kim Bum

“jangan membohongi perasaanmu sendiri. Aku tau kau merasa sakit hati. Maafkan aku. Aku tak bermaksud membuat pagi mu menjadi berantakan” kata Kim Bum

“ne, aku percaya padamu. Aku tadi mendengar pengakuan eonni itu” kata So Eun tanpa menyebut nama ‘eonni’ yang ia maksud itu

“jadi kau tak marah padaku?” tanya Kim Bum. So Eun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Kemudian Kim Bum memeluk So Eun

“terimakasih telah mengertiku” bisik Kim Bum

“aku tak marah padamu, karena aku sudah menganggap semua ini sebuah drama” jawab So Eun

“hanya saja aku sedikit cemburu” umpat So Eun

“kau sedikit apa??” pancing Kim Bum yang ternyata mendengar ucapan So Eun

“sedikit apa?? Tidak apa-apa” elak So Eun. Kim Bum melepaskan pelukannya

“ahh.. tadi kau mengucapkannya. Ayo ucapkan sekali lagi” pinta Kim Bum dengan sedikit menggoda

“tak apa-apa.. sudahlah aku mau pulang saja” ucap So Eun sambil berjalan menuju apartmennya yang memang tak jauh dari apartmen Kim Bum karena letaknya hanya bersebrangan

“yya! Aku ikut denganmu” kata Kim Bum sambil menggandeng tangan So Eun

“eonni itu…” ucap So Eun menggantung

“biarkan saja dia, nanti juga dia akan pulang” balas Kim Bum

“yya! Kau kejam sekali” sahut So Eun

“sudahlah.. ayo cepat.. aku sudah lapar” kata Kim Bum sambil menarik tangan So Eun. mereka berjalan dengan santai. Untung saja jalanan belum ramai, kalau tidak bisa-bisa nanti siang sudah muncul skandal Kim Bum dan So Eun.

~~~

Geun Young menunggu Kim Bum kembali. Ia masih terduduk di lantai dengan mata yang sembab. Sudah sekitar 2 jam-an namun Kim Bum tak juga kembali. Selama dua jam itu ia juga merenung. Setelah ia menemukan titik terang. Akhirnya ia pulang dengan jiwa yang mulai kembali tegar.

~~~

Seminggu sudah Kim Bum dan So Eun mengklarifikasikan hubungan mereka kepada publik. Siang ini Kim Bum sedang beristirahat di apartmen So Eun.

“kau sudah menghafal naskahmu? Ini syuting terakhir kita, jangan sampai kita membuat banyak NG” kata So Eun pada Kim Bum yang sedang berbaring di paha-nya

“itu bukan hal yang sulit.. sudahlah nanti saja” kata Kim Bum yang masih fokus dengan game di ponselnya

“jangan suka menunda-nunda pekerjaan” kata So Eun sambil mengambil alih ponsel Kim Bum lalu mematikannya

“yya! Aku hampir mendekati garis finish, mengapa kau matikan akh!!” keluh Kim Bum

“kau itu sulit menghafal naskah, kalau kau tak menghafalkannya dari sekarang, bisa-bisa kau menghasilkan banyak NG. Aku tak mau jam kerjaku bertambah hanya karena kesalahanmu” omel So Eun

“baiklah-baiklah Ny. Kim Sang Bum aku akan menghafalkan naskahnya” kata Kim Bum sambil berjalan malas menuju tumpukan kertas yang berada tak jauh darinya.

“mwo?! Ny. Kim Sang Bum? aku belum menjadi istrimu, jangan memanggilku dengan sebutan itu” kata So Eun

“belum berarti akan. Iya kan’?” goda Kim Bum

“mulai lagi.. terserah kau saja laah” parah So Eun

“ah.. kau tidak asik” kata Kim Bum sambil kembali berbaring di paha So Eun

“Bum-ah.. eonni itu pergi kemana? Aku tak melihatnya akhir-akhir ini” ucap So Eun

“entahlah.. bukan urusanku” kata Kim Bum dengan cuek

“terakhir yang ku dengar, dia pergi ke Inggris. Apa itu benar?” tanya So Eun

“aku tak tau. Sudahlah jangan bicarakan dia lagi” kata Kim Bum sambil meletakan kertas naskah itu di wajahnya

“So Eun-ah.. aku mengantuk” ucap Kim Bum sambil menarik tangan kanan So Eun untuk dijadikan ‘pelukan’

“ne.. tidurlah” kata So Eun lalu mengelus rambut Kim Bum dengan tangan kirinya. Ia tau, jika Kim Bum mengantuk maka ia tak bisa menghafal naskah dengan baik, hasilnya akan percuma saja. Jadi lebih baik Kim Bum tidur dahulu baru setelahnya menghafal naskah.

Setelah beberapa menit, So Eun bisa melihat Kim Bum yang sudah terlelap sambil memeluk tangan kanannya. Ia tersenyum melihat wajah Kim Bum yang nampak tenang.

“saranghae” ucap So Eun sambil mengecup bibir Kim Bum

~~~

7 tahun kemudian…

“Yoo Bin-ah” ucap seorang laki-laki sambil berjalan menuju seorang anak kecil bernama Yoo Bin lalu berbaring sambil memeluk pinggang anak kecil itu

“appaa” ucap Yoo Bin kegelian saat orang yang ia panggil appa itu menggelitik perutnya

“appa… sudah…geli.. appa.. aku ingin menonton televisi” ucap Yoo Bin sambil berusaha melepaskan tangan sang ayah yang terus menggelitik perutnya

“yya! Bum-ah.. aku menyuruhmu mandi bukan mengganggu Yoo Bin” kata So Eun yang sedang menyiapkan sarapan. Namun Kim Bum tak juga mendengarkan perkataan So Eun. Ya, beberapa bulan setelah mereka mengklarifikasi hubungan mereka, Kim Bum dan So Eun segera menyelenggarakan pernikahan mereka. Pernikahan yang hanya dihadiri oleh orang-orang terdekat saja. Saat ini, mereka sudah di anugerahi dengan seorang putri bernama Kim Yoo Bin. Sekarang ini mereka tinggal di sebuah rumah yang lumayan megah yang merupakan hadiah pernikahan dari appa Kim Bum.

“appa belum mandi, pantas saja aku mencium bau aneh” kata Yoo Bin dengan isengnya

“oh.. sekarang anak appa sudah pandai berkompromi dengan eomma yaa” kata Kim Bum sambil menggendong Yoo Bin

“yya.. appa turunkan aku, aku sudah besar” protes Yoo Bin. Kemudian Kim Bum menurunkan Yoo Bin di sebuah sofa di depan televisi

“anah appa sudah besar? Kau masih pendek, kau belum besar” kata Kim Bum meremehkan

“heehh.. sudah cepat masuk kamar mandi, jangan membuat pencemaran udara” kata So Eun sambil memberikan Kim Bum handuk dan mendorongnya ke kamar mandi.

“Yoo Bin.. sini ibu ikat rambutmu” kata So Eun sambil menghampiri sang anak

“ne” jawab Yoo Bin lalu duduk di depan So Eun

Ting Nong Ting Nong

“ada yang datang eomma” kata Yoo Bin yang menyadari ada bunyi bell

“ne, Yoo Bin tunggu sini. Eomma liat dulu siapa yang datang” kata So Eun yang bergegas menuju intercom yang terletak di ruang tamu

“silahkan masuk” kata So Eun kemudian menekan tombol untuk membuka pintu

“annyeong haseyo” ucap seorang perempuan paruh baya

“annyeong haseyo” ucap seorang pria yang berdiri di belakang wanita itu. Pria itu terlihat sedang menggandeng seorang anak kecil yang berusia kurang lebih 2 tahun dibawah Yoo Bin.

“eonni” So Eun merasa terpaku melihat sebuah keluarga kecil dihadapannya

“apa kabarmu So Eun?” tanya wanita itu yang ternyata adalah Geun Young

“eonni.. oh.. kabarku baik, ayo silahkan masuk” kata So Eun mempersilahkan. Geun Young beserta keluarga kecilnya pun mengikuti langkah So Eun yang menuntun mereka untuk duduk di sebuah kursi ruang tamu

“Yoo Bin-ah” panggil So Eun. Tak lama datanglah seorang gadis kecil yang sangat imut itu

“iya eomma” balas Yoo Bin dengan imutnya

“apakah appa sudah selesai mandi?” tanya So Eun

“sudah eomma” jawab Yoo Bin

“tolong panggilkan appa, bilang padanya bahwa ada tamu” pesan So Eun pada Yoo Bin

“ne” jawab Yoo Bin lalu segera memanggilkan Kim Bum yang sepertinya sedang berganti pakaian

“itu anak kalian?” tanya Geun Young dengan ramahnya

“hm…n..ne itu anak kami” jawab So Eun dengan gugup. Ia sungguh tidak menyangka, karena sudah beberapa tahun terakhir ia tidak melihat batang hidung Geun Young

“ada siapa so..Noona?!” kejut Kim Bum

“annyeong bum-ah, apa kabarmu?” tanya Geun Young

“kabarku baik” jawab Kim Bum sambil duduk disamping So Eun diikuti dengan Yoo Bin

“eomma… aku mau itu” tunjuk seorang anak laki-laki yang tadi datang bersama Geun Young. Ia terlihat menunjuk cokelat yang sedang dimakan Yoo Bin

“oh.. kau mau ini.. baiklah.. tunggu sebentar yaaa” kata So Eun, ia bergegas ke dapur untuk mengambil cokelat itu. tak berapa lama, ia sudah kembali dengan setoples cokelat bermacam bentuk itu

“ini silahkan” kata So Eun dengan manisnya. Anak bernama Mason itupun mengambil beberapa buah cokelat

“dia memanggilmu eomma?” tanya Kim Bum tak percaya

“ne, dia adalah anakku. Namanya Mason Moon. Dan dia adalah suamiku, namanya Moon Joo Won” kata Geun Young

“manna bangapseumnida” sapa Joo Won

“nado manna bangawoyo” balas So Eun dan Kim Bum

“ah eonni.. hubungan kita terakhir bertemu tidak begitu baik. Kita tak saling bertukar kabar, dan kau menghilang begitu saja. Bahkan semua fans mu tidak tau kemana kau pergi. Ini sangat mengejutkan bagiku, kau datang bersama anak dan suamimu” ucap So Eun

“ne, setelah kejadian itu aku memutuskan untuk pindah ke Inggris bersama paman dan bibi ku. Dan disana aku menjalankan hidup seperti orang biasa saja, aku bekerja sebagai manager di suatu perusahaan pertambangan. Dan disanalah aku bertemu dengan suamiku ini. setelah itu kami berpacaran dan kemudian menikah” cerita Geun Young

“ngomong-ngomong, kapan kalian menikah?” tanya Geun Young

“ditahun yang sama dengan perginya kau” jawab Kim Bum

“wahh rupanya kau berpesta saat aku pergi” ucap Geun Young pura-pura marah

“hahaha.. tidak seperti itu eonni” jawab So Eun

“apa kalian mempunyai rencana untuk hari ini?” tanya Joo Won

“sebenarnya nanti sore kami akan ke rumah Soo Jin eonni, dia baru saja melahirkan anak keduanya” jawab So Eun. sementara Joo Won kebingungnan memikirkan siapa itu Soo Jin

“Soo Jin, manager Park maksudmu?” ucap Geun Young tak percaya

“ne” jawab So Eun

“woa.. dia sudah memiliki dua anak ternyata” gumam Geun Young tak percaya

“oh ya, apa kalian sudah sarapan?” tanya So Eun

“belum, dari bandara kami langsung kesini” jawab Joo Won

“baiklah, kalau begitu ayo kita sarapan bersama” ajak So Eun

~~~

Malam harinya, Kim Bum, So Eun, Geun Young, dan Joo Won sedang menonton Yoo Bin dan Mason yang sedang asik bermain kejar-kejaran sambil memegang kembang api di taman belakang rumah kimbum. Ya, Geun Young, Joo Won, dan Mason memutuskan untuk menginap di rumah Kim Bum malam ini

“mereka terlihat bahagia sekali” gumam So Eun sambil memandang pemandangan membahagiakan itu

“ne, itulah nikmatnya menjadi anak-anak. Mereka bebas mengekspresikan apa yang mereka ingin lakukan. Mereka berlari tanpa memikirkan akan terjatuh. Mereka bermain api tanpa memikirkan akan terbakar. Sangat berbeda dengan orang dewasa yang selalu terbebani” kata Kim Bum sambil merangkul So Eun

“hanya dua orang anak yang sedang berlarian sambil tertawa. Entah mengapa hanya dengan hal sederhana itu bisa membuat hatiku merasa sangat tenang” kata Geun Young sambil menyandarkan kepalanya di bahu Joo Won

“satu kali tawanya, itu seperti menambahkan 10 menit waktu hidupku” sambung Joo Won sambil merangkul pinggang Geun Young

“tak kusangka, dulu hubungan kita sangatlah rumit. Tapi sekarang semuanya terasa indah” ucap Kim Bum sambil mengelus kepala So Eun

“Tuhan memang selalu mempunyai rencana yang terbaik untuk umatnya” sahut So Eun. Mereka masih memandang Yoo Bin dan Mason yang tampak semakin akrab.

THE END

Gimana?? Maaf yaa kalo endingnya kurang memuaskan. Maaf kalo banyak typo, alurnya ga jelas. Oh yaa.. maaf juga kalo kata-katanya kaku, maklum udah lama ga nulis -_-
oke… makasih bagi yang udah mau baca sampe akhir, dan bagi yang merasa orang bertanggung jawab, tolong tinggalin jejak yaa…  Gomawo ~~ :*

 

 

Secret Of Love Part 8

Secret Of Love

Part 8

cats

Author                       : Kim Sang Eun

Main Cast                 : Kim Sang Bum dan Kim So Eun

Cast                            : Goo Hye Sun, Lee Min Ho, Kim Hyun Joong, Kim Joon, Jessica, Suzy, Eun Jung, Kim Soo Hyun, Park Jiyeon, Yoo Seungho, Yoo Ah In, Kim Jo Kwang (fiction), Elisha Melville (fiction), William Ville Kim / Kim Woon Ha (fiction)

Genre                         : Romance, Friendly, #yahh tentuin sendiri lah#

Type                           : Chaptered

PENTING!!! : karakter yang ada dalam ff ini, semuanya bukan milik author. Mereka milik keluarga, agensi, dan fans masing – masing. Disini author hanya meminjam saja. Bila ada kesamaan judul, jalan cerita, pemain, dsb, itu merupakan sebuah ketidak sengajaan. Tidak ada maksud untuk meniru (plagiat-kan) karya orang lain.

Annyeong readers :D
Part 8 nya dateeenggg :) Berharap semua readers suka..
jangan lupa tinggalin jejak, Arrasso??!! ;)

dari pada banyak abcdefghijklmnopqrstuvwxyz, mending langsung aja yaa :D
happy reading ****

¤¤¤

Jessica dan Jiyeon adalah teman. Teman sebelum Jessica di adopsi oleh keluarga Jung Yo Bin. Dulunya, Jessica dan Jiyeon adalah teman karena rumah mereka yang berdekatan. Ibu Jessica adalah seorang pedagang baso ikan sedangkan ayahnya adalah seorang pengantar koran dan susu. Pada suatu hari, mobil Jung Yobin secara tidak sengaja menabrak ayah Jessica, Jung Won Jae yang sedang mengantar susu. Sebagai rasa tanggung jawabnya, keluarga Jung Yobin mengadopsi Jessica yang saat itu bernama Jung Soo Yeon. Awalnya Jessica menolak, namun sang ibu terus membujuk Jessica. Ibu Jessica, Ha Yomin tau jika Jessica sangat ingin bersekolah di luar negeri, Yomin berpikir ini adalah jalan yang Tuhan berikan untuk mewujudkan mimpi Jessica. Namun sekarang semua itu jauh meleset. Semenjak diadopsi, Jessica tidak pernah menengok ibunya di rumah lamanya, bahkan saat natal pun Jessica tidak datang untuk merayakan natal bersama ibu kandungnya. Setiap orang lain bertanya ‘mengapa soo yeon tidak pernah menjengukmu?’ ibu Jessica selalu menjawab jika Jessica sedang sekolah di luar negeri, jadi Jessica tidak bisa menghubunginya, namun Jessica masih suka meneleponnya saat malam hari. walaupun di dalam lubuk hatinya, ibu Jessica juga bertanya-tanya mengapa Jessica tidak menjenguknya sama sekali??

Part 8

Kim Bum sedang memakan sarapannya bersama dengan ayah, paman, bibi serta sepupunya.

“kalian akan tinggal disini selama berapa lama?” tanya ayah Kim Bum pada paman Kim Bum

“mungkin sekitar 2 minggu” jawab paman Kim Bum

“kau keberatan?” tanya bibi Kim Bum

“tentu tidak. Aku senang kalian disini, berarti kalian bisa menemani Kim Bum disaat aku kerja. Aku tidak akan mengijinkan Kim Bum untuk tinggal di apartemennya selama kondisinya belum benar-benar pulih” balas ayah Kim Bum

“aku bisa meminta So Eun dan Hyun Joong untuk menemaniku” sahut Kim Bum

“ayah tau, tapi mereka tidak bisa memantaumu selama 24 jam” jawab ayah Kim Bum

“aku akan menemanimu hyung” celetuk William

“kau ingin menemaniku atau mendekati So Eun?” cibir Kim Bum

“kau ini, menjadi sensitif sekali pada Willy” ucap paman Kim Bum sambil mengelus kepala anak semata wayangnya

“bagaimana tidak, sekarang dia menjadi sebuah ancaman” balas Kim Bum. sementara yang lainnya hanya tertawa mendengar ucapan Kim Bum.

###

Hari ini So Eun pergi ke sekolahnya seperti biasa. Setelah meletakkan tasnya di loker, So Eun segera pergi ke ruang FB4 karena tadi Hyun Joong sudah mengirim pesan kepada So Eun untuk segera ke ruang FB4 setelah sampai sekolah.

“annyeong! Na wasseo” kata So Eun

“kau datang siang sekali” kata Kim Joon

“mianhae, tadi Soo Hyun oppa bangunnya terlambat” jawab So Eun. sekarang Kim Joon dan Min Ho sudah tau jika Soo Hyun adalah kakak So Eun, bukan kekasihnya.

“kemarin kau ikut menjemput Kim Bum di bandara?” tanya Min Ho

“ne” jawab So Eun sambil duduk di samping Hyun Joong

“bagaimana keadaannya?” tanya Hyun Joong

“syukurlah, dia baik-baik saja. Hanya saja, kalau berjalan dia harus di papah atau tidak dia harus menggunakan tongkat” kata So Eun

“oh ya, Hye Sun, aku minta maaf padamu tentang kejadian waktu itu. aku benar-benar diluar kendali” lanjutnya dengan penuh penyesalan

“aku bisa mengerti. Kau pernah seperti ini sebelumnya, dan seharusnya waktu itu aku tidak berkata seperti itu karena aku tau respon darimu akan seperti apa” kata Hye Sun

“dia akan tinggal di korea?” tanya Min Ho pada So Eun

“Jo Kyung ahjussi bilang bahwa Kim Bum akan tinggal di korea sampai kondisinya benar-benar pulih” jawab So Eun dengan senyumannya

“lalu bagaimana dengan sekolahnya? Bukankah itu akan dimulai bulan depan?” tanya Kim Joon

“entahlah, aku belum bertanya tentang itu” jawab So Eun

“bagaimana jika nanti kita menjenguknya?” usul Hyun Joong

“ide bagus” sahut Min Ho dan yang lainnya pun menyetujui

¤¤¤

Sepulang sekolah, FB3, Hye Sun, serta So Eun pun mengunjungi Kim Bum di rumahnya. Mereka membawakan beberapa bingkisan untuk Kim Bum.

Ting nong ting nong *bel ceritanya*

“tunggu sebentar” teriak seseorang dari dalam rumah Kim Bum setelah So Eun menekan belnya. Kemudian pagar rumahpun terbuka, mereka segera masuk ke rumah Kim Bum yang megah itu.

“annyeong haseyo” sama So Eun ketika masuk ke dalam rumah Kim Bum

“nuna” girang William sambil menghampiri So Eun. Hye Sun merasa heran mendapati seorang anak kecil di rumah Kim Bum. Namun tidak dengan Hyun Joong, Min Ho, dan Kim Joon.

“nuguya?” bisik Hye Sun pada Min Ho

“William, anak dari pamannya Kim Bum” balas Min Ho dengan suara yang tak kalah pelan

“oh kalian, silahkan masuk” bibi Kim Bum segera mempersilahkan FB4, Hye Sun, dan So Eun untuk masuk.

“Kim Bum ada di kamarnya, aku akan membuatkan minum untuk kalian” kata bibi Kim Bum

“gamsahamnida” ucap Hye Sun. Lalu FB3, Hye Sun, So Eun dan diikuti William menghampiri Kim Bum yang ada di kamarnya.

Tok-tok-tok

“masuk saja, tidak dikunci” balas Kim Bum dari dalam kamarnya

“bum-ah” panggil So Eun sambil membuka pintu kamar Kim Bum lalu masuk ke kamar Kim Bum diikuti yang lainnya

“So Eun-ah” balas Kim Bum dengan senangnya

“heii mengapa kau ikut kekamarku, hah?!” ucap Kim Bum pada William yang terlihat menggandeng tangan So Eun

“tak apa” jawab William dengan tatapan santai

“kau sedang apa?” tanya Hyun Joong sambil duduk di sofa dekat pintu kamar mandi

“hanya menonton televisi saja” jawab Kim Bum

“kenapa hanya duduk di kasur saja? Oh..ya..yaa aku baru mengingat, kau tidak bisa berjalan” canda Hyun Joong

“yya! Kau ini, aku bisa berjalan, hanya saja butuh bantuan” balas Kim Bum

“kau ini, baru sebentar disana sudah celaka. Bagaimana jika sudah 2 tahun disana? bisa-bisa kau pulang tinggal nama” ucap Min Ho yang mendapat tatapan tajam dari yang lainnya

“ne? Kau mendo’akan aku mati, hah!” ucap Kim Bum dengan sedikit kesal. Lalu ia menatap Min Ho, Kim Joon dan Hye Sun dari atas sampai bawah

“apa? Melihatku seperti itu?” tanya Min Ho yang merasa risih diperhatikan seperti itu

“kalian…..nuguya?” tanya Kim Bum. Semuanya memandang Kim Bum dengan terkejut

“kau…Kim Bum…kau…tidak tau mereka?” ucap So Eun dengan heran. Kim Bum menggeleng

“yya! Bercandamu lucu sekali” timpal Kim Joon sambil menoyol jidat Kim Bum dengan jari telunjuknya

“issh.. kau ini apa-apaan” kesal Kim Bum sambil menyingkirkan jari telunjuk Kim Joon dari jidatnya

“aku sungguh-sungguh. Kalian siapa?! Kenapa kalian ke kamarku,hah?!” tanya Kim Bum dengan wajah kesal

“kenal saja tidak, sudah menoyol kepalaku saja. Bahkan mendo’akan aku mati. Kalau kakiku baik-baik saja, akan kulempar mereka berdua kelantai dasar” gerutu Kim Bum

“Kim Bum, kau tau aku?” tanya Hyun Joong sambil menunjuk didirnya sendiri

“tentu, kau Kim Hyun Joong” jawab Kim Bum yang amarahnya mulai mereda

“siapa nama ayahmu?” tanya Min Ho

“Kim Jo Kyung. Ah, kalian seperti dokter yang di Berlin” sahut Kim Bum

“kau benar-benar tidak ingat mereka?” tanya So Eun

“untuk apa aku berbohong? Aku tidak tau siapa mereka” jawab Kim Bum

“aku? Kau tidak ingat aku? Aku temannya So Eun, kau ingat?” tanya Hye Sun. Kim Bum terlihat berfikir

“temannya So Eun yang mana? Aku tidak tau siapa kau” ucap Kim Bum

“kau ingat…..Jung Eun Ji?” tanya Kim Joon dengan hati-hati

“ingat” jawab Kim Bum

“giliran wanita saja dia ingat” umpat Kim Joon

“bagaimana bisa kau ingat dengan wanita jahat itu namun kau tidak ingat dengan pria baik sepertiku?” protes Min Ho

“pria baik? Aku tidak mengenalmu, tapi aku yakin kau ini pria menyebalkan. Baru sekali bertemu saja sudah mendoakanku mati” ucap Kim Bum dengan sewot. Kemudian Hyun Joong pun menengahkan keduanya dengan sebuah pertanyaan untuk Kim Bum

“dimana Jung Eun Ji sekarang?” tanya Hyun Joong

“Vancouver, Kanada” jawab Kim Bum

“ada yang tidak beres” gumam Hyun Joong

“kau ingat aku hyung?” tanya William. Sementara Kim Bum tidak menjawabnya dan  hanya mengendus kesal

“kau ingat ibumu? Kau ingat adikmu? Pria yang merebut ibumu? Kau ingat tentang perceraian kedua orang tuamu? Kau ingat dimana pertama kali kau bertemu So Eun? kau ingat dengan kakaknya So Eun?” Kim Joon begitu heran dengan daya ingat Kim Bum. dia terus menghujani Kim Bum dengan berbagai pertanyaan. Sementara Kim Bum, ia terlihat berpikir keras, ia memegangi kepalanya, dan wajahnya terlihat menahan sakit.

“aku….aku….aku…tidak” lirih Kim Bum. ia merasakan rasa sakit yang amat sangat di kepalanya. Dan kemudian, iapun hilang kesadaran.

“Kim Bum! bum-ah, buka matamu” panik So Eun yang melihat Kim Bum tidak sadarkan diri. Hyun Joong yang hendak menenangkan So Eun kemudian ditahan oleh Hye Sun. Karena Hye Sun tau apa yang akan terjadi jika Hyun Joong menyuruh So Eun tenang disaat seperti ini

“hyung!” ucap William yang menepuk-nepuk tangan Kim Bum

“aku akan panggilkan paman Kim Bum” ucap Kim Joon

“yya! Bum-ah, kau kenapa? Bangunlah” kata So Eun sambil memangku kepala Kim Bum dipahanya

“So Eun, Kim Bum tidak apa-apa. Sebentar lagi dia akan bangun” ucap Hyun Joong dengan perlahan

¤¤¤

Jessica sedang berjalan di sebuah jalanan sempit. Terlihat bahwa disana bukanlah pemukiman mewah, itu hanya sebuah pemukiman sederhana. Ia terus melangkahkan kakinya sambil menutupi separuh wajahnya dengan masker. Ia juga menggunakan topi dan kacamata layaknya seorang selebriti yang menghindari paparazzi. Kemudian langkahnya berhenti di sebuah rumah yang ukurannya bisa dibilang kecil. Kemudian iapun masuk ke rumah itu.

“Soo Yeon” panggil seorang wanita paruh baya saat melihat Jessica masuk kedalam rumah kecil miliknya

“akhirnya kau kesini juga, ibu sudah menunggumu sejak lama” kata wanita paruh baya itu lalu memeluk Jessica. Dengan kasar, Jessica segera melepaskan pelukan ibu itu.

“aku kesini hanya untuk mengingatkanmu. Jangan pernah katakan pada orang-orang jika aku ini adalah anakmu. Sekarang, aku adalah anak dari pemilik Starlight Corp Jung Yobin dan Lee Sung Mi. Aku bukan anak dari Ha Yo Min dan Jung Won Jae. Jadi, jangan pernah katakan pada orang lain jika aku ini anakmu. Katakan saja jika kau ini tidak memiliki anak. Dan satu lagi, jika bertemuku lagi, bertingkahlah seakan kita tidak pernah saling kenal sebelumnya. Sungguh, sebenarnya aku tidak ingin bertemu denganmu lagi” kata Jessica lalu keluar dari rumah yang dianggapnya sangat jelek itu. Ha Yo Min terpaku sejenak mendengar perkataan Jessica. Kemudiaan iapun mengejar Jessica.

“Soo Yeon, tunggu” kata Yo Min sambil menahan tangan Jessica

“NAMAKU JESSICA BUKAN SOO YEON!!” teriak Jessica sambil menghempaskan tangan Yo Min yang menahan tangannya

“aku ibu kandungmu. Seorang wanita yang mengandungumu selama 9 bulan, teganya kau bicara seperti itu padaku” ucap Yo Min yang sebenarnya adalah ibu kandung Jessica. Ia sudah tidak bisa menahan air matanya lagi

“aku tidak pernah memintamu untuk mengandungku selama 9 bulan,  jika kau keberatan seharusnya saat itu kau gugurkan saja aku” balas Jessica sambil menatap ibunya tajam. Sungguh, benar-benar anak yang durhaka

“ya Tuhan, setan jahat apa yang merasuki dirimu? Apa mereka tak memberikan pendidikan yang cukup untukmu sehingga kau menjadi seperti ini, hah?!” ucap ibu kandung Jessica dengan air mata yang sudah berlalu lalang di pipinya

“mereka memberikan semua yang aku butuhkan dan aku inginkan. Mereka memenuhi itu semua. Tidak seperti kau yang hanya bisa membuatku menderita” ucap Jessica

“Soo Yeon, apa yang kau ucapkan? Mengapa hatimu menjadi beku seperti ini? kemana Soo Yeon-ku yang selalu menghormati orang tua? Aku ibumu Soo Yeon!” ucap ibu kandung Jessica. Hatinya begitu terasa sakit melihat Jessica bersikap seperti itu padanya.

“dengar sekali lagi! Ibuku Lee Sung Mi, bukan Ha Yo Min. DENGAR ITU WANITA TUA!!!” teriak Jessica lalu pergi meninggalkan ibunya yang sudah menangis.

“Soo Yeon-ah!! Soo Yeon-ah!!” teriak sang ibu

“mengapa sekarang kau jadi seperti itu Soo Yeon” tangis sang ibu. Hatinya benar-benar terasa sakit. Rasanya sakit sekali. Bahkan rasa sakit ini terasa jauh lebih sakit daripada ketika ia kehilangan suami tercintanya.

¤¤¤

“bagaimana keadaannya dokter?” tanya So Eun yang sudah mulai bisa tenang

“sebelumnya, saya tanya kepada kalian” ucap dokter Yoo yang merupakan dokter pribadi keluarga Kim Bum

“apakah kalian termasuk dalam golongan orang yang Kim Bum benci, suka, atau sebagainya?” tanya dokter kim pada Min Ho, Kim Joon, dan Hye Sun

“kami berteman biasa saja dengannya. Tidak ada konflik apapun padanya” jawab Kim Joon

“apakah ada orang yang berteman biasa dengannnya namun bisa dia ingat?” tanya dokter Yoo

“aku” jawab Hyun Joong

“ohh begitu… aku rasa dia terkena penyakit amnesia disosiatif. Mungkin ini adalah akibat dari benturan saat kecelakaan” jelas dokter Yoo

“amnesia disosiatif?” paman Kim Bum menyiritkan keningnya

“ne, penderita amnesia disosiatif hanya hilang ingatan pada hal tertentu. Ini juga bisa disebut sebagai amnesia psikogenik. Namun ini hal yang aneh, biasanya penderita akan tidak mengingat satu kelompok. Misalnya satu kelompok orang yang ia benci. Namun, disini Kim Bum mengingat satu orang dari temannya” terang dokter Yoo

“apa ini sama seperti penyakit demensia?” tanya Kim Joon yang memang awam tentang hal seperti ini

“tentu tidak. Demensia bukanlah sebuah penyakit. Orang yang terkena demensia akan ingat kembali jika di ingatkan. Sedangkan penderita amnesia tidak. Jika terus diingatkan maka akibatnya akan seperti ini. Dia akan pingsan” jawab dokter Yoo

“Oh ya, apa hal lain yang tidak dia ingat?” tanya dokter Yoo

“sampai saat ini hanya itu yang aku temui dok” jawab So Eun

“bagaimana caranya supaya Kim Bum bisa mengingat semuanya lagi?” tanya bibi Kim Bum yang juga cemas

“harus perlahan, tidak boleh langsung menyerangnya dengan berbagai penjelasan. Karena itu akan membuat pikirannya menjadi berat dan bisa bertambah buruk. Misalnya, yang tadinya ia mengingat nona So Eun, setelah pikirannya dipaksakan, ia menjadi tidak mengingat nona So Eun lagi. Jadi, saya sarankan agar kalian bisa membimbingnya dengan sabar. Jika dia tidak bisa menjawab pertanyaan yang kalian berikan, sebaiknya kalian tidak menanyakan hal itu kembali padanya” saran dokter Yoo

“baiklah dokter, saya mengerti” ucap bibi Kim Bum

“ya sudah, saya permisi” kata dokter Yoo sambil melangkah keluar

“mari saya antar sampai depan” ucap paman Kim Bum lalu menyusul dokter Yoo

“huhh…kalau dia belum sadar sampai ayahnya pulang nanti, pasti kita akan kena marah” ucap bibi Kim Bum sambil duduk di lantai lalu menidurkan kepalanya pada pinggir ranjang Kim Bum

“ne, Hye Sun-ah, sebelum kita kena marah, lebih baik sekarang kita pulang” kata Min Ho yang mendapatkan sebuah pukulan dari Hyun Joong

“hyung.. kenapa tidur lagi?” ucap William yang ikut berbaring di samping Kim Bum

“bangunlah bum-ah. Kalau kau tidak bangun, kami akan dimarahi ayahmu. Apa kau tidak kasihan pada kami?” kata So Eun sambil mengusap lebut kepala Kim Bum. wajahnya terlihat sangat lesu. Ia mencoba untuk tidak menangis dan tidak berpikiran negatif.

“aku minta maaf, aku tahu. Dia pingsan karena aku” ucap Kim Joon

“lupakanlah” sahut bibi Kim Bum

¤¤¤

Semua pekerjaan Soo Hyun untuk hari ini sudah selesai. Waktu masih menunjukkan pukul 5.30 KST. Ia segera melangkahkan kakinya ke cafetaria untuk sekedar minum Capuccino. Kemudian iapun menghubungi So Eun.

“yobeseyo” ucap So Eun disebrang sana

“So Eun-ah, kau sudah di rumah?” tanya Soo Hyun

“aniyo. Aku di rumah Kim Bum” jawab So Eun

“dirumah Kim Bum? Sekarang aku sudah pulang, kau mau aku bawakan apa?” tanya Soo Hyun

“oppa… bolehkah untuk malam ini aku menginap di rumah Kim Bum?” tanya So Eun dengan hati-hati

“mwo?! Kau ini apa-apaan?! Kau itu perempuan mana mungkin menginap di rumah laki-laki. Apa yang akan orang lain katakan jika mengetahui hal ini, hah?!” ucap Soo Hyun dengan wajah sedikit emosi

“oppa.. Kim Bum sedang sakit. Dia menderita amnesia disosiatif. Aku ingin selalu ada di sampingnya, aku takut dia akan lupa padaku, oppa.. lagipula disini juga ada bibi dan pamannya. Ayolah oppa, kali ini saja” mohon So Eun

“bagaimana jika dia berbuat diluar batas padamu?” tanya Soo Hyun

“aigoo…oppa… itu tidak akan terjadi. Kumohon oppa.. kali ini saja” So Eun terus memohon

“kau bisa menjamin?” tanya Soo Hyun

“ya aku jamin” jawab So Eun

“baiklah, untuk kali ini saja aku mengijinkan” ucap Soo Hyun

“oppajjang!! Gomawoyo” balas So Eun dengan senangnya. Kemudian ia memutuskan sambungan teleponnya.

“mengijinkan untuk apa?” tanya seseorang di belakang Soo Hyun. Soo Hyun pun menoleh ke belakangnya

“annyeong, kau sendirian?” tanya orang itu yang tak lain adalah Suzy, kemudian ia duduk di depan Soo Hyun

“apa yang kau lakukan disini?” tanya Suzy dengan manisnya

“hanya bersantai” jawab Soo Hyun seadanya

“bersantai?? Memangnya semua pekerjaanmu sudah selesai, hah?” cibir Suzy

“kalau belum tidak mungkin aku bersantai, aku bukan tipe orang seperti itu” kata Soo Hyun

“kalau sudah selesai semuanya mengapa tidak langsung pulang?” tanya Suzy

“geurae, aku akan pulang” ucap Soo Hyun lalu berdiri dan melangkahkan kakinya

“yya!” teriak Suzy, Soo Hyun menghentikan langkahnya lalu menghampiri Suzy

“oh ya, seharusnya kau memberi salam padaku dengan mengucapkan ‘annyeong haseyo’ bukan hanya ‘annyeong’. Walaupun kau adalah anak pemilik perusahaan ini, tapi kau tetap harus menghormatiku karena aku lebih tua darimu. Aku yakin orang tuamu pasti mengajari hal itu padamu” ucap Soo Hyun lalu melenggang pergi.

“aku kan hanya berbasa-basi. Akh! Bae Suzy, kau salah kata-kata” gerutu Suzy sambil memukul kepalanya sendiri.

¤¤¤

Jam sudah menunjukkan pukul 5.45 pm. Namun, Kim Bum juga belum membuka matanya. Paman dan bibi Kim Bum sudah cemas, bukan hanya karena Kim Bum yang belum sadar, tapi juga karena sebentar lagi ayah Kim Bum pulang dari kantornya. So Eun masih setia di samping Kim Bum, ia terus memandangi wajah Kim Bum.

“bum-ah, ayolah bangun. Sebentar lagi ayahmu pulang, jika kau tidak segera bangun maka paman dan bibimu akan dimarahi habis-habisan oleh ayahmu. Apa kau tidak kasihan pada mereka” ucap So Eun sambil mengelus tangan kanan Kim Bum

“hyung, bangunlah. Apa kau tidak lelah tidur terus-menerus? Aku saja lelah” ucap William

“dia belum sadar juga” ucap bibi Kim Bum yang baru saja masuk ke kamar Kim Bum

“ini bisa gawat” ucap bibi Kim Bum lagi sambil duduk di pinggir ranjang Kim Bum

“So Eun, Hyun Joong, apa kalian akan tetap disini?” tanya bibi Kim Bum. disini hanya tinggal So Eun dan Hyun Joong, sementara Min Ho, Hye Sun, dan Kim Joon sudah pulang beberapa waktu lalu

“bibi, bolehkah aku menginap disini, untuk satu malam saja. Aku cemas akan keadaan Kim Bum” pinta So Eun

“aku juga, bolehkah aku menginap disini?” tanya Hyun Joong

“kalian ingin menginap disini?” ulang bibi Kim Bum. Hyun Joong dan So Eun mengangguk

“baiklah, aku akan senang sekali jika kalian ingin menginap disini” ucap bibi Kim Bum dengan senangnya.

“aku harap, kalian bisa membimbing Kim Bum untuk mengenal lingkungan sekitarnya lagi. Dia sangat butuh bantuan, aku yakin banyak hal-hal penting yang hilang” kata bibi Kim Bum sambil memandang Kim Bum yang masih memejamkan matanya

“itu pasti, aku akan selalu ada disampingnya. Aku akan membantunya untuk menemukan hal-hal yang hilang itu” balas So Eun

“dimulai dari teman sekitar. Aku akan mengingatkannya perlahan pada masa kanak-kanak kami. Siapa itu Min Ho, Kim Joon dan Hye Sun. Aku akan menjelaskannya secara perlahan” timpal Hyun Joong

“aku berterimakasih sebelumnya. Kim Bum sungguh beruntung, karena dia memiliki orang-orang seperti kalian” sahut bibi Kim Bum

“terutama Kim So Eun” kata Hyun Joong. So Eun dan bibi Kim Bum mengalihkan padangannya pada Hyun Joong

“yang ku tahu, sejak Jung Eun Ji meninggalkannya, perilakunya pada wanita sangatlah buruk. Dia sangat sering membuat wanita sakit hati, termasuk So Eun. Tapi entah hal baik apa yang dia lakukan sehingga bisa mendapatkan seorang Kim So Eun. Aku saja yang sering melakukan hal baik tak bisa mendapatkan hati So Eun” ucap Hyun Joong yang diselingi candanya

“kau jangan mengambil hatiku. Aku bisa mati jika hatiku kau ambil” canda So Eun. bibi Kim Bum hanya tertawa mendengar keduanya. Saat sedang bersenda gurau, tiba-tiba saja So Eun merasakan jika tangan Kim Bum yang berada di genggamannya bergerak. Ia segera menoleh ke Kim Bum, begitupun yang lainnya. Terlihat Kim Bum yang berusaha membuka matanya.

“bum-ah, kau sadar!”ucap So Eun

“so..soeun-ah” lirih Kim Bum sambil memegang kepalanya

“tiga orang aneh itu sudah pulang?” tanya Kim Bum yang memperhatikan bahwa Min Ho, Hye Sun, dan Kim Joon tidak ada dikamarnya

“ne” jawab So Eun dengan senyumnya

“heuh…baguslah” gumam Kim Bum sambil mendudukan tubuhnya lalu bersandar di kepala tempat tidur

“aku sudah sangat cemas karena kau tak kunjung sadar, padahal sebentar lagi adalah waktunya ayahmu pulang” kata bibi Kim Bum, sementara Kim Bum hanya membalasnya dengan senyuman

“malam ini aku akan menginap disini” ujar So Eun

“benarkah? Aku senang sekali” balas Kim Bum dengan senyum senangnya

“aku juga. aku akan menginap disini” sahut Hyun Joong

“benarkah? Aku tidak terlalu senang. Hahaha..” tawa Kim Bum diikuti dengan yang lainnya

“gawat! Gawat! Gawat!” ucap paman Kim Bum yang tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar Kim Bum

“gawat apanya?” tanya bibi Kim Bum

“Jo Kyung hyung! Dia sudah pulang, aku sudah mendengar suara mobilnya di depan” ucap paman Kim Bum dengan paniknya

“mwo?! Aigoo.. bagaimana ini” bibi Kim Bum ikut panik mendegarnya

“Kim Bum! Kim Bum, kau satu-satunya. Jangan katakan pada ayahmu jika kau sempat pingsan. Jebal…kalau tidak pasti ayahmu itu akan memarahiku. Ayolah.. aku mohon” ucap paman Kim Bum

“jika aku tidak mau?” jahil Kim Bum

“omo.. sejak kapan kau jahil seperti ini, ayolah.. apa kau tidak kasihan pada kami. Kata-kata ayahmu saat marah itu pedas sekali. Aku tidak kuat mendengarnya” pinta bibi Kim Bum

“ne..ne baiklah” ucap Kim Bum

“na wasseo!” ucap ayah Kim Bum

“itu dia!” ucap paman Kim Bum. So Eun, Hyun Joong, paman dan bibi Kim Bum pun langsung berpura-pura untuk tidak terjadi apa-apa

“bum-ah, ayo kau duduk” kata So Eun sambil membantu Kim Bum untuk duduk

“aaaa..appoo” bisik Kim Bum saat So Eun menarik kakinya terlalu kencang

“mian..sstt” ucap Kim Bum yang tak kalah pelannya

“kalian sedang apa?” tanya ayah Kim Bum yang ternyata sudah berada di kamar Kim Bum

“a..aa..anieyo. eobseo” ucap paman Kim Bum yang tersenyum tidak jelas

“Kim Bum, kau sudah baikan?” tanya ayah Kim Bum yang masih berdiri di depan pintu

“ne, aku baik-baik saja” balas Kim Bum

“baguslah” ucap ayah Kim Bum lalu berjalan keluar dari kamar Kim Bum.

“ini hal terkonyol yang pernah kulakukan” gumam Hyun Joong. Dari dalam kamar Kim Bum, terdengar suara William yang berteriak memanggil ayah Kim Bum. Kim Bum, So Eun, Hyun Joong, paman dan bibi Kim Bum mendengarkan dengan sesama.

“samcheon!!” panggil William sambil menghampiri ayah Kim Bum

“ada apa?” tanya ayah Kim Bum

“Kim Bum hyung! Dia pingsan lagi!” ucap William dengan polosnya. Sementara Kim Bum, So Eun, Hyun Joong, paman dan bibi Kim Bum yang mendengarnya langsung menepuk jidat. Ayah Kim Bum yang terlihat terkejut sekaligus kesal langsung menarik tangan William untuk mengikutinya ke kamar Kim Bum.

“permainan apa lagi ini, hah?!” tanya ayah Kim Bum sambil memandang Kim Bum, So Eun, Hyun Joong, paman dan bibi Kim Bum secara bergantian.

¤¤¤

Suzy, Jessica, dan Eunjung sedang berada di sebuah cafe. Mereka baru saja selesai shopping. Malam ini cuaca lumayan dingin, maka dari itu mereka memutuskan untuk meminum cokelat hangat di sebuah caffe.

“kalian tahu, tadi aku bertemu dengannya” ucap Suzy dengan senangnya

“dengannya? Siapa?” tanya eunjung sambil menggenggam cangkir berisi cokelat hangat itu

“kakaknya So Eun. Kim Soo Hyun, di cafetaria” ucap Suzy dengan sebuah senyum yang mengembang diwajahnya

“cih..jangan katakan kau suka dengannya” cibir eunjung

“apa salahnya?” tanya Suzy polos

“huft.. kau tau, dia itu kakaknya So Eun, So Eun itu orang miskin, itu berarti kakaknya juga orang miskin. Apa kau mau berhubungan dengan orang-orang miskin itu, hah?! Bisa-bisa hartamu habis dikeruk mereka” jelas eunjung

“aku yakin, dia bukan orang seperti itu” bela Suzy

“jika kau berpacaran dengannya, lalu menikah dengannya. Maka kau akan menjadi kakak ipar Kim So Eun, kau mau,hah?” tanya eunjung

“tapi kurasa aku benar-benar menyukainya” kata Suzy sambil menopang dagunya. Sementara eunjung hanya memutar bola mata mendengarnya

“tapi mengapa dia itu sulit untuk diraih. Kurasa aku sudah cukup cantik untuk menjadi kekasihnya” ucap Suzy sambil memainkan rambutnya

“mwo? Jadi kau benar-benar ingin menjadi kekasihnya?” ucap eunjung tak percaya

“kukira hanya sekedar suka kagum”umpatnya

“apa aku harus mendekati So Eun dulu untuk mendapatkan Soo Hyun” gumam Suzy

“jika kau ingin berteman dengan So Eun, kau berteman saja sendiri. Sana, bergabunglah dengan So Eun dan temannya itu. Aku dan Jessica tidak ikut-ikutan. Iyakan Jessica?” kata eunjung sambil memalingkan pandangannya ke Jessica. Sementara Jessica hanya diam, ia terlihat sedang melamun

“Jessica” panggil eunjung sambil menyenggol lengan Jessica. Jessica pun tersadar

“eh…mian, tadi kalian bilang apa?” tanya Jessica sambil tersenyum

“kau sedang ada masalah?” tanya Suzy tanpa menjawab pertanyaan Jessica

“a..anieyo. Aku baik-baik saja” jawab Jessica yang masih dengan senyumnya. Eunjung dan Suzy saling pandang ketika melihat ekspresi Jessica yang terlihat beda dari biasanya

¤¤¤

“jangan dipercaya, dia berbohong hyung” ucap paman Kim Bum

“tidak, anak kecil tidak mungkin berbohong” kekeh ayah Kim Bum

“geurae. Ayah, aku tidak berbohong. Bukankah tadi Kim Bum hyung benar-benar pingsan, dan ayah pun tau hal itu” ucap William, Hyun Joong hanya menundukkan kepalanya mendengar ucapan sepupu Kim Bum itu

“samcheon, kalau kau tidak percaya, kau tanyakan saja pada So Eun nuna dan Hyun Joong hyung. Atau sekalian saja, pada Kim Bum hyung” kata William sambil menunjuk So Eun, Kim Bum dan Hyun Joong

“apa yang dikatakan Willy itu benar, So Eun?” tanya ayah Kim Bum pada So Eun. sementara So Eun kebingungan menjawabnya. Ia memandang paman dan bibi Kim Bum bergantian. Wajah mereka terlihat cemas

“tidak ayah, Willy hanya berbohong. Dia berkata tanpa berpikir” ucap Kim Bum yang mencoba membantu So Eun

“hyung! Aku tidak bohong, paman kau tanyakan saja pada orang berbaju putih yang tadi memeriksa Kim Bum hyung” ucap William. Kim Bum, So Eun, Hyun Joong, paman, dan bibi Kim Bum kewalahan mendengar semua ucapan William yang tidak bisa diajak kompromi itu. ayah Kim Bum menatap semuanya dengan intens. Tak ada yang berani mengeluarkan sepatah katapun. Sampai akhirnya paman Kim Bum memberanikan diri untuk mengaku.

“baiklah hyung, tadi Kim Bum memang sempat pingsan” aku paman Kim Bum yang membuat semuanya terkejut. Belum ayah Kim Bum menanggapi, Kim Bum sudah berbicara duluan.

“tapi ayah, aku baik-baik saja. Tadi kepalaku memang sempat sakit, tapi itu bukan karena paman dan bibi. Itu karena tiga orang aneh yang tadi datang bersama So Eun dan Hyun Joong. jangan marahi mereka, mereka menjagaku dengan baik” ucap Kim Bum yang berusaha membela paman dan bibinya

“tiga orang aneh?” tanya ayah Kim Bum

“tadi Kim Joon, Min Ho, dan Hye Sun datang kesini” sahut Hyun Joong

“kenapa Kim Bum menyebutnya dengan orang aneh?” tanya ayah Kim Bum lagi

“tadi, dokter Yoo mengatakan bahwa Kim Bum menderita amnesia” jawab paman Kim Bum. ayah Kim Bum dan juga Kim Bum sontak menoleh ke paman Kim Bum

“amnesia disosiatif. Akibatnya, Kim Bum tidak bisa mengingat beberapa memorinya. Dokter Yoo bilang, biasanya penderita akan tidak mengingat sekelompok orang. Misalnya kelompokan orang yang dibenci ataupun sekelompok orang penting dalam hidupnya. Tapi pada Kim Bum, ini sedikit langka. Memori yang hilang bersifat random, karena Kim Bum bisa mengingat sebagian temannya” jelas paman Kim Bum

“jadi..aku menderita amnesia?” tanya Kim Bum. Paman Kim Bum mengangguk

“lalu, mengapa aku mengingat kalian?” tanya Kim Bum

“hanya beberapa memori yang hilang dari otakmu” jawab bibi Kim Bum

“bagaimana caraku supaya bisa mengingat semuanya kembali? Bagaimana jika ada hal-hal penting yang aku lupakan?” tanya Kim Bum dengan sedikit khawatir

“tenang saja, aku akan membimbingmu” ucap So Eun sambil mengelus punggung Kim Bum. Kim Bum pun tersenyum kepada So Eun

“bagaimana jika ia lupa pada ibunya? Apakah aku harus senang atau sedih? Lalu bagaimana dengan adiknya?” batin ayah Kim Bum

“Jo Kwang, Elisha, ada yang ingin aku bicarakan pada kalian. Ikut aku” ucap ayah Kim Bum lalu melenggang pergi

“ne” jawab paman dan bibi Kim Bum lalu mengikuti langkah kaki ayah Kim Bum

“apa yang ingin mereka bicarakan?” tanya Kim Bum

“molla” jawab So Eun. kemudian Kim Bum menoleh ke So Eun

“Willy, mengapa kau masih disini? Sana pergi” usir Kim Bum

“aku tidak mau” kata William yang sekarang membaringkan tubuhnya di samping Kim Bum. Kim Bum pun hanya mengabaikannya

“aku sangat bersyukur pada Tuhan, karena Tuhan masih mengijinkan aku untuk bisa mengingatmu” kata Kim Bum sambil tersenyum pada So Eun

“nado. Aku akan berusaha sebaik mungkin supaya kau bisa mengingat semuanya kembali” ucap So Eun sambil menata Kim Bum dengan penuh ketulusan

“gomawo” ucap Kim Bum. Baru saja ia ingin memeluk So Eun, namun ada saja gangguannya

“hoammm… sudah malam, dimana aku bisa tidur?” tanya Hyun Joong

“malam? BukankAh Ini masih jam 6.30. Kau sudah mengantuk?” tanya So Eun

“dia itu sebenarnya tidak mengantuk, dia hanya ingin menggagalkan pelukan kita saja” cibir Kim Bum. Hyun Joong kemudian melemparkan bantal ke kepala Kim Bum

“apa karena amnesia maka sifatmu juga berubah. Sejak kapan kau menjadi jahil sekali, hah” ucap Hyun Joong diselingi tawa

“jadi, dimana aku bisa tidur?” tanya Hyun Joong

“aku tidak tau, mungkin kau bisa tidur di kamar sebelah” jawab Kim Bum

“disebelah itu kamarku hyung” kata William

“apa masih ada kamar kosong, atau aku tidur disini saja bersamamu?” tanya Hyun Joong

“aku tidak tau ada berapa kamar di rumAh Ini, tapi yang jelas kau tidak bisa tidur disini karena disini sudah ada aku dan So Eun

“MWO?!” ucap Hyun Joong, So Eun, dan William berbarengan

“hyung! So Eun nuna tidur dikamarku” protes So Eun

“yya! So Eun itu kekasihku, jadi malam ini dia dikamarku” sahut Kim Bum

“itu tidak bisa, dia bukan istrimu. Kalau sudah jadi istrimu baru boleh” kata Hyun Joong yang ikut bicara. Sementara So Eun hanya bingung melihatnya, beberapa detik kemudian ia tersenyum melihat tiga lelaki yang terlihat memperebutkannya

“kau mau ikut-ikutan, hah?! Dia juga bukan istrimu, jadi tidak boleh bersamamu” kata Kim Bum sambil merangkul So Eun

“yya! Kalian kira So Eun barang? Supaya adil, malam ini So Eun tidur bersamaku” kata bibi Kim Bum yang ternyata sudah di depan pintu

“kalau begitu, aku tidur bersama ibu” kata William sambil menghampiri ibunya

“tidak. Kau tidur bersama ayahmu di kamarmu” kata bibi Kim Bum

“Hyun Joong, kau bisa tidur bersama Kim Bum disini” kata bibi Kim Bum sambil tersenyum

“baik bi” turut Hyun Joong

¤¤¤

Dikamar bibi Kim Bum…

Terlihat So Eun yang baru saja keluar dari kamar mandi.

“bibi belum tidur?” tanya So Eun sambil menyikap selimut lalu berbaring di samping bibi Kim Bum

“bibi menunggumu” jawab bibi Kim Bum

“menungguku?” heran So Eun

“ada yang ingin bibi katakan padamu” kata bibi Kim Bum sambil menatap So Eun dengan intens

TBC

Eottae? Makin GaJe?? Mianhae.. u,u  Bagi yang udah baca,jangan lupa tinggalin jejak OK ;)

 

Angan-Angan

LOVE STARTED FROM A TREASONLSFAT

Annyeong readers!!
Sebelumnya, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H untuk yang merayakannya ^^ minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.
Baru-baru ini, aku dapet ide baru ~~ niatnya sih pengen bikin OS, tapi gak tau deh ini akan jadi OS, TS atau Sequel. Ini teasernya :))

###

Kim So Eun

Gadis berusia 24 tahun ini bekerja di sebuah perusahaan terbesar kedua di Korea Selatan. Ia berasal dari Gimhae, Gyeongsang Selatan. So Eun memang sering tidak beruntuk dalam soal percintaan. Sejak awal bekerja, so eun sudah menyukai sang direktur, Jang Geun Suk. Namun suatu ketika so eun menemukan suatu hal yang membuatnya harus melupakan perasaannya pada Geun Suk. Disaat keterpurukannya itu, datanglah seorang lelaki yang merupakan rekan kerja so eun. Lelaki yang terkenal playboy itu datang untuk menenangkan so eun. Kemudian, so eun pun jatuh kedalam pelukannya. Tak berselang lama, so eun pun kembali sakit hati karena lelaki itu dan ia memutuskan untuk mengakhiri hubunganya dengan lelaki itu.

Kim Sang Bum

Ia merupakan seorang pewaris tunggal Golden Stars Hotel. Ia adalah anak kedua dari dua bersaudara. Ayahnya adalah pemilik Golden Stars Hotel dan ibunya merupakan seorang dokter yang juga pemilik Golden Stars Hospital. Kakak perempuannya bernama Kim Hyun Joo merupakan seorang direktur Golden Stars Hospital. ayahnya meminta kim bum untuk mengikuti jejak ayahnya, sedangkan sang kakak mengikuti jejak ibunya sebagai dokter. Kim bum adalah sosok pria yang hangat dan sangat menghargai perempuan. Ia memiliki seorang kekasih yang merupakan artis terkenal di Korea Selatan. Mereka sudah berpacaran selama 2 tahun dan sudah merencanakan sebuah pernikahan. Namun ternyata semua tak berjalan sesuai rencana, malam dimana kim bum ingin melamar sang kekasih, ia malah menemukan sang kekasih berciuman mesra dengan pria lain

Park Shin Hye

Ia juga merantau dari Gyeongsangnam. Ia dan so eun selalu bersama sejak SMA. Dan di kantornya pun ia mempunyai jabatan sebagai sekertaris Geun Suk. Dan posisi inilah yang sangat diinginkan oleh so eun. bukan karena gajinya yang besar, tetapi lebih karena bisa berdekatan dengan Geun Suk. So eun sangat iri pada Shin Hye. Sebenarnya Shin Hye juga menyukai Geun Suk. Namun, ia tak pernah menceritakannya kepada so eun karena ia tahu bahwa so eun sangat menyukai Geun Suk. Ia memendam perasaan itu sendiri, terkadang Shin Hye dibuat gerah karena ucapan so eun yang sering berangan-angan jika so eun dan Geun Suk menikah.

Jang Geun Suk

Dialah sang direktur yang sangat so eun sukai. So eun sangat menyukainya, namun tidak dengannya. Ia tidak pernah menyukai so eun. Ia menyukai temannya, Shin Hye. Suatu hari, So eun sangat marah ketika mengetahui hubungan Geun Suk dan Shin Hye.

Nickhun Buck Horvejkul

Pria Thailand yang tinggal di Korea ber-nickname Nickhun. Ia adalah assisten manager di perusahaan itu. Posisi yang sangat mustahil didapatkan oleh orang yang setiap harinya hanya bermain game di laptopnya. So eun dan Shin Hye pun heran, bagaimana bisa taecyeon mendapatkan jabatan sebagai assisten manager. Nickhun sangat terkenal sekali dengan rayuannya, ia sangat suka menggoda gadis-gadis di kantornya. So eun sering sekali pusing karena nickhun yang lebih sering menggoda gadis-gadis daripada menyelesaikan tugas-tugasnya. Dia pernah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih dengan so eun, namun sebenarnya ia tidak pernah mencintai so eun. ia hanya ingin bermain-main dengan so eun

Victoria Song

Gadis ini berdarah China. Namun sejak kecil, ia tinggal di Korea. Ia merintih karir sebagai artis di negri gingseng itu. 2 tahun terakhir, ia menjalin hubungan dengan seorang pria. Mereka sudah berpacaran semenjak Victoria belum memulai debutnya. Namun baru beberapa bulan menikmati udara sebagai seorang artis, Victoria mulai lupa dengan sosok sang kekasih yang selama ini menjadi penyemangat terbesarnya itu. Ia sudah jatuh hati pada teman lamanya.

Secret Of Love Part 7

Secret Of Love

Part 7

Author                       : Kim Sang Eun

Main Cast                 : Kim Sang Bum dan Kim So Eun

Cast                            : Goo Hye Sun, Lee Min Ho, Kim Hyun Joong, Kim Joon, Jessica, Suzy, Eun Jung, Kim Soo Hyun, Park Jiyeon, Yoo Seungho, Yoo Ah In, Kim Jo Kwang (fiction), Elisha Melville (fiction), William Ville Kim / Kim Woon Ha (fiction)

Genre                                    : Romance, Friendly, #yahh tentuin sendiri lah#

Type                           : Chaptered

PENTING!!! : karakter yang ada dalam ff ini, semuanya bukan milik author. Mereka milik keluarga, agensi, dan fans masing – masing. Disini author hanya meminjam saja. Bila ada kesamaan judul, jalan cerita, pemain, dsb, itu merupakan sebuah ketidak sengajaan. Tidak ada maksud untuk meniru (plagiat-kan) karya orang lain.

Annyeong readers :D
Part 7 nya dateeenggg :) Berharap semua readers suka..
jangan lupa tinggalin jejak, Arrasso??!! ;)

dari pada banyak abcdefghijklmnopqrstuvwxyz, mending langsung aja yaa :D
happy reading ****

###

Kim Bum melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hatinya kini terasa sesak setelah mengetahui bahwa Seungho adalah adik kandungnya. Ia merasa sangat bodoh karena tidak menyadari adanya keterkaitan antara dirinya dan Seungho, dari mulai bakat sampai sifat. Kim Bum melajukan mobilnya menuju bandara untuk terbang kembali ke Korea. Ia ingin membuktikannya sekarang juga, sebelum perkuliahannya disini dimulai. Kim Bum terlalu memikirkan pernyataan Ah In, sampai-sampai ia tidak menyadari adanya mobil dari arah berlawanan. Dan….

Brukkkkkkk….Duaaarrrr *halahhh suaranya gak karuan*

Terjadi sebuah ledakan kecil antara mobil Kim Bum dan mobil yang satunya. Percikan api mulai keluar dari mobil merah yang Kim Bum kendarai. Sementara Kim Bum yang pingsan karena kepalanya terbentur masih terjebak di dalam mobil. Masyarakat sekitar yang melihatnya merasa cemas sekaligus bingung. Mereka ingin menyelamatkan Kim Bum namun mereka tidak tau caranya karena percikan api kini sudah berubah menjadi api. Sementara korban yang satunya bisa meloloskan diri.

##

Soo Hyun sedang di ruang tengah untuk menonton televisi sementara So Eun sedang memasak makan siang untuk ia dan kakaknya. Saat sedang mengiris bawang, tanpa sengaja, jarinya teriris pisau. Sontak So Eun langsung berteriak

“aaaaaaa”teriak So Eun sambil melepas pisau yang ada di genggamannnya. Mendengar teriakan sang adik, Soo Hyun pun menghampirinya

“So Eun-ah, apa yang terjadi?” tanya Soo Hyun dengan wajah panik

“jari tanganku” kata So Eun sambil memegangi jarinya yang terus mengeluarkan darah

“omona, kenapa bisa begini” kata Soo Hyun lalu ia segera mengalirkan air pada jari So Eun. So Eun terlihat menahan sakit ketika air kran itu mengalir di permukaan jarinya yang terluka

“tunggu sebentar, aku akan mengambil obat merah dan perban” kata Soo Hyun. So Eun hanya mengangguk. Tak berapa lama, Soo Hyun sudah kembali ke dapur dengan obat merah dan perban yang ada di tangannya. Ia pun segera mengobati luka So Eun dengan obat merah dan membalutnya dengan perban.

“sudahlah, aku saja yang memasak” kata Soo Hyun dan mulai melepaskan apron yang So Eun kenakan. Namun sedetik kemudian So Eun menolaknya

“aniyo, ini hanya luka kecil. Aku masih bisa melanjutkan masak” kata So Eun

“jeongmal?” Soo Hyun memastikan. So Eun mengangguk

“baiklah, tapi hati-hati” kata Soo Hyun lalu mundur beberapa langkah membiarkan So Eun memasak kembali. Belum sampai 5 menit, sudah terjadi ‘insiden’ kecil lagi. Kali ini giliran lengan So Eun yang menjadi korbannya. Saat hendak memasukkan bumbu-bumbu kedalam wajan, tanpa diduga minyaknya terciprat hingga mengenai lengan So Eun. Soo Hyun yang masih belum keluar dapur pun segera menghampiri So Eun.

“ck.. sudah dibilang aku saja yang memasak” kata Soo Hyun. ia kembali mengaliri lengan So Eun yang terkena minyak dengan air kran. Itu dilakukan untuk mengurangi rasa panas sementara dan juga bisa mengurangi rasa perih saat diolesi salep nanti. Sementara So Eun masih terus menahan sakitnya.

“obatnya ada di kotak P3K, kau olesi lenganmu dengan salep berwarna kuning itu. biar aku saja yang memasak” kata Soo Hyun. So Eun pun menuruti ucapan Soo Hyun, ia memberikkan apron itu pada Soo Hyun lalu segera pergi dari dapur.

“sebenarnya ada apa dengan hari ini? kenapa terasa ganjil sekali. Perasaanku jadi tidak enak” batin So Eun

###

Seorang pria berusia sekitar 40 tahun-an sedang melintasi sebuah jalan di kota Berlin. Dari jauh, ia melihat adanya sedikit kepulan asap yang dikerumuni oleh warga sekitar dan membuat jalanan menjadi macet. Karena penasaran, akhirnya iapun memutuskan untuk meminggirkan mobilnya lalu menghampiri kerumunan itu.

“permisi nona, apa yang terjadi? Mengapa orang-orang berkerumun disana?” tanya pria paruh baya itu dengan bahasa Jerman yang sangat fasih

“disitu baru saja terjadi kecelakaan mobil” jawab seorang remaja putri dengan seragam SMA yang masih melekat di tubuhnya

“oh, terimakasih”balas pria paruh baya itu. kemudian ia mendekat ke lokasi kecelakaan. Dari jarak sekitar 12 m, ia sedikit terkejut ketika melihat mobil sport merah yang sama persis dengan mobil sport yang ia pinjamkan kepada keponakannya. Ia pun semakin mendekati mobil itu. Dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat plat nomor mobil itu.

“oh god. Kim Bum” gumamnya, ia segera berlari menghampiri mobil itu. Ia tak peduli dengan api kecil yang sudah mulai berkobaran. Ia segera membuka pintu kanan mobil itu. kerumunan orang-orang itu berteriak memberitahukan bahwa itu adalah hal yang berbahaya. Namun, pria paruh baya itu tidak menganggapnya. Yang ada di pikirannya hanyalah, ia harus menyelamatkan keponakan tersayangnya itu.

“bum-ah, Kim Bum-ah” kata pria itu yang tak lain adalah paman Kim Bum. ia menepuk-nepuk pipi Kim Bum. lalu ia segera menarik Kim Bum keluar dari mobil itu. ia menggeletakkan Kim Bum di jalan yang berjarak sekitar 7 m dari kerumunan orang-orang itu.

“Kim Bum-ah, Kim Bum” paman Kim Bum terlihat sangat panik

“kau mengenalnya?” tanya pemilik mobil yang bertabrakan dengan mobil Kim Bum

“ya, dia keponakanku” jawab paman Kim Bum

“tolong bantu aku untuk mengangkatnya ke mobilku”pinta paman Kim Bum pada orang itu

“ya” jawab orang itu. paman Kim Bum serta beberapa orang wargapun mengotong Kim Bum ke mobil pamannya

“oh ya, dimana pemilik mobil berwarna silver itu?”tanya paman Kim Bum

“aku pemilik mobil itu” ucap sang pemilik mobil dengan wajah agak ketakutan

“kau ikut aku” pinta paman Kim Bum

“ta..tapi, tapi aku…aku tidak bersalah” kata pemilik mobil itu

“tenang saja, aku hanya ingin kau menceritakan kejadian itu. Cepatlah, keponakanku butuh penanganan secepatnya” kata paman Kim Bum. akhirnya pemilik mobil silver itupun masuk kedalam mobil paman Kim Bum

Sesampainya di Berlin International Central Hospital, Kim Bum langsung dibawa ke ruang gawat darurat. Sementara paman Kim Bum baru saja selesai mendengar kronologis kejadian itu dari pemilik mobil silver yang diketahui bernama Giovick. Setelahnya, paman Kim Bum langsung menghubungi ayah Kim Bum di Korea.

“yobeseyo” jawab ayah Kim Bum

“yobeseyo, hyeong” balas paman Kim Bum

“ada apa kau meneleponku?” tanya ayah Kim Bum

“itu…itu…”paman Kim Bum begitu takut mengatakan bahwa Kim Bum kecelakaan. Karena ia tau bahwa ayah Kim Bum sangat menyayangi Kim Bum, bahkan ayah Kim Bum rela bila Kim Bum membencinya demi hati Kim Bum tetap terjaga dari rasa kecewa dan sakit hati.

“itu apa?” tanya ayah Kim Bum

“kim..kim.. bum” gugup paman Kim Bum

“kenapa dengan Kim Bum?” tanya ayah Kim Bum yang bingung

“Kim Bum kecelakaan” ucap paman Kim Bum

“m..mwo?! a..apa maksud..mu??” ayah Kim Bum begitu terkejut mendengarnya

“Kim Bum kecelakaan, sekarang ia sedang berada di rumah sakit. Ia masih di ruang UGD, dokter sedang menanganinya” ucap paman Kim Bum yang berusaha untuk tenang, walaupun dalam hatinya sangat gugup dan takut

“kenapa bisa begitu! Apa kau tidak menjaganya dengan baik, hah?! Hanya dia yang kumiliki!” ucap ayah Kim Bum yang terdengar marah

“hyung! Aku sudah mengira akan begini. Bisakah kau tidak menyalahkan aku? Bukan aku penyebabnya, sungguh aku juga tidak ingin hal ini terjadi padanya” ucap paman Kim Bum yang masih diselimuti rasa takut

“dia bertabrakan dengan sebuah mobil saat kembali dari mini market. Saat aku melihatnya, ia masih di dalam mobil dengan kap mobil yang terbakar. Lalu aku segera menghampirinya dan mengeluarkannya dari mobil lalu membawanya ke rumah sakit” jelas paman Kim Bum

“lalu sekarang keadaannya bagaimana?” tanya ayah Kim Bum yang sudah mulai sedikit tenang

“aku masih belum tahu, dia masih ditangani dokter. Aku baru saja selesai mendengar kronologis kejadian dari pemilik mobil yang juga terlibat dalam kecelakaan itu”jawab paman Kim Bum

“hubungi aku jika Kim Bum sudah sadar” kata ayah Kim Bum lalu segera memutuskan sambungan teleponnya. Sementara paman Kim Bum hanya menatap layar ponselnya sambil menghela nafas

“aigoo… Kim Bum… mengapa ini harus terjadi padamu” gumam paman Kim Bum

***

Paman Kim Bum bersama dengan istrinya, Elisha dan anaknya, William. Saat ini mereka bertiga sedang berada di ruang VIP Silverstrand nomor 7. Bibi Kim Bum terus saja menyatukan kedua tangannya sambil terus berdoa. Sementara paman Kim Bum hanya memandang Kim Bum dengan pandangan kosong. Dan William, ia terus menggenggam tangan kanan paman kesayangannya itu. walaupun usianya baru 5 tahun, namun ia sudah bisa mengerti hal-hal yang terjadi di sekitarnya.

hyeong… neoui nuni jeollieyo (kakak… bukalah matamu)” William memang sudah tidak asing lagi dengan bahasa korea. Kedua orang tuanya selalu berbicara menggunakan bahasa korea saat di dalam rumah

“bersabarlah willy” sahut paman Kim Bum *yang pasti ayahnya William* William merasakan sesuatu ditangannya. Ia melihat jari telunjuk Kim Bum yang mulai terangkat. Ia sangat senang sekaligus terkejut melihatnya.

“abeoji..eommani.. hyeongneun ireona” kata William dengan girangnya

“jeongmal?” ucap paman dan bibi Kim Bum yang langsung mendekat ke tempat Kim Bum berbaring. Terlihat Kim Bum yang mulai membuka matanya perlahan.

“Kim Bum… Kim Bum… kau sudah sadar” ucap paman Kim Bum dengan senangnya

“eodi..” lirih Kim Bum

“ i neun pyeongwon-e” jawab bibi Kim Bum

“jangan bicara terlalu banyak dulu” sambungnya

“aku akan panggilkan dokter untuk memeriksa kondisimu sekarang” kata paman Kim Bum lalu segera memanggilkan dokter ke ruang rawat Kim Bum

###

So Eun baru saja selesai bekerja dan saat ini sedang berjalan menuju halte. Walaupun ini hari libur, namun So Eun tetap harus bekerja karena caffe nya tidak tutup saat hari libur. Baru sekitar beberapa meter dari caffe, tiba-tiba ada 3 mobil yang memberhentikan langkahnya.

“mwoji?” So Eun bertanya-tanya. Lalu keluarlah seseorang dari mobil berwarna kuning, diikuti dengan mobil berwarna putih dan merah.

“So Eun-ssi” panggil namja yang keluar dari mobil berwarna kuning

“Kim Joon-ssi, ada apa?” tanya So Eun

“Kim Bum” ucap Hyun Joong dengan cemas

“Kim Bum? wae?” tanya So Eun

“kecelakaan” sahut Min Ho

m..mwo??! neo…neSo Eun (2)o marhae…mwo…mwoya?! (a..apa??! apa…apa…yang kamu…kamu katakan?!)” So Eun merasa seluruh tubuhnya disiram aspal panas hingga tak dapat bergerak lagi

“dia kecelakaan, bertabrakan dengan sebuah mobil hingga menyebabkan kap mobilnya terbakar. Saat ini dia sedang ditangani di Berlin International Central Hospital. kami mendapatkan info dari ayahnya” ucap Hye Sun pelan

“maldo andwae. Andwae! Kim Bum-ah…. Andwae!!!” So Eun langsung menangis histeris sampai-sampai orang-orang yang melintaspun menatap So Eun dengan heran . Negative thinking dari pikirannya tidak bisa dibersihkan untuk saat ini. Ia takut terjadi hal buruk pada Kim Bum. Ia terlalu mencintai Kim Bum.abrakan dengan sebuah mobil hingga menyebabkan kap mobilnya terbakar. Saat ini dia sedang ditangani di Berlin International Central Hospital. kami mendapatkan info dari ayahnya” ucap Hye Sun pelan

“So Eun-ah…. uljima…” kata Hye Sun yang mencoba menghampiri dan menenangkan So Eun

“mwo?! Uljima?! Disaat seperti ini kau menyuruhku untuk tidak menangis, hah?! Jika kau berada di posisiku, bisakah kau tidak menangis, hah?!” So Eun sudah mulai hilang kendali. Ia sudah tidak dapat mengontrol dirinya dengan baik. Hye Sun sendiri terlihat terkejut melihat So Eun seperti ini. Namun kemudian ia bisa mengerti. So Eun juga pernah seperti ini saat kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Tapi Kim Bum tidak meninggal, pikir Hye Sun. Min Ho menarik tangan Hye Sun untuk sedikit menjauh dari So Eun. Min Ho menatap Hye Sun dengan tatapan ‘kau-tak-apa-apa?’. Hye Sun yang mengerti pun menjawab

“ia juga pernah bersikap seperti ini padaku, ketika orang tuanya meninggal. Ini wajar saja” kata Hye Sun sambil tersenyum hambar. Hyun Joong yang menyadari So Eun sudah mulai kacau segera menghampiri So Eun.

“sekarang kita kerumah ayah Kim Bum, kita akan meminta kejelasan ceritanya” bisik Hyun Joong dengan lembut. Kemudian ia menuntun So Eun yang terus menangis hingga ke mobil. Dan merekapun menuju ke rumah ayah Kim Bum yang berada di daerah Gangnam.

###

“kondisinya saat ini sudah mulai membaik. Tapi tunggu..” dokter Karl menggantungkan ucapannya

“hmm…tuan, bisa kutanya.. siapa namamu?” tanya sang dokter dengan menggunakan bahasa Inggris, karena ia sudah diberitahu paman Kim Bum bahwa Kim Bum tidak bisa berbahasa Jerman.

“namaku? Namaku yaa Kim Bum, Kim Sang Bum” jawab Kim Bum sambil tersenyum

“lalu siapa orang ini dan siapa nama lengkapnya?” tanya dokter Karl sambil menunjuk bibi Kim Bum

“dia bibi ku, namanya Elisha Melville. Kenapa dokter bertanya seperti itu?” tanya Kim Bum heran

“anak ini, siapa dia dan siapa nama lengkapnya?” dokter Karl terus bertanya tanpa mengindahkan pertanyaan Kim Bum tadi

“dia sepupuku. Namanya William Ville Kim. Nama koreanya Kim Woon Ha” jawab Kim Bum

“dan ini?” tanya dokter sambil menunjuk paman Kim Bum

“dia pamanku, Kim Jo Kwang” jawab Kim Bum dengan intonasi yang masih lemah

“kau mengingat mereka semua?” tanya dokter Karl

“tentu saja” jawab Kim Bum

“kenapa bisa begitu” gumam dokter Karl

“apa?” tanya paman Kim Bum yang mendengar ucapan dokter Karl dengan samar

“ah tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengatakan bahwa kondisi tuan Kim Bum sudah sedikit membaik. Tulang kaki kanannya mengalami keretakan, jadi mungkin untuk beberapa waktu dia harus menggunakan kursi roda ataupun tongkat. Dia harus meminum obatnya dengan rutin supaya kondisinya semakin membaik lagi” kata dokter Karl

“oh begitu, baiklah. Akan aku sampaikan padanya” kata paman Kim Bum. lalu dokter Karl pun melangkah keluar dari ruang rawat Kim Bum

“paman.. apa yang dokter katakan?” tanya Kim Bum karena tadi dokter Karl mengucapakannya menggunakan bahasa Jerman

“kondisimu sudah mulai membaik. Tulang kaki kananmu retak, kau harus menggunakan kursi roda dan dia juga menyuruhmu untuk meminum obat secara rutin supaya kondisimu semakin membaik lagi”kata paman Kim Bum. Kim Bum hanya membalasnya dengan senyum sederhana.

###

Sekarang kim sedang berada di Bandara bersama dengan paman, bibi dan keponakannya. Mereka sedang menunggu keberangkatan pesawat Korea Airlines. Tiga hari lalu, tepatnya setelah ayah Kim Bum tahu bahwa Kim Bum sudah sadar, ayah kim langsung meminta Kim Bum untuk dipindahkan ke rumah sakit yang dikorea saja. Namun saat itu, dokter belum mengijinkan Kim Bum untuk terbang ke korea karena kondisinya yang baru sadar. Dokter baru mengijinkan Kim Bum untuk terbang hari ini karena saat ini kondisi Kim Bum sudah membaik. Walaupun saat ini Kim Bum masih harus menggunakan kursi roda.

“aku sungguh tidak sabar ingin bertemu dengan So Eun” kata Kim Bum sambil menatap fotonya dengan So Eun yang ada di ponselnya

“wahh… playboy sepertimu ternyata bisa mendapatkan cinta sejati juga” cibir bibi Kim Bum

“yya! Bibi, Tuhan sudah menentukan pasangan setiap orang di dunia ini. setiap orang pasti memiliki pasangan” balas Kim Bum. Sementara bibi Kim Bum hanya terkekeh mendengar ucapan keponakannya yang ‘baru’ mulai berfikiran dewasa ini.

“kau rindu pada kekasihmu. Apa kau tidak rindu dengan Jo Kyung hyung?” sahut paman Kim Bum

“tentu saja. Aku juga merindukan ayahku” kata Kim Bum

“oh ya, paman, tolong beritahu ayah. Katakan pada ayah, bahwa ayah hanya boleh mengajak So Eun. Tidak boleh membawa bodyguard-bodyguardnya itu” kata Kim Bum

“hanya So Eun? teman-temanmu yang lainnya?” tanya paman Kim Bum

“teman-temanku?” gumam Kim Bum dengan sangat pelan

“kenapa tidak kau katakan sendiri?” tanya bibi Kim Bum dengan nada meledek

“dia malu eommoni” celetuk William

“yya! Willy, apa yang kau katakan. Dasar anak kecil!” kata Kim Bum sambil mengacak-acak rambut cokelat tua William.

William, namanya memang terdengar seperti nama orang-orang Eropa. Namun jika hanya melihat wajahnya, sungguh tidak ada yang mengira jika ia memiliki nama asli yang merupakan nama Eropa. Parasnya sangat kental orang asia timur. Mata sipit dan kulit putih bersih. Hanya saja rambutnya tidak berwarna hitam pekat, melainkan kecokelatan. Begitupun dengan sang ibu Elisha Melville. Lahir dan besar di Berlin, namun wajahnya sangat oriental. Itu dikarenakan sang ibu yang asli korea.

###

Setelah beberapa jam di udara, akhirnya pesawat Korean Airlines yang di tumpangi Kim Bum, Jo Kwang, Elisha, dan William mendarat dengan selamat di bandara Incheon. Terlihat banyak orang yang tersenyum lucu menatap William yang terlihat kesusahan mendorong kursi roda yang tingginya hanya beda beberapa cm dengan tinggi badannya.

“aku bisa sendiri Willy” kata Kim Bum

aniya, nan isseoyo” ucap William yang terus memaksa. Sementara paman dan bibi Kim Bum yang terkekeh melihatnya.

Sampai akhirnya di ruang tunggu..

“So Eun-ah” panggil Kim Bum pada seorang gadis dengan mantel cream dan stocking dan rok berwarna hitam dipadukan dengan kaos berwarna putih. So Eun pun menoleh ke sumber suara. Terpancar sinar kebahagiaan dari mata So Eun. Tanpa membuang waktu, So Eun segera berlari menghampiri Kim Bum, ia menyamakan tingginya dengan Kim Bum yang duduk di kursi roda lalu segera memeluknya.

Kim So Eun (2)    “bum-ah” bisik So Eun yang mulai meneteskan air matanya karena bahagia. Ia sangat senang melihat Kim Bum kembali dengan selamat.

bogoshipeo” bisik Kim Bum

nado” balas So Eun. lalu ia melepaskan pelukannya

“uljima” kata Kim Bum sambil menatap So Eun

“nuna… uljima”  kata William yang dengan polosnya menghapus air mata di pipi So Eun. So Eun tersenyum mendengarnya, begitupun dengan yang lainnya.

“siapa namamu?” tanya So Eun

“namaku Woon Ha” jawab William

“Woon Ha? Siapa dia? Aku tidak mengenalnya?” cibir Kim Bum karena William menjawabnya dengan menyebutkan nama koreanya, bukan nama asli yang biasa ia pakai. Seakan mengerti dengan sindirian Kim Bum, William pun menjawabnya

“aku sedang berada di korea, jadi aku akan menggunakan nama koreaku. Orang korea sangat sulit dalam mengucapkan nama-nama Barat” jawab William dengan polosnya

“kalian mengabaikan aku?” tanya ayah Kim Bum yang sudah berada di dekat Kim Bum

“ayah” ucap Kim Bum. So Eun sedikit menggeser posisinya supaya ayah Kim Bum bisa memeluk anak tercintanya itu. So Eun tau bahwa ayah Kim Bum juga sangat mengkahawatirkan dan merindukan Kim Bum.

“kau baik-baik saja?” tanya ayah Kim Bum sambil memeluk Kim Bum

“ne” jawab Kim Bum singkat. ayah Kim Bum pun melepaskan pelukannya

nuna kau terlihat lebih cantik daripada yang ada di ponsel Kim Bum hyeong” kata William sambil memperhatikan So Eun yang masih berjongkok dihadapannya

jeongmallyo?” ucap So Eun

ne. Jika kau sudah putus dengan Kim Bum hyeong kau harus menjadi kekasihku ya, jika kau mau, nanti aku akan mengajakmu keliling Jerman” kata William yang membuat semuanya tertawa.

“yya! Kau tahu dari mana kata ‘putus’? Enak saja, tidak akan aku biarkan” kata Kim Bum sambil menarik tangan So Eun untuk mendekat dengannya

hyeong, jika kau sudah tua, jika kau sudah keriput, nuna pasti tidak akan mau menjadi kekasihmu lagi. Dan saat itu pula aku akan menjadikannya sebagai kekasihku” kekeh William yang kini menggenggam tangan kiri So Eun

“jika aku sudah tua, maka dia juga akan tua”kata Kim Bum sambil menunjuk So Eun

“tidak apa. Itu bukan masalah” kata William dengan wajah sok dewasa

“tak kusangka, anak 5 tahun saja bisa jadi sainganku” ucap Kim Bum

###

Sekarang mereka sudah sampai di rumah ayah Kim Bum.

“dimana kamarku?” tanya Kim Bum

“bahkan aku saja tau dimana kamarmu. Apa kau sudah mulai pikun” kata So Eun sambil mendorong kursi roda Kim Bum menuju ke kamarnya

Setelah dikamar..

“ayo kubantu berdiri” kata So Eun sambil memegang tangan Kim Bum

“aku bisa sendiri” kata Kim Bum

“kamar ini terasa asing” ucap Kim Bum sambil duduk di pinggir ranjang

“asing? Mungkin saja. Kau lebih sering berada di apartemen daripada disini” ucap So Eun sambil memandangi kamar Kim Bum yang bernuansa biru hitam itu

“apartemen?” tanya Kim Bum

“ne. Oh ya, apa kau mau mandi, akan aku siapkan air hangat” ucap So Eun sambil berjalan ke kamar mandi

“ne, aku akan mandi” ucap Kim Bum yang menghampiri So Eun dengan langkah yang sangat pelan. So Eun yang melihat Kim Bum kesusahan berjalan pun segera membantunya.

“jangan memaksakan jika terlalu sakit” kata So Eun sambil memapah Kim Bum untuk duduk di sofa yang tak jauh dari pintu kamar mandi

Edited (24)  “aku sangat merindukanmu So Eun” kata Kim Bum sambil terus mengamati wajah So Eun yang tidak berjarak jauh darinya

“kau pikir aku tidak merindukanmu? Saat mendengar kau kecelakaan hatiku sangat sakit, aku takut terjadi hal buruk padamu. Aku tidak bisa membatasi diriku sendiri. Aku benar-benar lepas kendali. Bahkan aku sampai memarahi Hye Sun yang mencoba menenangkan aku” ucap So Eun

“Hye Sun?” Kim Bum agak bingung

“ne, aku memarahinya karena dia menyuruhku untuk tidak menangis. Namun kemudian Hyun Joong menenangkanku” jawab So Eun

“kau berselingkuh dengan Hyun Joong?” canda Kim Bum

“tentu tidak” balas So Eun. Kim Bum menarik pinggang So Eun supaya bisa lebih dekat dengannya

“sudah lama aku tidak menciummu” goda Kim Bum

“y..yya! a..apa yang k.kau katakan” So Eun terlihat gugup ketika wajah Kim Bum mulai mendekati wajahnya. Saat ini keduanya sudah memejamkan mata mereka. Mencoba melepaskan segala rindu yang mereka rasakan. Semakin dekat…. semakin dekat…. dan akhirnya….

HYEONG!!!!” teriak William sambil menggedor-gedor pintu kamar Kim Bum. Kim Bum dan So Eun membuka mata mereka, terlihat guratan kesal di wajah Kim Bum

“dia hadir di saat yang tidak tepat” gumam Kim Bum. sementara So Eun tersenyum melihat wajah kesal Kim Bum yang begitu lucu.

“aku akan membuka pintunya” kata So Eun lalu segera membuka pintu kamar Kim Bum

“ya, ada apa Woon Ha?” tanya So Eun sambil mensejajarkan tubuhnya dengan William

“aku ingin mengambil i-pad ku di tas Kim Bum hyeong” kata William sambil ngeluyur masuk ke dalam kamar Kim Bum. Kim Bum menatap William dengan agak kesal. Ia masih kesal dengan William yang membuat ia dan So Eun gagal berciuman

“kau sudah menemukannya?” tanya So Eun pada William

“ne” kata William sambil menunjukkan i-pad berwarna putih yang ada ditangannya itu

“hmm.. nuna berjongkoklah” kata William. So Eun dan Kim Bum heran dengan ucapan William. Beberapa saat kemudia, So Eun pun menurutinya

“kau sangat cantik” ucap William lalu mencium pipi kiri So Eun dengan cepat dan langsung pergi dari kamar Kim Bum karena ia tahu bahwa Kim Bum pasti akan marah-marah jika ia mencium pipi So Eun. So Eun sangat terkejut dibuatnya, begitupun dengan Kim Bum

bum

“dasar tidak sopan! Bahkan aku saja belum menciumnya” rutuk Kim Bum sementara So Eun hanya menahan tawanya melihat wajah Kim Bum yang penuh amarah

 

###

Jiyeon dan Seungho sedang berjalan-jalan di mall. Hari ini adalah hari ulang tahun Jiyeon, dan Seungho berjanji untuk membelikan hadiah untuk Jiyeon. Sebenarnya Jiyeon sudah menolaknya, namun Seungho tetap memaksa Jiyeon untuk ikut.

download“lebih baik uangmu kau tabung saja” kata Jiyeon

“sudah, kau ikut aku saja” kata Seungho yang terus menggandeng tangan Jiyeon

“tapi barang-barang disini mahal” kata Jiyeon

“aku menanam pohon uang di apartemenku, kau tenang saja” jawab Seungho asal. Jiyeon menghentikan langkahnya dan menatap Seungho aneh

“apa?” tanya Seungho yang melihat Jiyeon memandanginya dengan pandangan tidak biasa

“aku serius” kata Jiyeon dengan nada manja

yoo seung ho

“aku dua rius” kata Seungho sambil menarik tangan Jiyeon lagi lalu menyangkutkannya pada lengan kirinya. Jiyeon yang sudah malas meladeni Seungho pun hanya menurut saja dengan ucapan Seungho.

“oh ya, bagaimana kabar Kim Bum oppa?”tanya Jiyeon

molla, sejak seminggu lalu ia tak menghubungiku” jawab Seungho

“lalu dengan Ah In oppa bagaimana?” tanya Jiyeon

“aku sudah benar-benar tidak peduli dengannya” jawab Seungho ketus

“ibumu?” tanya Jiyeon. Seungho menghentikan langkahnya dan menoleh ke Jiyeon

“aku tidak tahu. Sudahlah, kau jangan banyak bertanya”kata Seungho lalu segera menarik Jiyeon ke salah satu toko perhiasan. Saat hendak masuk, tidak sengaja Jiyeon berpapasan dengan seorang gadis berambut pirang curly.

eonni” panggil Jiyeon. Namun orang yang dipanggil hanya menatap sekilas lalu pergi. Jiyeon menatapnya heran

“yya! Eonni-ya!” panggil Jiyeon sambil berlari kecil mengejar orang itu lalu menahan tangannya. Orang itu menghentikan langkahnya dan menatap Jiyeon dengan sedikit sinis. Sementara Seungho masih  berdiri di depan pintu masuk Beauty Jewelry itu

eonni, hmm.. eotteohke janeseyo? (apa kabarmu?)” tanya Jiyeon

Jessica “baik, aku masih ada urusan, permisi” orang itu hendak pergi, namun Jiyeon menahannya lagi

“Soo Yeon eonni, ada apa denganmu? Kenapa sikapmu berubah?” tanya Jiyeon dengan wajah agak cemberut

“karena status kita sekarang berbeda. Sekarang aku sudah kaya dan kau masih dengan baso ikanmu itu. Dan satu lagi, jangan panggil aku Soo Yeon lagi. Namaku sekarang Jessica. Jessica Jung” kata orang itu yang ternyata adalah Jessica

eonni, aku tidak menyangka sekarang kau memandang seseorang berdasarkan kekayaan. Padahal dulu kau lah yang mengajarkan aku untuk tidak memandang orang lain berdasarkan kekayaan. Kau bilang semua orang di dunia ini sama. Tapi kenapa sekarang kau bersikap seperti itu?” ucap Jiyeon yang menahan tangisnya

“kenapa? Karena sekarang aku sudah tau nikmatnya menjadi orang kaya. Aku lelah terus-terusan ditindas, ada saatnya aku ingin menindas orang lain”jawab Jessica

“tapi kita adalah teman”balas Jiyeon

“itu dulu, tidak dengan sekarang. Sekarang aku bukan temanmu, dan kau bukan temanku. Jadi menyingkirlah dari hidupku” kata Jessica

“baiklah, aku bisa terima. Bagaimana dengan ibumu? Ibumu juga masih berjualan baso ikan, sama seperti ku. Apa dia tetap ibumu?” tanya Jiyeon dengan sedikit menyinggung

“tidak. Dia ibuku, dimasa lalu. Nama ibuku bukan lagi Ha Yo Min, nama ibuku Lee Sung Mi. Dan ayahku bukan lagi Jung Won Jae, nama ayahku Jung Yo Bin” ucap Jessica

“omona…. eonni kau boleh saja tidak menganggapku sebagai temanmu, tapi kau tidak boleh melakukan hal yang sama pada orang tuamu. Mereka membesarkan dan merawatmu dengan penuh kasih sayang. Dan ibumu, dia yang melahirkanmu. Kau tau, selama ini ibumu terus membanggakan dirimu didepan orang lain. Bisa kau bayangkan betapa sakit hatinya ibu dan ayahmu jika mendengar ucapanmu itu?” kata Jiyeon yang benar-benar tidak menyangka jika Jessica bisa berubah 180° seperti ini.

“aku tidak peduli. Sekarang aku sudah bahagia dengan semua yang aku miliki. Ini yang aku impikan selama ini. mobil mewah, teman mewah, semua serba mewah dan juga teman-teman yang kaya” ucap Jessica

“yang kaya itu orang tua angkatmu, bukan kau. Jika mereka tidak membuat ayahmu meninggal, dia tidak akan mengadopsi mu. Sungguh tak kusangka kau bisa berkata seperti itu. Jung Soo Yeon benar-benar sudah hilang ditelan bumi. Tak ada lagi temanku yang bernama Jung Soo Yeon. Jika begini sifatmu, maka aku akan menyetujui jika kau tidak ingin berteman denganku lagi. Kau sangat jahat. Sangat sangat jahat. Anak yang tidak tau diri! Lihat saja, suatu saat nanti aku akan membongkar semua ini pada teman-teman kaya raya yang kau banggakan itu. tunggu tanggal mainnya eonni” kata Jiyeon lalu kembali menghampiri Seungho.

“anak kecil sudah berlaga menasehati” umpat Jessica

Ya, Jessica dan Jiyeon adalah teman. Teman sebelum Jessica di adopsi oleh keluarga Jung Yo Bin. Dulunya, Jessica dan Jiyeon adalah teman karena rumah mereka yang berdekatan. Ibu Jessica adalah seorang pedagang baso ikan sedangkan ayahnya adalah seorang

etiap orang lain bertanya ‘mengapa soo yeon tidak pernah menjengukmu?’ ibu Jessica selalu menjawab jika Jessica sedang sekolah di luar negeri, jadi Jessica tidak bisa menghubunginya, namun Jessica masih suka meneleponnya saat malam hari. walaupun di dalam lubuk hatinya, ibu Jessica juga bertanya-tanya mengapa Jessica tidak menjenguknya sama sekali??

pengantar koran dan susu. Pada suatu hari, mobil Jung Yobin secara tidak sengaja menabrak ayah Jessica, Jung Won Jae yang sedang mengantar susu. Sebagai rasa tanggung jawabnya, keluarga Jung Yobin mengadopsi Jessica yang saat itu bernama Jung Soo Yeon. Awalnya Jessica menolak, namun sang ibu terus membujuk Jessica. Ibu Jessica, Ha Yomin t

au jika Jessica sangat ingin bersekolah di luar negeri, Yomin berpikir ini adalah jalan yang Tuhan berikan untuk mewujudkan mimpi Jessica. Namun sekarang semua itu jauh meleset. Semenjak diadopsi, Jessica tidak pernah menengok ibunya di rumah lamanya, bahkan saat natal pun Jessica tidak datang untuk
TBCmerayakan natal bersama ibu kandungnya. S

Huh..lama ya yang part ini?? gimana?? Makin jelek? Mian kalo makin jelek -_-
hmm.. ada yang penasaran sama part selanjutnya?? Keep tinggalin jejak ^Y^ ok! ;)

Secret of Love Part 6

Secret Of Love

Part 6

Author                       : Kim Sang Eun

Main Cast                 : Kim Sang Bum dan Kim So Eun

Cast                            : Goo Hye Sun, Lee Min Ho, Kim Hyun Joong, Kim Joon, Jessica, Suzy, Eun Jung, Kim Soo Hyun, Park Jiyeon, Yoo Seungho, Yoo Ah In

Genre                         :Romance, Friendly, #yahh tentuin sendiri lah#

Type                           : Chaptered

PENTING!!! : karakter yang ada dalam ff ini, semuanya bukan milik author. Mereka milik keluarga, agensi, dan fans masing – masing. Disini author hanya meminjam saja. Bila ada kesamaan judul, jalan cerita, pemain, dsb, itu merupakan sebuah ketidak sengajaan. Tidak ada maksud untuk meniru (plagiat-kan) karya orang lain.

Annyeong readers :D
Part 6 nya dateeenggg :) Berharap semua readers suka..
jangan lupa tinggalin jejak, Arrasso??!! ;)
oh ya, selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankannya, semoga Ramadhan kali ini membawa berkah bagi kalian semua!!

dari pada banyak abcdefghijklmnopqrstuvwxyz, mending langsung aja yaa :D
happy reading ****

###

Hari ini adalah hari libur, dan tak terasa minggu depan adalah waktunya Kim Bum berangkat ke Jerman. Saat ini waktu menunjukkan pukul 7.30 a.m Kim Bum baru saja bangun dari tidurnya. saat membuka matanya, ia baru menyadari bahwa ada wangi masakan. Dan iapun mencari sumbernya. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat seorang gadis yang sangat dinantinya sedang memasak didapur apartemennya.

            “so..So Eun” panggil Kim Bum yang tidak menyangka

Part 6

“kau sudah bangun” kata So Eun sambil mematikan kompor lalu menghampiri Kim Bum yang berdiri di depan pintu kamarnya

            “kau..kau..apa yang kau lakukan disini?” tanya Kim Bum yang masih terkejut dengan kedatangan So Eun

            “memangnya aku tidak boleh kesini?” tanya So Eun sambil melipat kedua tangannya di dada

            “bukan seperti itu…tapi.. apakah aku sedang bermimpi?” Kim Bum tak mampu berkata-kata lagi

“tidak” jawab So Eun dengan senyumnya

“So Eun” Kim Bum langsung memeluk So Eun dengan penuh kerinduan. So Eun tersenyum lalu membalas pelukan Kim Bum. Kim Bum sangat senang bisa memeluk So Eun kembali

            “jangan cengeng” bisik So Eun. walaupun tak terdengar jelas, namun So Eun tau jika Kim Bum sedang menangis. So Eun melepaskan pelukan Kim Bum dan menghapus sisa air mata di pipi Kim Bum

            “aku sudah siapkan sarapan untuk kita, ayo makan” kata So Eun sambil menarik Kim Bum ke meja makan

            “ini untukmu” kata So Eun sambil memberikan Kim Bum sepiring nasi beserta lauknya. Kim Bum tidak memakan makanannya, ia hanya memandangi So Eun yang sedang makan dengan lahapnya

            “mengapa hanya melihatku? Kau tidak makan?” tanya So Eun yang menyadari

            “aku kenyang melihatmu ada didepanku” jawab Kim Bum

            “kau harus makan, ayo buka mulutmu” kata So Eun sambil bersiap menyuapi Kim Bum

            “aku bisa makan sendiri” kata Kim Bum sambil mengambil sendok ditangan So Eun

            “itu sendokku, kau pakai sendokmu sendiri” kata So Eun

            “ne,, ini” kata Kim Bum sambil mengembalikan sendok So Eun

###

Kim Bum dan So Eun sedang berada di balkon apartemen Kim Bum. ditempat Kim Bum menyatakan cintanya pada So Eun. saat ini So Eun sedang duduk dilantai dan Kim Bum sedang berbaring di pangkuannya.

            “bagaimana kau bisa masuk ke apartemenku?” tanya Kim Bum sambil menatap lurus So Eun

            “7789. Aku masih ingat itu” jawab So Eun. Lalu terjadi keheningan diantara mereka. Sampai akhirnya So Eun memecahkan kesunyian diantara mereka.

            “Kim Bum” panggil So Eun sambil memainkan rambut Kim Bum

            “ne” jawab Kim Bum

            “mengapa kau tidak mengatakannya malam itu?” tanya So Eun

            “mengatakan apa?” tanya Kim Bum

            “mengatakan bahwa kau akan pergi ke Jerman, selama 2 tahun” jawab So Eun dengan menahan tangisnya, ia belum ingin Kim Bum pergi. Ia masih ingin menghabiskan waktu bersama Kim Bum

            “aku pikir kau tidak peduli lagi padaku karena kau sudah bersama Hyun Joong” ucap Kim Bum

            “sekarang ku tanya, apa kau peduli padaku?” tanya So Eun. Kim Bum mengangguk

            “kau mencintaiku?” tanya So Eun. dan Kim Bum mengangguk lagi

            “begitupun denganku. Aku peduli padamu, aku juga mencintaimu. Malam itu, rasanya aku ingin menghukum diriku sendiri karena telah membuatmu merasa sakit dan tersiksa. Sesungguhnya aku sangat sedih melihatmu menahan tangis” jelas So Eun sambil mengelus lembut rambut Kim Bum

            “So Eun, apa sekarang kau sudah menjadi milik Hyun Joong?” tanya Kim Bum. So Eun menggeleng

            “aku tak pernah mencintai Hyun Joong. Aku hanya menganggapnya sahabat” jawab So Eun

            “aku ingin mengulangnya, aku ingin memperbaikinya” kata Kim Bum sambil bangkit dari pangkuan So Eun

            “maksudmu?” tanya So Eun

            “sekarang aku mengerti arti lelaki sejati yang sebenarnya. Wanita itu seperti boneka, mau kau sakiti dia, mau kau tendang dia, bahkan sampai menyasatnya dengan pisau, dia akan diam saja dan tidak akan menolak. Tetapi,, lelaki sejati tidak bermain boneka, iya kan’? Dan sekarang aku adalah lelaki sejati yang tidak akan memainkanmu ‘lagi’. Aku berjanji, bahwa kau, Kim So Eun adalah satu-satunya cintaku. Satu-satunya cinta dalam hidupku. Aku ingin menghabiskan sisa hidup bersamamu, dan bersama anak-anak kita nanti. Maksudku, maukah kau kembali ke sampingku? Menjadi wanita dibalik keberhasilanku? Dan menjadi ibu dari anak-anakku kelak?” tanya Kim Bum

            “kau berbicara terlalu jauh” ucap So Eun dengan air mata yang menggenang

            “ishh.. kau merusak suasana. Mau atau tidak?” tanya Kim Bum dengan setitik kekesalan

            “ne, aku mau” jawab So Eun sambil tersenyum. Tanpa basa basi, Kim Bum langsung menarik tengkuk So Eun dan menciumnya dengan lembut. Dan air mata bahagia keduanya pun bercampur mencadi satu. Setelah sekitar 1½ menit, merekapun menyudahi ciumannya. Wajah So Eun terlihat merah merona dan Kim Bum pun tertawa kecil melihatnya.

            “apa yang kau tertawakan?” tanya So Eun

            “wajahmu merah seperti tomat” ledek Kim Bum diselingi tawanya

            “itu tidak lucu Kim Bum” So Eun memanyunkan bibirnya

            “bahkan saat ini wajahmu tambah memerah” goda Kim Bum

            “ini tidak lucu. Berhenti menggodaku!” kata So Eun sambil memukul pelan bahu Kim Bum

            “haha..iya iya, aku tidak akan menggodamu lagi” tawa Kim Bum sambil menggengam kedua tangan So Eun yang tadi memukulinya

            “kau terlihat semakin cantik jika seperti itu” kata Kim Bum sambil memperhatikan wajah So Eun yang kesal + tersipu malu

            “kau bilang kau tidak akan menggodaku lagi” So Eun mengingatkan

            “ne..ne” kata Kim Bum sambil menarik tangan So Eun untuk melingkari pinggangnya

            “Bum-ah.. aku ingin kita bersama lebih lama” kata So Eun sambil mengeratkan pelukannya di pinggang Kim Bum

            “kita akan bersama selamanya, apa lagi yang kau inginkan?” tanya Kim Bum sambil merangkul bahu kanan So Eun

            “aku ingin kau jangan pergi” pinta So Eun

            “aku anak tunggal. Dan orang tua yang kumiliki saat ini hanyalah ayahku. ayahku ingin aku menuntut ilmu disana, kurasa ini adalah balasanku untuknya yang telah merawatku sejak aku kecil. Aku hanya pergi sebentar, hanya 2 tahun. Setelah itu kita akan bersama lagi” kata Kim Bum sambil mengeluarkan senyuman mautnya

            “bolehkah aku ikut denganmu?” tanya So Eun

            “ikut denganku? Untuk apa?” tanya Kim Bum sambil menoleh ke So Eun yang sedang bersandar di dadanya

            “aku ingin selalu berada disampingmu. Aku juga bisa menjadi kokimu, tanpa bayaran” jawab So Eun

            “kau ini, aku tinggal disana bersama pamanku, aku tidak perlu koki. Karena bibi ku pasti selalu menyiapkan makanan untukku. Lagipula, bagaimana dengan pendidikanmu disini? Bukankah kau sudah bersusah payah demi bisa bersekolah disini” tanya Kim Bum. So Eun terdiam

            “juga orangtuamu, bagaimana dengan mereka?” tanya Kim Bum lagi

            “aku tidak mempunyai orang tua. Orang tuaku telah meninggal karena kecelakaan” jawab So Eun

            “jeongmal? Lalu selama ini kau tinggal dengan siapa?” tanya Kim Bum yang beru mengetahui jika So Eun tidak memiliki orang tua

            “nae oppa” jawab So Eun. Kim Bum melepaskan pelukkan So Eun pada pinggangnya. Lalu ia menghadapkan So Eun kepadanya

            “kau memiliki kakak?” tanya Kim Bum sambil menatap So Eun dengan intens

            “hmm..sebenarnya lelaki yang waktu itu..dia adalah kakakku” ucap So Eun sambil ‘cengar-cengir’

            “lelaki yang mana maksudmu?” tanya Kim Bum tak mengerti

            “lelaki yang bersamaku saat itu. saat kau menguntit kami” jawab So Eun

            “menguntit?” tanya Kim Bum yang berpura-pura lupa

            “tidak usah berpura-pura aku tau saat itu kau mengikutiku. Dan aku tak tau bagaimana reaksimu saat mengetahui bahwa lelaki yang besamaku saat itu adalah kakak kandungku” jelas So Eun

            “mwo?! Dia kakakmu? Lelaki yang mencium keningmu, mengatar jemput mu, dan juga mengajakmu makan di restoran mahal itu. dia kakakmu?” Kim Bum terkejut dibuatnya. So Eun mengangguk

            “wah..kau membohongiku” kata Kim Bum. sementara So Eun hanya tertawa kecil

            “baiklah, untuk kau tahu. Sebenarnya kau bukan pacar pertamaku. Kau pacar keduaku *ini ada di part 2 kalo gak salah*” ucap Kim Bum dengan nada tinggi

            “mwo?! Kau juga membohongiku!” balas So Eun dengan suara tak kalah tinggi

            “ne, pacar pertamaku itu bernama Jung Eun Ji, dia cantik, suaranya bagus, pandai membuat tembikar, dan dia juga sangat menyenangkan” ucap Kim Bum yang mencoba memanas-manasi So Eun

            “ohh baiklah.. aku juga membohongimu. Sebenarnya mantan kekasihku jauh lebih tampan darimu *dan sepertinya ini juga ada di part 2*. Dia putih, pandai bernyanyi, sangat romantis, mempunyai selera humor yang baik, populer, dan dia sangat mirip dengan Rain Bi” So Eun membalas ucapan Kim Bum

            “lalu? Jika dia lebih baik dariku, kenapa kau tidak kembali saja padanya?” ucap Kim Bum dengan sedikit kecemburuan

            “kau sendiri?! Jika dia lebih baik dariku, mengapa kau tidak kembali padanya saja?” So Eun balik bertanya

            “karena sekarang dia tidak dikorea, dia sudah pindah ke Vancouver” jawab Kim Bum

            “kalau begitu sama, aku juga. Saat ini dia sudah bertungangan dengan tunangannya yang merupakan orang Thailand” jawab So Eun tidak mau kalah

            “dari tadi kau mengikuti kata-kataku, tidak kreatif” cibir Kim Bum

            “kau juga, bahkan lebih memalukan. Kutipanmu tentang ‘Lelaki Sejati’ itu, aku tau kau membacanya di mading kampus hahaha” balas So Eun dengan tawa kemenangan

            “ba..bagaimana kau tau?” tanya Kim Bum

            “karena aku yang memasangnya..hahahha” tawa So Eun. sementara Kim Bum hanya menahan malunya

####

Kim Bum baru saja mengantarkan So Eun pulang. kali ini ia mengantarkan sampai gang rumah So Eun, bukan caffe. Dan saat ia berjalan di koridor apartemennya, Seungho langsung memanggilnya.

            “hyeong!” panggil Seungho sambil berlari kecil menghampiri Kim Bum

            “ada apa?” tanya Kim Bum

            “aku punya film bagus. Ayo kita tonton” kata Seungho dengan semangatnya

            “film? Mana DVD nya?”tanya Kim Bum

            “ini bukan DVD, tapi sebuah rekaman di ponselku” jawab Seungho

            “baiklah, ayo” kata Kim Bum sambil mengajak Seungho untuk masuk ke apartemennya

###

            “dimana kabel penghubungnya?” tanya Seungho sambil mencari-cari kabel penghubung di sekitar TV LED Kim Bum

            “kabel yang berwarna putih itu” kata Kim Bum sambil duduk di sofa depan TV

            “arrayo. Baiklah, kita tunggu” kata Seungho sambil menyambungkan ponselnya dengan TV Kim Bum lalu duduk di samping Kim Bum

            “film apa?” tanya Kim Bum santai

            “perhatikan saja” balas Seungho

Beberapa detik kemudian, rekaman di ponsel Seungho sudah mulai terputar. Dalam rekaman itu, terlihat seorang pria sedang berbaring di pangkuan seorang wanita di sebuah balkon. Sang wanita mengelus lebut rambut pria itu. setelah beberapa detik, akhirnya Kim Bum menyadari bahwa itu adalah dirinya dan So Eun.

            “hmm..bukankah itu aku dan So Eun?” tanya Kim Bum memastikan

            “ne” jawab Seungho sambil tersenyum

            “ini kapan?” tanya Kim Bum

            “entahlah, aku sedikit lupa. Kira-kira sekitar jam 9.00 sampai jam 10.00 tadi” jawab Seungho. Kim Bum mengingat-ingat, apa yang dia lakukan bersama So Eun saat jam 9.00 sampai jam 10.00 tadi di balkon. Lalu ia teringat bahwa tadi mereka memang berada disitu, dan yang membuatnya terbelak adalah, tadi ia juga berciuman dengan So Eun.

            “hah?! Ber..berarti tadi..k..kau melihat kami..” Kim Bum memperagakan orang berciuman dengan kedua tangannya

            “ya” jawab Seungho sambil menahan tawanya

            “aigo!! Yoo Seungho!! Kau benar-benar keterlaluan!” kesal Kim Bum sambil memukuli Seungho

            “akh..yya!! berhenti memukulku. Wajah tampanku bisa rusak” kata Seungho yang mencoba melindungi dirinya dengan menutupi wajahnya dengan kedua tangan

            “kau!! Dasar tidak sopan!!” kesal Kim Bum yang terus memukuli Seungho

###

Di hari minggu ini, Suzy sedang berada di perusahaan ayahnya.Ia ingin meminta ayahnya untuk mentransfer uang ke rekeningnya karena ia ingin membeli ponsel baru.

            “ayah” panggil Suzy dengan riangnya

            “Suzy, untuk apa kau kemari?” tanya ayah Suzy yang merupakan presedir di perusahaan itu

            “ayah, aku minta uang” kata Suzy sambil duduk di depan ayahnya

            “uang untuk apa?” tanya sang ayah sambil merapihkan berkas-berkas di mejanya

            “aku ingin membeli ponsel baru. Produk itu akan melangsungkan launching-nya besok” kata Suzy

            “ya sudah, besok ayah akan berikan uangnya padamu” kata ayah Suzy sambil melepaskan kacamata plus nya

            “tapi aku ingin uangnya sekarang” pinta Suzy berdiri dari kursinya

            “sekarang ayah tidak membawa uang tunai, besok saja. Ayah akan berikan padamu” kata ayah Suzy

            “ayah kan bisa menggunakan E-Banking, segera transfer ke rekening ku malam ini” kata Suzy sambil membuka pintu

            “aku tidak mau tau, malam ini rekeningku harus bertambah saldo. Annyeong” kata Suzy lalu ia bergegas pergi meninggalkan ruangan ayahnya

            “Suzy tunggu dulu” teriak ayah Suzy. Suzy yang masih mendengarnya pun kembali ke ruangan ayahnya

            “mwoji?” tanya Suzy

            “nanti malam, ajak dua temanmu itu untuk kerumah” kata ayah Suzy

            “tumben sekali, untuk apa?” tanya Suzy

            “besok adalah hari ulang tahun ibumu, ayah membutuhkan bantuan kalian untuk mendekorasi taman belakang” kata ayah Suzy

            “untuk apa ayah? Kita bisa menyewa orang untuk mendekor itu” ucap Suzy

            “akan lebih special jika didekor sendiri” balas ayah Suzy

            “ya…ya…baiklah. tapi aku tak yakin jika mereka akan datang” kata Suzy lalu pergi meninggalkan ruangan ayahnya

“anak itu” gumam ayah Suzy

###

Ketika Suzy membuka lift, ia sedikit terkejut melihat seseorang yang tak asing baginya. Dia adalah soo hyun. Suzy masuk ke dalam lift sambil mengingat-ingat wajah soo hyun. Ia merasa beruntung bisa satu lift dengan soo hyun. Dan ia pikir, ini adalah saatnya ia merebut soo hyun dari So Eun

            “kau” gumam Suzy sambil mengarahkan jari telunjuknya ke soo hyun

            “nona mengenal aku?” tanya soo hyun dengan ramahnya

            “kau kekasihnya So Eun kan?” Suzy memastikan. Soo hyun berpikir sejenak, lalu kemudian iapun mengingat siapa wanita dihadapannya itu

            “oh..n..ne. kau temannya So Eun kan” kata soo hyun. Belum sempat Suzy menjawab, pintu lift sudah terbuka. Dan soo hyun pun bergegas keluar

            “aku duluan” kata soo hyun lalu melangkah keluar lift

            “yya! Gidariyo” kata Suzy yang menghentikan langkah soo hyun

            “aku memang satu sekolah dengan So Eun, tapi aku bukanlah temannya” jawab Suzy

            “wae?” tanya soo hyun

            “bagaimana kalau kita makan siang bersama, nanti aku akan menjelaskannya padamu seperti apa So Eun yang sebenarnya” tawar Suzy

            “hm..kebetulan ini waktunya makan siang, baiklah. Kita makan di cafetaria saja” kata soo hyun.

Merekapun makan siang bersama di cafetaria. Dibenak Suzy, ini adalah moment yang sangat bagus untuk menjelek-jelekkan So Eun dimata soo hyun. Sementara dipikiran soo hyun, ia ingin tau seberapa mahirnya Suzy merangkai kata-kata untuk membuat image So Eun terlihat jelek.

            “kau ingin pesan apa?” tanya Suzy

            “sama sepertimu saja” jawab soo hyun. Suzy pun memesan dua porsi bibimbap untuk mereka

            “oh ya, apa kau bekerja disini?” tanya Suzy

            “ne, kau juga?” tanya soo hyun

            “bukan, ayahku adalah presedir perusahaan ini” jawab Suzy semanis mungkin

            “jadi kau anaknya Presedir Bae” ucap soo hyun, Suzy menganggukan kepalanya

            “kau belum menjawab pertanyaanku yang di lift tadi” kata soo hyun

            “ohh baiklah, aku memang satu sekolah dengannya, tapi aku tidak berteman dengannya. Geuneoneun nappeun yeoja (dia seorang bad girl)” kata Suzy dengan ekpresi sebal

            “nappeun yeoja? Jeongmal? Sepertinya tidak” kata soo hyun sambil tersenyum

            “aku tidak bohong. Dia pernah mepermainkan dua pria sekaligus” kata Suzy dengan wajah yang sangat meyakinan, namun tetap tidak dapat menipu Hyun Joong

            “jeongmal? Siapa mereka?” tanya soo hyun dengan pura-pura terkejut

            “hmm Kim Bum dan Hyun Joong. Dua dari empat anggota FB4 di kampus kami” kata Suzy

            “Kim Bum..dia mantan kekasihnya So Eun. tapi Hyun Joong…dia..siapa?oh ya, dia pria yang pergi bersama So Eun beberapa waktu lalu” batin soo hyun

            “ahh..kau jangan mengarang cerita” kata soo hyun

            “aku tidak mengarang cerita. Oh ya, dan juga, setiap di kampus dia selalu menggoda para namja” kata Suzy sementara soo hyun hanya tersenyum mendengarnya

            “dan satu lagi, kudengar dia sering membawa namja asing kerumahnya. Dan namja itu menginap dimalam hari, lalu pergi ketika pagi. Wajar saja jika So Eun di cap sebagai nappeun yeoja” kata Suzy sambil mengalihkan pandangannya

            “daebak!” kata soo hyun tiba-tiba

            “daebak?” Suzy heran

            “kau hebat merangkai kata-kata” kata soo hyun diiringi senyumnya

            “maksudmu?” Suzy tak mengerti

            “kau baru saja memfitnah seorang adik di hadapan kakaknya sendiri” jelas soo hyun. Suzy memandang soo hyun sebentar dan mencera ucapan soo hyun.

            “omo” ujar Suzy yang reflek menutup kedua mulutnya dengan telapak tangan

            “hahahahaa” soo hyun tertawa lepas

            “ma..maksudmu..jadi kau bukan kekasihnya So Eun, melainkan…..kakaknya?” tanya Suzy dan soo hyun mengangguk

            “aku senang mendengar dia bukan kekasih So Eun, tapi saat ini aku sangat merasa malu padanya” rutuk Suzy dalam hati

###

Malam harinya, ayah Suzy, Suzy, Jessica dan Eun Jung sedang makan malam di rumah Suzy. Mereka baru saja selesai mendekor taman belakang rumah Suzy. Saat ini ibu Suzy tidak ada dirumah, ia sedang bertugas di Macau dan baru akan pulang besok.

            “apa rumah kalian jauh dari sini?” tanya ayah Suzy pada Eun Jung dan Jessica

            “tidak” jawab Eun Jung dan Jessica berbarengan

            “kalian berteman dengan Suzy sejak kapan?” tanya ayah Suzy. Belum sempat Eun Jung dan Jessica menjawab, Suzy sudah menyambarnya duluan

            “aku berteman dengan Eun Jung sejak SD, karena kami selalu satu sekolah. Sedangkan dengan Jessica, aku baru berteman dengannya sejak SMP” jelas Suzy

            “oh begitu. Eun Jung, orang tuamu bekerja sebagai apa?” tanya ayah Suzy

            “ayah dan ibuku seorang dokter” kata Eun Jung

            “dirumah sakit mana?” tanya ayah Suzy lagi

            “mereka bekerja di HamJin’s Hospital” jawab Eun Jung

            “itu adalah rumah sakit milik temanku, namanya Ham JongKil” ucap ayah Suzy

            “ne. Dan Ham JongKil adalah ayahku” sahut Eun Jung

            “waah…jeongmal? wah…dia adalah teman SMA ku, lama mengenalmu tapi baru kali ini aku mengetahui bahwa kau adalah anaknya JongKil” kata ayah Suzy

            “dan kau Jessica, apa orang tuamu juga seorang dokter?” tanya ayah Suzy pada Jessica

            “anieyo. Ayahku seorang pebisnis” jawab Jessica dengan sangat sopan

            “apa nama perusahaan milik ayahmu? Siapa tau kita bisa bekerja sama” kata ayah Suzy

            “Starlight Corp. Itu adalah perusahaan milik ayahku” jawab Suzy

            “kebetulan sekali. Aku pernah bekerja sama dengan perusahaan itu. Perusahaanku menamamkan saham di perusahaan itu. dan berarti, kau anaknya Jung YoBin” ucap ayah Suzy

            “ne” ucap Jessica singkat

            “tapi…yang kutau, Jung YoBin tidak memiliki anak. Istrinya keguguran sekitar 8 tahun lalu” ucap ayah Suzy

DEG

Jessica merasa dihantam batuan besar. Pikirannya benar-benar kacau. Bagaimana jika mereka mengetahui identitas Jessica yang sebenarnya

###

Hari ini adalah hari keberangkatan Kim Bum ke Jerman, sekarang ia sudah ada di bandara Incheon ditemani FB3, Hye Sun, Ayah Kim Bum, dan tentunya So Eun. tadinya Seungho juga ingin ikut mengantar Kim Bum, namun sayang.. hari ini Seungho mempunyai jam bimbel.

            “Hye Sun-ah, aku titip So Eun padamu. Jaga dia, jangan sampai pria lain mendekatinya” pesan Kim Bum pada Hye Sun

            “haha..ne” tawa Hye Sun

            “jangan lupakan kami yaa, jika kembali nanti jangan lupa bawakan buah tangan untukku” kata Min Ho sambil menepuk bahu kiri Kim Bum

            “tidak.. aku tidak akan membelikannya untukmu” ucap Kim Bum dengan candaannya

            “woaa bum-ah… disini sudah ada Kim So Eun, kau jangan bermain perempuan disana yaa” kata Kim Joon yang membuat semuanya tertawa

            “tidak akan” kata Kim Bum dengan senyumnya. Kini giliran Hyun Joong, Kim Bum memandang Hyun Joong sejenak. Kemudian ia tersenyum dan memeluk Hyun Joong

            “aku titip So Eun, jaga dia baik-baik” bisik Kim Bum pada Hyun Joong

            “pasti” sahut Hyun Joong sambil melepaskan pelukan Kim Bum. kemudian Kim Bum memeluk ayahnya

            “ayah..do’a kan aku selama disana” ucap Kim Bum

            “tentu saja, anakku” kata ayah Kim Bum

            “ayah, aku juga menitipkan So Eun padamu. Tapi, So Eun jangan kau kencani yaa” canda Kim Bum setengah berbisik

            “issh, kau ini. Kau masih berpikir aku seperti itu,hah?!” ayah Kim Bum terlihat sedikit jengkel dengan anaknya itu

            “ne..ne..maaf dan terimakasih untuk semuanya ayah” kata Kim Bum sambil melepaskan pelukannya. Sang ayah membalasnya dengan senyuman. Kemudian So Eun

            “So Eun-ah” kata Kim Bum yang langsung memeluk So Eun dengan erat. So Eun membalas pelukkan Kim Bum

            “sangat berat berpisah denganmu” kata Kim Bum yang masih memeluk So Eun

            “nado” jawab So Eun

            “tunggu aku.. 2 tahun lagi” ucap Kim Bum yang belum melepaskan pelukannya

            “aku menunggumu” sahut So Eun

            “ingatlah aku selalu mencintaimu, jangan berpaling kepada pria lain” ucap Kim Bum yang kini mulai melepaskan pelukannya

            “ne, jaga kesehatanmu. Jangan lupa untuk selalu menghubungiku” kata So Eun sambil menggenggam tangan Kim Bum. Kim Bum menatap So Eun lalu mendaratkan sebuah ciuman di bibir So Eun. So Eun dibuat terkejut olehnya. Begitupun dengan FB4, Hye Sun dan ayah Kim Bum. mereka sangat tidak menyangka jika Kim Bum berani mencium So Eun didepan mereka secara terang-terangan.

            “oow..bum-ah” kejut Kim Joon. Yang lainnya memandang terkejut ke Kim Bum. sementara orang yang dipandang hanya menunjukkan ekspresi biasa saja, seolah tidak terjadi apapun.

            “pesawatnya sudah akan lepas landas. Aku harus masuk ke pesawat, annyeong” kata Kim Bum sambil membungkukkan badannya. So Eun memandang punggung Kim Bum yang mulai menjauh dari pandangannya, batinnya merasa tidak rela jika harus berpisah dengan Kim Bum sekarang. Pasalnya baru seminggu lalu ia dan Kim Bum menjadi sepasang kekasih yang sesungguhnya.

###

So Eun tengah berjalan sendiri memasuki gerbang sekolah yang sangat besar itu. saat tengah berjalan, tiba-tiba saja ada sebuah mobil sport berwarna putih yang menghadang jalan So Eun. So Eun sudah mengetahui siapa pemilik mobil itu. So Eun menatap orang itu, lalu ia segera membelokkan arah jalannya. Berusaha untuk menghindar

            “yya! Kau, gadis miskin. Berhenti disitu” panggil gadis berambut pendek yang tak lain adalah Eun Jung. So Eun menghentikan langkahnya. Sementara Sweet Girl segera keluar dari mobil yang mereka tumpangi

            “apa kekasih yang merupakan oppa mu itu sudah menceritakkannya padamu?” tanya Suzy. So Eun tidak terkejut mendengar pertanyaan Suzy, karena beberapa hari lalu soo hyun sudah menceritakan hal itu padanya

          “cerita tentang seorang wanita bodoh yang menjelek-jelekkan seorang gadis didepan kakaknya sendiri, eoh? Tentang itu?” tanya So Eun

            “apa maksudmu membohongi kami seperti itu?” tanya Jessica yang mulai berbicara

            “tidak ada maksud apapun selain menguji kecerdasan kalian. Baiklah, ini sudah hampir masuk. Annyeong” kata So Eun lalu pergi meninggalkan Sweet Girl. So Eun sudah bertekad pada dirinya sendiri bahwa ia tak mau lagi ditindas dengan siapapun.

###

Waktu terus berjalan, tak terasa ini sudah satu minggu Kim Bum berada di Jerman. Kalau saja tidak ada FB3 dan Hye Sun yang menemani, sudah pasti hari-hari So Eun menjadi sangat sepi. Kim Bum selalu menghubunginya setiap malam. Di Jerman, Kim Bum tinggal bersama adik dari ayahnya, jadi Kim Bum tidak akan merasa sangat kesepian. Sementara, kuliah Kim Bum baru akan dimulai bulan depan. Kim Bum sengaja berangkat lebih awal karena ia ingin beradaptasi dahulu dengan lingkungan disana dan mempelajari bahasa Jerman yang belum sepenuhnya ia kuasai. Saat ini, Kim Bum baru saja membeli makanan ringan di mini market untuk diberikan kepada keponakan laki-lakinya. Saat baru berjalan beberapa langkah dari mini market, secara tak sengaja Kim Bum menabrak seseorang.

            “i’m sorry, i’m so sorry” kata Kim Bum dengan bahasa inggrisnya, ia juga membungkukan badannya

            “yeah” jawab orang itu. kemudian Kim Bum menegakkan wajahnya dan menatap wajah orang itu. keduanya sama-sama terkejut. Kim Bum menatap orang itu lagi, ini sudah pasti benar. Kim Bum masih mengingat wajahnya, wajah yang tidak banyak berubah menurut Kim Bum. wajah seorang anak kecil yang berada di foto pernikahan itu. Kim Bum masih mengingat wajah itu. sementara itu orang yang ditabrak Kim Bum hanya tersenyum sinis.

            “ternyata dunia ini sempit” ucap orang itu

            “kau…Yoo Ah In” gumam Kim Bum. ia ingat ayahnya pernah memberi tahu nama anak dari suami ibunya itu

            “ne, geuraesso. Kupikir hanya aku saja yang mengingat wajah dan namamu, ternyata kau juga” sahut Ah In

            “untuk apa kau ada di sini?” tanya Kim Bum dengan amarah yang bergejolak karena rasa dendamnya pada Ah In

            “hah?! Pertanyaanmu tidak salah, eoh? Aku punya banyak uang, aku bisa pergi kemanapun aku mau” kata Ah In dengan sombongnya

            “uang..cih” gumam Kim Bum yang menyadari jika Ah In sangatlah sombong

            “oh ya, aku belum menanyakan kabarmu. Apa kabar?” sambungnya

            “cih..berbasa-basi” umpat Kim Bum

            “kabarku baik.. bagaimana denganmu?” tanya Kim Bum yang menatap Ah In dengan sinis juga

            “tentu baik. Apa ayahmu masih menjadi seorang pembuat keramik?” tanya Ah In

            “tidak. Ayahku sekarang seorang pengusaha” kata Kim Bum

            “baguslah. Untuk apa menjadi pembuat keramik, tak ada gunanya” ucap Ah In yang sebenarnya menghina Kim Bum dan keluarganya

            “kau berusaha menghinaku? Sebelum menghina orang lain, sebaiknya kau berkaca dulu pada dirimu sendiri. Siapa yang lebih hina, aku atau kau?” kata Kim Bum dengan dinginnya. Begitupun dengan Ah In yang menatap Kim Bum dengan dinginnya

            “keluarga kami memang pembuat keramik, apa itu sangat hina? Menurutku hanya orang-orang bodoh yang menilainya seperti itu. Itu perkerjaan yang baik dan bisa menghasilkan banyak uang” sambung Kim Bum

            “menghasilkan banyak uang? Hah? Apa kau tidak salah? Berapa? Berapa banyak uang yang bisa kau hasilkan? Hah?!” tanya Ah In

            “kau tanya tentang penghasilanku? Yaa..yaa baiklah. Aku akan menjawabnya. Ada seseorang yang menawar keramikku dengan harga KRW 75.000.000 (IDR = kali 8,8)” ucap Kim Bum

            “hanya orang bodoh yang mau menawar seperti itu” ucap Ah In merendahkan. Kim Bum yang sudah malas menanggapi Ah In akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Ah In.

            “pamanku sudah menunggu, aku pergi” kata Kim Bum lalu mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Ah In

            “kau tidak ingin tau tentang ibu dan adikmu?”  pertanyaan Ah In membuat Kim Bum berhenti melangkah dan menjatuhkan katung berisi snack itu. Kim Bum membalikkan badannya menghadap Ah In

            “dimana mereka?” tanya Kim Bum dengan geram

            “mereka..hmm…ibumu ada di rumah sakit dan adikmu..aku tak tau” kata Ah In dengan santainya. Kim Bum menghampiri Ah In lalu memberikan tinjuan kepada Ah In. orang-orang yang melintas disekitar mereka merasa sangat terkejut

            “keterlaluan sekali kau! Ibuku sedang berada di rumah sakit tapi kau malah asyik berlibur di luar negri. Kau sungguh tidak punya hati!” kata Kim Bum dengan penuh amarah. Ah In mengusap darah dipinggir bibirnya lalu menatap Kim Bum.

            “itu bukan urusanku. Ayahku sudah meninggal, itu berarti ibumu bukan ibuku lagi” kata Ah In dengan santainya

            “kurang ajar!” kata Kim Bum yang bersiap meninju Ah In namun tangan Ah In sudah menahan tangan Kim Bum

            “ibumu berada di rumah sakit bukan karena ulahku, tapi ulah adikmu yang berusaha pergi dari rumah” kata Ah In. Kim Bum menurunkan tangannya

            “dimana adikku?” tanya Kim Bum mencoba menahan emosinya

            “molla” jawab Ah In dengan santai

            “mana mungkin kau tak tau, cepat katakan sebelum aku menonjokmu lagi” kata Kim Bum sambil menatap Ah In dengan penuh kebencian

            “aku benar-benar tidak tahu, adikmu tidak tinggal dirumahku lagi. Dia pergi dari rumah, mungkin sekarang ia menjadi preman” kata Ah In. Kim Bum masih menahan emosinya

            “dia laki-laki atau perempuan? Siapa namanya?” tanya Kim Bum

            “dia laki-laki, namanya…hmm…walaupun dia anak ayahmu, tapi dia tak menggunakan marga Kim, namanya Yoo Seungho” jawab Ah In

DEG! Seketika air mata Kim Bum tumpah

###

Kim Bum melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hatinya kini terasa sesak setelah mengetahui bahwa Seungho adalah adik kandungnya. Ia merasa sangat bodoh karena tidak menyadari adanya keterkaitan antara dirinya dan Seungho, dari mulai bakat sampai sifat. Kim Bum melajukan mobilnya menuju bandara untuk terbang kembali ke Korea. Ia ingin membuktikannya sekarang juga, sebelum perkuliahannya disini dimulai. Kim Bum terlalu memikirkan pernyataan Ah In, sampai-sampai ia tidak menyadari adanya mobil dari arah berlawanan. Dan….

Brukkkkkkk….Duaaarrrr *halahhh suaranya gak karuan*

Terjadi sebuah ledakan kecil antara mobil Kim Bum dan mobil yang satunya. Percikan api mulai keluar dari mobil merah yang Kim Bum kendarai. Sementara Kim Bum yang pingsan karena kepalanya terbentur masih terjebak di dalam mobil. Masyarakat sekitar yang melihatnya merasa cemas sekaligus bingung. Mereka ingin menyelamatkan Kim Bum namun mereka tidak tau caranya karena percikan api kini sudah berubah menjadi api. Sementara korban yang satunya bisa meloloskan diri.

TBC

Duh… mianhae, belakangnya gak enak banget. Abis aku udah bingung mau nulis apa lagi.

Hmm.. seperti biasa,,, jangan lupa untuk tinggalin jejak :)

Secret of Love Part 5

Secret Of Love

Part 5

Author                      : Kim Sang Eun

Main Cast                 : Kim Sang Bum dan Kim So Eun

Cast                            : Goo Hye Sun, Lee Min Ho, Kim Hyun Joong, Kim Joon, Jessica, Suzy, Eun Jung, Kim Soo Hyun, Park Jiyeon, Yoo Seungho, Yoo Ah In

Genre                                    : Romance, Friendly, #yahh tentuin sendiri lah#

Type                          : Chaptered

PENTING!!! : karakter yang ada dalam ff ini, semuanya bukan milik author. Mereka milik keluarga, agensi, dan fans masing – masing. Disini author hanya meminjam saja. Bila ada kesamaan judul, jalan cerita, pemain, dsb, itu merupakan sebuah ketidak sengajaan. Tidak ada maksud untuk meniru (plagiat-kan) karya orang lain.

Annyeong readers :D
Part 5 nya dateeenggg :) Berharap semua readers suka..
jangan lupa tinggalin jejak, Arrasso??!! ;)

dari pada banyak abcdefghijklmnopqrstuvwxyz, mending langsung aja yaa :D
happy reading ****

###

                “kupikir aku akan percaya dengan ucapanmu, bukankah waktu itu kau sendiri yang mengatakan bahwa semua ucapan dan janjimu itu palsu. Dan sekarang, aku tidak mempercayai semua kata-katamu lagi” kata So Eun dengan mata berkaca-kaca

                “untuk kali ini,percayalah padaku. Nanti malam, aku akan menunggumu di taman depan caffemu. Aku akan buktikan bahwa ucapanku kali ini bukan sebuah kebohongan. Aku akan tetap menunggumu disana sampai kau datang. Aku tidak akan pergi sebelum kau datang. Aku janji” kata Kim Bum yang berusaha meyakinkan So Eun. Belum sempat So Eun mejawab, Hyun Joong datang dan mengakhiri pembicaraan Kim Bum dan So Eun

                “So Eun, sedang apa kau disini?” tanya Hyun Joong sambil menatap Kim Bum dan So Eun secara bergantian

                “ayo kita pulang” kata Hyun Joong sambil menarik tangan So Eun. Kim Bum yang menyaksikannya merasa miris. Begitupun dengan So Eun, ia terlihat kasihan melihat Kim Bum seperti itu. bagaimanapun, sampai saat ini Kim Bum adalah orang yang ia cintai. Dan sepertinya kali ini ia menemukan seberkas ketulusan di mata Kim Bum. Namun ia masih meragukan hal itu.

Part 5

Waktu menunjukkan jam 6.30 p.m So Eun sedang sibuk memilih baju untuk ia kenakan. Soo Hyun yang sedang melintas di depan kamar adiknya pun heran melihat mimik wajah So Eun yang kebingungan. Iapun menghampirinya.

“kau sudah pulang?” tanya Soo Hyun. So Eun menjawabnya dengan sebuah anggukan

“mwo hago isseoyo?” tanya Soo Hyun sambil menggenggam segelas capuccino

“aku sedang memilih baju” jawab So Eun sambil memperhatikan baju-bajunya yang tergeletak di kasur

“memangnya kau mau kemana?” tanya Soo Hyun

“aku ingin pergi dengan temanku” jawab So Eun sambil menoleh ke Soo Hyun

“teman atau teman?” goda Soo Hyun

“temanku, jeongmal. Menurutmu yang mana yang lebih bagus, yang ini atau ini?”tanya So Eun yang sebenarnya mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. Ia menunjukkan dua buah dress yang satu adalah gaun yang ia beli saat ingin berkencan dengan Kim Bum dan yang satu lagi adalah dress berwarna cokelat tua selutut yang Soo Hyun belikan saat So Eun berulang tahun.

“keduanya bagus. Tapi aku yakin kau akan kedinginan kalau memakai baju seperti itu”jawab Soo Hyun sambil menyeruput capuccino di tangan kanannya

“mengapa jawabanmu seperti itu. tidak mendukung” ucap So Eun dengan sedikit kesal

“apa ini acara penting untukmu? Mengapa kau terlihat sibuk sekali?” Soo Hyun bertanya. So Eun hanya diam

“benar dia temanmu?” tanya Soo Hyun

“benar, aku tidak berbohong” jawab So Eun

“namja? Yeoja?” tanya Soo Hyun

“hmm.. nam..ja” jawab So Eun dengan perlahan

“siapa namanya? Kim Bum?” tanya Soo Hyun

“ishh..bukan dia” jawab So Eun yang merasa risih karena Soo Hyun terus mengintrogasinya

“geureom?” tanya Soo Hyun

“namanya Hyun Joong, dia sahabatku. Kalau kau tidak percaya, tanyakan saja pada Hye Sun” jwab So Eun

“memang. Aku tidak percaya. mana poselmu?” tanya Soo Hyun

“hah?! Untuk apa?” tanya So Eun sambil mengerutkan keningnya

“menelpon Hye Sun, sudah kubilang, aku..tidak..percaya.. arra?! Sudah serahkan saja ponselmu” kata Soo Hyun dengan penekanan di kata ‘aku..tidak..percaya’

“oppa….aigo jeongmal! Baiklah ini..ini” kata So Eun sambil menyerahkan ponselnya dengan kesal

“aku akan menelpon Hye Sun” kata Soo Hyun sambil berjalan keluar kamar So Eun

“yya! Oppa.. mau kau bawa kemana ponselku?” tanya So Eun dengan sedikit berteriak

“sebentar saja” teriak Soo Hyun dari ruang tengah

“hush.. menyebalkan” gerutu So Eun. ia terus memilih bajunya

“apa aku pakai yang ini saja?” tanya So Eun sambil memandangi baju yang ia beli saat inign berkencan dengan Kim Bum

“ah..tidak tidak. Baju ini mempunyai kenangan buruk. Aku tidak mau memakainya. Hmm…aku pakai yang ini saja” kata So Eun sambil mengambil dress berwarna cokelat tua itu.

###

“ada pesan masuk dari nomor tak dikenal. Isinya ‘So Eun, aku menunggumu di depan caffe jam 8.00 nanti, akan ku buktikan bahwa ucapanku bukan ucapan palsu lagi’ “ kata Soo Hyun sambil menghampiri So Eun yang sedang menyisir rambutnya

“oppa, mengapa kau membacanya?!” kesal So Eun sambil mengambil ponselnya dari tangan Soo Hyun

“dari siapa? Namja bernama Hyun Joong itu?” tanya Soo Hyun tanpa mengindahkan perkataan So Eun

“selalu tak pernah mendengarkan kata-kataku” umpat So Eun yang sebenarnya tanpa disadari ia juga tak mendengarkan pertanyaan Soo Hyun tadi

“apa katamu?” tanya Soo Hyun yang bisa mendengar ucapan So Eun dengan samar-samar

“eobseo!” Kata So Eun sambil berdiri dari kursinya

“jangan memakai pakaian seperti itu kau bisa kedinginan. Walaupun ini sudah hampir memasuki musim semi, namun udaranya masih dingin. Sebaiknya kau kenakan syal, mantel, dan sepatu boat” nasehat Hyun Joong panjang lebar

“ne..ne.. ini juga aku akan mengenakannya” kata So Eun sambil mengambil sepatu boat panjang dan syal berwarna putih serta mantel merah muda yang biasa ia pakai.

“jangan pakai syal, mantel dan sepatu yang itu. warna syal dan mantelnya kurang masuk dengan bajumu dan sepatu boatsmu itu terlalu panjang. Memangnya kau pikir kakimu jenjang seperti kaki member Girls’ Generation” kata Soo Hyun sambil mengambil syal, mantel dan sepatu boat So Eun

“ishh.. lalu yang mana?” tanya So Eun

“kelihatannya laki-laki, tapi mengapa sepertinya ia mengerti sekali tentang fashion? Atau aku yang tidak bisa berdandan?” tanya So Eun dalam hati

“ini, kenakan ini saja” kata Soo Hyun sambil menyerahkan sepatu boats berwarna cokelat tua seatas mata kaki, syal berwarna cokelat muda dan mantel berwarna cream ke cokelatan *semuanya serba cokelat*

“apa warna ini tidak membuatku tampak tua?” tanya So Eun sambil melihat ragu ke mantel,syal, dan sepatu boat yang pilihkan Soo Hyun

“rambutmu diikat seperti ini, supaya tidak terlihat tua” kata Soo Hyun sambil menguncir rambut So Eun kesamping

“sudah.. sekarang kau terlihat lebih cantik daripada tadi” kata Soo Hyun sambil menarik So Eun kedepan cermin

“yah.. lumayanlah. Oppa, mengapa kau tidak mengambil jurusan desainer saja? Sepertinya kau ahli sekali” tanya So Eun pada oppanya itu

“bukan aku yang ahli, tapi kau yang tidak bisa berdandan” cibir Soo Hyun

“aku sudah memujimu, mengapa balasanmu seperti itu” So Eun memanyunkan bibirnya

“sudahlah, sana pergi. Nanti ‘teman’ mu itu menunggu lama” kata Soo Hyun dengan penekanan kata teman

“ne..geuraeso! Na gadasseo!” kata So Eun sambil berjalan keluar kamar

“ne, hati-hati. Diberitakan malam ini turun salju” kata Soo Hyun sambil mengikuti langkah kaki So Eun

“salju? Bukankah ini sudah hampir musim semi? Mengapa ada salju?” tanya So Eun sambil menoleh ke Soo Hyun

“mana ku tahu, reporter di televisi mengatakan seperti itu. Kalau kau mau bertanya, tanyakan saja pada reporter yang memberitakan itu” jawab Soo Hyun sambil memberikan payung ke So Eun. Sementara So Eun hanya menerimanya dan diam saja menanggapi jawaban sang kakak yang tidak peduli

###

So Eun sedang menunggu Hyun Joong di caffenya.

“ne..gamsahamnida” terdengar suara Hye Sun yang sedang melayani pengunjung caffe itu

“belum datang juga?” tanya Hye Sun sambil duduk di depan So Eun. ia bisa bersantai saat ini karena pengunjungnya belum terlalu ramai. Mungkin akan ramai saat jam 7.30 nanti, sedangkan ini masih jam 7.00

“belum” jawab So Eun pelan

“tumben sekali dandananmu benar kali ini, biasanya warnanya selalu tidak pas. Kemana matel merah mudamu itu?” tanya Hye Sun sambil memperhatikan penampilan So Eun dari ujung kaki hingga ujung rambut

“oppa yang mendandaniku” jawab So Eun apa adanya

“mwo?! Bahkan oppamu jauh lebih pintar berdandan daripada kau” ledek Hye Sun

“berhenti meledekku” kesal So Eun

“hei So Eun, kau disini?” tanya sang bos sambil meletakkan penghangat ruangan di sisi kanan caffe

“akhirnya bos,,kau membeli penghangat ruangan juga” lega Hye Sun

“sebenarnya aku sudah memesannya sejak beberapa hari lalu pada toko langgananku, tapi barangnya baru ada hari ini” kata bos So Eun sambil duduk bergabung dengan Hye Sun dan So Eun

“sekarang aku tidak perlu menggunakan sarung tangan lagi ketika bekerja” ucap Hye Sun sambil melepaskan sarung tangannya

Kemudian terdengar suara pintu yang terbuka dan ternyata yang datang adalah Hyun Joong.

“So Eun”panggil Hyun Joong sambil menghampiri meja So Eun dan Hye Sun serta bos mereka

“sudah lama menungguku?” tanya Hyun Joong

“anieyo” jawab So Eun

“baiklah, ayo kita pergi” kata Soo Hyun sambil mengulurkan tangannya. So Eun agak terkejut melihatnya, begitupun dengan Hye Sun. Namun akhirnya So Eun membalasnya juga.

“kami pergi dulu yaa”kata Hyun Joong pada Hye Sun dan bos caffe

“belakangan ini cuaca tidak menentu, jadi berhati-hatilah. Dan jangan sakiti temanku yang cengeng ini” kata Hye Sun sementara Hyun Joong dan So Eun hanya tersenyum

“hati-hati di jalan” ucap sang bos dengan sedikit menaikkan suaranya

###

“kita mau kemana?” tanya So Eun saat berada di dalam mobil mewah Hyun Joong

“hmm.. bagaimana jika kita pergi ke Lotte World? Ini masih jam 7.00 jadi masih buka” usul Hyun Joong

“baiklah, sudah lama aku tidak kesana” sahut So Eun

“memangnya kapan terakhir kali kau kesana?” tanya Hyun Joong

“hmm..waktu libur musim panas tahun lalu bersama Soo Hyun oppa” jawab So Eun

“wow.. sudah hampir setahun” balas Hyun Joong

“ne” jawab So Eun

Tak lama kemudian So Eun dan Hyun Joong sampai di Lotte World. Mereka memainkan berbagai permainan di dunia fantasi dalam ruangan itu. So Eun terlihat sangat senang disana, begitupun dengan Hyun Joong. Hyun Joong merasa senang sekali karena akhirnya ia bisa menghabiskan waktu bersama So Eun

“kau mau ice cream?” tanya Hyun Joong

“hmm.. boleh” jawab So Eun sambil tersenyum

“rasa apa?” tanya Hyun Joong

“vanila” jawab So Eun

“baiklah, kau tunggu disini” kata Hyun Joong,lalu iapun bergegas membeli ice cream yang berjarak sekitar 7 meter dari tempat mereka duduk tadi.

Ini sudah jam 8.30 KST So Eun dan Hyun Joong memutuskan untuk menyudahi permainan di Lotte World. Merekapun menjelajahi tempat-tempat lainnya

“sekarang kemana lagi?” tanya So Eun

“aku ingin ke myeongdong” jawab Hyun Joong

“myeongdong? Kau yakin ingin kesana?” tanya So Eun

“ne, memangnya ada yang aneh?”tanya Hyun Joong dengan wajah polos

“hmm..aku hanya heran saja, orang kaya sepertimu masih mau berjalan-jalan di pasar seperti myeongdong” ucap So Eun

“barang-barang di myeongdong kualitasnya tidak jauh beda dengan yang ada di mall-mall besar dan harganya sangat murah. Apa kau pikir aku orang yang suka menghambur-hamburkan uang?” sahut Hyun Joong

“baguslah kalau seperti itu” gumam So Eun

“ayo masuk” kata Hyun Joong sambil membukakan pintu mobil untuk So Eun

###

Ditempat lain..

Kim Bum sudah menunggu So Eun sekitar 30 menit. Ia terus memandangi posel berlatar belakang fotonya bersama So Eun. Sementara titik-titik salju sudah mulai turun dan Kim Bum tidak membawa payung ataupun memakai topi. Bahkan syalpun dia tidak memakainya

“apa dia tidak membaca pesanku” gumam Kim Bum

“atau dia benar-benar tidak ingin bertemu denganku” sambungnya. Kim Bum terus menggosok-gosokkan tangannya untuk mengurangi rasa dingin.

“mengapa udaranya seperti ini? bukankah ini sudah hampir memasuki musim semi, harusnya suhunya hanya berkisar antara 15-20° saja” gumamnya. Kim Bum merapatkan mantel yang ia pakai

“So Eun.. ayolah cepat datang.. ini sudah dingin sekali” gumam Kim Bum sambil berjalan bolak balik di taman itu. Salju yang turun semakin banyak, sepertinya malam ini benar-benar terjadi hujan salju.

“kenapa semakin banyak?? Tapi tak apalah, demi membuat So Eun percaya padaku” Kim Bum terus menunggu So Eun yang tak kunjung datang di taman itu. Banyak pemilik toko setempat yang menawarkan Kim Bum untuk berteduh di toko mereka, namun Kim Bum menolaknya. Karena ia takut ketika So Eun datang dan tidak melihatnya ditaman, maka So Eun akan tidak mempercayainya lagi.

###

Sementara itu So Eun dan Hyun Joong sudah sampai di myeongdong.

“ayo” kata Hyun Joong sambil membukakan pintu untuk So Eun. So Eun pun keluar dari mobil dengan dipayungi Hyun Joong. Mereka mengelilingi myeongdong dengan menggunakan sebuah payung. Dan satu yang So Eun lupakan, ia tidak membawa tasnya. Mereka bersenang-senang di pasar yang banyak menjual barang import dengan harga miring itu.

###

Ini sudah sekitar 45 menit penantian Kim Bum. Semakin banyak pemilik toko yang kasihan pada Kim Bum dan menawarkan Kim Bum untuk berteduh, semakin banyak juga kata ‘animnida, gamsahamnida’ yang terlontar dari mulut Kim Bum. Sedari tadi seorang pelanggan di caffe tempat So Eun dan Hye Sun berkerja memperhatikan Kim Bum dari dalam caffe. Ia merasa kasihan melihat Kim Bum yang berada di tengah hujan salju sendirian tanpa ada yang menutupi kepalanya. Akhirnya iapun memanggil Hye Sun

“pelayan” panggil pelanggan itu pada Hye Sun

“ne ahjumma, ada yang bisa kubantu lagi?” tanya Hye Sun dengan ramahnya

“suruhlah pemuda itu kesini, aku melihatnya sejak 30 menit lalu, dari tadi dia disitu. Kasihan dia, ini sedang turun salju” kata ahjumma itu sambil menunjuk Kim Bum. Hye Sun mengarahkan pandangannya pada orang itu, ia bisa melihat jelas bahwa itu adalah Kim Bum. Karena taman dan caffe hanya berjarak sekitar 10 meter.

“ha?! Itu Kim Bum, untuk apa dia disitu?” Hye Sun bertanya-tanya

“nona, jadi kau mengenalnya?” tanya ahjumma itu

“ne, dia teman satu universitasku” jawab Hye Sun

“hampirilah dia, suruh masuk” kata ahjumma itu

“ah..n..ne”jawab Hye Sun lalu segera menghampiri Kim Bum

“Kim Bum” panggil Hye Sun dengan sedikit jutek

“kau? Apa yang kau lakukan disini?” tanya Kim Bum sambil berdiri dari kursinya

“harusnya aku yang bertanya seperti itu,apa yang kau lakukan disini?” tanya Hye Sun

“sudahlah, ayo kau masuk dulu ke caffe ku. Hmm sebenarnya aku tak mau menawarimu untuk masuk ke caffeku karena aku membencimu, tapi pelangganku merasa kasihan padamu. Jadi ayo ikut aku” sambung Hye Sun sambil menarik lengan Kim Bum

“tidak, terimakasih” jawab Kim Bum sambil tetap berdiri di tempatnya

“ah..ayolah.. nanti para pelangganku bisa mengira bahwa aku tidak peduli kepada sesama. Sebenarnya apa yang kau lakukan disini?” tanya Hye Sun sambil melepaskan tangannya dari lengan baju Kim Bum

“aku sedang menunggu So Eun” jawab Kim Bum sambil tersenyum

“So Eun?” Hye Sun mengulang. Kim Bum mengangguk

“dia sudah pergi bersama Hyun Joong jam 7 tadi. Sudah, kau ikut aku saja”kata Hye Sun

“Hyun Joong? Mereka pergi bersama?”tanya Kim Bum dengan sedikit terkejut. Ia berpikir bahwa ia sudah kalah satu langkah dari Hyun Joong

“ne”jawab Hye Sun dengan malas

“ayo masuk” kata Hye Sun sambil menarik lengan baju Kim Bum lagi

“tidak. Aku sudah katakan pada So Eun bahwa aku menunggunya di taman depan caffe bukan di dalam caffe. Aku ingin membuktikan padanya bahwa aku sudah berubah, aku bukan Kim Bum yang dulu. Bagaimana jika nanti dia datang dan melihatku tidak ada di caffe? Dia akan semakin membenciku. Kau tidak tau bagaimana perasaanku saat ini, kau tidak tau bagaimana posisiku saat ini, aku harus bisa mendapaatkannya sebelum terlambat” jelas Kim Bum panjang lebar

“ohh Kim Bum..baiklah.. aku memang tak tau bagaimana perasaanmu saat ini, aku memang tak tau bagaimana posisimu saat ini. Dan sudah kubilang, sebenarnya aku malas menghampirimu. Tapi pelangganku yang memintanya, mana mungkin aku menolak? Jadi kau ikut aku saja, So Eun pasti tidak datang. Ia sedang bersenang-senang dengan Hyun Joong” balas Hye Sun yang tidak kalah panjanganya dari penjelasan Kim Bum

“aku yakin dia akan datang” jawab Kim Bum sambil duduk di kuris taman

“ayolah.. setidaknya nanti ketika So Eun datang kau bisa menghampirinya lagi disini. Sekarang kau masuk ke caffe dulu” bujuk Hye Sun kesekian kalinya

“didalam caffemu juga sama saja, dingin-dingin juga. Disana tak ada penghangat ruangan kan’?” ucap Kim Bum

“tidak. Bos ku baru saja memasangnya sore tadi. Ayolah..” Hye Sun terus membujuk Kim Bum

“shireo” Kim Bum tetap pada pendiriannya

“akh..!! terserah kau sajalah” Hye Sun mulai kesal dan kembali ke caffe

Didalam caffe ia terus mencoba menghubungi So Eun, namun So Eun tak kunjung membalasnya. Karena So Eun meninggalkan tasnya di dalam mobil Hyun Joong. Akhirnya Hye Sun berinisiatif untuk mengirimkan pesan pada So Eun

From    : Goo Hye Sun
To          : Kim So Eun

So Eun, sekarang kau sedang berada dimana? Kim Bum berada di taman depan caffe. Saat ini salju sedang turun, aku sudah menyuruhnya masuk tapi dia terus menolaknya. Ia bilang ia ingin membuktikan padamu bahwa ia bukan  Kim Bum yang dulu (aku tak tau apa maksudnya ini). kalau boleh kusarankan, lebih baik kau cepat kesini. Disini ada seorang ahjumma yang sangat cerewet, dia terus memintaku untuk menyuruh Kim Bum berteduh di dalam caffe, aku kewalahan -_- *cepat kesini*

Sudah sekitar 15 menit, tak ada tanda-tanda jika So Eun membaca pesan itu. Hye Sun pun mulai menelpon So Eun lagi, ini sudah telepon yang ke-5. Hye Sun bingung dibuatnya. Pertama, karena ahjumma itu terus saja menyuruh Hye Sun untuk mengajak Kim Bum masuk sehingga ia berulang kali keluar masuk caffe. Kedua, Kim Bum yang sangat keras kepala. Ketiga, So Eun yang tidak memberikan balasan apapun. Heuh… sungguh, Hye Sun benar-benar mengaku frustasi kali ini. Ia mencoba mengirim pesan lagi kepada So Eun.

From    : Goo Hye Sun
To          : Kim So Eun

So Eun!! Cepatlah kesini. Aku juga menjadi pusing dibuatnya. Walaupun kau membencinya, setidaknya kau kesini untuk menyumpal mulut ahjumma itu. Kurasa jika ini berlangsung 1 jam lebih lama lagi, aku akan gila. Cepatlah kesini!

Hye Sun berjanji pada dirinya sendiri, jika yang ini tidak berhasil maka ia tidak akan mempedulikan omongan ahujumma rewel itu.

###

“kau senang malam ini?” tanya Hyun Joong sambil memasang sabuk pengamannya

“ne” jawab So Eun sambil mengambil tasnya. Ia men-chek ponselnya dan ternyata ada 5 panggilan tak terjawab dan 2 pesan dari Hye Sun. Iapun membuka pesan itu

From    : Goo Hye Sun
To          : Kim So Eun

So Eun, sekarang kau sedang berada dimana? Kim Bum berada di taman depan caffe. Saat ini salju sedang turun, aku sudah menyuruhnya masuk tapi dia terus menolaknya. Ia bilang ia ingin membuktikan padamu bahwa ia bukan  Kim Bum yang dulu (aku tak tau apa maksudnya ini). kalau boleh kusarankan, lebih baik kau cepat kesini. Disini ada seorang ahjumma yang sangat cerewet, dia terus memintaku untuk menyuruh Kim Bum berteduh di dalam caffe, aku kewalahan -_- *cepat kesini*

So Eun terlihat agak panik ketika membaca pesan yang pertama ini. lalu ia membuka pesan yang kedua

From    : Goo Hye Sun
To          : Kim So Eun

So Eun!! Cepatlah kesini. Aku juga menjadi pusing dibuatnya. Walaupun kau membencinya, setidaknya kau kesini untuk menyumpal mulut ahjumma itu. Kurasa jika ini berlangsung 1 jam lebih lama lagi, aku akan gila. Cepatlah kesini!

“setelah ini kita mau kemana?” tanya Hyun Joong namun So Eun tidak mendengarnya karena masih fokus dengan pikirannya sendiri

“dia menungguku, berarti …
‘ada SMS dari nomor tak dikenal. Isinya ‘So Eun, aku menunggumu di depan caffe jam 8.00 nanti, akan ku buktikan bahwa ucapanku bukan ucapan palsu lagi’ berarti pesan itu dari Kim Bum” batin So Eun

“aku harus segera kesana” tekad So Eun dalam hati

“So Eun, kau baik-baik saja?” tanya Hyun Joong sambil mengibaskan tangannya di depan wajah So Eun

“Hyun Joong-ssi antarkan aku ke caffe sekarang juga” kata So Eun dengan wajah paniknya

“apa yang terjadi? Kau terlihat sangat panik” tanya Hyun Joong

“cepat!” pinta So Eun tanpa menganggap pertanyaan Hyun Joong

“ba…baiklah” Hyun Joong segera melajukan mobilnya menuju caffe So Eun

###

“So Eun” gumam Kim Bum. Ia sudah hampir tidak sadarkan diri. Ia terus bergumam menyembutkan nama So Eun. Sejak tadi, Hye Sun terus bolak-balik menghampirinya. Hye Sun terus menyuruhnya untuk masuk ke caffe, namun dengan intonasi kata yang terdengar kasar. Dan itu membuat Kim Bum hampir saja memukuli Hye Sun, kalau ia tidak ingat bahwa Hye Sun seorang perempuan.

“Kim Bum” panggil Hye Sun

“pergilah” kata Kim Bum

“baiklah” kata Hye Sun lalu kembali lagi ke dalam caffe

Seperti itulah rutinitas baru Hye Sun dan Kim Bum kali ini, menghampiri Kim Bum lalu menunggu Kim Bum berkata ‘pergilah’ dan Hye Sun menjawab ‘baiklah’ lalu kembali ke caffe. Hye Sun melakukan itu hanya untuk menuruti perintah ahjumma yang dianggapnya menyebalkan itu.

Tak lama kemudian, sampailah So Eun di caffe

“gomawo untuk malam ini”kata So Eun sambil bergegas keluar dari mobil Hyun Joong

“ne..cheon..”belum selesai Hyun Joong berucap, So Eun sudah menutup pintunya dengan cepat

“maneyo” sambung Hyun Joong

So Eun memasuki caffe

“Hye Sun-ah, dimana dia?” tanya So Eun

“terimakasih Tuhan,, akhirnya dia datang juga” syukur Hye Sun ketika melihat So Eun sudah datang

“cepat katakan, dimana dia?” tanya So Eun yang sudah dilanda kepanikan

“untuk apa panik karenanya, itu..dia ada di taman depan” kata Hye Sun. So Eun segera berlari kecil dengan sebuah payung ditangan kanannya

“Bum-ah” panggil So Eun. Kim Bum membalikkan badannya dan menemukan So Eun tengah berdiri di hadapannya. Ia pun segera memeluk So Eun dengan senang

“So Eun-ah,, aku tau kau akan datang” ucap Kim Bum dengan senangnya. Sementara So Eun hanya menerima pelukan Kim Bum. sudah lama ia tidak merasakan pelukan ini, pelukan yang sangat ia nantikan. Namun, saat ini ia tidak boleh ceroboh lagi, ia tetap harus berhati-hati pada namja yang satu ini

“aku sudah membuktikan kata-kataku, apa sekarang kau sudah mepercayaiku?” tanya Kim Bum yang masih memeluk So Eun

“babo” gumam So Eun dengan air mata yang menetes dipipinya, ia segera menghapus air mata itu

“apa maksudmu?” tanya Kim Bum sambil melepaskan pelukannya

“dari tadi, Hye Sun sudah menyuruhmu untuk masuk ke caffe. Namun mengapa kau menolaknya? Kau ini bodoh sekali. Saat ini udara sangat dingin, sekarang sedang turun hujan. Mengapa kau tidak berteduh dan tetap bertahan di tempat ini tanpa payung ataupun topi yang menutupi kepalamu? Apa yang kau lakukan disini Kim Bum? bagaimana jika kau sakit, hah?! Siapa yang akan mengurusimu?” ucap So Eun. saat ini air matanya sudah tidak dapat ia tahan lagi

“kau menghawatirkanku?” tanya Kim Bum sambil menghapus air mata So Eun

“bahkan tanganmu sudah hampir beku” sahut So Eun yang merasakan dinginnnya tangan Kim Bum. karena tak tega melihat So Eun menangis, Kim Bum pun memeluknya lagi

“uljima” bisik Kim Bum sambil mengeratkan pelukannya. Sekitar 1 menit kemudian, So Eun melepaskan pelukkan Kim Bum. lalu ia melepaskan syal creamnya.

“pakailah, kau hampir mati kedinginan” kata So Eun sambil memakaikan syal ke leher Kim Bum. sementara Kim Bum hanya tersenyum melihat wajah So Eun yang begitu khawatir

“sekarang kau ikut aku” kata So Eun sambil menggandeng tangan Kim Bum untuk ke caffe. Namun Kim Bum hanya diam tanpa beranjak dari tempatnya sedikitpun

“wae?” tanya So Eun yang masih menggandeng tangan Kim Bum. sementara Kim Bum hanya mengarahkan matanya pada tangan So Eun yang menggandeng tangannya

“bukan saatnya untuk membahas hal seperti ini. kajja!” kata So Eun yang menarik Kim Bum untuk ke caffe.

###

“sudah berapa lama kau disana?” tanya So Eun sambil melepas mantelnya lalu duduk di depan So Eun

“tidak lama. Hanya beberapa menit” jawab Kim Bum

“heoh Kim Bum.. 1 jam lebih kau bilang hanya?” kata Hye Sun sambil bergabung dengan Kim Bum dan So Eun. ia juga membawakan 2 gelas kopi susu untuk Kim Bum dan So Eun

“Bum-ah.. kurasa kau orang berpendidikan. Kau pasti tau jika kau disana lama-lama kau pasti bisa sakit” ujar So Eun dengan wajah serius

“aku hanya ingin membuktikan bahwa aku sudah berubah. Aku bukan Kim Bum yang pernah mempermainkanmu. Aku ingin menunjukkan bahwa sekarang ini aku adalah Kim Bum seorang laki-laki sejati. Mulai saat ini, semua janji dan ucapanku bukanlah palsu. Aku hanya ingin menunjukkan itu semua padamu” jelas Kim Bum

“tapi tidak seperti ini caraya” balas So Eun

“ne, kau membuat banyak orang khawatir. Aku juga dibuat repot olehmu” keluh Hye Sun

“aku minta maaf karena telah merepotkanmu” kata Kim Bum pada Hye Sun

“kau? Minta maaf? Kukira kau tidak tau caranya mengucapkan kata maaf, ternyata bisa juga” cibir Hye Sun. Sementara Kim Bum hanya tersenyum mendengarnya

“So Eun…kau..habis pergi…bersama…Hyun Joong?” tanya Kim Bum dengan perlahan

“n..ne” jawab So Eun dengan hati-hati

“oh..jadi benar apa kata Hye Sun” gumam Kim Bum

“kau pikir aku berbohong! Sudahlah, sepertinya ada hal penting yang ingin kalian bicarakan. Aku melayani pengunjung dulu” kata Hye Sun lalu bergegas pergi meninggalkan Kim Bum dan So Eun berdua

“apa kau merasa senang bersamanya?” tanya Kim Bum. So Eun mengangguk

“aku sudah berusaha semampuku untuk membuatmu kembali percaya padaku. Jika kau merasa bahagia bersamanya, aku ikut bahagia. Karena bagiku, kebahagianmu adalah kebahagiaanku juga. Ternyata hal tersulit di dunia ini adalah menjaga kepercayaan” ucap Kim Bum sambil menahan air matanya. Hatinya terasa sakit sekali ketika So Eun mengangguk

“aku percaya padamu. Aku percaya, namun rasa benci ini masih tersisa” kata So Eun sambil menatap dalam kedua mata Kim Bum

“gomawo telah mempercayaiku. Aku akan menjaganya dengan baik, tak apa jika kau masih membenciku” gumam Kim Bum

“peperanganku dengan salju yang turun tidak sia-sia. Sekarang aku senang karena kau bisa mempercayaiku lagi. Aku minta maaf jika aku pernah membuatmu merasa sangat sakit. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan mengulanginya lagi. Sekarang kau sudah menemukan penggantiku, kau sudah menemukan orang yang lebih baik dariku. Aku senang kau bahagia bersamanya. Dan aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaan kalian” kata Kim Bum sambil tersenyum, namun ada luka mendalam dibalik senyuman itu.

“kau bilang kau lelaki sejati, mengapa kau menangis?” tanya So Eun yang melihat air mata di pelupuk matanya. Sebenarnya hatinya juga tersayat melihat Kim Bum yang menahan tangisnya

“ah.. aku mengantuk hingga mataku berair” kata Kim Bum sambil tertawa kecil dan menghapus air matanya

“baiklah, kurasa ini sudah malam. Aku pamit” kata Kim Bum sambil melepaskan syal So Eun yang dari tadi ia pakai

“saljunya masih turun” kata So Eun sambil menunjukkan salju yang masih berjatuhan

“mobilku ada di depan taman, itu tidak terlalu jauh dari sini” kata Kim Bum dengan senyuman

“sudah ya, aku pergi” kata Kim Bum lalu bergegas keluar caffe

“kau memang laki-laki, namun kau juga manusia. Hanya manusia biasa, kau berhak menangis” batin So Eun yang memperhatikan punggung Kim Bum yang semakin menjauh

“kemana dia?”tanya Hye Sun yang menghampiri So Eun

“sudah pulang” jawab So Eun

“dia tidak meminum kopinya?” tanya So Eun

“molla, aku ingin pulang. annyeong” kata So Eun lalu bergegas pulang

###

Kim Bum memasuki ruang kelas, lalu ia duduk di samping Kim Joon yang sedang memainkan ponselnya.

“wajahmu pucat sekali, kau tidak enak badan?” tanya Kim Joon sambil memperhatikan wajah Kim Bum

“ani, gwaenchana” jawab Kim Bum sambil memaksakan senyumnya

“hanya saja, belakangan ini pikiranku sedang rumit” sambungnya

“matamu sembab, seperti habis menangis” lanjut Kim Joon

“ani” dusta Kim Bum. kenyataannya semalaman ia menangisi dirinya sendirinya. Ia sudah rela kedinginan di bawah derasnya salju. Semua itu untuk So Eun, namun ternyata So Eun sudah memiliki lelaki lain. Lelaki yang bisa membuatnya bahagia. Ditambah lagi dengan ucapan ayahnya semalam.

“munafik” gumam Kim Joon

“kau hanya manusia biasa, jangan hanya kau laki-laki maka kau menahan tangismu” sambung Kim Joon

“aku tidak ingin menangis” sahut Kim Bum sambil mengeluarkan ponsel dan headset dari tasnya

“kau memang tidak ingin, tapi kau butuh” balas Kim Joon

“aku lelaki sejati” kata Kim Bum sambil memasang headset ditelinganya

“lelaki sejati juga bisa menangis” kata Kim Joon sambil melepas headset Kim Bum

“ceritakan padaku, apa yang terjadi semalam?” tanya Kim Joon. Kim Bum pun menceritakan semuanya.

“dan sekarang kau mau menyerah begitu saja?” tanya Kim Joon setelah mendengar cerita Kim Bum yang super panjang

“dia bilang dia merasa bahagia bersama Hyun Joong, jadi alasan apa lagi? Biarkan dia bahagia. Itu membuatku lega” jawab Kim Bum

“kau tidak ingin memilikinya? apa kau ingin belajar melupakannya selama kau 2 tahun di Jerman?” tanya Kim Joon

“tidak. Mana mungkin aku bisa melupakannya” jawab Kim Bum

“lalu, kau tidak ingin dia kembali padamu? Kemana sifat egoismu? Kau harus memakainya saat ini” tanya Kim Joon yang sudah terlihat geregetan dengan sikap Kim Bum yang sangat berbeda dengan biasanya

“aku sudah bercermin. Aku sadar, ternyata tak semua kebahagiaan yang aku dapat itu dari diriku sendiri. Sekarang aku sadar bahwa aku bisa bahagia karena kebahagiaan orang lain. Cinta tak harus memiliki” ujar Kim Bum

“kau naif sekali. Cinta tak harus memiliki? Itu hanya sebuah kata-kata yang sok bijak, pada kenyataannya manusia tidak bisa seperti itu. dan kau bahagia karena kebahagiaan orang lain? Hah?! Kim Bum, kau tidak sedang bahagia, kau sedang tersakiti saat ini. kenapa kau hobi sekali membohongi diri sendiri?!” omel Kim Joon

“jika dia memang jalan hidupku, maka Tuhan pasti akan menyatukan kami. Walaupun tak tau kapan” kata Kim Bum dengan senyuman

“cih.. aku benar-benar tidak suka dengan pemikiranmu saat ini” kata Kim Joon

“dan ada satu hal lagi yang ingin kuceritakan” ucap Kim Bum

“apa?” tanya Kim Joon

“semalam ayahku ke apartemenku” jawab Kim Bum

“untuk apa? Kau mengijinkannya?” tanya Kim Joon. Kim Bum pun menceritakan semuanya

Flashback

Kim Bum sedang berjalan gontai di koridor apartemennya. Matanya sudah sedikit sembab karena selama diperjalanan ia menangis. Saat sampai di depan pintu aparemennya, Kim Bum memasukan kode rahasia yang merupakan tanggal lahirnya. Alangkah terkejutnya ketika ia melihat ayahnya sedang duduk di ruang tamu. Seketika , wajahnya pun berubah menjadi geram.

                “Kim Bum” panggil ayahnya

                “untuk apa ayah kesini?” tanya Kim Bum sambil duduk di depan ayahnya

                “ada yang ingin ayah bicarakan padamu” kata ayah Kim Bum yang bernama kim sang joong itu

                “apa?” tanya Kim Bum dengan ketus

                “ini mengenai ayah dan ibumu. Ayah rasa, kau sudah cukup besar untuk mengetahui ini semua” kata ayah Kim Bum

                “ibu? Apa mengenai dimana ibu tinggal?” tanya Kim Bum

                “bukan” jawab ayah Kim Bum

                “lalu?” tanya Kim Bum yang seolah tak peduli

                “status ayah dan ibumu” jawab ayah Kim Bum

                “maksud ayah?” tanya Kim Bum yang sudah mulai tertarik dengan pembicaraan ayahnya kali ini

                “sebenarnya, ayah dan ibumu sudah bercerai semenjak kau berusia 1 tahun. Ayah sama sekali tidak berselingkuh dengan perempuan lain seperti yang kau kira selama ini. Kami bercerai karena ibumu yang mempunyai lelaki lain” jelas ayah Kim Bum

                “ayah jangan coba-coba kau menjelek-jelekkan ibu di hadapanku. Jelas-jelas dulu kau katakan bahwa ibu sakit-sakitan dan kau meninggalkannya” kata Kim Bum

                “ayah lakukan itu karena saat itu ayah masih mencintai ibumu. Ayah tidak ingin kau membenci ibumu karena dia lebih memilih lelaki lain daripada kita. Tapi tidak dengan sekarang, ayah rasa sekarang kau sudah saatnya tau mana yang sebenarnya dan mana yang merupakan kebohongan” balas ayah Kim Bum

                “tidak mungkin” gumam Kim Bum dengan tetesan air matanya. Sepertinya ini adalah malam yang paling menyedihkan dalam hidup Kim Bum

                “ini, kau ingat, kita pernah menghadiri pernikahan ini. dan kau tau, wanita yang berdiri dipelaminan bersama seorang pria dewasa dan anak laki-laki kecil ini adalah ibumu” kata ayah Kim Bum sambil menunjukka foto ibu Kim Bum yang berada dipelaminan bersama seorang pria dan seorang anak kecil sekitar berusia 4 tahuanan itu

                “ini ibu?? Lalu apa ini aku?” tanya Kim Bum sambil menunjuk anak kecil yang ada di dalam foto itu

                “bukan. Itu anak dari laki-laki itu. Oh ya, ayah juga ingin memberitahu bahwa sebenarnya kau bukan anak tunggal. Seharusnya kau memiliki adik” jawab ayah Kim Bum

                “adik?” tanya Kim Bum

                “ne, sebenarnya saat ibumu menikah dengan suami barunya, ia sedang mengandung adikmu. Adik kandungmu” ucap ayah Kim Bum

                “lalu dimana mereka sekarang? Kenapa ibu tak pernah mengunjungi kita?” tanya Kim Bum

                “ayah tak tau. Ibu pasti sudah bahagia bersama suami barunya. Terakhir ayah dengar, mereka pindah ke Shanghai dan setelah itu tidak ada kabar lagi” jawab ayah Kim Bum

                “maafkan ayah karena selama ini ayah membohongimu. Ayah hanya ingin kau tidak membenci ibumu. Ayah ingin, sebelum kau pergi ke Jerman, kau mengetahui semuanya. Ayah tidak pernah berselingkuh kepada perempuan lain. Bagi ayah, kau adalah harta ayah yang paling berharga” ucap ayah Kim Bum

                “ayah” gumam Kim Bum lalu segera memeluk ayahnya itu

                “maafkan aku karena telah membencimu.. maafkan aku karena telah berprasangka buruk padamu” ucap Kim Bum sambil memeluk ayahnya

                “ayah, siapa nama anak yang tadi itu?” tanya Kim Bum sambil melepaskan pelukannya

                “namanya…”

End Flashback

“mwo!! Jadi ayah dan ibumu sebenarnya sudah bercerai dan ibumu tidak sakit-sakitan seperti yang ayahmu ceritakan?!” ucap Kim Joon tak percaya

“ne” jawab Kim Bum singkat

“lalu dimana mereka sekarang?” tanya Kim Joon

“ayah bilang tidak tau, terakhir ayahku mendengar bahwa mereka pindah ke Shanghai” jawab Kim Bum

“kau tidak ingin mencarinya?” tanya Kim Joon

“untuk apa aku mencarinya. Biarkan saja, ibu dulu lebih memilih lelaki itu daripada aku dan ayah. Sekarang kurasa, ayahku sudah cukup. Dia sudah menjadi ayah sekaligus ibu untukku” ucap Kim Bum sambil tersenyum

“sekarang kau sudah tidak membencinya?” tanya Kim Joon

“tentu tidak. Aku sudah mengetahui yang sebenarnya” jawab Kim Bum

###

“apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Hyun Joong pada Kim Bum. saat ini mereka sedang berada di atap sekolah. untung saja disini sedang tidak ada So Eun dan Hye Sun. Jadi Kim Bum bisa berbicara pada Hyun Joong

“dua minggu,,ah tidak.. ini tersisa 13 hari lagi, aku akan pergi ke Jerman” ucap Kim Bum. Hyun Joong terbelak dibuatnya, pasalnya, ini terlalu mendadak

“untuk apa?” tanya Hyun Joong

“aku akan meneruskan pendidikanku disana, ayahku yang menyuruhnya” jawab Kim Bum

“berapa lama?” tanya Hyun Joong

“2 tahun. Hanya dua tahun” kata Kim Bum

“ck..hanya? Lalu?” tanya Hyun Joong

“hmm.. aku ingin minta maaf padamu, selama ini aku sering membuatmu kesal. Aku minta maaf. Aku hanya ingin berdamai denganmu” kata Kim Bum sambil menoleh ke Hyun Joong. Hyun Joong pun berbalik menoleh Kim Bum. ia merasa sedikit heran dengan perkataan Kim Bum

“aku ingin kita menjadi teman, seperti sebelum ada Kim So Eun disini” kata Kim Bum sambil mengulurkan tangannya. Dan Hyun Joong pun membalasnya dengan tersenyum. Dan akhirnya mereka tersenyum bersama.

“sepertinya sangat langka suasana seperti ini” kata Hyun Joong sambil tersenyum

“ne” sahut Kim Bum

“oh ya, selain itu juga..aku ingin menitipkan So Eun padamu. Aku yakin kau tidak akan menyakitinya, kau tidak akan melakukan hal bodoh seperti yang ku lakukan padanya” kata Kim Bum

“jika kau mencintainya, kau harus menjaganya sendiri” ucap Hyun Joong

“aku akan memantaunya dari jauh. Aku tau dia bahagia bersamamu, jadi aku minta kau menjaganya dengan baik dan buat dia selalu merasa bahagia. Karena sejujurnya, aku sangat mencintainya” kata Kim Bum

“aku akan menjaganya” balas Hyun Joong

Tanpa mereka ketahui, So Eun mendengar semua itu. So Eun sangat terpukul mendengar bahwa Kim Bum mencintainya dan akan pergi ke Jerman 13 hari lagi, bukan hanya 1 atau 2 hari, melainkan sampai 2 tahun. Itu membuat So Eun menyesal karena So Eun tidak melakukan hal yang istimewa pada Kim Bum semalam, melainkan ia malah membuat Kim Bum menangis.

###

Kim Bum berjalan di koridor apartemennya, dari arah berlawanan, ia melihat Seungho menggandeng seorang gadis.

“yya! Anak kecil sudah pacar-pacaran” ledek Kim Bum saat mereka bertemu

“hai hyeong, kau baru pulang?” tanya Seungho

“ne, geunyeon nugunya? Yeojachingu?” tanya Kim Bum sambil memperhatikan gadis di samping Seungho

“oh ya, dia kekasihku. Namanya Park Jiyeon” kata Seungho

“annyeong haseyo. Jiyeon imnida” kata Jiyeon sambil membungkukkan badannya

“annyeong, Kim Bum imnida” balas Kim Bum

“kalian satu sekolah?” tanya Kim Bum

“ne” jawab Seungho dan Jiyeon

“hyeong, aku ingin berkencan. Sampai jumpa lagi” kata Seungho sambil memukul kepala kepala Kim Bum dengan tangannya

“hei!! Anak kurang ajar” teriak Kim Bum

“hah..dia itu, selalu begitu” gumam Kim Bum

###

Hari ini, H-10 Kim Bum mempunyai janji dengan Seungho. Ia ingin mengajak Seungho ke galerinya dan studio musik milik keluarganya. Tak ada alasan pasti mengapa ia mengajak Seungho jalan-jalan hari ini.

“wah ternyata luas juga” kata Seungho sambil mengelilingi galeri tembikar Kim Bum

“kau seorang seniman keramik hyeong?” tanya Seungho

“ne” jawab Kim Bum sambil menyiapkan tanah liat

“semua keluargamu seniman keramik?” tanya Seungho lagi

“bakatku menurun dari ayahku. Dulu ayahku memang seniman keramik dan juga pemain saxophone, tapi entah mengapa ayahku banting stir menjadi seorang pengusaha. Yah.. walaupun masih ada hubungannya dengan seni tembikar. Tapi ia tidak aktif membuat tembikar lagi” jawab Kim Bum sambil menginjak-injak tanah liatnya supaya melunak

“mengapa?” tanya Seungho

“ayah tidak mau menceritakannya, tapi kurasa itu karena kenangan buruk dengan ibuku” jawab Kim Bum

“kalau aku boleh tau…memangnya ada masalah apa?” tanya Seungho

“waktu aku berusia sekitar 1 tahunan, ibu dan ayahku bercerai. Yang aku tau, ibuku selingkuh dengan laki-laki lain” jawab Kim Bum

“ohh begitu.. kau tidak mempunyai saudara hyeong?” tanya Seungho

“kau ini banyak bertanya. Ne, aku tidak mempunyai saudara, aku hanya anak tunggal. Tapi seharusnya aku punya adik” jawab Kim Bum

“mengapa jawabannya seperti itu?” tanya Seungho

“baru beberapa hari yang lalu ayahku bercerita… ketika usiaku 1 tahun, ibu dan ayahku bercerai. Saat ibuku menikah dengan suami barunya itu, sebenarnya ibu tengah mengandung anak ayahku. tapi sekarang aku tidak tau, dimana ibuku? dimana adikku? Adikku laki-laki atau perempuan? Bagaimana keadaan mereka sekarang? Aku tidak pernah tau tentang itu” jelas Kim Bum

“kau tidak ingin mencari tau?” tanya Seungho

“sudahlah biarkan saja, walaupun ayahku sering keluar kota dan kami hanya hidup berdua, tapi itu sudah cukup untukku. Aku tidak memerlukan orang tua lainnya. Ayahku sudah bagaikan ibu dan ayah untukku. Lagipula, dulu ibuku lebih memilih meninggalkan aku dan ayah demi suami barunya” jawab Kim Bum dengan sangat bijak

“tapi kau tidak boleh melupakan ibumu” pesan Seungho

“kau sendiri, apa kau memiliki saudara?” tanya Kim Bum

“ne, aku memiliki seorang kakak. Tapi aku sangat tidak menyukai sifatnya yang selalu memandang seseorang dari kekayaannya. Itu yang menyebabkan aku pergi dari rumah” kata Seungho

“jadi itu penyebabnya, lalu apa orang tuamu tidak mencarimu?” tanya Kim Bum

“ayahku sudah meninggal 3 tahun lalu karena penyakit jantung, dan saat aku pergi dari rumah, ibuku sedang berada di luar kota” jawab Seungho

“ibumu tak mencoba untuk mencarimu? Lalu apa kakakmu membiarkanmu pergi begitu saja?” tanya Kim Bum

“kurasa ibu mencariku, tapi dia tidak tau jika aku disini. Dan kakakku, dia pasti senang jika aku pergi dari rumah. Semuanya bisa dia kuasai” kata Seungho

“jangan pergi terlalu lama, kasihan ibumu, dia pasti mencemaskanmu” nasehat Kim Bum

“ne” jawab Seungho

“ini sudah cukup lunak, kau mau mencobanya?” tanya Kim Bum. Seungho mengangguk. Dan ternyata Seungho juga bisa membuat keramik. Yaa…walaupun tidak sebagus milik Kim Bum, tapi setidaknya itu sudah sangat baik untuk ukuran pemula. Selanjutnya Kim Bum mengajak Seungho ke studio milik keluarganya atau tepatnya miliknya dan sang ayah. Disana Kim Bum mengajarkan Seungho bermain saxophone, dan ternyata Seungho lebih mahir dibandingkan Kim Bum.

###

“terimakasih hyeong” kata Seungho sambil menepuk bahu Kim Bum

“ne” jawab Kim Bum sambil menghentikan langkahnya, karena saat ini mereka sudah berada di depan kamar Kim Bum

“tak kusangka, kau bilang tadi itu pertama kalinya kau bermain saxophone, lalu mengapa kau bermain lebih bagus daripada aku?” tanya Kim Bum

“haha,,nado mollayo. Mungkin itu yang dinamakan dengan bakat tersembunyi” tawa Seungho

“yasudahlah, sudah malam. Sampai jumpa lagi” kata Kim Bum

###

Hari ini adalah hari libur, dan tak terasa minggu depan adalah waktunya Kim Bum berangkat ke Jerman. Saat ini waktu menunjukkan pukul 7.30 a.m Kim Bum baru saja bangun dari tidurnya. saat membuka matanya, ia baru menyadari bahwa ada wangi masakan. Dan iapun mencari sumbernya. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat seorang gadis yang sangat dinantinya sedang memasak didapur apartemennya.

“So..So Eun” panggil Kim Bum yang tidak menyangka

TBC

Part 5 nya usai… apa ceritanya kurang panjang? Atau kepanjangan? Atau makin gak jelas? ahh..yang penting aku udah mencoba sebisa mungkin :) hmm.. kalo ada kurang lebihnya minta maaf ya,, ayo ayo ditebak.. kenapa Kim Bum dan Seungho jadi deket? Dan kenapa Seungho bisa main saxophone lebih bagus dari Kim Bum, padahal itu adalah kali pertamanya. Dan So Eun tiba-tiba muncul di dapur Kim Bum, apa itu Cuma mimpi atau beneran?? Tunggu kisah selanjutnya di Secret of Love part 6~~ jangan lupa tinggalin jejak!! :D :D :D

 

 

 

Secret of Love Part 4

Secret Of Love

Part 4

Author           : Kim Sang Eun

Main Cast     : Kim Sang Bum dan Kim So Eun

Cast                : Goo Hye Sun, Lee Min Ho, Kim Hyun Joong, Kim Joon, Jessica, Suzy, EunJung, Kim Soo Hyun, Park Jiyeon, Yoo Seungho, Yoo Ah In

Genre             : Romance, Friendly, #yahh tentuin sendiri lah#

Type               : Chaptered

PENTING!!! : karakter yang ada dalam ff ini, semuanya bukan milik author. Mereka milik keluarga, agensi, dan fans masing – masing. Disini author hanya meminjam saja. Bila ada kesamaan judul, jalan cerita, pemain, dsb, itu merupakan sebuah ketidak sengajaan. Tidak ada maksud untuk meniru (plagiat-kan) karya orang lain.

Annyeong readers :D
Part 4 nya dateeenggg :) Berharap semua readers suka..
jangan lupa tinggalin jejak, Arrasso??!! ;)

dari pada banyak abcdefghijklmnopqrstuvwxyz, mending langsung aja yaa :D
happy reading ****

###

So Eun sedang menunggu bus di halte. Ia menggosok-gosokkan tangannya untuk mengurangi rasa dingin. Saat ia menggosok-gosokkan tangannya, ia teringat Kim Bum. Ia berpikir, apakah Kim Bum akan kedinginan? Mengingat di caffenya tidak ada penghangat ruangan. Ia mencoba membuang pikiran itu dari otaknya. Namun ini tak bisa dihindari, apakAh Ini berarti masih tempat untuk Kim Bum di dalam hatinya??

Part 4

So Eun masih duduk di caffe itu dengan pandangan kosong

“apa aku harus kembali ke caffe?” tanya So Eun dalam hati. Kemudian datanglah bus yang So Eun tunggu. Ia masih bimbang antara kembali ke caffe atau pulang

“ahh.. dia saja tidak mempedulikan aku, untuk apa aku mempedulikannya” gumam So Eun lalu iapun melangkahkan kakinya menaiki bus itu. Ia tidak peduli lagi dengan Kim Bum.

“dia benar-benar meninggalkan Kim Bum” gumam seseorang dari dalam mobil mewah berwarna kuning. Ia melihat semuanya, dari mulai Kim Bum mabuk menghampiri caffe So Eun, So Eun berdepat dengan bosnya, sampai So Eun meninggalkan Kim Bum dan tidak mempedulikannya.

###

So Eun berjalan memasuki kelasnya. Seperti biasa, ia memasukkan tasnya ke dalam loker lalu duduk di tempat duduknya.

“kau hampir saja terlambat” kata Hye Sun sambil menunjukkan arlojinya

“aku bangun kesiangan hari ini” kata So Eun sambil bersandar di kursinya

“kau sudah mengerjakan tugas dari Jung seonsaengnim?” tanya Hye Sun

“sudah” jawab So Eun singkat

“Hye Sun-ah” panggil seseorang yang ternyata adalah Min Ho

“untuk apa dia memanggilku” umpat Hye Sun dengan wajah masam

“ada apa?” tanya Hye Sun ketus

“aku memanggilmu baik-baik, jangan menjawabnya seperti itu” kata Min Ho sambil berjalan mendekat. So Eun yang melihatnya merasa heran, So Eun berpikir mungkin mereka adalah satu-satunya pasangan didunia yang setiap harinya mengatakan saling benci namun tak pernah mengatakan kata ‘putus’ sekalipun

“ayo temani aku sarapan” kata Min Ho sambil menarik tangan Hye Sun, namun Hye Sun menahannya

“ahh anieyo. Apa kau tidak malu jika nanti orang-orang dikantin memperhatikan kita” cegah Hye Sun

“siapa yang ingin sarapan dikantin? Selama aku sekola disini, aku tak pernah sarapan dikantin sekalipun. Temani aku sarapan di ruang istirahat FB4” kata Min Ho

“disanakan ada Hyun Joong, Kim Joon, dan Kim Bum. untuk apa kau memintaku untuk menemanimu” Hye Sun terus mencoba untuk menolak

“Hyun Joong, dia sedang berada di ruang kesenian, sedang berduaan dengan kekasih tercintanya itu” kata Min Ho

“kekasih? Jadi Hyun Joong sudah mempunyai kekasih?” tanya So Eun dengan intonasi terkejut

“ne, kekasih yang sudah ia pacari sejak kelas satu SMP” jawab Min Ho santai

“benarkah? Ia tidak pernah bercerita padaku sebelumnya, siapa namanya?” tanya So Eun dengan sangat serius

“pacar Hyun Joong itu tidak memiliki nama, tapi kami biasa memanggilnya si putih. Si gitar putih hehehe” jawab Min Ho dengan tawa jailnya itu. sebuah pukulan pun didapatkan Min Ho dari Hye Sun

“kau ini! kupikir Hyun Joong benar-benar sudah memiliki kekasih” sahut Hye Sun

“sudahlah.. ayo temani aku sarapan” pinta Min Ho lagi

“shireo. Tadikan baru Hyun Joong, masih ada Kim Joon dan Kim Bum. kau minta mereka menemanimu saja, jangan aku. Lagipula 5 menit lagi masuk” tolak Hye Sun

“Kim Joon, kau lihat itu, dia sibuk dengan wanita-wanitanya” kata Min Ho sambil menunjuk Kim Joon yang dengan dikerubuti wanita

“Kim Bum, kau lihat, kursinya masih kosong. Pemilik kursi itu belum datang” kata Min Ho sambil menunjuk kursi Kim Bum. Sejenak So Eun berpikir, lalu beberapa detik kemudian ia teringat sesuatu. Terakhir ia bertemu Kim Bum semalam, di caffe. Dan ia meninggalkan Kim Bum dan bosnya sebelum Kim Bum tersadar. Dilubuk hatinya, ia berharap jika bosnya mau mengurusi Kim Bum malam itu dan tidak menguncinya sendirian di dalam caffe. Karena jika bosnya itu meninggalkan Kim Bum sendiri di caffe, itu berarti Kim Bum hanya bisa keluar jam 5 sore nanti, karena caffe So Eun baru bukan jam 5 p.m. Akan sangat berbahaya jika Kim Bum berada di caffe sampai jam 5 p.m. Alasan pertama, sekarang sedang musim dingin, suhu berkisar antara 12-15° C dan di caffe So Eun tidak ada penghangat ruangan *maklum, namanya juga cuma caffe kecil*. Alasan kedua, Kim Bum pasti kelaparan, karena itu hanyalah sebuah caffe, caffe tidak menyediakan makanan yang berat. Disana hanya menjual makanan kecil dan kopi saja. Sungguh, So Eun benar-benar berharap jika bosnya itu mau mengurusi So Eun

“shireo. Aku ingin disini saja bersama So Eun” tolak Hye Sun lagi

“sudahlah kau temani Min Ho saja” kata So Eun

“So Eun-ah kenapa kau membelanya” Hye Sun sedikit kesal kepada So Eun

“aku tak membelanya. Oh ya, Hye Sun, bolehkah aku bertukar waktu padamu? Aku mempunyai keperluan malam ini” kata So Eun

“hmm.. baiklah, sore ini juga aku ingin pergi ke rumah Jiyeon dulu” kata Hye Sun

“baiklah, sudah sana temani Min Ho makan. kasihan dia sudah kelaparan” kata So Eun dengan senyum menggoda

“So Eun saja mengijinkan, kajja palli” kata Min Ho sambil menarik tangan Hye Sun.\

Setelah Min Ho dan Hye Sun pergi, So Eun menidurkan kepalanya di meja. Ia terus memikirkan keadaan Kim Bum.

‘’apakah dia akan baik-baik saja?” pikir So Eun.

            “dia pasti baik-baik saja. Bos pasti mengurusinya dengan baik”

###

Ditempat lain, seorang pria baru saja bangun dari tidurnya. Ia mendapatkan dirinya di sebuah runangan kecil yang hanya berisi sebuah meja, kursi, rak buku, dan sofa yang saat ini ia duduki.

“dimana aku?” kata pria itu yang tak lain adalah Kim Bum

“kenapa disini dingin sekali” kata Kim Bum sambil merapatkan jas nya. Ia membuka kenop pintu dan mulai keluar dari ruangan itu. saat keluar dari ruangan sempit itu, Kim Bum melihat sebuah dapur

“sebenarnya ini dimana?” tanya Kim Bum pada dirinya sendiri. Ia terus melangkahkan kakinya di sekitar dapur itu sambil berpikir sebenarnya apa yang terjadi padanya. Tak lama kemudian ia menemukan jawabannya

“semalam aku…mabuk” gumam Kim Bum pelan

“dan aku berjalan ke…caffe So Eun” sambungnya. Ia pun bergegas melangkahkan kakinya mencari pintu keluar. Dan saat ia keluar dari dapur, ia melihat sebuah ruang yang sangat ia kenal

“omo.. ini benar-benar caffe tempat So Eun bekerja” ucapnya

“aku harus cepat keluar. Untuk apa aku kesini? Aku tidak mengingkannya” kata Kim Bum lalu ia coba membuka pintu caffe itu. namun sayang, pintu itu terkunci. Yang memiliki kuncinya hanya sang bos, Hye Sun, dan So Eun

“kenapa terkunci?” keluh Kim Bum sambil terus mencoba membuka pintu itu

“akh!! Apa yang bisa kulakukan disini” kesal Kim Bum sambil menendang pintu dihadapannya

“ah iya.. Kim Joon. Pasti dia bisa membantuku” kata Kim Bum lalu ia mengambil ponsel di saku celananya. Saat hendak menelpon Kim Joon, ia teringat sesuatu..

“kalau aku menelponnya dan mengatakan bahwa aku berada di sini, dia pasti akan terus menerorku dengan kata-kata horror itu” kata Kim Bum mengingat akhir-akhir ini Kim Joon selalu mengatakan ‘sadarlah kau itu mencintai Kim So Eun’

“ah baiklah.. Hyun Joong” beberapa detik kemudian..

“Hyun Joong? Untuk apa kau meminta bantuannya, aku lebih hebat darinya, jadi aku tidak membutuhkan bantuannya” sombong Kim Bum

“terakhir, Min Ho…ayo Kim Bum.. pikirkan hal terburuknya dahulu” kata Kim Bum sambil berpikir

“heuh.. kemungkinkan terbesar, Min Ho tak akan sendirian kesini. Dia pasti akan membawa salah satu dari Hyun Joong dan Kim Joon. Akh!! Kenapa jadi begini?” Kim Bum bingung harus meminta bantuan ke siapa lagi, tidak mungkin ia menelpon So Eun. dan tidak mungkin juga ia menelpon Hye Sun, mengingat sejak ia putus dengan So Eun, Hye Sun selalu menatapnya dengan ‘sangar’. Beberapa detik kemudian, ponsel Kim Bum berdering. Tertera nama ‘Kim Joon’ dilayar Hpnya. Kim Bum pun mengangkatnya tanpa memperkirakan apa yang akan Kim Joon pertanyakan padanya

“yobeseyo” Kim Bum memulai pembicaraan

“kau dimana? Apa kau tidak kuliah hari ini?” tanya Kim Joon

Kim Bum kebingungan menjawab pertanyaan Kim Joon

“ah..sepertinya hari ini aku tidak kuliah” jawab Kim Bum

“jinjja? Waeyo?” tanya Kim Joon lagi

“hm..hmm..hari ini..hari ini sepertinya aku tidak enak badan. Aku sedikit demam” kata Kim Bum, sebenarnya ini tak sepenuhnya kebohongan, karena saat ini suhu badan Kim Bum juga sedikit meningkat

“sekarang kau ada dimana?” tanya Kim Joon

Kim Bum tidak terkejut mendengarnya, ia sudah memperkirakan hal ini. namun, ia masih saja bingung untuk menjawabnya.

“saat ini..hmm..saat ini aku sedang berada di apartemenku” jawab Kim Bum yang sudah kehabisan akal

“baiklah aku akan kesana” sahut Kim Joon yang membuat Kim Bum membulatkan matanya

“ah.. hajima! Tidak perlu, sudahlah kau tidak perlu kesini. Aku hanya sedikit demam” cegah Kim Bum. tentu saja ia tidak ingin kebohongannya terbongkar

“benarkah?” Kim Joon memastikan

“ne, kau kuliah saja” kata Kim Bum

“baiklah kalau begitu. Semoga kau cepat sembuh. Annyeong” kata Kim Joon

“annyeong” balas Kim Bum. Ia segera memutuskan sambungan teleponnya

“huh..hampir saja” kata Kim Bum sambil mengelus dadanya

###

Seperti biasanya, saat jam istirahat So Eun selalu menghabiskan waktu di atap sekolah. Menurutnya, tempat ini adalah tempat yang paling tepat untuk menjernihkan pikiran. Karena dari sini, ia bisa memandang taman bunga dan danau buatan yang ada di belakang sekolah. So Eun memandangi hamparan bunga itu dengan tatapan kosong. Tentu saja pikirannya masih tertuju pada keadaan Kim Bum saat ini.

“dikelas kau melamun, sampai disini kau masih melamun juga. Apa kau memikirkan Kim Bum?” suara itu menyadarkan So Eun. So Eun membalikkan badannya kearah sang pemilik suara

“Hyun Joong” gumam So Eun

“kau sedang berpikir mengapa Kim Bum tidak masuk. Aku benar kan’?” kata Hyun Joong

“ani. Kau salah besar, untuk apa aku memikirkan nappeun namja seperti dia” dusta So Eun

“mungkin bibirmu berkata tidak, namun hatimu tidak berkata seperti itu” batin Hyun Joong

“apa kau sedang berbohong?” tanya Hyun Joong

“ani” jawab So Eun

“baguslah” kata Hyun Joong sambil merangkul So Eun dengan tangan kirinya. So Eun merasa sedikit terkejut dengan perilaku Hyun Joong

“kenapa? Kau keberantan?” tanya Hyun Joong

“bukankah sekarang kau bukan milik siapapun. Jadi aku tidak salah kan’ jika seperti ini” kata Hyun Joong. Sementara So Eun hanya membalasnya dengan senyuman

“So Eun” panggil Hyun Joong

“ne” jawab So Eun

“kau pasti tau jika aku menyukaimu” kata Hyun Joong. So Eun menoleh ke Hyun Joong. Ia menatap Hyun Joong seolah-olah bertanya ‘apa maksudmu?’

“ah kalau kau tidak tau itu. baiklah aku akan memberitahumu sekarang” kata Hyun Joong

“So Eun-ah.. aku menyukaimu” kata Hyun Joong

“arrayo” sahut So Eun

“bolehkah aku menyukaimu?” tanya Hyun Joong

“pertanyaan yang aneh. Mengapa tidak, hatimu milikmu terserah padamu akan diberikan ke siapa. Begitu pula denganku, hatiku milikku terserah padaku akan kuberikan ke siapa” kata So Eun sambil tersenyum. Hyun Joong melepaskan rangkulannya pada So Eun

“dan kau memilih memberikan hatimu pada Kim Bum” ujar Hyun Joong

“mengapa kau berkata seperti itu” balas So Eun

“sebuah kebahagiaan yang sangat berharga bagiku jika aku bisa menggantikan posisi Kim Bum dihatimu”ucap Hyun Joong tanpa mengindahkan pertanyaan So Eun

“suatu saat pasti bisa” kata So Eun yang secara tidak langsung mengiyakan jika Kim Bum masih berada di hatinya

eonjenga” gumam Hyun Joong. So Eun menatap Hyun Joong sambil berpikir, mungkin ini sudah saatnya untuk ia benar-benar melupakan Kim Bum. Dan mungkin ini saatnya ia membuka hati untuk pria baik dihadapannya ini.

###

Sekarang sudah menunjukkan jam 4.35 p.m KST. Itu artinya sekitar 25 menit lagi caffe ini akan dibuka dan Kim Bum bisa keluar.

“apa tidak ada makanan yang mengenyangkan disini” kata Kim Bum sambil membuka lemari es

“aigo…mengapa dingin sekali. Sebenarnya kapan caffe ini buka” Kim Bum terus merapatkan jasnya. Suhu di caffe ini sudah semakin dingin. Karena sudah kelelahan, Kim Bum memutuskan untuk duduk di salah satu meja yang terdapat di dapur. Matanya terus mencari-cari makanan *duh oppa, kelaperan banget yaa*. Merasa bosan, Kim Bum melangkahkan kakinya ke ruang lain. Ia melihat satu ruangan, didepannya jelas tertulis ‘Ruang Ganti’. Ia membuka kenop pintu itu lalu melangkahkan kakinya kedalam.

“kecil sekali tempatnya” gumam Kim Bum sambil memperhatikan loker-loker di dalam ruang ganti. Matanya tertuju pada loker dengan tulisan “Kim So Eun” di pintunya

“apa ini loker So Eun” Kim Bum mendekat ke loker itu. Ia pun mencoba membukanya

“dia sengaja tidak menguncinya, atau dia lupa menguncinya” kata Kim Bum sambil membuka loker So Eun. Kim Bum sedikit terkejut ketika melihat fotonya dibalik pintu loker So Eun

“dia….masih menyimpan fotoku” gumam Kim Bum sambil memperhatikan fotonya. Kemudian ia mengambil beberapa buku yang tertumpuk di dalam loker So Eun itu.

“mengapa ia menyimpan buku pelajaran disini” Kim Bum terus melihat-lihat buku yang ada disitu. Sampai akhirnya ia menemukan sebuah buku berwarna putih dengan gambar kupu-kupu ungu didepannya. Kim Bum mencoba membuka buku itu untuk mencari tau isinya

“apa ini buku diary nya” ucap Kim Bum pelan. Dan benar, ternyata itu adalah buku harian So Eun. Awalnya Kim Bum ingin menutup buku itu kembali karena ia mengerti bahwa ini adalah privasi So Eun. Namun rasa ingin tahunya lebih besar, sehingga ia membuka kembali buku itu dan membacanya.

15 Desember 2012 – Shinhwa University

Hari ini aku senang sekali… pengajuan beasiswaku ke Shinhwa University diterima! Aku benar benar senang. Dan lebih senang lagi, karena Hye Sun juga diterima di Universitas itu. ahh aku tidak tau lagi mau menulis apa, yang jelas hari ini aku sangat senang. Aku sangat berterimakasih pada Tuhan, pada orang tuaku yang berada di surga sana, dan juga untuk oppa. Tanpa mereka, aku tidak akan mendapatkan semua itu. Aku berjanji akan melakukan yang terbaik! Aku janji akan membuat appa dan eomma bangga denganku! Aku janji! Sso.. Hwaithing!!

“siapa  yang dia sebut dengan ‘oppa’” Kim Bum bertanya-tanya. Kemudian ia membuka halaman selanjutnya

3 Januari 2013 – My First Day

Hari ini adalah hari pertamaku, aku dan Hye Sun berangkat bersama dengan semangat yang menggebu. Ternyata Universitas itu lebih besar dari perkiraanku. Bangunannya sangat sangat besar dan menakjubkan, berbeda dengan SMA ku yang begitu sederhana. Interior Desainnya juga sangat mewah.

Beberapa yang menarik perhatianku, saat aku dan Hye Sun mencari kelas, kami melewati taman belakang, disana ada kebun bunga dan danau. Di sudut lain taman belakang, kami melihat seseorang dengan pakaian serba putih sedang memainkan gitarnya yang juga berwarna putih. Awalnya kupikir dia adalah seorang malaikat, tapi setelah dilihat lebih dekat ternyata dia adalah manusia, sama dengan ku. Kami menanyakan letak kelas kami padanya. Dia tidak menjawabnya dengan sepatah katapun, dia hanya menunjuk sebuah bangunan kelas. Hye Sun sampai mengira jika pria itu bisu.

Sesampainya didalam kelas, ada 3 gadis yang menghampiri kami yang masih berdiri di pintu. Mereka menyambut kami dengan kata-kata yang sangat kasar, bahkan Hye Sun sampai melawannya dengan kekerasan. Mereka bilang mereka adalah grup wanita terkenal di Shinhwa, aku agak lupa dengan nama grupnya…’Honey Girl’ ah sepertinya bukan, enatahlah apa namanya, yang jelas inti dari nama itu adalah gadis-gadis manis.

Masih di kelas itu, aku sedikit heran dengan wanita-wanita yang mengerumuni pintu. Akhirnya aku dan Hye Sun pun mendekat untuk mengetahui siapa yang datang. Dan ternyata yang datang adalah  pria tampan yang biasa disebut FB4 atau Flower Boys 4. Yang membuat terkejut lagi, pria yang tadi ditaman belakangpun termasuk di dalam mereka. Mereka sungguh tampan, aku mengakuinya. Tetapi dilihat dari wajahnya, mereka sangat sombong *kecuali namja berpakaian serba putih itu* yang terlihat sangat sombong itu namanya Lee Min Ho, bahkan Hye Sun yang terbawa amarah sempat beradu mulut dengan Min Ho. Seorang namja, bagian dari mereka , Kim Sang Bum. Dialah yang paling tampan diantara yang lainnya, kurasa aku mulai menyukainya. Dia berbicara denganku, menanyakan namaku, aku sungguh tidak menyangka. Tapi kudengar dia seorang P.L.A.Y.B.O.Y -_-

Saat pulang sekolah, siapa itu namanya… hmm.. aku masih lupa. Yang jelas 3 gadis sombong itu menjagalku di depan pintu kelas saat aku dan Hye Sun ingin pulang. Mereka menarikku kembali ke dalam kelas. Jessica menjambak rambutku. Sedangkan Hye Sun berhadapan dengan yeoja bernama Suzy. Jessica berkata padaku bahwa aku tidak boleh mendekati Kim Bum. aku bilang bahwa aku tidak mendekatinya. Namun, Jessica tetap tidak percaya padakul. Ia terus menjambaki rambutku sambil terus berkata ‘jangan dekat Kim Bum ku’. Bukankah kata-kata itu sangat menjijikkan, memangnya dia pikir Kim Bum adalah miliknya, aku juga berhak memiliki Kim Bum. Kurasa mereka adalah perusak hari pertamaku di Shinhwa.

Sudah malam, kurasa aku harus menyudahi menulisnya. Besok aku masih harus kuliah dan bekerja. Selamat malam…

“dia menulis panjang sekali” komentar Kim Bum terhadap tulisan So Eun yang panjang itu. lalu ia kembali membuka halaman lainnya

10 Januari 2013 – Love

Baru sampai melihat tanggal dan judulnya, Kim Bum bisa menebak isi dari tulisan pada tanggal itu. Entah apa yang menyebabkan ia melongkap halaman itu. Diwajahnya terlihat sedikit rasa kecewa. Ia membuka halaman baru

14 Febuari 2013 – It’s Hurt

Kim Bum juga melongkap halaman ini, ia ingat bahwa ini adalah tanggal ia dan So Eun putus. Tepat pada hari valentine. Isi dari tulisan ini pasti kesedihan So Eun saat hubungan mereka harus kandas. Kim Bum tidak ingin merasakan kesedihan So Eun. ia tidak ingin merasa kasihan dan menyesal telah melakukan itu pada So Eun. karena saat ini ia ingin menegaskan bahwa ia tidak jatuh cinta pada So Eun. Kim Bum membuka halaman selanjutnya

20 Febuari 2013 – Love Oppa

Hari ini aku diantar kesekolah oleh….

Tiba-tiba saja terdengar seperti pintu yang terbuka. Kim Bum segera mengembalikan diary So Eun ke tempat semula dan ia bergegas keluar dari ruang ganti. Ketika ia hendak membuka pintunya, tiba-tiba pintunya terbuka dan membuat Kim Bum sedikit terkejut. Seseorang dari luar ruang ganti membukanya. Dan ternyata orang itu adalah So Eun

“apa yang kau lakukan disini?” tanya So Eun pada Kim Bum dengan nada dan pandangan yang datar

“aku..aku hanya melihat-lihat saja” jawab Kim Bum seadanya. So Eun berpikir sejenak. Dan ia baru teringat jika kemarin ia tidak membawa buku pelajaran dan diary nya pulang, dan iapun lupa untuk mengunci pintu lokernya karena kemarin ia terbawa emosi dengan Kim Bum yang mabuk. Ia segera berjalan memasuki ruang ganti dan membuka lokernya. Ia men-chek isi lokernya.

“apa kau membuka-buka lokerku?” tanya So Eun, kali ini dengan nada sedikit cemas. Sementara Kim Bum bingung menjawabnya. Jika ia jujur… akh itu pasti membuat So Eun semakin membencinya. Jika ia berbohong, bagaimana cara menjawabnya?

“aku…aku…aku tidak mem..membukanya” dusta Kim Bum

“jeongmal?” So Eun memastikan. Kim Bum mengangguk ragu. Walaupun terlihat meragukan, namun So Eun mencoba untuk percaya. Ia menutup kembali lokernya lalu keluar dari ruang ganti. Kim Bum mengikuti So Eun. So Eun kembali ke beranda caffe, ia membersihkan meja-meja dan juga menurunkan kursi. Kim Bum menyingsingkan lengan bajunya dan menawarkan bantuan pada So Eun

“perlu bantuanku?” tanya Kim Bum yang melihat So Eun menurunkan kursi sendirian

“tidak” jawab So Eun tanpa memandang Kim Bum. Kim Bum kembali menurunkan lengan bajunya. Lalu ia duduk di sebuah kursi yang sudah So Eun turunkan.

“mengapa dia menjadi dingin sekali?” Kim Bum bertanya-tanya dalam hatinya

            “akh!! Kim Sang Bum, kenapa kau terlihat takluk dengan gadis ini! kemana harga dirimu?! Buktikan bahwa kau tidak mencintainya” teriak Kim Bum dalam hati

“pintu keluarnya disana” kata So Eun yang membuyarkan lamunan Kim Bum

“ne?” tanya Kim Bum yang kurang mendengar ucapan So Eun

“ku bilang, pintu keluarnya disana. silahkan keluar” ucap So Eun lagi

“ada yang ingin aku bicarakan denganmu” kata Kim Bum

“tidak ada hal yang perlu dibicarakan” balas So Eun dengan tatapan dingin

“kenapa sekarang kau menjadi dingin padaku?” tanya Kim Bum sambil berdiri dari kursinya

“kenapa? Apa aku tidak salah mendengar? Jika kau ingin jawaban yang sebenar-benarnya, lebih baik kau tanyakan pada dirimu sendiri” jawab So Eun

“Kim So Eun yang kukenal tidak seperti ini” sahut Kim Bum

“memang, Kim So Eun yang kau kenal dengan Kim So Eun yang dihadapanmu sekarang ini berbeda. Kim So Eun yang kau kenal adalah gadis yang bodoh. Sangat sangat bodoh. Gadis bodoh yang dengan mudah mempercayai janji dan ucapan palsu dari seorang lelaki jahat. Gadis bodoh yang dengan mudahnya masuk ke dalam perangkap lelaki jahat. Gadis bodoh yang dengan mudahnya dibutai oleh cinta, cinta yang sebenarnya hanya sebuah cinta sepihak. Seperti itu kan’ Kim So Eun yang kau kenal? Sekarang pintunya sudah kubukakan, silahkan pergi” ucap So Eun dengan mata berkaca-kaca. Kim Bum memandang So Eun dengan tatapan datar. Lalu ia sedikit membenarkan jasnya dan keluar dari caffe So Eun. Setelah Kim Bum pergi, So Eun sudah benar-benar tidak membendung air matanya lagi. Buliran air matanya jatuh tanpa permisi. So Eun hanya bisa menutup mulutnya melihat punggung Kim Bum yang semakin menghilang.

“kenapa kau masih muncul dihadapanku? Kenapa kau bersikap seperti itu padaku? Kenapa kau membuatku semakin sulit untuk membencimu? Kenapa Kim Sang Bum? kenapa?!” jerit So Eun dalam hati

###

Kim Bum berjalan menuju bar karena semalam ia memarkirkan mobilnya di parkiran bar. Pikirannya terus tertuju pada So Eun. Ia bingung dengan dirinya sendiri. Ia tak tau apa yang terjadi pada hatinya saat ini. Didalam dirinya, ia bersikeras tidak mencintai So Eun. Tapi perilakunya berlawanan dengan keyakinan dalam dirinya itu.

“aku mendengarnya. Aku bisa mendengar tangisnya. Walaupun dia mencoba menutupi dengan tangan yang membungkam mulut itu. Tapi aku masih bisa mendengar isak tangisnya. Sebenarnya perasaan apa ini? aku tidak ingin mencintainya. Tapi kenapa hatiku berbicara lain?” batin Kim Bum

##

Saat hendak membuka kunci apartemen, tiba-tiba saja ada seorang remaja yang menabrak Kim Bum sehingga kuncinya terjatuh.

“jwesonghamnida” kata remaja itu sambil menyerahkan kunci itu pada Kim Bum

“ne, gwaenchana” kata Kim Bum. sejenak ia memperhatikan orang itu

“sepertinya aku belum pernah melihatmu. Apa kau penghuni baru?” tanya Kim Bum

“ne, namaku Yoo Seungho aku tinggal di lantai 5” jawab namja bernama Seungho itu

“oh..pantas saja. Kenalkan namaku Kim Bum. kau terlihat seperti seorang pelajar” kata Kim Bum yang memperhatikan Seungho

“memang” jawab Seungho

“kau tinggal disini bersama orang tuamu?”tanya Kim Bum

“tidak. Hanya sendiri” jawab Seungho

“ha?! Anak kecil! Mengapa kau tinggal disini sendiri?” tanya Kim Bum sambil menepuk bahu Seungho seolah-olah mereka sudah kenal lama

“enak saja anak kecil! Aku tinggal sendiri karena sedang mempunyai masalah dengan keluargaku” kata Seungho dengans santai

“ah.. sudahlah, aku sedang buru-buru. Manna bangapta hyeong! Annyeong!” kata Seungho sambil berjalan dan melambaikan tangannya

“nado bangapta” teriak Kim Bum sambil tersenyum

“sepertinya orang yang mudah bergaul” gumam Kim Bum sambil memasuki apartemennya. Sesampainya di apartemen, ia merebahkan tubuhnya di sofa depan TV.

“jichyeo” gumam Kim Bum sambil memejamkan matanya. Ia membayangkan saat So Eun menahan tangisnya. Dan juga saat ia membuka diary So Eun.

“sebegitu bahagiakah saat dia menjadi kekasihku?” gumam Kim Bum sambil menatap langit-langit apartemennya

“dan aku menghancurkannya begitu saja” sambungnya. Kim Bum menghela nafasnya, beberapa detik kemudian ia teringat suatu hal yang penting.

20 Febuari 2013 – Love Oppa

Hari ini aku diantar kesekolah oleh….

“itu! iya itu! lanjutan dari tulisan itu pasti nama orang yang mengantar So Eun waktu itu!” kata yang spontan duduk ketika mengingat itu

“akh!! Bodohnya kau Kim Sang Bum! kenapa kau membaca hanya sampai disitu saja! Akh!! Babo babo babo” Kim Bum mengacak-acak rambutnya

“tunggu dulu! Kenapa aku kesal? Akh sudah lupakan!” Kim Bum tidak mau melanjutkannya, ia memutuskan untuk mandi.

###

Keesokan harinya, Kim Bum hanya bisa termenung di ruangan F4. Min Ho hanya memandangnya acuh, Hyun Joong tidak begitu memperhatikannya karena baginya mungkin ini adalah hukuman, sedangkan Kim Joon bisa mengerti apa yang Kim Bum rasakan saat ini.

“aku keluar dulu” kata Hyun Joong sambil berjalan ke arah pintu

“kau mau kemana?” tanya Min Ho sambil berdiri dari kursin

“tempat biasa” jawab Hyun Joong sambil melirik Kim Bum. sementara Kim Bum yang mendengar jawaban Hyun Joong sontak menoleh ke sumber suara

“kau mau ikut?” tanya Hyun Joong pada Min Ho namun tatapan matanya mengarah pada Kim Bum

“ah..ne” jawab Min Ho. Merekapun pergi meninggalkan ruangan F4. Kim Bum hanya memandangnya dengan datar. Kim Joon menutup majalahnya lalu memulai pembicaraan

“sekarang kau sudah bisa mengerti kata hatimu?” tanya Kim Joon

“apa?” Kim Bum bertanya balik

“sudah menyadari jika kau mencintai So Eun?” Kim Joon mengulangnya

“entahlah” kata Kim Bum sambil memandang kearah lain

“kemarin kau tidak di apartemenmu, melainkan di caffe So Eun. Apa aku benar?” ujar Kim Joon sambil tersenyum

“a..apa yang kau bicarakan?” Kim Bum terkejut mendengar ucapan Kim Joon

“jawab saja” jawab Kim Joon

“bukankah saat kau menelponku kau bilang kau disekolah. Apa kau berbohong? Hah?! Jika kau disekolah bagaimana bisa kau tahu jika aku di caffe So Eun?” ucap Kim Bum tanpa sadar

“eh. Ah.. maksudku..aku..aku” Kim Bum baru menyadari kebodohannya

“hahaha.. ternyata playboy sepertimu bisa tergoyah hanya karena seorang Kim So Eun” tawa Kim Joon. Sedangkan Kim Bum menatapnya tidak suka

“tidak lucu” sahut Kim Bum

“jadi sekarang kau mengakuinya?” goda Kim Joon

“sungguh, aku tidak ingin mencintainya” kata Kim Bum sambil menatap Kim Joon

“sekarang aku ingin mendengar pengakuanmu dulu, kau mencintainya?” tanya Kim Joon dengan wajah menahan tawa

“baiklah aku menyerah, kurasa itu benar” pasrah Kim Bum

“apanya yang benar?” Kim Joon terus memancing Kim Bum supaya Kim Bum

“aku mencintainya” Kim Bum menatap Kim Joon tajam

“mencintai siapa??” pancing Kim Joon

“ya, aku mencintai Kim So Eun” pengakuan Kim Bum barusan membuat Kim Joon tertawa penuh kemenangan

“berhentilah tertawa. Aku sungguh-sungguh tidak ingin mencintainya

“mengapa?” tanya Kim Joon yang menghentikan tawanya

“entahlah” jawab Kim Joon

“selalu menjawab entahlah” cibir Kim Joon

“aku hanya tidak ingin menyakitinya” jawab Kim Bum

“lagi?” tanya Kim Joon yang sebenarnya itu lebih tepat untuk menyambung kata-kata Kim Bum

“ne, lagi” sahut Kim Bum

“ kenapa kau berpikiran seperti itu? apa kau berniat melukainya lagi?” tanya Kim Joon

“tentu tidak” jawab Kim Bum

“lalu apa lagi? Kau tidak mau sainganmu itu melangkah lebih dulu kan?” tanya Kim Joon

“maksudmu?” tanya Kim Bum

“Hyun Joong, kudengar dia sudah mengatakan pada So Eun bahwa dia menyukai So Eun” ucap Kim Joon yang membuat Kim Bum merasa sedikit sesak

“mwo?! Lalu bagaimana reaksi So Eun?” tanya Kim Bum. sementara Kim Joon hanya mengangkat bahunya

“bagaimana ini? aku kehabisan waktu. 2 minggu lagi aku harus ke Jerman” gumam Kim Bum

“mwo? Jerman? Untuk apa kau kesana?” Kim Joon terkejut mendengar perkataan Kim Bum

“ayahku menyuruhku kuliah bisnis disana” ucap Kim Bum pelan

“bagaimana bisa kau meninggalkan kami. Kita ini sudah bersama sejak kecil. Kenapa kau baru bilang itu sekarang” Kim Joon sedikit kecewa pada Kim Bum

“mianhae.. aku hanya menunggu waktu yang tepat. Lalu bagaimana mengenai So Eun? aku harus memilikinya sebelum aku ke Jerman” bingung Kim Bum

“kau harus menyatakan cintamu padanya” usul Kim Joon

“dia terlihat sangat membenciku” ucap Kim Bum pelan

“bukankah kau pernah meneliti berbagai macam perilaku wanita? Dia hanya terbawa emosi saja. Saat kau perilakukan dia dengan manis, dia pasti akan luluh” Kim Joon mulai mengeluarkan jurusnya

“dia bukan Kim So Eun yang mudah dibohongi lagi. Cara seperti itu sudah basi” ujar Kim Bum

“kau perilakukan dia dengan tulus. Menggunakan hatimu. Dia pasti luluh. Percayalah padaku” kata Kim Joon

Sejenak Kim Bum memikirkan kata-kata Kim Joon. Ia berpikir ada benarnya juga, namun sekarang masalah ada dalam keberaniannya. Apakah dia berani mengatakannya pada So Eun. karena belakangan ini So Eun selalu bersikap dingin padanya. Dan sikap So Eun itulah yang membuat keberanian Kim Bum runtuh.

###

Hyun Joong dan So Eun tengah berada di atap sekolah. tadinya disini ada Min Ho dan Hye Sun, namun Hye Sun meminta Min Ho untuk menemaninya ke perpustakaan. Jadilah tinggal Hyun Joong dan So Eun yang berada di sini.

“jadi bagaimana?” tanya Hyun Joong

“bagaimana apanya?” tanya So Eun

“sudah bisa membuka hatimu?” tanya Hyun Joong sambil menatap So Eun

“hmm..mianhae” jawab So Eun membalas tatapan Hyun Joong

“tak apa, cinta memang butuh waktu” sahut Hyun Joong sambil tersenyum

“kau tidak marah padaku?” tanya So Eun

“untuk apa aku marah? Itu semua keputusamu” jawab Hyun Joong lagi-lagi dengan senyum manis yang menghias wajah tampannya

“ingin rasanya aku mencintaimu. Membuka hatiku untukmu. Namun entah mengapa, aku masih mencintainya. Tapi aku juga membencinnya. Rasa cintaku sama seperti rasa benciku padanya. Mengapa bisa seperti ini? maafkan aku Hyun Joong.. sepertinya aku terlalu menyiksamu dengan membuatmu terus menungguku. Maafkan aku…”batin So Eun sambil menata wajah Hyun Joong yang sedang memandang keindahan dari atap sekolah

“mengapa memandangku seperti itu? apa aku ini terlalu tampan?” Hyun Joong menyadarkan So Eun dari lamunannya

“kau ini bisa saja” kata So Eun sambil memukul pelan lengan Hyun Joong. Sementara Hyun Joong hanya tersenyum melihatnya

“oh ya, apa nanti malam kau punya waktu?” tanya Hyun Joong

“hmm nanti malam? Sebenarnya setiap malam hari aku harus bekerja di caffe, memangnya kenapa?” tanya So Eun

“begitu yaa..nanti malam sebenarnya aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Tapi ternyata kau harus bekerja. Ya sudahlah lain waktu saja” kata Hyun Joong dengan sedikit kecewa

“ahh gwaenchanayo.. nanti aku tukar jama saja pada Hye Sun” kata So Eun

“benarkah? Apa Hye Sun mau?” tanya Hyun Joong

“pasti mau” jawab So Eun dengan senyuman

###

Sepulang sekolah, So Eun manapaki jalan di koridor sendiri, biasanya ia ditemani dengan Hye Sun. Namun Min Ho sudah menarik Hye Sun lebih dulu, sehingga So Eun jalan sendiri.

“So Eun” panggil seseorang. So Eun menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Ternyata yang memanggilnya adalah Kim Bum, wajah So Eun yang tadinya ceriapun berubah menjadi muram. So Eun mulai melangkahkan kakinya lagi

“So Eun tunggu” Kim Bum mengejar So Eun lalu menahan tangannya

“apa?” tanya So Eun dengan datar

“nanti malam, bisakah kita bertemu?” tanya Kim Bum

“untuk apa? Aku ada janji dengan orang lain” jawab So Eun

“kumohon, ini mungkin terakhir kalinya. Jangan menghindar dariku, ada yang harus aku bicarakan padamu” pinta Kim Bum

“bicarakan disini saja” kata So Eun

“tidak bisa. Kumohon,, nanti malam kita harus bertemu” Kim Bum terus memohon

“aku tau aku banyak menyakitimu, tapi kumohon untuk kali ini. Aku tidak mau menyesal dikemudian hari” sambungnya.

“kupikir aku akan percaya dengan ucapanmu, bukankah waktu itu kau sendiri yang mengatakan bahwa semua ucapan dan janjimu itu palsu. Dan sekarang, aku tidak mempercayai semua kata-katamu lagi” kata So Eun dengan mata berkaca-kaca

“untuk kali ini,percayalah padaku. Nanti malam, aku akan menunggumu di taman depan caffemu. Aku akan buktikan bahwa ucapanku kali ini bukan sebuah kebohongan. Aku akan tetap menunggumu disana sampai kau datang. Aku tidak akan pergi sebelum kau datang. Aku janji” kata Kim Bum yang berusaha meyakinkan So Eun. Belum sempat So Eun mejawab, Hyun Joong datang dan mengakhiri pembicaraan Kim Bum dan So Eun

“So Eun, sedang apa kau disini?” tanya Hyun Joong sambil menatap Kim Bum dan So Eun secara bergantian

“ayo kita pulang” kata Hyun Joong sambil menarik tangan So Eun. Kim Bum yang menyaksikannya merasa miris. Begitupun dengan So Eun, ia terlihat kasihan melihat Kim Bum seperti itu. bagaimanapun, sampai saat ini Kim Bum adalah orang yang ia cintai. Dan sepertinya kali ini ia menemukan seberkas ketulusan di mata Kim Bum. Aamun ia masih meragukan hal itu.

TBC

Untuk part 4 nya segini dulu ya.. mian kalo GaJe, otaknya udah mentok. Kira-kira gimana kelanjutannya? Apa So Eun akan menemui Kim Bum nanti malam? Atau ia akan tetap dengan rencana awalnya yaitu jalan-jalan bersama Hyun Joong?? Right!! Tunggu kelanjutannya yaaa…. jangan bosen-bosen untuk ninggalin jejak OK ;)

Secret of Love Part 3

Secret Of Love

Part 3

Author           : Kim Sang Eun

Main Cast     : Kim Sang Bum dan Kim So Eun

Cast                : Goo Hye Sun, Lee Min Ho, Kim Hyun Joong, Kim Joon, Jessica, Suzy, EunJung, Kim Soo Hyun, Park Jiyeon, Yoo SeungHo, Yoo Ah In

Genre                        : Romance, Friendly, #yahh tentuin sendiri lah#

Type               : Chaptered

PENTING!!! : karakter yang ada dalam ff ini, semuanya bukan milik author. Mereka milik keluarga, agensi, dan fans masing – masing. Disini author hanya meminjam saja. Bila ada kesamaan judul, jalan cerita, pemain, dsb, itu merupakan sebuah ketidak sengajaan. Tidak ada maksud untuk meniru (plagiat-kan) karya orang lain.

Annyeong readers :D
Part 3 nya udah datang J J Berharap semua readers suka..
jangan lupa tinggalin jejak, Arrasso??!!

dari pada banyak abcdefghijklmnopqrstuvwxyz, mending langsung aja yaa
happy reading ****

###

“sebenarnya aku ingin ini berjalan lebih lama lagi. Tapi ternyata aku sudah tertangkap basah. Selama ini aku tidak pernah bersungguh-sungguh. Aku tidak pernah bersungguh-sungguh berpacaran denganmu. Semua itu hanyalah sebuah permainan untukku. Semua kata cinta yang pernah ku ucapkan, semua pujian yang pernah ku lontarkan untukmu, dan termasuk janji itu. itu semua adalah sebuah kebohongan, aku hanya bermain-main. Aku tak pernah menganggapnya serius. Semua ucapan dan janjiku itu palsu. Karena sekarang kau sudah tau semuanya, jadi kuharap kau menyingkir dari hidupku” kata kim bum tanpa mempedulikan so eun yang terus menangis

            “kim bum … ternyata kau sejahat ini. Apakah kau tidak sadar kalau kau baru saja menghancurkan hati seorang wanita?” ucap so eun dengan lirihnya

            “kau merasa tersakiti? Jika iya, sebaiknya kau pergi lebih cepat. Karena jika tidak, kau akan lebih terakiti” kata kim bum dengan senyum sinisnya

            “baik.. baiklah.. aku pergi. Dan mulai sekarang kita PUTUS! Lupakan saja jika kita pernah menjalin hubungan” kata so eun sebelum membalikkan badannya dan meninggalkan kim bum.

            “bukan masalah besar bagiku” gumam kim bum setelah so eun pergi

Part 3

So eun melangkahkan kakinya dengan lunglai. Pikirannya dipenuhi dengan masa-masa indahnya bersama kim bum yang semakin membuatnya menangis. Ia sungguh tidak menyangka jika kim bum membuatnya benar-benar tak berdaya. Ia tak mampu lagi berjalan. Ia terus menangis berjongkok ditengah keramaian orang.

“sampai kapan kau akan menangis disitu?” tanya seseorang didepan so eun. so eun mengangkat kepalanya dan ternyata orang itu adalah hyun joong.

“ayo berdiri” kata hyun joong sambil mengulurkan tangannya. So eun hanya memandangnya dengan diam

“cepatlah. Orang-orang akan mengira bahwa aku yang membuatmu menangis” kata hyun joong lagi. So eun pun segera meraih tangan hyun joong. Hyun joong merangkul so eun dan membawanya ke sebuah kursi panjang di dekat jalan

“apa yang membuatmu seperti ini?” tanya hyun joong. Bukan jawaban yang didengar hyun joong, melainkan tangisan so eun yang makin menjadi. Kemudian hyun joong melihat paper bag yang di genggam so eun, disitu tergantung sebuah kartu yang sedikit terbuka. Hyun joong bisa membaca tulisan paling atas di kartu itu. bertuliskan : to my love. Dan hyun joong pun bisa menebak siapa yang membuat so eun seperti ini.

“kim bum?” tanya hyun joong. Hati so eun terasa sakit mendengar nama itu. nama yang sudah membuatnya rapuh seperti ini. hyun joong yang tidak tega pun memeluk so eun dan menenangkannya.

###

Hari ini adalah hari ke-6 setelah kejadian itu. Sejak saat itu, so eun berusaha membuang jauh-jauh kim bum dari pikirannya. Ia mencoba untuk melupakan cintanya pada kim bum. walaupun itu semua terasa sangat sulit, tapi ia terus mencobanya. Mencoba membuka lembaran baru, dan melupakan semua kejadian menyakitkan itu. Pagi ini so eun berangkat sekolah diantar kakaknya, soo hyun. Sebenarnya soo hyun baru saja pulang dari Busan semalam, namun ia khawatir melihat wajah so eun yang terus ditekuk belakangan ini. Wajah yang membuatnya cemas.

“harusnya oppa tidak perlu mengantarku” kata so eun sambil turun dari motor berwarna hitam pekat itu

“tak apa.. habisnya belakangan ini wajahmu terus ditekuk. Aku hanya takut terjadi sesuatu padamu” kata soo hyun sambil melepaskan helmnya

“ya sudah, ini helmnya. Aku masuk dulu yaa” kata so eun sambil menyerahkan helmnya pada soo hyun lalu bergegas masuk ke kampus.

“tunggu!” cegah soo hyun

“aku akan mengantarmu sampai kelas” kata soo hyun sambil berjalan mendekat ke so eun

“aigo.. untuk apa lagi? Aku bukan anak TK lagi oppa. Aku bisa sendiri” kata so eun yang berusaha mencegah soo hyun

“akukan juga ingin melihat tempat adikku yang paling cerewet ini belajar. Lagipula wajahku ini tidak memalukan untuk kau pamerkan pada teman-temanmu. Aku cukup tampan” kata soo hyun dengan PD-nya

“issh..kau ini, yasudahlah. Ingat, untuk kali ini saja”kata so eun

“baiklah” kata soo hyun sambil merangkul so eun. saat memasuki gedung kampus, para mahasiswi langsung histeris melihatnya. Bagaimana tidak, seorang lelaki asing memasuki kampus mereka. Lelaki yang ketampanannya bisa disandingkan dengan anggota FB4.

“kenapa mereka memandang kita seperti itu?” bisik so eun pada soo hyun

“apa kau tidak sadar jika kau memiliki kakak yang tampan” kata soo hyun

“selalu seperti itu” cibir so eun

“baiklah aku sudah sampai dikelasku. Sekarang oppa boleh pergi” kata so eun sambil tersenyum

“jadi kau mengusirku?” canda soo hyun

“oppaa” ucap so eun dengan manja

“baiklah,belajarlah dengan tekun” kata soo hyun kemudian ia mengecup kening so eun sekilas. Para mahasiswi yang melihatnya merasa iri dengan so eun. mereka berpikiran bahwa soo hyun itu kekasih barunya so eun.

“buat ayah dan ibu bangga” ucap soo hyun yang berhasil membuat mata so eun berkaca-kaca. Memang ini bukanlah pertama kalinya soo hyun mengucapkan kata seperti itu. disetiap so eun ingin melakukan sesuatu seperti kuliah dan bekerja soo hyun selalu mengucapkan kata itu. Dan setiap soo hyun mengucapkan kalimat itu, cuplikan kecelakaan itu selalu mengisi pikiran so eun.

“baiklah. Aku akan membuat mereka bangga” kata so eun dengan mata berkaca-kaca

“jangan menangis” kata soo hyun

“tidak, sudahlah oppa… kau harus berangkat kuliah” kata so eun. Lalu soo hyun pun pergi dengan ‘diiringi’ teriakan histeris para mahasiswi. Tanpa disadari, ada sepasang mata dengan setitik rasa amarah saat melihat soo hyun mencium kening so eun.

So eun memasuki ruang kelasnya dengan senyuman. Ia pun meletakkan tasnya di loker lalu duduk di depan hye sun. Disudut ruangan ada 3 gadis yang sedang bergosip. Siapa lagi kalau bukan Sweet Girls.

“jadi dia menemukan pengganti kim bum?” tanya jessica dengan suara pelan

“ne, dan lelaki itu tidak kalah tampannya dari kim bum” jawab eunjung

“bahkan dia lebih tampan dari minho-ku” kata suzy sambil memainkan rambutnya

“aku jadi iri padanya” lanjutnya. Jessica dan eunjung yang mendengar perkataan suzy pun tersentak. Lalu jessica melayangkan sebuah pena ke kepala suzy

“babo. Untuk apa iri pada orang miskin seperti dia” kata jessica

“dia memang miskin, namun dia itu sangat beruntung. Bisa mendapat beasiswa disini, pernah menjadi kekasih kim bum, bisa berteman baik dengan hyun joong dan sekarang memiliki kekasih yang tampannya melebihi min ho-ku” kata suzy

“berhentilah mengaguminya” sahut jessica

“jadi sekarang kau lebih menyukai kekasih baru so eun itu?? lalu mau kau kemanakan ‘min ho-mu’ itu?” tanya eunjung

“untukmu saja” jawab suzy lalu berjalan meninggalkan Sweet Girls

“kim joon sudah cukup bagiku” ujar eunjung. Jessica memandang eunjung dengan tidak biasa

“kau kenapa?” tanya eunjung

“kau sama tidak warasnya” kata jessica lalu pergi mengikuti suzy yang menghampiri so eun

“yya! Kau kim so eun” panggil suzy

“siapa lelaki tadi?” tanyanya

“lelaki yang mana?” tanya so eun. hye sun menyiritkan alisnya

“yang mengecup keningmu tadi” kata jessica

nuguya?” tanya hye sun pada so eun. Lalu so eun membisikkan sesuatu pada hye sun

“apa dia kekasih barumu?” tanya eunjung yang baru saja bergabung. So eun dan hye sun saling memandang sambil menahan tawa. Sepertinya pikiran mereka sama

“ne, dia kekasih baruku” kata so eun sambil menahan tawanya

“m..mwo?! Kau.. itu benar-benar kekasihmu?” tanya suzy

“ne”jawab so eun sambil tersenyum. Sementara hye sun sudah tidak kuat menahan tawanya. Ia pun tertawa mendengar jawaban so eun

“heh Goo hye sun! Aku tidak menyuruhmu tertawa” kata jessica

“si..siapa namanya?” tanya suzy

“soo hyun. Kim soo hyun” jawab so eun

“sepertinya kau memiliki trik khusus. Apa kau mengikuti kelas ‘trik menggoda pria’?” tanya eunjung

“tidak. Itu semua tergantung amal dan perbuatan” ketus so eun

“ayo hye sun, kita pergi”kata so eun sambil berjalan meninggalkan ruang kelas diikuti dengan hye sun yang terus tertawa.

###

“hahahahaaaa”tawa so eun dan hye sun setelah sampai di atap sekolah

“mereka cantik, namun kecantikannya itu tidak bisa menutupi kebodohannya. Hahaha” tawa hye sun

“mudah sekali membohongi mereka” sahut so eun

“kau juga, bagaimana bisa kau menyebut soo hyun oppa sebagai kekasihmu” kata hye sun yang masih diselingi tawa

“biarkan sajalah. Selama mereka tidak tau jika dia adalah kakakku” kata so eun

“jadi lelaki itu kakakmu”kata seseorang sambil menghampiri hye sun dan so eun

“aku senang mendengarnya” kata orang itu lagi yang tak lain adalah hyun joong

“ssttt kau jangan bilang siapa-siapa” kata so eun sambil meletakkan jari telunjuk di bibirnya.

“memangnya siapa yang telah tertipu?” tanya hyun joong

“kurasa semuanya” jawab so eun

“terutama Sweet Girls” sambung hye sun

“hahahaa” mereka bertiga tertawa bersama

“pantas saja so eun menyukai tempat ini. ternyata disini sangat indah. Apalagi ditemani orang seperti hyun joong. Sungguh mengasyikkan” kata hye sun

“apa kau baru saja memujiku?” tanya hyun joong

“mungkin” jawab hye sun

“kau bisa habis jika aku laporkan hal ini pada min ho”kata hyun joong. Hye sun dan so eun tertawa mendengarnya.

###

So eun baru saja keluar dari gedung kampusnya dan ia mendapati motor hitam milik kakaknya terparkir dihadapannya.

“akhirnya kau keluar juga”kata soo hyun dengan softdrink yang ada di tangan kanannya

“oppa, apa yang kau lakukan disini?” tanya so eun sambil berjalan menghampiri soo hyun

“tentu saja untuk menjemputmu” jawab soo hyun

“tadi pagi kau mengantarku dan sore ini kau menjemputku. Sadarkah kau bahwa perlakuanmu ini mengherankan?” kata so eun. belum sempat soo hyun menjawabnya, datanglah tiga gadis paling fenomenal, siapa lagi kalau bukan Sweet Girls

“ehmm” suzy berdeham

“untuk apa kalian kesini?” tanya so eun tanpa basa basi

“eobseo” jawab jessica

“hanya untuk mengingatkan kekasih barumu itu” sambung eunjung sambil menunjuk soo hyun. Soo hyun yang ditunjuk sebagai kekasih baru so eun pun merasa heran. Ia memandang so eun dan so eun mengedipkan sebelah matanya. Soo hyun tau apa yang so eun maksud dan ia pun hanya tersenyum.

“mengingatkan apa?” tanya soo hyun sambil tersenyum

“kekasihmu itu wanita penggoda. Kau harus hati-hati dengannya” kata suzy yang mencoba menjelek-jelekkan so eun

jinjja? Kurasa dia gadis yang sangat manis” kata soo hyun sambil menatap so eun. sementara so eun hanya mengumpatkan tawanya

“cihh . . kau tertipu dengan wajah polosnya. Baru beberapa hari bersekolah disini saja dia sudah mendapatkan kim bum. Lalu setelah putus dengan kim bum seminggu lalu, dia mendapatkanmu.  Apa lagi namanya jika bukan wanita penggoda? Laki-laki tak akan luluh dengan wanita biasa dalam waktu sesingkat itu” jelas eunjung panjang x lebar *samadengan luas*. So eun yang mendengar eunjung mengungkit-ungkit nama kim bum pun merasa sedikit kesal dan juga khawatir. Khawatir kalau soo hyun akan mengintrogasinya tentang kim bum.

“kim bum?” soo hyun menyiritkan dahinya

“ne, kim bum, mantan kekasihnya so eun. Playboy-nya FB4” jawab suzy

“benarkah dia mantan kekasihnya so eun?” tanya soo hyun pada sweet girls namun matanya menatap tajam so eun

“ne” jawab eunjung

“biarkan sajalah, itu masa lalu” kata soo hyun sambil menarik so eun kedekat motor dan juga menjauh dari sweet girls

“so eun pakai helmnya dan naik ke motor. Kita akan bersenang-senang” kata soo hyun sambil memakaikan helm ke kepala so eun

uriga eodikalka? (kita mau kemana?)” tanya so eun sambil naik ke atas motor

“kita makan malam di restoran mahal malam ini” kata soo hyun

“restoran mahal? Memangnya kau punya uang?” tanya so eun

“hari ini Bae sajanglim memberikan aku bonus” kata soo hyun sambil mulai mengendarai motornya

“ahh.. baiklah. Kita bersenang-senang” girang so eun

Sweet girls merasa di rendahkan karena ditinggalkan begitu saja. Tanpa soo hyun dan so eun ketahui, ada seseorang yang memperhatikan mereka. Orang itu juga membuntuti so eun dan soo hyun menggunakan mobil mewahnya.

“sebenarnya siapa dia?” gumam orang itu

###

So eun dan soo hyun sampai di salah satu mall terbesar di korea. Mereka segera melangkahkan kaki ke restoran yang dituju.

“oppa, kau yakin akan makan malam disini?” so eun agak ragu ketika melihat interior desain restoran tersebut. Restoran itu terlihat mewah dan elegant. Dengan warna merah dan hitam yang mendominasi. Disertai sebuah panggung tempat seorang pianis melahirkan nada-nada indah dari tuts pianonya. Juga hiasan lilin yang menambahkan kesan romantis.

“yakinlah padaku. Ayo masuk” kata soo hyun sambil merangkul so eun untuk masuk ke dalam restoran. Orang yang membuntuti merekapun ikut masuk ke restoran itu.

“apa mereka benar-benar berpacaran. Apa semudah itu so eun melupakanku?”batin orang itu sambil mengambil buku menu untuk menutupi wajahnya.

“maaf tuan, kau mau pesan apa?” tanya seorang pelayan yang datang menghampiri orang itu. kim bum sedikit berpikir, lalu ia melihat ada dua porsi samkyeobsal di meja so eun. lalu iapun berpikiran untuk membeli samkyeobsal juga.

“aku pesan satu samkyeobsal dan satu strowberry juice” kata orang itu dengan suara yang sangat pelan

“maaf tuan, bisa lebih kencang?” kata pelayan itu yang tidak bisa mendengar ucapan orang itu dengan jelas

“satu samkyeobsal dan satu strowberry juice” ucap orang itu lagi dengan suara yang lebih kencang

“baiklah” kata pelayan itu sambil menulisnya di Note yang ada di tangannya’

“oh ya, tuan, khusus hari ini kami sedang mengadakan kuis undian bagi setiap pengunjung diatas jam 6 p.m. Kuis itu berhadiah dua buah Smartphone untuk dua pemenang.  Setiap pengunjung disini akan mendapat satu kupon undian. Kuis itu akan diundi malam ini juga pada jam 9 p.m nanti. Ini kuponnya, silahkan diisi” kata pelayan itu dengan ramahnya

“sudah kau saja yang isi” kata orang itu tanpa menatap pelayan itu. karena saat ini matanya tertuju pada so eun dan soo hyun

“ne?” ucap pelayan tak mengerti

“kau saja yang isi” kata orang itu dengn nada yang menggeretak namun matanya tak juga lepas dari so eun dan soo hyun

“ah.. n..ne” ucap pelayan yang merasa sedikit ketakutan itu

“hm.. siapa nama anda?” tanya sang pelayan

“kim bum. Kim Sang Bum” kata orang itu yang ternyata adalah kim bum

“alamat rumah?” tanya pelayan

“Songpa-gu, Jamsil” jawab kim bum

“baiklah tuan kim bum” kata pelayan tersebut lalu pergi dari meja kim bum

“mengganggu sekali” gumam kim bum setelah pelayan itu pergi

Kim bum melihat soo hyun yang membelai kepala so eun. Dirinya merasa sangat kesal dan ingin menghampiri soo hyun lalu menyuruhnya untuk menjauhi so eun.

“oppa, mengapa Bae sajanglim memberikanmu bonus?” tanya so eun

“tentu saja karena pekerjaanku yang memuaskan. Makanya.. kalau kau bekerja harus sepenuh hati, karena itu bisa berdampak baik untukmu” kata soo hyun sambil tersenyum

“arrayo” sahut so eun

“oppa, aku sudah selesai, ayo kita pulang” kata so eun sambil bergegas pulang

gidarilkeyo.. kita tunggu satu jam lagi” kata soo hyun

“untuk apa?” tanya so eun sambil berdiri dari kursinya

“Smartphone itu, apa kau tidak menginginkannya?” tanya soo hyun

“ah ne, baiklah kita tunggu sampai jam 9 p.m nanti” kata so eun yang kembali duduk di kursinya.

“untuk apa mereka berdiam diri disini?” gumam kim bum sambil menyeruput jus stroberinya

Tibalah saat yang soo hyun dan so eun tunggu-tunggu. Ya, pengundian kupon. Seorang MC perempuan setengah baya menaiki panggung dan berdiri di depan piano.

“pengunjung setia Luxury Restoran, tiba saatnya kita mengundi kuis yang berhadiah dua buah smartphone untuk dua orang pengunjung ini. Baiklah, silahkan manager Han” kata MC tersebut. Seorang manager resrotan itupun mengambil satu buah bola kecil di dalam sebuah kotak bening. Kemudian ia pun mengambil gulungan kertas yang diselipkan di dalam bola itu.

“dan pemenang kita yang pertama adalah . . . . Kim . . . So Eun. kepada kim so eun kami persilahkan naik ke panggung”teriak manager bernama lengkap Han Hye Jung itu

“So Eun kau menang” girang soo hyun sambil memeluk so eun

Sementara kim bum melihatnya dengan rasa kesal

“haruskah dia memeluk so eun seperti itu” gumam kim bum. so eun segera melangkahkan kakinya ke atas panggung.

“baiklah.. mari sama-sama kita undi pemenang yang kedua” kata MC itu. manager Luxury Restoran itupun mengambil satu buah bola lagi lalu mengambil kertasnya.

“wahh.. bermarga sama dengan pemenang pertama kita.. kim… Sang Bum” teriak manager itu. kim bum merasa sangat terkejut, ia bingung harus bagaimana. Saat ini, so eun pasti telah mengetahui bahwa ia juga berada di restoran yang sama. Kim bum segera menyembunyikan wajah tampannya dengan sebuah buku menu.

“kim sang bum? apa dia itu kim bum”gumam so eun dalam hati

            “pengunjung bernama Kim Sang Bum saya minta menaiki panggung untuk menerima hadiah ini” kata sang MC sementara kim bum masih saja bersembunyi di balik buku menu itu. ia benar-benar bingung harus bagaimana lagi. Ini sunggguh menyulitkan baginya. Jika ia maju kedepan maka so eun akan melihatnya. Tetapi jika ia tetap dengan posisinya sekarang, semua orang akan memandangnya dengan aneh. Apa yang akan orang lain pikirkan jika melihat seseorang disudut ruangan hanya menundukkan dan menutupkan wajahnya dengan buku menu? Akhirnya iapun memberanikan diri untuk maju kedepan.

“o..omona.. dia benar-benar kim bum” kata so eun yang melihat seorang pria tampan dengan jas hitamnya berjalan menuju panggung tempatnya berdiri

“baiklah.. kita beri tepuk tangan untuk kedua pemenang kita malam ini” kata MC itu. para pengunjungpun memberikan tepuk tangannya untuk so eun dan kim bum. so eun merasa sangat gugup bersebelahan dengan kim bum. Manager restoran itupun memberikan hadiah kepada kim bum dan so eun. so eun masih saja gugup, hatinya berdetak lebih kencang daripada biasanya. Sementara kim bum, dia terlihat biasa saja. Tetapi entahlah, lelaki seperti kim bum memang suka menyembunyikan perasaannya dan membuat orang lain tertipu dengan sikapnya.

###

So eun dan soo hyun sampai dirumah. Mereka terlihat sangat menikmati malam itu. Jarang-jarang mereka bisa merasakan makan di restoran mahal seperti malam ini.

“huh.. lelah sekali” kata so eun sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa yang terdapat di depan TV

“apa benda ditanganmu itu belum cukup untuk membayar lelahmu itu” kata soo hyun sambil melepaskan syalnya

“sudah, sudah sangat cukup” kata so eun sambil tersenyum. Namun beberapa saat kemudian senyumnya luntur mengingat sang pemenang kedua yang mendapatkan Smartphone itu juga.

“waeyo?” tanya soo hyun yang melihat sebuah senyuman yang luntur dari bibir adik kesayangannya itu

“aniga” jawab so eun

“oh ya, tentang kim bum. Apa dia benar mantan kekasihmu?” tanya soo hyun sambil duduk di samping so eun

“untuk apa oppa menanyakan itu?” so eun merasa sedikit kesal

“jawab saja. Kau tak mau jujur denganku?” tanya soo hyun

“ne.. dia mantan kekasihku” jawab so eun pelan

“mengapa kau tidak menceritakannya padaku?” tanya soo hyun dengan nada sedikit kecewa

“aku takut saat kami putus kau akan melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan pada JunHo dulu” kata  so eun. Memang benar, dulu ketika so eun berpacaran dengan JunHo so eun selalu menceritakannya pada soo hyun. Lalu ketika ia dan JunHo putus karena JunHo yang berselingkuh, soo hyun langsung menghampiri JunHo dan meninjunya. Sejak saat itu so eun tidak pernah bercerita tentang kekasih kepada soo hyun.

“dulu aku melakukan itu karena aku menyayangimu, aku ingin melindungimu” soo hyun membela dirinya

“arrayo. Tapi bukan seperti itu caranya” ucap so eun

“sekarang, kenapa kau putus dengan kim bum?” tanya soo hyun yang mulai menurunkan nada bicaranya. So eun hanya diam, dia takut hal yang terjadi pada JunHo terjadi juga pada Kim Bum

“kenapa diam? Selingkuh juga?” tanya soo hyun

“oppa.. jangan lakukan itu pada kim bum” kata so eun yang mencoba melindungi kim bum

“benar dia selingkuh?” tanya soo hyun lagi

“dia tidak selingkuh” bela so eun

“geureom?” tanya soo hyun

“hanya mempermainkanku” ucap so eun dengan pelannya

“cihh.. dimana perbedaannya” cibir soo hyun

“orangnya seperti apa?” tanya soo hyun untuk kesekian kalinya

“oppa, mengapa kau mengintrogasiku seperti ini” protes so eun

“tampannya melebihiku?” tanya soo hyun lagi tanpa mempedulikan perkataan so eun sebelumnya

“ishh… sebenarnya.. sebenarnya pemenang kedua tadi.. dia adalah kim bum” ucap so eun dengan hati-hati

“mwo?! Jadi dia kim bum” kejut soo hyun

“aku juga awalnya terkejut. Tapi, ya sudahlah.. biarkan saja” kata so eun santai

“awas saja orang itu” geram soo hyun

“oppa..apa yang ingin kau lakukan?” cemas so eun

“menghabisinya” jawab soo hyun tanpa basa basi

hagojima! (jangan lakukan)” kata so eun

“untuk apa kau melindunginya?” tanya soo hyun

“aku.. aku tidak bermaksud untuk melindunginya. Tetapi, jika kau melakukan hal ini kepada semua mantan pacarku, maka tak akan ada orang yang ingin denganku karena mereka takut pada tinjuan tanganmu itu”kata so eun sambil menunjuk tangan soo hyun

“aku tak akan melakukakan hal ini jika dia tak menyakitimu so eun” kata soo hyun

“oppa.. setiap orang pasti memiliki kesalahan. Ayolah.. jangan lakukan hal ini padanya” pinta so eun. soo hyun hanya memandangnya dengan tatapan datar

“oppa” bujuk so eun lagi

“ne.. baiklah baiklah” soo hyun mengalah

###

“belakangan ini kau tidak ke bar, dan terlihat lebih murung. Ada apa?” tanya kim joon sambil duduk di depan kim bum. saat ini mereka sedang berada di ruang istirahat FB4

“entahlah” jawab kim bum singkat

“ini terjadi semenjak kau putus dengan gadis bernama kim so eun itu. apa kau menyesal putus dengannya?” tanya kim joon yang membuat kim bum terkejut

“apa maksudmu? Mana mungkin aku menyesali hal seperti itu” sangkal kim bum

“cih . . mencoba mengelak. Mungkin orang lain bisa tertipu dengan sikapmu, tapi jangan harap kau bisa menipuku” cibir kim joon

“apa yang kau bicarakan, hah?!” ucap kim bum

“mana ponsel barumu? Bolehkah aku melihatnya?” tanya kim joon dengan senyum penuh kemenangan

“ponsel apa?” tanya kim bum bingung

“Smartphone yang baru saja kau dapatkan semalam” jawab kim joon dengan senyum yang makin mengembang di bibirnya. Sejenak kim bum berpikir lalu ia pun

“k..kau.. kau melihatku?”kaget kim bum. kim joon hanya menjawabnya dengan sebuah tawaan kecil

“untuk apa kau ada disana?” tanya kim joon

“aku..aku..” kim bum bingung ingin mengatakan apa. Ia sendiri tidak menyadari jika sebenarnya ia membuntuti so eun dan ‘pacar barunya’ itu

“kau mengikutinya kencan?” tanya kim joon. Sebenarnya pertanyaan ini lebih tepat disebut dengan ledekan

“a..anieyo” elak kim bum

“kapan kau akan jujur dengan perasaanmu sendiri?” tanya kim joon sambil memasukan camilan kedalam mulutnya

“berhentilah membicarakan hal-hal yang tidak aku mengerti” kata kim bum santai

“kim bum..kau masih mencintai so eun” kata kim joon

“masih? Bagaimana bisa ‘masih’? bahkan aku tidak pernah mencintainya” jawab kim bum

“tidak pernah?? tapi kau berpacaran dengannya. Bagaimana bisa kau berpacaran tanpa mencintainya?” heran kim joon

“aku hanya mempermainkannya. Untuk membuktikan bahwa aku lebih baik daripada orang itu” ucap kim bum

“omona.. kim bum. ‘orang itu’? hyun joong?” tanya kim joon. Kim bum mengangguk

“baiklah,, kalau kau tidak pernah mencintai so eun, berarti sekarang kau jatuh cinta padanya” kata kim joon sambil tersenyum

“aniyo” jawab kim bum singkat

“masih menjawab tidak?hah?! lalu untuk apa kau terlihat kesal saat ‘pacar barunya’ itu mencium kening so eun? untuk apa kau mengikuti mereka berkencan? Untuk apa kau lakukan semua itu?” tanya kim joon yang sudah kesal dengan kim bum yang terus mengelak dari kenyataan. Kim bum terdiam, ia sendiri berpikir tentang itu semua.

“itu karena kau mencintainya” kim joon menjawab pertanyaannya sendiri

“itu tidak mungkin” sahut kim bum

“kau kehilangan orang yang selalu membuatkan sarapan untukmu. Kau kehilangan orang yang selalu mengingatkanmu untuk makan teratur. Kau kehilangan orang yang selalu menemanimu saat kau membuat keramik. Kau kehilangan orang yang selalu membangunkanmu setiap pagi lalu membersihkan kamarmu. Kau kehilangan semua itu, kim bum. Mungkin sekarang kau belum menyadarinya, tapi suatu saat nanti kau akan menyadarinya” jelas kim joon

“aku bisa merasakan semua itu. Semua perubahan dalam dirimu sejak kau berpacaran dengannya. Kau jarang ke bar, saat ke bar pun kau lebih memilih memesan orange juice daripada soju. Aku selalu melihatmu tersenyum sendiri, senyuman yang tulus. Jangan terus-terusan membohongi dirimu sendiri, karena itu bisa menyiksamu” nasehat kim joon

###

Kim bum berjalan kaki menuju ke bar. Mobil Lotus berwarna jingga miliknya ia parkirkan di pinggir jalan dekat sebuah minimarket. Sambil menyusuri jalan, ia terus saja memikirkan perkataan kim joon.

Kau kehilangan orang yang selalu membuatkan sarapan untukmu. Kau kehilangan orang yang selalu mengingatkanmu untuk makan teratur. Kau kehilangan orang yang selalu menemanimu saat kau membuat keramik. Kau kehilangan orang yang selalu membangunkanmu setiap pagi lalu membersihkan kamarmu. Kau kehilangan semua itu, kim bum. Mungkin sekarang kau belum menyadarinya, tapi suatu saat nanti kau akan menyadarinya.

Aku bisa merasakan semua itu. Semua perubahan dalam dirimu sejak kau berpacaran dengannya. Kau jarang ke bar, saat ke bar pun kau lebih memilih memesan orange juice daripada soju. Aku selalu melihatmu tersenyum sendiri, senyuman yang tulus. Jangan terus-terusan membohongi dirimu sendiri, karena itu bisa menyiksamu.

“apa aku mencintainya?” tanya kim bum pada dirinya sendiri

“ah..tidak mungkin” kata kim bum lalu segera berjalan masuk ke bar itu. saat memasuki bar ia sudah disambut oleh gadis-gadis disana.

“kim bum” panggil seorang gadis berambut cokelat sepinggang. Kim bum terlihat berbeda. Dulu setiap ada gadis yang memanggilnya ia akan segera menghampiri gadis itu lalu merangkulnya, namun sekarang ia hanya menjawab panggilan itu dengan sebuah senyum. Senyum yang dipaksakan.

“kau terlihat berbeda. Apa kau sakit?” tanya gadis dengan celana pendek putih, padahal sekarang sedang musim dingin. Apa gadis itu tidak merasa kedinginan?

“ani” jawab kim bum singkat lalu ia segera memesan orange juice pada bartender

“Jo Min, aku pesan orange juice” kata kim bum

“ne” jawab bartender

“kau memesan orange juice lagi?” tanya gadis berambut cokelat sepinggang tadi. Nama lengkapnya Song YoonJi. Disini dia lebih terkenal dengan nama Jee

“ne” jawab kim bum dengan tidak semangat

“apa kau sudah tidak minum soju?” tanya gadis bercelana pendek itu. kim bum yang mendengar ucapan gadis itu teringat kembali dengan ucapan kim joon

‘kau lebih memilih memesan orange juice daripada soju’

tidak..itu semua tidak benar. Aku tidak mencintainya. Tidak!!!!” teriak kim bum dalam hati.

“aniyo. Aku masih minum soju” kata kim bum dengan cepat

“Jo Min, tidak jadi orange juice. Aku pesan 2 botol soju” kata kim bum pada barteder tadi

“aku harus kembali menjadi diriku yang dulu” gumam kim bum

###

Saat ini jiyeon sedang berada di apartemen seungho. Ia sedang membantu seungho untuk mengemasi pakaiannya karena seungho ingin pindah apartemen. Padahal, seungho baru sekitar 2 minggu  menempati apartmennya yang sekarang.

“kau yakin ingin pindah?” tanya jiyeon sambil menutup seleting koper seungho

“ne” jawab seungho sambil memasukkan peralatan mandinya kedalam koper

“tapi kau baru tinggal disini 2 minggu. Bagaimana dengan tagihannya? Paling tidak kau tinggal disini untuk 2 minggu kedepan lagi. Jadi kau tidak rugi” tanya jiyeon

“ rugi apanya? Apa kau lupa, apartemen ini milikku, peninggalan dari mendiang ayahku. Aku bisa tinggal disini kapanpun aku mau. Tanpa membayar tagihan” kata seungho sambil tersenyum

“kalau ini milikmu, lalu kenapa kau harus pindah apartemen?”tanya jiyeon sambil merapihkan barang-barang lainnya

“jika aku tetap tinggal disini, ah in hyung bisa menemukanku. Aku tidak ingin bertemu dengannya sebelum ia berubah” jawab seungho

“mianhae” lirih jiyeon

marajima (jangan katakan itu)” kata seungho

“tapi karena aku, hubunganmu dan kakakmu menjadi seperti ini” ujar jiyeon

“sudahlah..sebenarnya aku sudah muak dengan sikap ah in hyung sejak dulu. Dia selalu saja seperti itu” kata seungho sambil merangkul jiyeon

###

Baru sekitar 1 jam kim bum berada di bar itu, namun ia sudah mabuk. Ia sudah menghabiskan 3 botol soju, jadi wajar saja jika ia mabuk seperti sekarang ini. Ia berjalan keluar bar dengan sempoyongan. Langkahnya menuju ke sebuah caffe kecil yang tidak jauh dari bar.

###

So eun sedang membersihkan caffe. Saat ini caffe sudah tutup, namun so eun masih harus membersihkannya. Ketika ia baru saja melepaskan celemeknya, ia mendengar seperti ada sesuatu yang terjatuh di depan caffe. Iapun bergegas melihatnya keluar caffe.

“apa itu?” tanya so eun pada dirinya sendiri sambil berjalan keluar caffe. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat seorang pria yang sangat dikenalnya terkapar di depan caffe-nya dalam keadaan mabuk. So eun segera menghampirinya. Ia tidak bicara sepatah katapun, ia hanya berdiri di dekat orang itu

“so eun” gumam orang itu sambil mencoba berdiri

“so eun” ucap orang itu lagi. Namun so eun mengabaikannya, ia menatap orang itu dengan tatapan datar. Sebenarnya ia ingin menolongnya, namun memori tentang kejahatan orang itu pada so eun kembali muncul dipikirannya

“so eun” racau orang itu. Ia sudah berusaha berdiri, namun kembali jatuh lagi. Akhirnya ia duduk di jalan sambil menyandarkan tubuhnya pada sebuah pepohonan kecil.

“katakan jika semua itu tidak benar” ucap orang itu. so eun masih menatapnya saja, tanpa melakukan apapun

“katakan jika semua itu tidak benar!!” kali ini orang itu berteriak sehingga membuat bos so eun keluar.

“apa yang terjadi so eun?”tanya bos itu dengan nada panik. So eun tidak menjawabnya, ia hanya mengarahkan pandangannya kepada orang itu

“nuguya?” tanya bos itu pada so eun. so eun hanya diam dan tidak menjawabnya

“SEMUA ITU TIDAK BENAR!! KIM JOON SALAH! DIA SALAH BESAR!!” teriak orang itu, kali ini dengan suara yang lebih besar sehingga membuat orang-orang yang berlalu-lalang di depan caffe menatapnya

“so eun, bawa saja dia masuk. Tidak enak diperhatikan orang lain seperti ini” kata bos itu sambil berjalan menghampiri kim bum lalu membopongnya.

###

“kau mengenalnya?” tanya bos so eun. so eun menatap pria yang kini tengah terlelap di ruang bosnya itu

“dia temanku, namanya kim bum” jawab so eun pelan

“kim bum” gumam bos so eun

1

2

3

“kim bum?! kim bum mantan kekasihmu itu?!” kejut sang bos

“ne”jawab so eun singkat

“ahh.. jadi ini yang namanya kim bum. Dia tampan sekali, kenapa kau putus dengannya?” tanya bos so eun sambil memperhatikan wajah kim bum

“karena perilakunya tak setampan wajahnya” kata so eun sambil memakai mantel merah mudanya

“ehh kau mau kemana?” tanya bos so eun yang melihat pegawainya itu memakai mantel dan mengambil tas nya

“pulang” jawab so eun

“mwo?! Lalu siapa yang akan mengurusnya?” tanya bos so eun

“terserah. Yang jelas aku tidak mau, kau saja yang mengurusnya” jawab so eun

“yya! Apa-apaan ini? aku ini bos mu, bagaimana bisa kau menyuruhku seperti ini” protes bos so eun

“bos…untuk kali ini saja. Lagipula kau sendiri yang membopongnya kedalam” ucap so eun

“tidak bisa! Kau saja, kau kan mantan pacarnya” tolak bos so eun

“aku tidak mau! Aku membencinya bos!” so eun merasa kesal pada bosnya karena bosnya itu tidak bisa memahaminya

“tapi mana mungkin aku mengurusnya, menunggunya sampai tersadar nanti” bos so eun juga terus menolaknya

“terserah kau saja, aku tidak peduli” kata so eun lalu segera melangkahkan kakinya keluar dari caffe

“yya! So eun! kim so eun!” teriak bos so eun ketika melihat so eun pergi begitu saja. Ia sudah kehabisan akal. Berulang kali ia menatap so eun (yang sudah mulai menghilang) dan kim bum secara bergantian dengan wajah bingung sekaligus jengkel. Akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan kim bum di caffenya. Ia melangkahkan kakinya keluar caffe lalu mengunci pintu caffe. Jadilah kim bum sendirian di dalam caffe dengan pintu dikunci. *poor bumppa*

###

So eun sedang menunggu bus di halte. Ia menggosok-gosokkan tangannya untuk mengurangi rasa dingin. Saat ia menggosok-gosokkan tangannya, ia teringat kim bum. Ia berpikir, apakah kim bum akan kedinginan? Mengingat di caffenya tidak ada penghangat ruangan. Ia mencoba membuang pikiran itu dari otaknya. Namun ini tak bisa dihindari, apakah ini berarti masih tempat untuk kim bum di dalam hatinya??

TBC

Thanks readers!!! Mianhae kalo ceritanya gaje, gak nyambung, kependekan, alurnya kecepetan, adegan bumssonya kedikitan dst- maklum ini ff pertama, jadi harus banyak belajar lagi :D .. sekali lagi gomawo untuk yang udah mau baca ff aku. Yang merasa bertanggung jawab, tolong tinggalin jejak ya.. baik itu berupa like ataupun komen (tapi sih aku lebih mengharapkan komentar karena itu bisa bikin aku lebih berkembang). Ditunggu part selanjutnya J J